<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
		xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>c2o library &#187; Klab Baca</title>
	<atom:link href="http://c2o-library.net/topic/klab-baca/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://c2o-library.net</link>
	<description>A small subscription library in Surabaya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 20:22:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<copyright>Copyright &#xA9; c2o library 2012 </copyright>
	<managingEditor>info@c2o-library.net (c2o library)</managingEditor>
	<webMaster>info@c2o-library.net (c2o library)</webMaster>
	<image>
		<url>http://c2o-library.net/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
		<title>c2o library</title>
		<link>http://c2o-library.net</link>
		<width>144</width>
		<height>144</height>
	</image>
	<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
	<itunes:summary>A small subscription library in Surabaya</itunes:summary>
	<itunes:keywords></itunes:keywords>
	<itunes:category text="Society &#38; Culture" />
	<itunes:author>c2o library</itunes:author>
	<itunes:owner>
		<itunes:name>c2o library</itunes:name>
		<itunes:email>info@c2o-library.net</itunes:email>
	</itunes:owner>
	<itunes:block>no</itunes:block>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
	<itunes:image href="http://c2o-library.net/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<item>
		<title>Klab Baca: Budaya Bebas</title>
		<link>http://c2o-library.net/2012/03/klab-baca-budaya-bebas/</link>
		<comments>http://c2o-library.net/2012/03/klab-baca-budaya-bebas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 03:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>c2o library</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Bedah Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Klab Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://c2o-library.net/?p=3760</guid>
		<description><![CDATA[[ April 27, 2012; 18:00; ] Untuk klab baca bulan April, kita akan membaca Budaya Bebas: Bagaimana Media Besar Memakai Teknologi dan Hukum untuk Membatasi Budaya dan Mengontrol Kreativitas (Lawrence Lessig).
Jumat, 27 April 2012, pk. 18.00

Sesuai dengan semangat kreatif dalam buku ini, dalam klab baca kali ini, setiap peserta bisa menjadi pemandu. Setiap pemandu akan mempresentasikan dan membahas satu bab dalam buku ini, untuk kemudian disambung oleh pembahas berikutnya. Bagi yang tertarik berpartisipasi, mohon mendaftar di info@c2o-library.net / 031-77525216 agar kita bisa membagi bab-bab pembahasan :)

Versi cetaknya dapat dipinjam di C2O, atau unduh versi PDFnya, tersedia dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.

Buku "Budaya Bebas: Bagaimana Media Besar Memakai Teknologi dan Hukum untuk Membatasi Budaya dan Mengontrol Kreativitas" karya Lawrence Lessig ini  menguraikan bahwa di luar kenyataan tentang teknologi baru yang selalu mendorong juga lahirnya produk hukum baru, kini para pelaku monopoli media justru memanfaatkan ketakutan terhadap teknologi baru ini, terutama Internet, untuk membatasi gerak gagasan di ranah publik. Meskipun pada saat yang bersamaan korporasi-korporasi ini juga menggunakan teknologi yang sama untuk mengendalikan apa yang dapat dan tidak dapat kita perbuat dengan budaya. Yang menjadi korban di sini adalah kebebasan kita untuk mencipta, membangun dan akhirnya, kebebasan berimajinasi. Buku yang juga merupakan hasil lokakarya penerjemahan KUNCI tahun 2011 ini diterbitkan atas dukungan Ford Foundation Indonesia sebagai bagian dari proyek “Konvergensi Media dan Teknologi di Indonesia”.

Biaya Rp. 5.000, mendapatkan:
- freeflow teh/kopi 
- handout
- sewa gratis buku berkaitan
RSVP: info@c2o-library.net / 031-77525216]]></description>
		<wfw:commentRss>http://c2o-library.net/2012/03/klab-baca-budaya-bebas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
			<enclosure url="http://c2o-library.net/wp-content/uploads/2012/03/budaya-bebas.pdf" length="5611127" type="application/pdf" />
		<itunes:duration>0:00:01</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Untuk klab baca bulan April, kita akan membaca Budaya Bebas: Bagaimana Media Besar Memakai Teknologi dan Hukum untuk Membatasi Budaya dan Mengontrol Kreativitas (Lawrence Lessig).
Jumat, 27 April 2012, pk. 18.00

Sesuai dengan semangat kreatif da[...]</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Untuk klab baca bulan April, kita akan membaca Budaya Bebas: Bagaimana Media Besar Memakai Teknologi dan Hukum untuk Membatasi Budaya dan Mengontrol Kreativitas (Lawrence Lessig).
Jumat, 27 April 2012, pk. 18.00

Sesuai dengan semangat kreatif dalam buku ini, dalam klab baca kali ini, setiap peserta bisa menjadi pemandu. Setiap pemandu akan mempresentasikan dan membahas satu bab dalam buku ini, untuk kemudian disambung oleh pembahas berikutnya. Bagi yang tertarik berpartisipasi, mohon mendaftar di info@c2o-library.net / 031-77525216 agar kita bisa membagi bab-bab pembahasan :)

Versi cetaknya dapat dipinjam di C2O, atau unduh versi PDFnya, tersedia dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.

Buku "Budaya Bebas: Bagaimana Media Besar Memakai Teknologi dan Hukum untuk Membatasi Budaya dan Mengontrol Kreativitas" karya Lawrence Lessig ini  menguraikan bahwa di luar kenyataan tentang teknologi baru yang selalu mendorong juga lahirnya produk hukum baru, kini para pelaku monopoli media justru memanfaatkan ketakutan terhadap teknologi baru ini, terutama Internet, untuk membatasi gerak gagasan di ranah publik. Meskipun pada saat yang bersamaan korporasi-korporasi ini juga menggunakan teknologi yang sama untuk mengendalikan apa yang dapat dan tidak dapat kita perbuat dengan budaya. Yang menjadi korban di sini adalah kebebasan kita untuk mencipta, membangun dan akhirnya, kebebasan berimajinasi. Buku yang juga merupakan hasil lokakarya penerjemahan KUNCI tahun 2011 ini diterbitkan atas dukungan Ford Foundation Indonesia sebagai bagian dari proyek “Konvergensi Media dan Teknologi di Indonesia”.

