Metodologi Sejarah

by
January 10, 2013 10:00

Sejarawan, sama seperti ilmuwan lain, punya hak penuh berbicara masalah-masalah kontemporer … Bahkan, mereka yang bekerja di pengalengan ikan, pertukangan sepatu, perusahaan batik, pabrik biskuit, dan dunia usaha lain tetap dapat menjadi sejarawan. Sejarawan adalah penulis sejarah. Titik. (“Cerpenis adalah penulis cerpen, apa pun pekerjaannya”). Tanggalkan anggapan bahwa hanya mereka yang bekerja sebagai dosen universitas dan institusi-institusi ilmiah berhak disebut sejarawan!

Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, hal. xiii.

Bulan lalu, dalam lokakarya Museum Sejarah Komunitas di Yogyakarta, kami mendengarkan banyak perdebatan mengenai (“keabsahan”) metode sejarah lisan. Hampir semua peserta—yang dengan cara masing-masing menggali dan mengarsipkan sejarah lokal—mengeluhkan bagaimana metode yang mereka gunakan, terutama metode sejarah lisan, seringkali tidak diindahkan oleh sejarawan akademis. Banyak keluhan yang bermunculan saat itu terhadap kelembagaan sejarah akademis, yang dinilai bersikap terlalu kaku, kurang memperhatikan isu-isu saat ini, kurang kontekstual ataupun relevan dengan kondisi masyarakat sekarang.

Metodologi Sejarah (ed.2)
Kuntowijoyo (2003)

Tapi, ketika kita kesal dengan kondisi kelembagaan pendidikan sejarah—atau ilmu sosial apapun—di negeri ini, kita mungkin bisa mendapat secercah optimisme dan beberapa “celah masuk” dengan membaca buku ini. Pada dasarnya, buku ini adalah rangkuman materi-materi yang dibuat oleh Kuntowijoyo untuk mata kuliah Teori dan Metodologi Sejarah di UGM. Cakupan pembahasannya meliputi sejarah lisan, sejarah sosial, sejarah kota, sejarah pedesaan, sejarah ekonomi pedesaan, sejarah wanita, sejarah kebudayaan, sejarah agama, sejarah politik, sejarah pemikiran, biografi, sejarah kuantitatif, dan sejarah mentalitas.

Di awal buku, Kuntowijoyo memberi kita sedikit latar belakang yang cukup menjelaskan, mengenai historiografi, atau penulisan sejarah, modern di Indonesia. Dengan gaya bertutur yang enak dibaca, kita diberi penjabaran mengenai Seminar Sejarah Nasional Indonesia, dan bagaimana pelembagaan sejarah berkembang. Beliau juga mempertanyakan banyak hal yang sering menghambat perkembangan sejarah akademis, seperti kurangnya usaha menerbitkan karya tulis sarjana sejarah, ketergantungan pada dana pemerintah, terkonsentrasinya penelitian pada daerah Jawa, dan minimnya sejarawan yang menulis sejarah ekonomi (terutama karena kekurangan peralatan teori dan metodologi). Semenjak awal pula, Kuntowijoyo menekankan pentingnya memelihara dan mengembangkan jaringan kerja, tidak hanya lintas-generasi dalam akademisi sejarah, tapi juga lintas-disiplin.

Sementara, jika kita kembali lagi ke keluhan umum mengenai sejarah lisan, Kuntowijoyo berulangkali menekankan pentingnya kita menerapkan sejarah lisan di Indonesia yang minim sumber tertulis. Beliau juga menjabarkan bahwa Arsip Nasional pun memiliki Buletin Sejarah Lisan.

