Site icon C2O library & collabtive

Kenapa kamu perlu tahu Tan Sing Hwat, Ratna Asmara dan bergabung dalam nobar 30 Mei di C2O?

Tahun 1950an menjadi era dimulainya industri perfilman di Indonesia. Darah dan Doa karya Usmar Ismail ditahbiskan menjadi film nasional pertama Indonesia, yang dibuat dan diperankan oleh orang Indonesia. Bahkan hari pertama pengambilan gambar film tersebut dijadikan sebagai Hari Film Nasional, 30 Maret 1950.

Di tahun yang sama Ratna Asmara, menyutradarai film pertamanya, Sedap Malam (1951) tentang seorang penyintas jebakan menjadi jugun ianfu. Tahun-tahun di mana cerita-cerita yang bertema kemerdakaan dan militeristik serta dibuat oleh sutradara laki-laki masih mendominasi industri perfilman saat itu. Ratna yang lebih dikenal sebagai aktris dan selalu dilekatkan dengan Andjar Asmara — suaminya saat itu — mencoba merebut ruang dengan hadir sebagai sutradara perempuan, pertama. Lewat karya pertamanya Ratna mencoba menghadirkan kisah perempuan korban kebiadaban Jepang. Sebuah cerita yang tidak populer di tengah narasi nasionalisme.

Saat ini film ketiganya, Dr. Samsi (1952), sementara ini adalah satu-satunya yang masih dapat ditemukan. Berkisah tentang seorang ibu yang berpisah dengan anaknya, oleh Ratna alur cerita Dr. Samsi yang ditulis oleh mantan suaminya Andjar Asmara diubah menjadi cerita yang didominasi oleh sosok Ibu. Pada masanya Ratna sudah terlihat sangat progresif dengan berani tampil sebagai perempuan yang membuat film. Saat itu jumlahnya masih terbilang sedikit. Mirisnya kondisi tersebut masih ada hingga hari ini.

Ketimpangan yang terjadi pada industri film saat itu tidak terjadi kepada minoritas gender saja, seperti yang dialami Ratna. Kelompok minoritas lainnya seperti Tan Sing Hwat, seorang sutradara keturunan Tionghoa. Hadir di tengah gempuran film nasionalis, karyanya yang berjudul Aladin yang diadaptasi dari kisah 1001 malam, menampilkan kritik sosial dari sudut pandang rakyat kelas bawah.

Antara Ratna Asmara dan Tan Sing Hwat memiliki benang merah yang sama. Datang dari kelompok minoritas, peran mereka tersingkir ke tepian sejarah industri perfilman yang masih didominasi oleh kanon. Mengingat dengan menonton dan membahas karya mereka adalah langkah untuk membongkar kanon sejarah dengan kritis dan mempertanyakan peminggiran yang terjadi berdekade lamanya.

1 / 14

Pemutaran perdana di Surabaya: Aladin, Merangkai Ratna Asmara, Dr Samsi

Kelindan Gender & Identitas Pekerja di Tepian Sejarah Industri Kreatif

Sabtu, 30 Mei 2026, 13.00 – 21.00
Makan malam, minuman dan kudapan disediakan. Peserta tidak wajib mengikuti seluruh kegiatan dari jam 13.00 – 21.00, tapi mohon untuk menjaga kondusifitas pemutaran maupun diskusi jika perlu keluar-masuk.

Bersama:
– Lisabona Rahman
– Efi S. Handayani
Moderator: Veronica Ajeng

Kontribusi:
– Rp 50.000 untuk umum
– Rp 45.000 untuk anggota C2O atau SINDIKASI

Simak perihal film dan sutradara di bawah ini

Aladin (Tan Sing Hwat, 1953)

Aladin mengadaptasi cerita 1001 Malam yang telah beredar secara global, termasuk di Asia Tenggara, untuk konteks Indonesia pasca-kolonial awal. Film ini menafsir kisah yang sudah dikenal luas tentang seorang pria kelas bawah yang jatuh cinta pada seorang putri kelas atas, dengan bantuan jin ajaib, penyihir jahat, dan tentara korup.

Sebagai salah satu dari sedikit film hiburan Indonesia yang masih bertahan dari periode setelah Perang Dunia II, Aladin diproduksi oleh perusahaan Golden Arrow, yang dikenal memproduksi kisah-kisah fantastis dan kosmopolitan yang diambil dari tradisi teater rakyat dan diubah ke dalam bentuk sinematik. Produksi ini menggunakan efek khusus klasik, seperti jump cut, musik yang orisinal, serta memanfaatkan genre drama panggung dan fantasi untuk menyampaikan kritik sosial terhadap korupsi pemerintah.

Tan Sing Hwat lahir di Pasuruan, 5 Januari 1918. Sebelum bekerja sebagai pembuat film, terlebih dulu la bekerja sebagai wartawan. Ia juga aktif dalam kegiatan serikat pekerja. Pada 1950, Tan mulai pindah ke dunia film dan kemudian bekerja sebagai sutradara tetap di Golden Arrow. Film pertama yang disutradarainya, “Siapa Dia” tercatat diluncurkan pada tahun 1952. Karirnya di dunia film pasang-surut sampai dekade 1970-an. Ia tutup usia di Surabaya pada 13 Juni 1986. Ia juga pernah berkarya menggunakan nama panggung Tandu Honggonegorodan Agoes Soemanto. Setelah tidak lagi aktif membuat film, ia berkegiatan di Dewan Kesenian di Surabaya.

