<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="4286">
 <titleInfo>
  <title>Membuka Pintu bagi Masa Depan</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>M. Nursam</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>Kompas</publisher>
   <dateIssued>2008</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesian</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Book - Paperback</form>
  <extent>382 Halaman</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sejarawan Sartono Kartodirdjo hari Kamis (15/2/2007) genap berusia 86&#13;
&#13;
&#13;
tahun. Kondisi kesehatannya kian menurun. Sartono tidak saja memberi&#13;
&#13;
&#13;
contoh di wilayah publik sebagai Bapak Sejarah Indonesia, tetapi juga&#13;
&#13;
&#13;
memberi teladan dan inspirasi sosok pribadinya. Ia memilih hidup&#13;
&#13;
&#13;
asketis.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Mengapa memilih hidup asketis? Nilai-nilai apa yang mendasarinya?&#13;
&#13;
&#13;
Bagaimana pergulatan hidup asketisnya?&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dilahirkan tengah malam di Wonogiri, 15 Februari 1921, dari pasangan&#13;
&#13;
&#13;
Tjitrosarojo dan Sutiya, sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara&#13;
&#13;
&#13;
kandung, Sartono dibesarkan dalam ruang sosial budaya abangan.&#13;
&#13;
&#13;
Sebagai manusia Jawa, ruang inilah yang paling awal membentuk&#13;
&#13;
&#13;
pandangan dunianya. Salah satu medium dalam proses pembentukan adalah&#13;
&#13;
&#13;
dunia pewayangan. Melalui wayang, ia menyerap psikologi tokoh Arjuna,&#13;
&#13;
&#13;
Krisna, Rama, dan tokoh-tokoh Pandawa. Dengan kata lain, dunia&#13;
&#13;
&#13;
pewayangan merupakan bagian kosmologi Sartono.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dalam pendidikan formal?HIS, MULO, HIK? Sartono menyerap budaya&#13;
&#13;
&#13;
Barat. Di HIK Muntilan, selain menyerap budaya Barat secara lebih&#13;
&#13;
&#13;
intensif, Sartono juga menyerap nilai-nilai dan ajaran Kristiani.&#13;
&#13;
&#13;
Ketika di MULO, ia membaca buku karya Thomas A Kempis, De Imitatione&#13;
&#13;
&#13;
Christio (Meniru Kristus), yang diakui amat memesona kepribadiannya.&#13;
&#13;
&#13;
Buku ini amat kuno dan bisa dianggap 'buku babon' bagi umat&#13;
&#13;
&#13;
Kristiani, berisi doa-doa yang semula ditulis oleh Kempis untuk&#13;
&#13;
&#13;
sesamanya, rahib.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Di HIK, nilai Kristiani membentuk kepribadian Sartono karena ia&#13;
&#13;
&#13;
mendapat pendidikan khusus sebagai (calon) bruder. Meski akhirnya&#13;
&#13;
&#13;
memilih karier guru, nilai-nilai yang diserap selama di HIK tetap&#13;
&#13;
&#13;
menjadi pemandu dalam perjalanan hidupnya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sebagai sejarawan&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Karier sebagai sejarawan dimulainya ketika tahun 1950 memilih studi&#13;
&#13;
&#13;
di Jurusan Sejarah UI dan menyelesaikannya enam tahun kemudian, 1956.&#13;
&#13;
&#13;
Sepuluh tahun kemudian, 1966, ia meraih doktor di Universitas&#13;
&#13;
&#13;
Amsterdam dengan disertasi, The Peasants' Revolt of Banten in 1888,&#13;
&#13;
&#13;
It's Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Sosial Movements&#13;
&#13;
&#13;
in Indonesia menjadi batu loncatan dalam studi sejarah Indonesia.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Petani atau orang kecil yang dalam sejarah konvensional menjadi non-&#13;
&#13;
&#13;
faktor, dalam karya Sartono menjadi aktor sejarah. Ini merupakan&#13;
&#13;
&#13;
