Detail Cantuman Kembali

XML

Surabaya City Of Work: A Socioeconomic History, 1900-2000


Review oleh Lambertus Hurek, dari blognya: http://hurek.blogspot.com/2009/02/surabaya-city-of-work-howard-dick.html





Sejarawan ini mengkaji secara komprehensif sejarah sosial-ekonomi Kota Surabaya pada 1900 sampai 2000. Rentang waktu 100 tahun. Tentu, ini membutuhkan kerja keras, dokumentasi, buku-buku, narasumber, serta ketekunan yang luar biasa. Syukurlah, Howard Dick berhasil menemukan segepok arsip tentang Surabaya pada era 1900-2000 di Belanda.





Luar biasa! Saya sendiri geleng-geleng kepala melihat etos peneliti Barat. Kalau sudah meminati sesuatu, riset, mereka lakukan habis-habisan. Dia tinggal di Surabaya selama berbulan-bulan. Wawancara banyak dengan penduduk, pengusaha, pejabat, pengusaha, dan semua yang terkait dengan penelitiannya. Semua data dicatat, diolah, sehingga menjadi potret Kota Surabaya.





Orang luar, apalagi akademisi Barat, kerap jauh lebih objektif dan jernih. Maka, buku SURABAYA CITY OF WORK ini boleh dikata merupakan potret perjalanan Surabaya selama satu abad. Bagaimana Surabaya pada abad ke-19, awal kemerdekaan, era repatriasi [pengembalian sisa-sisa Belanda] dan nasionalisasi perusahaan negara Hindia Belanda, Orde Lama, Orde Baru [1966-1998], Refomasi [1998 sampai sekarang]. Semua dibahas tuntas oleh Howard Dick. Data, ilustrasi, peta, foto... sangat berbicara.





Sekarang ini Surabaya dijuluki sebagai KOTA NOMOR ENAM di Indonesia. Nomor satu Jakarta. Nomor tiga? Jakarta lagi. Nomor empat? Jakarta. Nomor lima? Jakarta lagi. Surabaya nomor enam, bukan nomor dua! Pelesetan lama itu menggambarkan betapa Jakarta, ibukota republik, adalah segalanya di Republik Indonesia. Sebagian besar uang berputar di Jakarta. Pertumbuhan ekonomi terpusat di Jakarta.





Surabaya hanya kecipratan remah-remah Jakarta. Jangan lagi bicara luar Pulau Jawa, apalagi Indonesia Timur, yang sejak dulu tidak pernah masuk hitungan. Nah, Howard Dick membeberkan data sejarah bahwa tempo doeloe Surabaya itu kota terbesar di Jawa. Jakarta kalah jauh.





Howard Dick menulis:





'At the beginning of the twentieth century, Surabaya was by population and volume of trade the foremost city of Java. A prosperous urban economy based on foreign trade and associated services had been sustained by decades of rapid development of plantation agriculture in the hinterland....'





Penduduk Surabaya saat itu 150.000, Jakarta 138.500, Semarang 96.700. Kemudian, kita tahu Jakarta berkembang menjadi kota raksasa dengan jumlah penduduk yang tidak terkendali. Roda ekonomi Jakarta pun berputar kencang melampaui Surabaya. Prestasi Surabaya hanya sekadar romantisme masa lalu. Hanya catatan sejarah belaka.





Namun, Howard Dick mencatat Surabaya tidak tinggal diam. Pelan tapi pasti, kota pelabuhan ini terus bergerak dan kembali merebut perhatian kalangan investor. Surabaya, dengan kawasan penyangga Sidoarjo dan Gresik, juga menjadi kota industri. Urbanisasi pun berlangsung dengan leluasa. Sehingga, saat ini penduduk Surabaya sudah mencapai 5 juta, Sidoarjo 2 juta, Gresik 1,5 juta.





Meski Surabaya sudah padat penduduk, Howard Dick mengapresiasi kerja keras pemerintah kota, yang didukung teknokrat kampus, membenahi kampung-kampung. Ingat, Surabaya itu bukan kota modern yang didesain secara konseptual ala kota-kota besar di negara maju. Surabaya itu aglomerasi kampung. Kampung Improvement Project [KIP] di Surabaya dianggap sukses, sehingga menjadi model di Asia Tenggara.





Howard Dick memperlihatkan data dan foto tentang wajah Surabaya yang berubah sama sekali. Dari kampung becek, tidak terawat, sumber penyakit [kolera, disentri, tipus], menjadi kampung yang bersih dan rapi. Surabaya menjadi pelanggan penghargaan Adipura sejak 1980-an sampai sekarang.





Howard Dick menulis:





'Surabaya's record on kampung improvement was still much better than the national average ' [halaman 191].





Di sela-sela catatan sejarah sosial-ekonomi yang padat, Howard Dick secara halus menyentil pola konsumsi dan gaya hidup orang kaya di Surabaya. Sejak zaman Belanda, tahun 1900, sampai hari ini, ya, sama saja. Dengan uang berlimpah, orang-orang kaya senantiasa mencari permukiman elite, eksklusif, yang jauh dari kampung.





Kalau zaman Hindia Belanda, kawasan Raya Darmo menjadi pilihan kaum beruang, kini pilihan jatuh ke real estat di pinggir kota. Kawasan supermahal dengan danau buatan, lapangan golf, sekolah internasional, mal khusus, dan fasilitas kelas satu lainnya. Howard Dick menulis di halaman 397:





'... they could buy a new site and build a modern dream home and indulge their own fantasies of being modern,' tulis Howard Dick.





'They could live among their own group in a safe and secure environment well away from the pressures and threats f the crowded kampungs, no squatters, no street sellers, and no becak. Security kept out such intruders.'
Hadiah dari Bambang Irawan, Surabaya Tempo Dulu
Howard W. Dick - Personal Name
959.8231 DIC Sur
896802213
Indonesia
Book - Paperback
English
Ohio University Press
2002
541
LOADING LIST...
LOADING LIST...