<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="6679">
 <titleInfo>
  <title>Opini Umum :</title>
  <subTitle>Antara Rekayasa dan Realitas</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Walter Lippmann</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>Yayasan Obor</publisher>
   <dateIssued>1998</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesian</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Book - Paperback</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Salah satu cirri masyarakat yang berjuang kea rah demokrasi adalah ketidakpuasan mereka dengan praktik demokrasi yang ada. Di berbagai negeri yang demokratis, para pemikir politik, ekonomi, sosiologi dan budayawan tidak putus-putusnya menyuarakan kritik dan pemikiran alternative mengenai pelaksanaan demokrasi. Dalam setiap system demokrasi, suara mayoritas yang menetukan. Dan suara mayoritas itu selalu dikaitkan dengan opini umum. Tetapi Walter Lippmann, disamping banyak pemikir lain, bersikap kritis terhadap apa yang disebut opini umum ini. Benarkah setiap apa yang dicap sebagai opini umum sungguh mewakili pendapat mayoritas masyarakat? Kalau benar bagaimana mengukurnya? Kalau ternyata tidak, bukankah opini umu itu hanyalah rekayasa dan maneuver elite politik yang menurut Lippmann berusaha menciptakan &quot;Lingkungan-alsu&quot; pengganti realitas di benak masyarakat agar stabilitas dan status quo kekuasaan tetap terjaga? Buku ini memang tampil dalam konteks Amerika, tetapi banyak pandangan dan cara berpikir buku ini yang pasti bermanfaat untuk ditelaah oleh para politisi kita, para pengamat politik, sosiolog, budayawan dan mahasiswa. Sebab di era globalisasi ini, adalah tidak memadai lagi kita bicara tentang demokrasi Pancasila sebagai &quot;bukan Barat-bukan Timur,&quot; tetapi yang perlu dicari ialah demokrasi Pancasila yang positif, universal dan operasional.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>NONE</classification>
 <identifier type="isbn">9794611263</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>C2O library Online catalog (BETA)</physicalLocation>
  <shelfLocator>070 LIP Opi</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">8045</numerationAndChronology>
    <sublocation>C2O library &amp; collabtive (Non Fiction)</sublocation>
    <shelfLocator>070 LIP Opi</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>download_%252894%2529.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>6679</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-02-17 15:35:15</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-02-17 15:36:04</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>