akibat pendekatan baru dalam kelompok New History, yaitu penganut&#13;
&#13;
&#13;
aliran yang dikenal dengan istilah social scientific approach.&#13;
&#13;
&#13;
Pendekatan ini memberi cahaya dalam jalur perkembangan dan arah&#13;
&#13;
&#13;
historiografi Indonesiasentris.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Prof Dr WF Wertheim, promotor Sartono, mengatakan bahwa disertasi&#13;
&#13;
&#13;
tersebut berharga tidak hanya terletak dalam memunculkan secara rinci&#13;
&#13;
&#13;
peristiwa sejarah dengan bagus dan jelas, tetapi juga keluasan dan&#13;
&#13;
&#13;
kedalaman dalam menempatkan sejarah pada ranah ilmu sosial secara&#13;
&#13;
&#13;
umum. Karya Sartono itu menjadi buku babon historiografi Indonesia.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dari segi intelektual?mengutip Kuntowijoyo?perkembangan pemikiran&#13;
&#13;
&#13;
Sartono dapat dibagi menjadi tiga periode.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pada dasawarsa pertama, ia disibukkan pemikiran substansi sejarah.&#13;
&#13;
&#13;
Pada Seminar Sejarah Nasional tahun 1957 di Yogyakarta ia&#13;
&#13;
&#13;
mengemukakan pikirannya tentang periodisasi sejarah. Ia menolak&#13;
&#13;
&#13;
periodisasi berdasarkan politik sebab periodisasi demikian berarti&#13;
&#13;
&#13;
pengurangan terhadap cita-cita integrasi. Sartono melihat pendekatan&#13;
&#13;
&#13;
politik sebagai kekurangan, dan mengusulkan pendekatan sosiokultural&#13;
&#13;
&#13;
dan ekonomi dalam periodisasi.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dalam dasawarsa kedua, pemikirannya ditujukan pada metodologi&#13;
&#13;
&#13;
sejarah. Didorong keinginannya untuk memperbaiki perkuliahan guna&#13;
&#13;
&#13;
menyiapkan calon-calon sejarawan, sejak kembali Indonesia, 1967, ia&#13;
&#13;
&#13;
memperbarui metodologi sejarah. Dua kata kunci yang selalu keluar&#13;
&#13;
&#13;
ialah sejarah multidimensional dan sejarah struktural. Pembaruan&#13;
&#13;
&#13;
metodologi ini dipengaruhi perkembangan historiografi di AS dan&#13;
&#13;
&#13;
Eropa, saat orang mencoba mendekatkan sejarah dengan ilmu sosial.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pada dasawarsa ketiga, mutakhir, ia disibukkan pemikiran tentang&#13;
&#13;
&#13;
pendekatan interdisipliner ilmu-ilmu sosial. Kedudukannya sebagai&#13;
&#13;
&#13;
Kepala Pusat Penelitian Pembangunan Pedesaan dan Kawasan UGM (1973-&#13;
&#13;
&#13;
1982) berpengaruh pada perkembangan pemikirannya. Pendekatan&#13;
&#13;
&#13;
interdisipliner inilah yang membuat sekali perluasan pemikiran&#13;
&#13;
&#13;
historiografi dan ilmu sosial Sartono mengalami perkembangan baru.&#13;
&#13;
&#13;
Tema-tema baru muncul dalam tulisan-tulisannya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pada periode ini, ia juga banyak menulis masalah sosial dan budaya,&#13;
&#13;
&#13;
terutama yang terkait pembangunan, yaitu tema-tema sosial kemiskinan,&#13;
&#13;
&#13;
modernisasi, migrasi, tukang becak, sistem gotong royong, keresahan,&#13;
&#13;
&#13;
dan masalah pembangunan lainnya. Tema yang selalu disorot adalah soal&#13;
&#13;
&#13;
kelembagaan, kepemimpinan, partisipasi, pembangunan dari bawah,&#13;
&#13;
&#13;
pembangunan manusia, teknologi manusiawi. Tampaknya, ia amat&#13;
&#13;
&#13;
dipengaruhi konsep perubahan dan transformasi sosial dari pemikir non-&#13;
&#13;
&#13;
Marxis, seperti Weber dan Durkheim.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Usia bukan halangan&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sebagian besar manusia Indonesia menjadikan disertasinya sebagai&#13;