Biaya Rp. 5.000, mendapatkan:
- freeflow teh/kopi 
- handout
- sewa gratis buku berkaitan
RSVP: info@c2o-library.net / 031-77525216</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Acara, Highlight</itunes:keywords>
		<itunes:author>info@c2o-library.net</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>no</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Klab Baca: Raja, Priyayi, Kawula</title>
		<link>http://c2o-library.net/2012/03/klab-baca-raja-priyayi-kawula/</link>
		<comments>http://c2o-library.net/2012/03/klab-baca-raja-priyayi-kawula/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 07:33:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>c2o library</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Bedah Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Klab Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://c2o-library.net/?p=3670</guid>
		<description><![CDATA[[ March 22, 2012; 18:00 to 21:00. 18:00 to 21:00. ] Klab Baca C2O Maret 2012, akan membahas: Raja, Priyayi, Kawula (Kuntowijoyo)

Kamis*, 22 Maret 2012, pk. 18.00 - 21.00
Perpustakaan C2O, Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya 60264
Bersama Antonio Carlos. 
Rp. 5.000 mendapat kopi/teh dan snack/handout.
INFO: 031-77525216 / info@c2o-library.net 
*Mohon maaf, bulan ini klab baca digeser menjadi Kamis sehubungan dengan hari raya Nyepi di Jumat keempat. Terima kasih. ]]></description>
		<wfw:commentRss>http://c2o-library.net/2012/03/klab-baca-raja-priyayi-kawula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Klab Baca: Have a Little Faith</title>
		<link>http://c2o-library.net/2012/01/klab-baca-have-a-little-faith/</link>
		<comments>http://c2o-library.net/2012/01/klab-baca-have-a-little-faith/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 11:20:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>c2o library</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Bedah Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[Klab Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://c2o-library.net/?p=3174</guid>
		<description><![CDATA[[ January 27, 2012; 11:00; ] Klab Baca #4: Have a Little Faith (Mitch Albom, 2009)
Jumat, 27 Januari 2012, pk. 18.00

Setelah libur Desember lalu, Klab Baca kembali berjalan! Mari bergabung membahas karya seru Mitch Albom. Teman ngobrol kali ini adalah Ary Amhir, penulis Indonesia yang Bukan Indonesia dan 30 Hari Keliling Sumatra.

Biaya Rp. 5.000, dan dapatkan:
- Freeflow tea/coffee
- Snack atau handout
- Sewa gratis buku yang dibahas (harus menjadi member)

Karya non-fiksi Albom yang pertama semenjak Tuesdays with Morrie. Have a Little Faith dimulai dengan sebuah permintaan yang sedikit aneh: seorang rabbi 82 tahun dari kota asal Albom memintanya untuk menuliskan eulogi untuknya.

Merasa tidak pantas, Albom berusaha untuk memahami sang rabbi terlebih dahulu, yang kemudian membawanya ke dalam dunia keimanan yang telah lama ditinggalkannya. Sementara, di kota asalnya, Albom menjadi terlibat dengan seorang pastor asal Detroit--bekas penjual ganja yang kini berkotbah pada orang-orang miskin dan tuna wisma di dalam gereja bobrok.

Di antara dunia yang berbeda--Kristen dan Yahudi, Afrika-Amerika dan kulit putih, miskin dan kaya, Albom mengamati bagaimana dua orang yang begitu berbeda menggunakan kepercayaan mereka untuk bertahan hidup: rabbi yang semakin tua untuk mempersiapkan kematiannya, sementara pastor yang masih muda bergantung pada kepercayaannya untuk mempertahankan keimanan dan gerejanya.

Ketika Amerika bertahan dalam masa-masa yang sulit dan orang-orang kembali kepada kepercayaan masing-masing, Mitch dan dua orang ini menjelajahi isu yang masih menjadi misteri bagi manusia ‘modern’: bagaimana kita bertahan ketika situasi menjadi sulit; apa itu hidup setelah kematian; pernikahan silang; memaafkan; meragukan Tuhan; dan pentingnya percaya di masa-masa sulit. Meskipun teks, doa dan sejarahnya berbeda, Albom menyadari ada kesatuan di antara kedua dunia tersebut, dan mungkin, di antara semua kepercayaan.

Pada akhirnya, ketika sang rabbi makin mendekati kematiannya, dan musim dingin yang keras mengancam gereja sang pastor, Albom akhirnya menuliskan euloginya, dan memahami apa yang diperjuangkan mereka selama ini: kenyamanan dari kepercayaan pada sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://c2o-library.net/2012/01/klab-baca-have-a-little-faith/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reportase: Saksi Mata (Suparto Brata, 2002)</title>
		<link>http://c2o-library.net/2011/11/reportase-saksi-mata-suparto-brata-2002/</link>
		<comments>http://c2o-library.net/2011/11/reportase-saksi-mata-suparto-brata-2002/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 15:56:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kathleen Azali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[Klab Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://c2o-library.net/?p=3479</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 25 November 2011. Jam 6 sore, teman-teman mulai berdatangan di perpustakaan C2O.  Merayakan bulan November, kami merasa senang sekali kedatangan tamu istimewa, Pak Suparto Brata, seorang penulis yang dengan konsisten terus menghasilkan karya-karya sastra berkualitas dalam bahasa Indonesia dan Jawa. 

Di atas meja tersedia teh manis hangat dan roti selai blueberry untuk menemani perbincangan sore ini.  Erlin membawa minuman spesial es degan buatannya!  Kami pun berposisi PW (posisi wuenak) mendengarkan Pak Brata membahas bukunya, Saksi Mata, suatu novel sejarah dengan latar belakang Surabaya di zaman penjajahan Jepang, dan tentunya menceritakan pengalaman-pengalaman serunya. 

Carlos sebagai teman bicara memberi sedikit pengantar mengenai buku ini.  Menurutnya, buku ini cukup memberi “angin segar” dalam novel-novel mengenai zaman penjajahan Jepang. Pertama, karena memang tidak banyak kita jumpai novel sejarah dengan latar belakang zaman penjajahan Jepang.  Kedua, meskipun berlatar belakang “kelam” (dan gelap suasananya karena tidak boleh ada cahaya dengan serangan udara), cara penceritaan dan karakter dalam novel ini cukup ceria dan bersemangat—suatu hal yang cukup berbeda (bandingkan misalnya dengan cerpen Idrus). 

Kuntara, tokoh utama, digambarkan sebagai anak menjelang remaja—“remaja tanggung”—yang bersemangat, sedikit polos, kadang kekanak-kanakan, tapi juga pemberani.  Diawali dengan rasa kasih sayangnya pada Bulik Rum yang terlibat dengan konflik antara Tuan Ichiro dan Mas Wiradad, kita melihat bagaimana peristiwa-peristiwa “besar” tumbuh dari berbagai peristiwa sehari-hari dan motif yang sangat manusiawi.  Membaca novelnya, benar-benar membuat kita merasa mendengarkan cerita-cerita masa lalu dari seorang kakek yang luar biasa!

Pak Brata bercerita, bahwa pada masa penjajahan Jepang, beliau memang masih berusia 10-12 tahun, seusia Kuntara saat itu.  Beliau masih menjalani sekolah dasar, dengan pelajaran yang banyak menekankan pada membaca buku, membaca katakana hiragana (aksara Jepang), dan menyanyi yang menurutnya enak sekali dan menyenangkan.  Beliau menyanyikan beberapa contoh lagu dalam bahasa Jepang. Ibunya kebetulan bekerja sebagai PRT untuk sekretaris kabupaten yang juga masih saudara jauh. Kantornya saat itu di Jalan Gentengkali 87, tempat yang sekarang kita kenal sebagai Balai Sahabat.  Jadi beliau memang di zaman itu tidak merasa sulit, hidupnya tidak susah.
Sesuai dengan tebakan teman-teman, memang cerita Saksi Mata dibuat dengan berdasarkan beberapa pengalaman hidup Pak Brata (bukankah setiap novel sedikit banyak autobiografis?).  Pak Brata dulu juga memiliki Bulik yang kenes yang suka jahil menggodanya—memberinya “inisiasi pertama”.  Tapi memang, karya-karya Pak Brata sangat diwarnai perempuan-perempuan yang menarik, tangguh, percaya diri dan nyaman dengan seksualitas dan daya tarik mereka, sensual, tapi juga memiliki harga diri yang tinggi. 

