<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="6293">
<titleInfo>
<title>Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1830-1939</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Darsiti Soeratman</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm></place>
<publisher>Yayasan Penerbitan Tamansiswa Yogyakarta</publisher>
<dateIssued>1989</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesian</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Book - Paperback</form>
<extent></extent>
</physicalDescription>
<note>Bagaimanakah budaya Jawa, yang dipelopori keraton, terepresentasikan dalam situasi politik yang selalu rentan itu? Inilah yang mendorong Prof. Dr. Darsiti Soeratman melakukan penelitian di Keraton Surakarta. Selama lebih dari seabad (1830-1939), Surakarta diperintah empat raja, dari Paku Buwana VII sampai Paku Buwana X.

Selama periode itu, raja-raja terus-menerus harus menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada kolonialis Belanda. Pertama-tama, mancanegara Barat dan Timur, ditambah nagaraung Bagelen, harus diserahkan. Kemudian diikuti dengan penyerahan pengadilan dan kepolisian, serta pelepasan hak atas tanah yang dihubungkan dengan adanya reorganisasi tanah (1917).

Namun, di mata kawulanya, sunan tetap memiliki kekuasaan yang amat besar, yang sakral-magis, dan dianggap memiliki wahyu. Merosot dan lenyapnya kekuasaan politik itu tidak membawa kekuasaan raja -dalam konsep kultural- ikut pudar. Ini tampak pada penyelenggaraan upacara garebeg dan pesta yang makin diperhebat, sehingga upacara berfungsi sebagai lambang kebesaran sunan.

Buku yang terdiri dari tujuh bab ini menggunakan pendekatan multidimensi: historis, sosiologis, dan antropologis. Karya sejarawan Indonesia yang paling tekun ini -meminjam istilah sejarawan Sartono Kartodirdjo- bisa disebut sebagai ensiklopedi mini sejarah perkembangan kota, khususnya Keraton Surakarta.

G.A. Guritno</note>
<classification>NONE</classification><identifier type="isbn">9798118006</identifier><location>
<physicalLocation>C2O library Online catalog (BETA)</physicalLocation>
<shelfLocator>959.8222 SOE Keh</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">7486</numerationAndChronology>
<sublocation>C2O library & collabtive</sublocation>
<shelfLocator>959.8222 SOE Keh</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:image>2370519.jpg.jpg</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>6293</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-08-21 12:49:28</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-08-21 12:50:52</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>