<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="7456">
 <titleInfo>
  <title>Mollo, Pembangunan dan Perubahan Iklim:</title>
  <subTitle>Usaha Rakyat Memulihkan Alam yang Rusak</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Siti Maemunah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>Penerbit Buku Kompas</publisher>
   <dateIssued>2015</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Book - Photocopy</form>
  <extent>106 hlm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Masyarakat adat memiliki kepercayaan turun-menurun mengenai fungsi tanah, batu, pohon, dan air yang dianggap sama dengan tubuh manusia. Bagi mereka, air melambangkan darah, batu melambangkan tulang, dan tanah sebagai daging. Juga hutan yang mereka anggap sebagai kulit, paru-paru, atau juga rambut. Fatu, nasi, noel, afu amasat a fatis neu monit mansian, batu, hutan, air, dan tanah bagai tubuh manusia. Aleta Baun, perempuan adat Mollo, Penerima 2013 Goldman Environmental Prize award&#13;
&#13;
Proyek-proyek pertambangan, reboisasi, HTI, hingga privatisasi air di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, yang menyebabkan kerusakan alam yang parah, ditambah lagi dengan adanya perubahan iklim. Menghadapi hal tersebut, bagaimana solusi masyarakat adat Tiga Batu Tungku (Mollo, Amanuban, Amanatun) untuk memulihkan kerusakan alam akibat pembangunan dan bagaimana daya tahan mereka terhadap dampak perubahan iklim yang dihadapi?&#13;
&#13;
Siti Maemunah, lebih 15 tahun menekuni daya rusak pertambangan terhadap masyarakat, khususnya perempuan, perubahan agraria, dan kerusakan lingkungan. Ia memimpin Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) pada 2003 - 2010, dan banyak menulis artikel, opini dan buku tentang kebijakan pertambangan dan daya rusak pertambangan. Kini dia bekerja sebagai badan pengurus sekaligus peneliti di Sajogyo Institute dan Koordinator Tim Kerja Perempuan dan Tambang (TKPT).</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>NONE</classification>
 <identifier type="isbn">9789797099596</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>C2O library Online catalog (BETA)</physicalLocation>
  <shelfLocator>338.9 MAE Mol</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">8775</numerationAndChronology>
    <sublocation>C2O library &amp; collabtive</sublocation>
    <shelfLocator>338.9 MAE Mol</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>2018-01-05_MOLLO-PEMBANGUNAN-PERUBAHAN-IKLIM-USAHA-RAKYAT-MEMULIHKAN-ALAM-YANG-RUSAK_022350.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>7456</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-03-22 14:09:29</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-03-22 14:12:12</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>