Novel ini bisa menghadirkan peristiwa-peristiwa besar melalui detil sehari-hari yang apik, sederhana tapi mendetil dan menarik.  Memang, salah satu kekhasan karya-karya sastrawan yang lahir 27 Februari 1932 ini, adalah ingatan dan deskripsi yang sangat mendetil dalam penggambaran lingkungan dan sejarah.

Beliau menjelaskan, bahwa beliau dulu bersekolah di Ongko Loro, pertama kali diajari menulis dan membaca, dengan aksara Jawa.  Kemudian secara bertahap, dia harus membaca berulang-ulang berbagai cerita dalam berbagai bahasa seperti Kuncung karo Bawok, Matahari Terbit, setiap hari.  Setiap murid harus menguasai membaca dan menulis.  Selain itu, sebenarnya tidak ada buku, jadi murid-murid harus menulis sendiri catatannya.  Di luar sekolah, tidak ada PR. Anak-anak sekolah bermain di luar sekolah, tapi di dalam kelas, mereka harus terus menerus membaca buku.  Ini menurut beliau, yang membuatnya bisa mengingat dengan baik.  

Di Dinas Pendidikan Sekolah Rakyat, di Jalan Jimerto dulu ada lapangan tenis.  Di dekatnya, ada gedung dengan aula, di mana tiap empat bulan sekali, seluruh sekolah rakyat di Surabaya, disuruh berlomba membaca bahasa Jepang, berkata bahasa Jepang, dan menyanyi bahasa Jepang. “Seperti Indonesian Idol itu, zaman Jepang sudah ada,” candanya.  Yang dilombakan adalah yang sudah diajarkan dan dihafalkan itu.   

Menurutnya, di zaman dulu, kenaikan tingkat pendidikan juga memberi pengaruh pada pendapatan dan status.  Misalnya, menjadi OB di zaman itu, yang memerlukan minim lulus kelas 4, bisa mendapatkan gaji kira-kira 5 sen per hari—bandingkan dengan buruh yang hanya 2 sen.  Semakin tinggi kualifikasinya—HIS, MILO, atau kedokteran, semakin tinggi pula lah gaji seseorang.  Sementara sekarang, orientasinya lebih ke pokoknya lulus, dan sering sekali terjadi orang bisa lulus tanpa harus bisa membaca.  
Dibandingkan dengan anak-anak SD sekarang yang dibanjiri PR dan tugas sekolah, beliau merasa sekolah di zamannya dulu jauh lebih menyenangkan—banyak menyanyi dan bermain.  Menurut beliau, anak-anak Indonesia sekarang kelabakan menerima kurikulum yang terlalu berat, dan tidak mempunyai waktu untuk membaca ataupun menulis.  Atau, membaca menjadi suatu yang tidak menyenangkan. 

Hobi membacanya ini juga didukung oleh bahan-bahan bacaan yang ditinggalkan orang-orang Belanda.  Di tahun 1958, nasionalisme yang semakin menguat mengusir orang-orang Belanda dari tanah air.  Barang-barang mereka banyak dilelang.  Beliau mendapat banyak sekali buku-buku yang diloak di Keputran dengan harga sangat murah—hanya 1 rupiah.  Zaman itu, lanjutnya, banyak buku-buku hijau terbitan Penguin yang diuntukkan untuk prajurit-prajurit perang, dan beliau sangat menikmati karya-karya Agatha Christie, Georges Simenon.  Karya-karya ini sangat memberi inspirasi dalam pembentukan plot, ketegangan, tema, dalam karya-karya Pak Brata. Selain itu, beliau juga memanfaatkan membaca buku dengan gratis di perpustakaan USIS. Beliau menerjemahkan juga buku-buku bahasa asing menjadi bahasa Jawa.  

Ada kira-kira 100 buku yang telah Pak Brata tulis, 60-70 di antaranya ditulis dalam bahasa Jawa. Awalnya, kebanyakan karyanya dalam bentuk novel, tapi seiring dengan semakin dikenalnya beliau di kalangan ahli sejarah, makin banyak pula mahasiswa-mahasiswa yang menghubunginya untuk konsultasi dan cerita-cerita pengalamannya yang menarik. 

Novel Saksi Mata pertama kali dimuat sebagai cerita bersambung di Kompas—Pak Brata mengaku mendapat 8 juta sebagai honor.  Ketika buku ini dijadikan novel, Pak Brata kembali mendapat honor, dan buku ini juga memberinya banyak penghargaan, antara lain penghargaan dari Menteri Pendidikan di tahun 2007, dan hadiah sastra Asia Tenggara dari Sirikit, Thailand.  
Tapi beliau juga bercerita, bahwa tidak semua bukunya bernasib baik.  Salah satunya adalah buku yang pertama kali beliau tulis dalam bahasa Indonesia, Tak Ada Nasi Lain, yang diajukan ke Penerbit Pembangunan di tahun 1958, penerbit yang juga pernah menerbitkan Kawat Berduri oleh Tresno Sumarjo, tapi tidak jadi diterbitkan karena situasi politik yang kurang mendukung. Tahun 1972, beliau mengetik ulang naskahnya karena ada pergantian sistem ejaan, dan mengirimkannya ke Ajip Rosidi di Pustaka Jaya, tapi lagi-lagi ditolak.  Tahun 1991, akhirnya naskahnya dimuat sebagai cerita bersambung di Kompas.  Lalu, Pak Brata ingin menerbitkannya menjadi buku.  Beliau mengirimkannya ke penerbit Tiga Serangkai (Solo), ditolak, kemudian Gramedia, ditolak juga.  Pak Brata berpikir ada kemungkinan besar ada permasalahan agama.  

Salah satu dari banyak karakter Pak Brata yang sungguh patut dikagumi adalah kegigihan beliau menulis dan menerbitkan karyanya.  Pak Brata bercerita, kuncinya adalah pendidikan yang menekankan pada sastra dan ceritera.  Untuk membuat orang tertarik membaca, menurut beliau harus melalui cerita dulu.  Tapi sayangnya, di Indonesia, semenjak tahun 1975, buku bacaan, sastra menghilang dari kurikulum pendidikan, diganti menjadi pelajaran bahasa.  Orang tidak lagi menikmati membaca karya, tapi harus mempelajari aturan.  Pelajaran yang semestinya mudah, diubah menjadi sulit. 

