Detail Cantuman
Advanced Search
Book - Paperback
Buru Tetralogi 1: Bumi Manusia
Tatkala para filsuf sejarah masih berpolemik apakah sejarah yang membentuk manusia atau manusia sendirilah yang membentuk sejarahnya, Pramoedya Ananta Toer lewat Tetralogi Pulau Buru -Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca- telah melibatkan diri dalam teka-teki filsafat itu.
Tetralogi adalah epos pergulatan manusia-manusia Republik dalam mencari performa identitas dan kesadaran humanismenya pada pergantian abad, dari 19 ke 20.
Lewat penelusuran riwayat hidup sang protagonis, Minke -anak bupati di Jawa yang menolak meneruskan jabatan bapaknya, siswa sekolah Belanda HBS, mahasiswa kedokteran di STOVIA, dan aktivis pergerakan yang memiliki reputasi sebagai wartawan-pengarang yang sanggup menulis dengan pisau belati- terpapar secara rinci struktur sosial dan kebudayaan kolonial pada masa itu dengan segala-gala kisah kesanggupan dan ketaksanggupan manusia di dalamnya berhadapan dengan pasang naiknya gelombang sejarah.
Dalam pergumulan ini, tokoh-tokoh protagonis Pram memang kalah dan tertawa oleh kekuatan sejarah, tapi sekaligus juga sanggup mengalahkan kekalahannya sendiri dengan mengatasi, baik ketakutan maupun kesombongan untuk tidak menang.
Di tangan Pram, sejarah selalu merupakan kisah tentang unggulnya kekuatan-kekuatan anonim dalam suatu zaman, yang penuh daya-dera yang menggilas, tetapi gagal menghentikan seseorang untuk mengatakan: 'Tidak!'
Lewat epos mahadahsyat ini, Pram menitiskan sebuah semangat, ya miriplah kombinasi antara keberanian dan kerendahan hati sekaligus, bahwa sejarah akan mendesakkan diri ke mana saja, tetapi manusia tetap tak terkalahkan. Sejarah memang bisa menggulung siapa saja, tetapi manusia bukanlah sepotong gabus yang setelah terombang-ambing dapat diempas ke daratan dan menjadi sampah di pantai.
---
'Kami, Angkatan Muda, dengan segenap-genap kepercayaan dihati sebagai kekuatan yang menggerakkan, bangkit menjadi pemutar baling-baling sejarah masa depan. Sebab semua percuma kalau toh harus diperintah Angkatan Tua yang bodoh dan korup tapi berkuasa, dan harus ikut serta jadi bodoh dan korup demi mempertahankan kekuasaan... Maka kau, jangan mudah terpesona oleh nama-nama. Nenek-moyang kita menggunakan nama yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya--kehebatan dalam kekosongan. Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu dan pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya.'
(Pramoedya Ananta Toer)
Ketersediaan
1050 | 6000 | C2O library & collabtive (Fiction & Literature) | Tersedia |
Informasi Detil
Judul Seri |
-
|
---|---|
No. Panggil |
F TOER BURU 001
|
Penerbit | Hasta Mitra : Jakarta., 2002 |
Deskripsi Fisik |
-
|
Bahasa |
Indonesian
|
ISBN/ISSN |
9798659120
|
Klasifikasi |
NONE
|
Tipe Isi |
-
|
Tipe Media |
-
|
---|---|
Tipe Pembawa |
-
|
Edisi |
-
|
Subyek |
-
|
Info Detil Spesifik |
-
|
Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain