<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="7255">
 <titleInfo>
  <title>Kami Sudah Lelah dengan Kekerasan</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Matt Easton</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Tangerang Selatan</placeTerm>
   <publisher>Marjin Kiri</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Book - Paperback</form>
  <extent>xviii + 457 halaman, 14 x 20,3 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Digelari “Best Book of the Year” oleh majalah The Economist&#13;
&#13;
“Terbaca bagai kisah legal-prosedural whodunnit yang mencekam, seraya bukti perlahan-lahan terkuak dari rekaman-rekaman telepon, dokumen-dokumen hilang yang dipulihkan dari berkas-berkas komputer yang sudah dihapus, dan saksi-saksi baru yang membuat penasaran bermunculan…” —The Economist&#13;
&#13;
“Sangat penting bagi kita untuk mengenal naratif seperti ini: bagaimana riwayat seseorang bersilangan dengan sejarah bangsa. Idealisme yang dibayar Munir dengan hidupnya, bermakna sebagai pelajaran, dari seorang besar yang sederhana, tentang perjuangan kemanusiaan.” —Seno Gumira Ajidarma&#13;
&#13;
Pada suatu malam bulan September 2004, aktivis hak asasi manusia Munir bertolak ke Belanda dengan pesawat Garuda untuk memulai studi pascasarjananya, namun dia tak pernah tiba di Amsterdam dengan selamat. Munir tewas diracun dalam perjalanan.&#13;
&#13;
Ditulis berdasarkan wawancara, pengamatan di ruang sidang, bocoran dokumen-dokumen, dan berkas-berkas kepolisian, karya Matt Easton ini menelusuri salah satu konspirasi pembunuhan paling dramatis di Indonesia. Dengan menarik kronologi dari masa muda Munir dan Suciwati, kasus Marsinah, 27 Juli, penculikan aktivis, penembakan Semanggi, lahirnya aksi Kamisan, hingga hasil akhir pengadilan kasus Munir dan kesudahannya, kita akan membaca sejarah upaya penegakan HAM yang tak henti- hentinya diperjuangkan di Indonesia.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>NONE</classification>
 <identifier type="isbn">9786020788531</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>C2O library Online catalog (BETA)</physicalLocation>
  <shelfLocator>331.8809598</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">4915</numerationAndChronology>
    <sublocation>C2O library &amp; collabtive</sublocation>
    <shelfLocator>331.8809598</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>7255</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-11-13 14:03:39</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-11-13 14:04:17</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>