Selain itu, beliau juga senang mengumpulkan dan membaca ulang kata-kata mutiara untuk terus mendukungnya agar tidak mudah patah semangat.  Kata-kata tersebut dikumpulkan dan dituliskannya—beliau juga berharap dapat suatu saat menerbitkannya. 
Di akhir acara, Pak Brata menekankan lagi, pentingnya membaca dan menulis.  Ini juga perlu diterapkan di kurikulum pendidikan kita, agar memberi ruang pada kebiasaan membaca, bukan hanya pada pembelajaran peraturan-peraturan dan ujian-ujian saja.  “Wong pinter sadunia iku mesti maca buku lan nulis buku. Kowe piye?”  Sebuah tantangan dan ajakan yang perlu kita renungkan dan sambut.  Terima kasih Pak Suparto Brata, atas cerita-cerita dan ilmunya yang luar biasa menarik!  
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://c2o-library.net/2011/11/reportase-saksi-mata-suparto-brata-2002/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
			<enclosure url="http://www.archive.org/download/KlabBacaC2o3SaksiMata/KlabBacaC2o3-SaksiMata.mp3" length="103201714" type="audio/mpeg" />
		<itunes:duration>2:23:01</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Jumat, 25 November 2011. Jam 6 sore, teman-teman mulai berdatangan di perpustakaan C2O.  Merayakan bulan November, kami merasa senang sekali kedatangan tamu istimewa, Pak Suparto Brata, seorang penulis yang dengan konsisten terus menghasilkan karya-[...]</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Jumat, 25 November 2011. Jam 6 sore, teman-teman mulai berdatangan di perpustakaan C2O.  Merayakan bulan November, kami merasa senang sekali kedatangan tamu istimewa, Pak Suparto Brata, seorang penulis yang dengan konsisten terus menghasilkan karya-karya sastra berkualitas dalam bahasa Indonesia dan Jawa. 

Di atas meja tersedia teh manis hangat dan roti selai blueberry untuk menemani perbincangan sore ini.  Erlin membawa minuman spesial es degan buatannya!  Kami pun berposisi PW (posisi wuenak) mendengarkan Pak Brata membahas bukunya, Saksi Mata, suatu novel sejarah dengan latar belakang Surabaya di zaman penjajahan Jepang, dan tentunya menceritakan pengalaman-pengalaman serunya. 

Carlos sebagai teman bicara memberi sedikit pengantar mengenai buku ini.  Menurutnya, buku ini cukup memberi “angin segar” dalam novel-novel mengenai zaman penjajahan Jepang. Pertama, karena memang tidak banyak kita jumpai novel sejarah dengan latar belakang zaman penjajahan Jepang.  Kedua, meskipun berlatar belakang “kelam” (dan gelap suasananya karena tidak boleh ada cahaya dengan serangan udara), cara penceritaan dan karakter dalam novel ini cukup ceria dan bersemangat—suatu hal yang cukup berbeda (bandingkan misalnya dengan cerpen Idrus). 

Kuntara, tokoh utama, digambarkan sebagai anak menjelang remaja—“remaja tanggung”—yang bersemangat, sedikit polos, kadang kekanak-kanakan, tapi juga pemberani.  Diawali dengan rasa kasih sayangnya pada Bulik Rum yang terlibat dengan konflik antara Tuan Ichiro dan Mas Wiradad, kita melihat bagaimana peristiwa-peristiwa “besar” tumbuh dari berbagai peristiwa sehari-hari dan motif yang sangat manusiawi.  Membaca novelnya, benar-benar membuat kita merasa mendengarkan cerita-cerita masa lalu dari seorang kakek yang luar biasa!

Pak Brata bercerita, bahwa pada masa penjajahan Jepang, beliau memang masih berusia 10-12 tahun, seusia Kuntara saat itu.  Beliau masih menjalani sekolah dasar, dengan pelajaran yang banyak menekankan pada membaca buku, membaca katakana hiragana (aksara Jepang), dan menyanyi yang menurutnya enak sekali dan menyenangkan.  Beliau menyanyikan beberapa contoh lagu dalam bahasa Jepang. Ibunya kebetulan bekerja sebagai PRT untuk sekretaris kabupaten yang juga masih saudara jauh. Kantornya saat itu di Jalan Gentengkali 87, tempat yang sekarang kita kenal sebagai Balai Sahabat.  Jadi beliau memang di zaman itu tidak merasa sulit, hidupnya tidak susah.
Sesuai dengan tebakan teman-teman, memang cerita Saksi Mata dibuat dengan berdasarkan beberapa pengalaman hidup Pak Brata (bukankah setiap novel sedikit banyak autobiografis?).  Pak Brata dulu juga memiliki Bulik yang kenes yang suka jahil menggodanya—memberinya “inisiasi pertama”.  Tapi memang, karya-karya Pak Brata sangat diwarnai perempuan-perempuan yang menarik, tangguh, percaya diri dan nyaman dengan seksualitas dan daya tarik mereka, sensual, tapi juga memiliki harga diri yang tinggi. 

Novel ini bisa menghadirkan peristiwa-peristiwa besar melalui detil sehari-hari yang apik, sederhana tapi mendetil dan menarik.  Memang, salah satu kekhasan karya-karya sastrawan yang lahir 27 Februari 1932 ini, adalah ingatan dan deskripsi yang sangat mendetil dalam penggambaran lingkungan dan sejarah.

Beliau menjelaskan, bahwa beliau dulu bersekolah di Ongko Loro, pertama kali diajari menulis dan membaca, dengan aksara Jawa.  Kemudian secara bertahap, dia harus membaca berulang-ulang berbagai cerita dalam berbagai bahasa seperti Kuncung karo Bawok, Matahari Terbit, setiap hari.  Setiap murid harus menguasai membaca dan menulis.  Selain itu, sebenarnya tidak ada buku, jadi murid-murid harus menulis sendiri catatannya.  Di luar sekolah, tidak ada PR. Anak-anak sekolah bermain di luar sekolah, tapi di dalam kelas, mereka harus terus menerus membaca buku.  Ini menurut beliau, yang membuatnya bisa mengingat dengan baik.  