Kuntowijoyo menyorot adanya perkembangan baik sejarah yang makin bersifat lintas disiplin, mempelajari dan berkembang bersama ilmu-ilmu sosial lainnya seperti antropologi, geografi, linguistik, sosiologi, dan sebagainya. Tapi tentunya, sebagai ilmu, sejarah tetap harus memiliki kaidah-kaidahnya, terutama sifatnya yang diakronis, memanjang dalam waktu. Yang menurut saya menarik adalah, di kala banyak orang (ilmu sosial) menafikan pendekatan kuantitatif (yang dikatakan “terlalu positivis”), Kunto menggarisbawahi bahwa bidang sejarah pun perlu memperluas wawasan dalam pendekatan kuantitatif. Sayangnya SDM bidang sosial seringkali lemah dalam statistik.

Kuntowijoyo

Buku ini lebih memberi rangkuman tiap bidang sejarah, dan tidak terlalu membahas teknis metode, jadi memang belum bisa dijadikan sebagai handbook. Tapi buku ini dengan ringkas dan antusias memberi gambaran gagasan dan tujuan, lengkap dengan rujukan-rujukan penting yang dapat ditelusuri lebih lanjut oleh pembaca, mulai dari media cetak seperti buku-buku ataupun jurnal-jurnal babon, hingga tempat-tempat sumber informasi seperti direktorat, perpustakaan dan arsip. Kuntowijoyo bisa menjelaskan berbagai sumber yang kaya dengan renyah, tapi juga membumikannya, mengaitkannya dengan konteks sekitar, dan membahas situasi kondisi dan tantangan yang sangat nyata dalam tiap bidang. Kuntowijoyo juga dengan telaten mengangkat karya-karya tulis yang apik, mulai dari makalah seminar, skripsi, thesis ataupun disertasi, yang dibuat akademisi asing hingga sarjana muda, dari berbagai disiplin yang berbeda. Daftar Pustaka di akhir buku ini pantas menjadi daftar sumber yang wajib dibaca oleh mahasiswa-mahasiswa sejarah (dan bidang sosial lainnya).

Bagi teman-teman yang merasa dipersulit oleh “sejarawan akademis” di kampus, saran saya, bacalah buku ini. Penjabaran di dalamnya akan membantu memperkuat optimisme dan metode Anda, memperkaya pengetahuan mengenai perkembangan (kelembagaan dan ideologi) sejarah di Indonesia, dan memberi Anda titik awal untuk menelusuri sumber-sumber wajib dibaca mengenai sejarah—dan berbagai kajian sosial—penting di Indonesia.

Categories: Resensi Buku
Tags:

: Pendiri dan pengelola Perpustakaan C2O / Founder and director of c2o library.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Your Responses


Subscribe

Subscribe to receive email updates
Daftarkan email untuk menerima berita

What’s On

Newsletter

Archives


Resensi Buku »
hard-boiledwonderlandandtheendofthe
Hard-Boiled Wonderland and the End of the World
Haruki Murakami, 1985
by Vinka Maharani
Hal pertama yang Anda dapat setelah Anda membuka Hard-Boiled Wonderland and the End of the World ada...
Resensi Film »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie maker, minima...
Resensi Musik »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
_Terbujur-Kaku---Megamix-album-(koplo-goes-to-breakcore)---cover
Megamix Album 1: Koplos goes to Breakcore
Terbujur Kaku
by c2o library & collabtive
Rilis ulang Megamix Album 1 oleh TerbujurKaku alias Phleg, nama yang sudah tak asing lagi dalam sken...
Program »
SUBversiSUBSIDE-575
Ayorek! SUBversi & SUB/SIDE

by c2o library & collabtive
Desember 2013 lalu, kami meluncurkan ayorek.org, untuk bersama-sama mengumpulkan, berbagai dan meran...

Facebook

Twitter

Around & About Surabaya

- Adrea Kristatiani

Gedung yang konon di awal abad 20 ini adalah rumah terbaik di Surabaya ...

- kathleen azali

Perpustakaan Medayu Agung dibentuk dari kenangan dan pengalaman pribad ...

- Adrea Kristatiani

Nella Estantina merupakan salah satu dari segelintir pengguna Instagra ...

Dari Ayorek!, merekam jejak warga dan kota Surabaya