Tan juga aktif di grup teater Lekture dan Manunggal Film Surabaya. Dia tergabung dalam Yayasan Film & Teater Liberty Surabaya. Pernah menjadi Wakil Ketua Komisi Film dan Televisi Dewan Kesenian Surabaya serta melatih teater untuk disiarkan TVRI stasiun Surabaya. Pada 1962, Tan bekerja sebagai sutradara lepas dan menyutradarai film untuk Perusahaan Gema Masa.

Krishna Sen dalam Chinese Indonesians in National Cinema menyebut Tan Sing Hwat bersama Fred Young, adalah dua penulis-sutradara Indonesia Tionghoa paling produktif. Bachtiar Siagian, sutradara yang juga anggota Lekra dalam Catatan Mengenai Hubunganku dengan Teater yang dipublikasikan Indoprogress.com, menyebut bahwa Tan Sing Hwat merupakan salah satu pengurus Sarikat Buruh Film dan Seni Drama (Sarbufis).

Mungkin karena hubungannya dengan Lekra, dia tidak bisa menulis lagi setelah tahun 1965. Tan Sing Hwat berganti nama menjadi Agoes Soemanto sejak terbitnya Keputusan Presedium Kabinet No. 127/U/KEP/12/1966, yang mengatur ganti nama bagi warga negara Indonesia yang menggunakan nama Tionghoa.

Merangkai Ratna Asmara (Ersya Ruswandono, 2022)

Ratna Asmara merupakan sutradara, aktris dan produser film yang tercatat aktif berkiprah dalam sinema Indonesia sejak 1940 hingga 1955. Sepanjang hidupnya ia telah menyutradarai lima buah film – dari Sedap Malam (1950), Musim Bunga di Selabintana (1952), Dr. Samsi (1952), Nelajan (1953), dan Dewi dan Pemilihan Umum (1954). Dalam dokumenter ini, Kelas Liarsip – kolektif periset dan arsiparis film hendak menelusuri jejak-jejak perjalanan sosok Ratna Asmara melalui telusur dokumen, hingga reparasi dan digitisasi materi copy positif 35mm Dr. Samsi (1952).

Ersya Ruswandono adalah sineas muda lulusan Institut Kesenian Jakarta yang kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Antropologi Universitas Gadjah Mada. Ersya memulai perjalanan sinemanya dengan membuat beberapa film pendek seperti ‘Prenjak’ (2016), yang dianugerahi sebagai Film Pendek Terbaik dari Semaine de la Critique di Festival Film Cannes, debut penyutradaraannya dalam fiksi pendek berjudul ‘Gilingan’ (2016), juga memproduseri film dokumenter ‘Penumbra’ (2020). Kini selain membuat film Ersya juga berperan sebagai pengajar di Universitas Multimedia Nusantara dan Trisakti School of Multimedia. Baginya, film merupakan medium untuk merekam jejak pemikiran dan pengalaman rasa, serta sebagai bentuk pengarsipan dari perubahan sosial dan budaya.

Dr Samsi (Ratna Asmara, 1952)

Sukaesih terpaksa menitipkan anak kandungnya di rumah sakit mantan kekasihnya, Dr.Samsi. Sukaesih ingin anaknya bisa mengenyam pendidikan layak di bawah asuhan bapak kandungnya sendiri. Dengan tipu daya Leo, Samsi akhirnya sepakat membawa anak Sukaesih sebagai Sugiat, anaknya dengan Sundari yang baru saja meninggal. Sugiat tumbuh dewasa, menjadi pengacara, tanpa mengetahui kebenaran tentang ibu kandungnya dan intrik pertukaran anak di masa lalu. Pulang ke Indonesia, Sugiat menangani kasus Sukaesih yang dituduh membunuh Leo, suaminya sendiri. Apakah Sugiat mampu membebaskan Sukaesih dari tuduhan? Apakah Samsi akhirnya menyadari bahwa Sugiat adalah anak kandungnya sendiri?

Ratna Asmara terlahir dengan nama Suratna (1913 – 1968) merupakan aktris, sutradara dan produser film yang aktif berkarya di perfilman tanah air 1940 hingga 1954. Ia diyakini sebagai perempuan pertama yang menyandang kredit sebagai sutradara film dalam sinema Indonesia. Sosok yang mengawali karirnya di pertunjukan Dardanella ini memulai debutnya sebagai sutradara melalui film Sedap Malam (1951) – yang juga merupakan film pertama PERSARI. Selama empat tahun berturut-turut, ia menyutradarai Musim Bunga di Selabintana (1952), Dr. Samsi (1952), Nelajan (1953-1954), dan Dewi dan Pemilihan Umum (1954). Ia mendirikan perusahaan Asmara Film dan Ratna Film.

Jadwal / rundown

WaktuKegiatan
13.00 – 14.30Pemutaran Aladin
14.30-15.00Rehat
15.00-16.00Diskusi Aladin
16.00-16.30Rehat
16.30-17.40Pemutaran Merangkai Ratna Asmara
17.40-18.30Makan malam
18.30-19.30Diskusi & penutup
19.30-21.00Pemutaran Dr Samsi

Makan malam, minuman dan kudapan disediakan. Peserta tidak wajib mengikuti seluruh kegiatan dari jam 13.00 – 21.00, tapi mohon untuk menjaga kondusifitas pemutaran maupun diskusi jika perlu keluar-masuk.

Exit mobile version