Di Dinas Pendidikan Sekolah Rakyat, di Jalan Jimerto dulu ada lapangan tenis.  Di dekatnya, ada gedung dengan aula, di mana[...]</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Reportase</itunes:keywords>
		<itunes:author>info@c2o-library.net</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>no</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Reportase: Harry Potter and the Deathly Hallows</title>
		<link>http://c2o-library.net/2011/11/reportase-harry-potter-and-the-deathly-hallows/</link>
		<comments>http://c2o-library.net/2011/11/reportase-harry-potter-and-the-deathly-hallows/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 02:40:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andriew Budiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Klab Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Talk&Sharing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://c2o-library.net/?p=2979</guid>
		<description><![CDATA[Peserta (menurut urutan alfabet): Anitha Silvia, Ari Kurniawan, Ary Amhir, Devy, Kathleen, Randy

Klab Baca Harry Potter (selanjutnya disingkat HP) di mulai setelah Devy -peserta terakhir diskusi- datang. Sebelumnya peserta lain, duo Ari/y , Randy dan Kat menunggu dimulainya diskusi dengan membaca tipis-tipis, bergosip, sembari menyaksikan film terakhir HP 7 dilayar televisi C2O melalui pemutar yang cakram video digitalnya sempat macet dua kali itu. Malam itu cuaca sangat gerah, dengan tingkat kelembapan udara cukup tinggi. Ditemani seduhan teh hangat , beberapa potong kueh kering...... -kudapan ala inggris, saya dan Randy memilih mengambil teh kemasan botol dari lemari pendingin- dan tak lupa guyonan-guyonan kering, peserta diskusi kemudian siap masuk kedalam dunia diskusi Harry Potter yang (harapanya) menyihir... Alohomora!]]></description>
		<wfw:commentRss>http://c2o-library.net/2011/11/reportase-harry-potter-and-the-deathly-hallows/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
			<enclosure url="http://www.archive.org/download/KlabBacaC2o2HarryPotterTheDeathlyHallows/KlabBaca2_HarryPotterTheDeathlyHallowsPt.1.mp3" length="19227665" type="audio/mpeg" />
		<itunes:duration>0:31:37</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Peserta (menurut urutan alfabet): Anitha Silvia, Ari Kurniawan, Ary Amhir, Devy, Kathleen, Randy

Klab Baca Harry Potter (selanjutnya disingkat HP) di mulai setelah Devy -peserta terakhir diskusi- datang. Sebelumnya peserta lain, duo Ari/y , Randy[...]</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Peserta (menurut urutan alfabet): Anitha Silvia, Ari Kurniawan, Ary Amhir, Devy, Kathleen, Randy

Klab Baca Harry Potter (selanjutnya disingkat HP) di mulai setelah Devy -peserta terakhir diskusi- datang. Sebelumnya peserta lain, duo Ari/y , Randy dan Kat menunggu dimulainya diskusi dengan membaca tipis-tipis, bergosip, sembari menyaksikan film terakhir HP 7 dilayar televisi C2O melalui pemutar yang cakram video digitalnya sempat macet dua kali itu. Malam itu cuaca sangat gerah, dengan tingkat kelembapan udara cukup tinggi. Ditemani seduhan teh hangat , beberapa potong kueh kering...... -kudapan ala inggris, saya dan Randy memilih mengambil teh kemasan botol dari lemari pendingin- dan tak lupa guyonan-guyonan kering, peserta diskusi kemudian siap masuk kedalam dunia diskusi Harry Potter yang (harapanya) menyihir... Alohomora!</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Reportase</itunes:keywords>
		<itunes:author>info@c2o-library.net</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>no</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Klab Baca: Saksi Mata</title>
		<link>http://c2o-library.net/2011/11/klab-baca-saksi-mata/</link>
		<comments>http://c2o-library.net/2011/11/klab-baca-saksi-mata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 04:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>c2o library</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Bedah Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Klab Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://c2o-library.net/?p=2959</guid>
		<description><![CDATA[[ November 25, 2011; 18:00 to 21:00. ] November ini kita akan membaca dan membahas Saksi Mata, sebuah novel sejarah dengan latar belakang Surabaya di zaman penjajahan Jepang yang ditulis oleh Suparto Brata.  Dan kita beruntung sekali bahwa kali ini Pak Suparto Brata pun bersedia datang untuk berbagi pengalaman dan banyak cerita menarik lainnya!

Buku Saksi Mata dapat dipinjam di Perpustakaan C2O.  Ulasan oleh Antonio Carlos, moderator kita untuk acara ini, bisa dibaca di : http://c2o-library.net/2010/11/saksi-mata/

Biaya Rp. 5.000, mendapatkan kopi/teh dan snack.  Info lebih lanjut mengenai klab baca bisa dibaca di bawah, atau hubungi info@c2o-library.net

---------------------------------------------
TENTANG KLAB BACA C2O
---------------------------------------------

September lalu, kami memulai program bulanan Klab Baca. Klab ini terbuka untuk umum, dengan maksud untuk berbagi, menghargai pengalaman dan pemahaman membaca judul yang sama dalam suasana yang akrab dan seru.

Jika ingin bergabung, silahkan datang di hari pertemuan kita: Jumat keempat tiap bulan, pk. 18.00.  Jadual di samping.

Jadual pertemuan Klab Baca:
Jumat keempat tiap bulan, pk. 18.00

28 Oktober 2011 : Harry Potter &#038; the Deathly Hallows (PIC: Andriew Budiman)
25 November 2011 : Saksi Mata (PIC: Antonio Carlos)
28 Januari : Have a Little Faith (Mitch Albom) (PIC: Ary Amhir)*
* = ada sedikit perubahan, Januari depan kita akan membaca Have a Little Faith (Mitch Albom), dan akan dipandu oleh Ary Amhir.

Apa saja yang akan dibaca?
Macam-macam, diajukan oleh anggota untuk kemudian dipilih bersama-sama di saat pertemuan.  Boleh dari berbagai genre: novel, sastra, misteri, sci-fi, detektif, cerpen, jurnal, buku anak, komik, biografi, sejarah, budaya, desain, sains, travelling, masak, dll.  Jika ada versi eBook/audiobooknya, akan kami pasang di http://c2o-library.net

Moderator:
Yang mencalonkan bukunya! :)

Variasi kegiatan:
- Membahas buku
- Literary games
- Role-playing
- Nonton film
- dsb.

Siapa saja yang boleh gabung?
Terbuka untuk umum, pada siapapun yang tertarik. Tidak masalah meski belum membaca bukunya.
Catatan: untuk meminjam buku, tetap harus menjadi anggota C2O

Iuran Rp. 5.000/pertemuan, mendapat:
- Freeflow kopi/teh
- Snack atau handout
- Sewa gratis buku yang akan dibaca bulan tersebut (harus menjadi anggota C2O)

INFO: info@c2o-library.net]]></description>
		<wfw:commentRss>http://c2o-library.net/2011/11/klab-baca-saksi-mata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Klab Baca: Harry Potter &amp; the Deathly Hallows</title>
		<link>http://c2o-library.net/2011/10/klab-buku-harry-potter-the-deathly-hallows/</link>
		<comments>http://c2o-library.net/2011/10/klab-buku-harry-potter-the-deathly-hallows/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 06:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>c2o library</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Klab Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Talk&Sharing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://c2o-library.net/?p=2844</guid>
		<description><![CDATA[[ October 28, 2011; 18:00 to 21:00. ] Oktober ini kita akan membaca dan membahas Harry Potter and the Deathly Hallows! Versi audiobook (mp3) dan eBook (PDF) HP7 tersedia juga di C2O.

