<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="7098">
 <titleInfo>
  <title>Rantai Nilai:</title>
  <subTitle>Wajah Baru Imperialisme Ekonomi</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Intan Suwandi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
   <publisher>Penerbit Independen</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Book - Paperback</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Seiring berlangsungnya globalisasi, teori imperialisme telah dianggap kadaluarsa atau tidak lagi mampu untuk menjelaskan ekonomi dunia. Pandangan itu berdasar pada perkembangan ekonomi secara global yang tidak hanya berlangsung di Amerika Serikat dan Eropa, tetapi juga Belahan Bumi Selatan sehingga diklaim telah melahirkan kesetaraan ekonomi antar-negara. Benarkah teori imperialisme sudah tidak lagi relevan? Apakah dunia telah berjalan secara setara sehingga kue ekonomi dinikmati bersama oleh pemodal dan kelas pekerja?&#13;
&#13;
Dalam buku ini, Intan Suwandi menjawab: Tidak! Buku Rantai Nilai: Wajah Baru Imperialisme Ekonomi menunjukkan bagaimana globalisasi produksi justru memperkuat watak imperialis dari perekonomian dunia. Melalui rantai komoditas nilai-tenaga kerja, perusahaan-perusahaan multinasional raksasa yang berkantor di negara-negara kapitalis pusat mampu memperpanjang kekuasaannya dengan mendikte perusahaan-perusahaan pemasok di Bumi Selatan, termasuk Indonesia. Kekuatan imperialis dari perusahaan multinasional tersebut tidak hanya membelenggu buruh-buruh di negara pinggiran, tetapi juga merampas nilai lebihnya guna menjadi keuntungan bagi pemodal raksasa yang tinggal di negara kapitalis pusat.&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>NONE</classification>
 <identifier type="isbn">6212506406854(QRCBN</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>C2O library Online catalog (BETA)</physicalLocation>
  <shelfLocator>331.109172 SUW Ran</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">8463</numerationAndChronology>
    <sublocation>C2O library &amp; collabtive</sublocation>
    <shelfLocator>331.109172 SUW Ran</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>7098</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-06-06 12:40:12</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-06-06 12:41:03</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>