&#13;
&#13;
karya puncak dan terakhir. Kalaupun kemudian menulis, yang ditulis&#13;
&#13;
&#13;
hanya repetisi dari yang sudah ditulisnya. Sartono tidak demikian.&#13;
&#13;
&#13;
Pada ulang tahunnya yang ke-80, 2001, ia masih menerbitkan buku&#13;
&#13;
&#13;
berjudul Indonesian Historiography.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Apa yang ingin diperlihatkan oleh Sartono adalah usia bukan alasan&#13;
&#13;
&#13;
untuk berhenti berkarya. Kerja seorang ilmuwan adalah kerja tanda&#13;
&#13;
&#13;
henti. Dalam setiap kesempatan, ia selalu mengingatkan siapa pun,&#13;
&#13;
&#13;
khususnya murid-muridnya, ilmuwan 'jangan seperti pohon pisang, yang&#13;
&#13;
&#13;
hanya berbuah sekali lalu mati.'&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Apa yang telah dihasilkan Sartono adalah buah ketekunan dalam&#13;
&#13;
&#13;
belajar, kesungguhan mengerjakan tugas keilmuan; baik sebagai&#13;
&#13;
&#13;
pengajar, peneliti, maupun sebagai penulis yang dibalut kedisiplinan&#13;
&#13;
&#13;
yang tinggi. Integritas intelektualnya amat luar biasa. Ia tidak mau&#13;
&#13;
&#13;
melakukan kompromi dengan kejujuran intelektualnya. Demi menjaga&#13;
&#13;
&#13;
kekritisannya, ia mengambil jarak dengan kekuasaan dan memilih hidup&#13;
&#13;
&#13;
asketis. Pilihan ini mendapat pijakan dari nilai-nilai yang telah&#13;
&#13;
&#13;
membentuk dan membangun kepribadiannya: Jawa, Barat, dan Kristiani.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sebagai manusia biasa, ia pernah mengalami berbagai keraguan dan&#13;
&#13;
&#13;
kebimbangan dalam hidupnya, baik saat merintis karier maupun&#13;
&#13;
&#13;
mempertahankan integritasnya sebagai sejarawan. Dalam kondisi&#13;
&#13;
&#13;
demikian, menurut Sartono, dibutuhkan ketetapan hati berdasar&#13;
&#13;
&#13;
keyakinan, 'setiap usaha membawa pahalanya sendiri'. Pada titik-titik&#13;
&#13;
&#13;
kisar seperti itu, peran istrinya, Sri Kadaryati, yang dinikahinya&#13;
&#13;
&#13;
hampir 50 tahun silam, memiliki peran besar.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Bagi Sartono, dalam pembangunan bangsa, sejarawan memberi sumbangan&#13;
&#13;
&#13;
dalam merekonstruksi sejarah nasional sebagai lambang identitas&#13;
&#13;
&#13;
nasional. Fungsionalisasi pelajaran sejarah dapat merevitalisasi&#13;
&#13;
&#13;
nasionalisme pada generasi muda sehingga dapat dijiwai lagi etos&#13;
&#13;
&#13;
nasionalismenya. Dengan demikian, generasi baru dengan spirit baru&#13;
&#13;
&#13;
dapat menghadapi masa depan dengan menengok ke belakang sesuai&#13;
&#13;
&#13;
semboyan, melupakan sejarah berarti menutup pintu bagi masa depan.&#13;
&#13;
&#13;
Hidup dan karya Prof A Sartono Kartodirdjo telah diabdikan&#13;
&#13;
&#13;
untuk 'membuka pintu bagi masa depan'.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>Indonesia</classification>
 <identifier type="isbn">9789797093532</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>C2O library Online catalog (BETA)</physicalLocation>
  <shelfLocator>928 NUR Mem</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">4405</numerationAndChronology>
    <sublocation>C2O library &amp; collabtive</sublocation>
    <shelfLocator>928 NUR Mem</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>MembukaPintubagiMasaDepan.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>4286</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2015-01-02 09:50:52</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-03-06 19:46:46</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>