September lalu, kami memulai program bulanan Klab Buku. Klab ini terbuka untuk umum, dengan maksud untuk berbagi, menghargai pengalaman dan pemahaman membaca judul yang sama dalam suasana yang akrab dan seru.

Jika ingin bergabung, silahkan datang di hari pertemuan kita: Jumat keempat tiap bulan, pk. 18.00.  Jadual di samping.

Jadual pertemuan Klab Buku:
Jumat keempat tiap bulan, pk. 18.00
28 Oktober 2011 : Harry Potter &#038; the Deathly Hallows (PIC: Andriew Budiman)
24 November 2011 : Saksi Mata (PIC: Antonio Carlos)
28 Januari : Sumpah Pemuda (PIC: Kathleen Azali)

Buku apa saja yang akan dibaca?

Macam-macam, diajukan oleh anggota untuk kemudian dipilih bersama-sama di saat pertemuan.  Boleh dari berbagai genre: novel, sastra, misteri, sci-fi, detektif, cerpen, jurnal, buku anak, komik, biografi, sejarah, budaya, desain, sains, travelling, masak, dll.  Jika ada versi eBook/audiobooknya, akan kami pasang di http://c2o-library.net

Moderator:

Yang mencalonkan bukunya! :)

Variasi kegiatan:

Membahas buku
Literary games
Role-playing
Nonton film
dsb.
Siapa saja yang boleh gabung?

Terbuka untuk umum, pada siapapun yang tertarik. Tidak masalah meski belum membaca bukunya.

Iuran Rp. 5.000/pertemuan, mendapat:

Freeflow kopi/teh
Snack atau handout
Sewa gratis buku yang akan dibaca bulan tersebut (harus menjadi anggota C2O)
INFO: info@c2o-library.net]]></description>
		<wfw:commentRss>http://c2o-library.net/2011/10/klab-buku-harry-potter-the-deathly-hallows/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reportase: Orang Rimba di Jambi</title>
		<link>http://c2o-library.net/2011/09/orang-rimba-di-jambi/</link>
		<comments>http://c2o-library.net/2011/09/orang-rimba-di-jambi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 04:45:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kathleen Azali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Klab Baca]]></category>
		<category><![CDATA[writers LIVE! @ c2o]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://c2o-library.net/?p=2787</guid>
		<description><![CDATA[Reportase Klab Buku C2O #1
Serah Jajah dan Perlawanan yang Tersisa: Etnografi Orang Rimba di Jambi

Kamis sore, 22 September 2011, kami mengadakan program bulanan yang sudah lama ingin kami lakukan: Klab Buku C2O.  Di ruang tengah, bantal-bantal digelar di atas matras di depan sofa.  Tampak penulis buku Serah Jajah, Adi Prasetijo, berbincang-bincang dengan Ayos, moderator kami untuk malam itu.  Begitu pula Tinta, Prinka, Carlos, Andre, Ary Amhir, Ardian, Opet dan Tinta menikmati snack cupcakes dengan kopi dan teh.  Menyusul hadir kemudian adalah Deasy Estherina, Habsari Savitri, Maria Mustika dan Tonny Mustika.

---------------------------------------------------
Selamat datang di Klab Buku C2O!
---------------------------------------------------

Sambil menunggu pengunjung lain datang, kami membahas teknis program bulanan ini.  Karena ada sedikit perubahan teknis, hari Klab Buku digeser menjadi hari Jumat keempat tiap bulan, pk. 18.00-21.00.  Klab ini terbuka untuk umum, dengan maksud untuk berbagi, menghargai pengalaman dan pemahaman membaca judul yang sama dalam suasana yang akrab dan seru. Dengan iuran Rp. 5.000/bulan, peserta mendapatkan freeflow kopi dan teh, snack, materi dan sewa gratis buku yang ditentukan selama bulan tersebut.

Peserta klab dapat mengajukan pilihan-pilihan buku untuk dibaca. Dari pilihan tersebut, 3 akan dipilih untuk 3 bulan berikutnya Buku boleh dari berbagai genre yang tersedia di C2O: novel, sastra, misteri, sci-fi, detektif, cerpen, jurnal, buku anak, komik, puisi ataupun non-fiksi seperti biografi, sejarah, budaya, desain, sains, travelling, masak, dll. Peserta yang mengajukan buku, akan menjadi pemandu acara pertemuannya.

Teman-teman kemudian mencalonkan judul-judul buku yang ingin mereka baca untuk bulan Oktober, November, dan Januari.  Ada yang mencalonkan Harry Potter, Sumpah Pemuda (Keith Foulcher), tetralogi Buru (Pram), Saksi Mata (Suparto Brata), seri Shopaholic  (Sophie Kinsella), Sang Fotografer (Didier Lefevre &#038; Emmanuel Guibert), dan Palestina Membara (Joe Sacco).  Setelah berembuk sedikit, kami semua akhirnya memutuskan Harry Potter and the Deathly Hallows (untuk 28 Oktober, PIC Andre), Saksi Mata (untuk 25 November, PIC Carlos), dan Sumpah Pemuda (untuk 28 Januari, PIC kat).

---------------------------------------------------
Orang Rimba di Jambi
---------------------------------------------------

Selesai membahas teknis di atas, kami kemudian melangsungkan diskusi buku.  Ayos dari Hifatlobrain Travel Institute, membuka acara dengan memberi sedikit pengantar mengenai impresinya setelah membaca buku Serah Jajah.  “Yang paling kepikiran itu…

Menurut saya, orang-orang Rimba ini tidak bersikap adil sejak dalam pikiran.  Mereka mempunyai konsep diri yang boleh dibilang sudah kalah duluan, dan memang mereka berada dalam posisi yang kalah.  Dan kenapa demikian, ini dijelaskan dengan panjang lebar dalam buku ini.”

Adi Prasetijo kemudian menceritakan sedikit latar belakang proses penulisan buku ini.  Buku ini sebenarnya adalah hasil studi S2nya, yang berawal dari keterlibatannya dalam projek pendidikan bersama orang Rimba yang membuat dia tertarik untuk membuat penelitian lebih lanjut.  Prof. Parsudi Suparlan, pembimbing thesisnya, mendorongnya untuk menerbitkan buku ini karena kajian-kajian suku seperti ini—apalagi yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri—sangat lah jarang karena membutuhkan banyak biaya, energi, waktu, dan komitmen tinggi.  “Padahal,” lanjut Adi, “ada hampir 1.000 suku bangsa di Indonesia.  Jadi siapa lagi yang membuat kajian-kajian atau dokumentasi seperti ini kalau bukan kita sendiri?”  Sayang Prof. Suparlan keburu meninggal sebelum Adi sempat menerbitkan bukunya.

Dalam hubungan mereka dengan orang-orang Melayu, konsep diri mereka sebagai orang yang “kalah”, bisa dilihat begitu tertanam dalam kosmologi, pola pikir, dan reliji mereka.  Ini terjadi melalui proses sejarah, sosial, politik, budaya yang panjang di mana hubungan mereka dengan orang Melayu memang dibangun dalam posisi yang tidak setara.

Adi kemudian menunjukkan slides yang telah ia persiapkan. Adi terutama tertarik bagaimana pola pikir yang membuat diri mereka sendiri dalam posisi begitu rendah bisa sangat tertanam dalam kehidupan mereka.

Siapa sih Orang Rimba, atau Orang Kubu itu?  Menurut data Adi, ada sekitar 6.650 orang Rimba, kebanyakan terpusat di Jambi.  Catatan-catatan mengenai orang Kubu dapat ditemukan dari catatan-catatan Belanda mengenai kesultanan Melayu di abad ke-17-18.  Menurut Barbara Watson Andaya, sejak abad 17 pun, ada dinamika kekuasaan antara Orang Hulu dan Hilir.  Orang-orang Hulu (Rimba) menjadi ujung tombak penyedia persediaan sumber daya alam seperti cula badak, gading gajah, kayu dsb. yang nantinya berputar di jalur perdagangan di selat Malaka.

Konsep Serah Jajah naik turun ini sebenarnya menstabilkan proses komoditi dari hulu ke hilir, dan memastikan ada pasokan yang kontinyu antara dua kelompok masyarakat, dan disahkan oleh kesultanan Jambi saat itu.  Ada middleman, orang-orang yang diberi peran untuk menstabilkan hubungan-hubungan seperti ini, seperti waris dan jenang. Hubungan patron-client ini umum dijumpai di Asia Tenggara.  Yang menjadi masalah adalah ketika di masa modern, hubungan ini tidak berubah, tapi pelakunya berubah—bisa perusahaan, pemerintah, dsb.

Posisi mereka saat ini makin terdesak, apalagi dengan pembukaan-pembukaan hutan sehingga mereka kehilangan tempat tinggal.  Tak jarang mereka tinggal di tengah-tengah perkebunan sawit.  Maka dua respon yang umum adalah adalah asimilasi dengan menjadi Orang Melayu, atau pengucilan diri. Kebijakan Nasional, sayangnya juga tidak mendukung mereka.  Sebagai contoh, konsep “Putra Daerah” masih diidentikkan dengan etnis “asli”, sehingga kerap tidak menghiraukan orang-orang yang tidak termasuk dalam kelompok tersebut.  Padahal di tengah-tengah derasnya perubahan-perubahan ini, perlu disediakan akses informasi untuk memberi mereka pilihan, peluang-peluang dan memudahkan/memfasilitasi perubahan.

Diskusi berlangsung santai dan seru, diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung.  Presentasi dan diskusi dengan Adi ini sangat melengkapi informasi yang ada di buku, karena bukunya sendiri memfokuskan pada dinamika Serah Jajah, sehingga mungkin yang kurang familiar dengan Orang Rimba, akan masih sedikit bingung membaca mengenai suku ini.  Apalagi karena buku ini dibuat dari thesis Adi, untuk diterbitkan, jelas ada banyak pemangkasan halaman untuk menyesuaikan dengan selera konsumen.  Sebagai contoh, Adi pernah menawarkan buku ini ke salah satu penerbit besar.  Namun jawabannya adalah, meskipun penerbit menilai buku ini sangat baik dan mendetil, penerbit tidak dapat menerbitkan buku ini karena menilai minat konsumen yang rendah pada subjek seperti ini.  Sayang sekali.

Ayos kemudian menutup acara dengan merangkum hasil diskusi.  Teman-teman juga sedikit berbagi kesan mereka setelah membaca buku.  “Saya suka buku ini, meskipun ilmiah tapi bahasanya enak dibaca, tidak mendakik-dakik,” kata Carlos.  “Itu terima kasih pada editor saya, Mbak Ary,” tutur Adi yang disambut dengan sorakan riuh teman-teman.  “Pantes kok gaya tulisnya rodok-rodok familiar, gitu,” canda teman-teman.  Sementara Tinta merasa, membaca buku ini sebenarnya membongkar Orang Rimba tidak hanya sebagai suku terasing yang eksotis, tapi juga memberi kita dinamika-dinamika mereka berhadapan dengan kehidupan modern.  Sangat dibutuhkan sekali dokumentasi mengenai suku-suku di Indonesia, terutama yang ditulis dalam bahasa Indonesia untuk referensi kita.  Salut untuk Adi Prasetijo, mari kita nantikan buku-buku berikutnya.

C2O mengucapkan banyak terima kasih kepada Adi Prasetijo, Ayos Purwoaji dari Hifatlobrain Travel Institute sebagai moderator, dan semua teman-teman yang telah datang ke acara ini.  Jangan lupa untuk datang ke Klab Buku C2O berikutnya!  Jadual kami lampirkan di bawah.  Terima kasih.

Jadual Klab Buku C2O:
#2 28 Oktober, 18.00: Harry Potter and the Deathly Hallows (PIC Andre)
#3 25 November, 18.00: Saksi Mata (PIC Carlos)
#4 28 Januari, 18.00: Sumpah Pemuda (PIC kat).

* Tidak ada klab buku untuk bulan Desember karena Jumat keempatnya C2O tutup.

Untuk bergabung, silakan datang saja ke hari yang telah ditentukan. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi: info@c2o-library.net

Foto oleh Ardian Purwoseputro.]]></description>
		<wfw:commentRss>http://c2o-library.net/2011/09/orang-rimba-di-jambi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
			<enclosure url="http://www.archive.org/download/KlabBukuC2o1OrangRimbaDiJambi/SerahJajah.mp3" length="67549808" type="audio/mpeg" />
		<itunes:duration>1:52:35</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Reportase Klab Buku C2O #1
Serah Jajah dan Perlawanan yang Tersisa: Etnografi Orang Rimba di Jambi

Kamis sore, 22 September 2011, kami mengadakan program bulanan yang sudah lama ingin kami lakukan: Klab Buku C2O.  Di ruang tengah, bantal-bantal [...]</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Reportase Klab Buku C2O #1
Serah Jajah dan Perlawanan yang Tersisa: Etnografi Orang Rimba di Jambi

Kamis sore, 22 September 2011, kami mengadakan program bulanan yang sudah lama ingin kami lakukan: Klab Buku C2O.  Di ruang tengah, bantal-bantal digelar di atas matras di depan sofa.  Tampak penulis buku Serah Jajah, Adi Prasetijo, berbincang-bincang dengan Ayos, moderator kami untuk malam itu.  Begitu pula Tinta, Prinka, Carlos, Andre, Ary Amhir, Ardian, Opet dan Tinta menikmati snack cupcakes dengan kopi dan teh.  Menyusul hadir kemudian adalah Deasy Estherina, Habsari Savitri, Maria Mustika dan Tonny Mustika.

---------------------------------------------------
Selamat datang di Klab Buku C2O!
---------------------------------------------------

Sambil menunggu pengunjung lain datang, kami membahas teknis program bulanan ini.  Karena ada sedikit perubahan teknis, hari Klab Buku digeser menjadi hari Jumat keempat tiap bulan, pk. 18.00-21.00.  Klab ini terbuka untuk umum, dengan maksud untuk berbagi, menghargai pengalaman dan pemahaman membaca judul yang sama dalam suasana yang akrab dan seru. Dengan iuran Rp. 5.000/bulan, peserta mendapatkan freeflow kopi dan teh, snack, materi dan sewa gratis buku yang ditentukan selama bulan tersebut.

Peserta klab dapat mengajukan pilihan-pilihan buku untuk dibaca. Dari pilihan tersebut, 3 akan dipilih untuk 3 bulan berikutnya Buku boleh dari berbagai genre yang tersedia di C2O: novel, sastra, misteri, sci-fi, detektif, cerpen, jurnal, buku anak, komik, puisi ataupun non-fiksi seperti biografi, sejarah, budaya, desain, sains, travelling, masak, dll. Peserta yang mengajukan buku, akan menjadi pemandu acara pertemuannya.

Teman-teman kemudian mencalonkan judul-judul buku yang ingin mereka baca untuk bulan Oktober, November, dan Januari.  Ada yang mencalonkan Harry Potter, Sumpah Pemuda (Keith Foulcher), tetralogi Buru (Pram), Saksi Mata (Suparto Brata), seri Shopaholic  (Sophie Kinsella), Sang Fotografer (Didier Lefevre &#038; Emmanuel Guibert), dan Palestina Membara (Joe Sacco).  Setelah berembuk sedikit, kami semua akhirnya memutuskan Harry Potter and the Deathly Hallows (untuk 28 Oktober, PIC Andre), Saksi Mata (untuk 25 November, PIC Carlos), dan Sumpah Pemuda (untuk 28 Januari, PIC kat).

---------------------------------------------------
Orang Rimba di Jambi
---------------------------------------------------

Selesai membahas teknis di atas, kami kemudian melangsungkan diskusi buku.  Ayos dari Hifatlobrain Travel Institute, membuka acara dengan memberi sedikit pengantar mengenai impresinya setelah membaca buku Serah Jajah.  “Yang paling kepikiran itu…

Menurut saya, orang-orang Rimba ini tidak bersikap adil sejak dalam pikiran.  Mereka mempunyai konsep diri yang boleh dibilang sudah kalah duluan, dan memang mereka berada dalam posisi yang kalah.  Dan kenapa demikian, ini dijelaskan dengan panjang lebar dalam buku ini.”

Adi Prasetijo kemudian menceritakan sedikit latar belakang proses penulisan buku ini.  Buku ini sebenarnya adalah hasil studi S2nya, yang berawal dari keterlibatannya dalam projek pendidikan bersama orang Rimba yang membuat dia tertarik untuk membuat penelitian lebih lanjut.  Prof. Parsudi Suparlan, pembimbing thesisnya, mendorongnya untuk menerbitkan buku ini karena kajian-kajian suku seperti ini—apalagi yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri—sangat lah jarang karena membutuhkan banyak biaya, energi, waktu, dan komitmen tinggi.  “Padahal,” lanjut Adi, “ada hampir 1.000 suku bangsa di Indonesia.  Jadi siapa lagi yang membuat kajian-kajian atau dokumentasi seperti ini kalau bukan kita sendiri?”  Sayang Prof. Suparlan keburu meninggal sebelum Adi sempat menerbitkan bukunya.

Dalam hubungan mereka dengan orang-orang Melayu, konsep diri mereka sebagai orang yang “kalah”, bisa dilihat begitu tertanam dalam kosmologi, pola pikir, dan reliji mereka.  Ini terjadi melalui proses sejarah, sosial, politik, budaya yang panjang di mana hubungan mer[...]</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Berita, Highlight, Reportase</itunes:keywords>
		<itunes:author>c2o library, adi prasetijo</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>no</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Klab Buku: Serah Jajah dan Perlawanan yang Tersisa</title>
		<link>http://c2o-library.net/2011/09/klab-buku-serah-jajah/</link>
		<comments>http://c2o-library.net/2011/09/klab-buku-serah-jajah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Sep 2011 14:50:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>c2o library</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Bedah Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Klab Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Talk&Sharing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://c2o-library.net/?p=2773</guid>
		<description><![CDATA[[ September 22, 2011; 18:00 to 21:00. 18:00 to 21:00. ] Klab Buku C2O #1:
Serah Jajah &#038; Perlawanan yang Tersisa - Etnografi Orang Rimba di Jambi

Pembicara, penulis:
Adi Prasetijo, Indonesia Center for Sustainable Development (ICSD)
Moderator:
Ayos Purwoaji, Hifatlobrain Travel Institute

Tanggal &#038; waktu:
Kamis, 22 September 2011
18.00 - 21.00

Lokasi:
Perpustakaan C2O, Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya 60264
Telp: 031-77525216
Peta lokasi: http://c2o-library.net/about/address-opening-hours/

-------------

Buku ini sangat perlu dibaca oleh siapapun yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai etnografi kehidupan Orang Rimba atau Suku Anak Dalam di Jambi. Serah naik jajah turun merupakan perlambangan dari hubungan dominasi minoritas antara Orang Rimba dan Orang Melayu.

Pengalaman penulis yang telah beberapa tahun tinggal bersama dengankomunitas Orang Rimba sangat memperkaya penggambaran informasi dan kejadian pada kehidupan Orang Rimba itu sendiri dan lingkungan yang mempengaruhinya. Haruskah mereka tetap menjadi Orang Rimba atau memilih untuk tidak diakui sebagai Orang Rimba

......................................
Tentang Klab Buku C2O:
......................................

Mulai September 2011, C2O mengadakan Klab Buku setiap hari Kamis minggu keempat, 18.00-21.00. Klab ini terbuka untuk umum, dengan maksud untuk berbagi, menghargai pengalaman dan pemahaman membaca judul yang sama dalam suasana yang akrab dan seru.

Peserta klab dapat mengajukan pilihan-pilihan buku untuk dibaca. Dari pilihan tersebut, 3 akan dipilih untuk 3 bulan berikutnya Buku boleh dari berbagai genre yang tersedia di C2O: novel, sastra, misteri, sci-fi, detektif, cerpen, jurnal, buku anak, komik, ataupun non-fiksi seperti biografi, sejarah, budaya, desain, sains, travelling, masak, dll. Peserta yang mengajukan buku, akan menjadi pemandu acara pertemuannya.

Untuk bergabung dalam klab ini, silakan datang ke tiap hari Kamis keempat. Untuk pertemuan perdana klab yang akan dilangsungkan 22 September ini, kita akan membahas buku Serah Jajah dan Perlawanan yang Tersisa: Etnografi Orang Rimba di Jambi. Silahkan datang!]]></description>
		<wfw:commentRss>http://c2o-library.net/2011/09/klab-buku-serah-jajah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

