Buku ini bukan hanya sebagai katalog atau dokumentasi, tetapi sebagai ruang imajiner yang memiliki nilai prestisius. Ruang yang lahir dari tekad untuk menciptakan ekosistem yang lebih sehat, dengan seniman muda sebagai porosnya. Surabaya Emerging Artist (SEA) adalah hasil riset yang dilakukan secara metodologis dan partisipatif. Dari penyebaran kuesioner kepada pelaku seni penting di Surabaya, …
Surabaya is Indonesia's second largest city but is not well known to the outside world. Yet in 1900, Surabaya was a bigger city than Jakarta and one of the main commercial centers of Asia. Collapse of sugar exports during the 1930s depression, followed by the Japanese occupation, revolution, and independence, brought on a long period of stagnation and retreat from the international economy. Not…
Hario Kecik’s diary is without peer in Indonesian literature as a portrait of talented and brave young revolutionaries during the first days of the Republic which followed a brutal Japanese occupation and finally led to the November 1945 Battle for Surabaya, the longest, bloodiest and most decisive warfare in the Republic’s history. More than one hundred thousand young men and women - th…
Buku ini secara komperensif mengulas dinamika aksi rakyat miskin kota Surabaya -- salah sat kota besar terpenting semasa Hindia Belanda maupun Indonesia pascaproklamasi -- dalam memperjuangkan hak atas ruang hidup mereka di kota. Bayang-bayang perebutan ruang selalu terjadi dari waktu ke waktu baik antara pendatang dengan penduduk setempat, pendatang dengan pendatang, rakyat miskin dengan insti…
Shortlist EuroSEAS Humanities Book Prize 2015 Surabaya, 1945-2010 presents the recent history of one of Indonesia's great port cities as viewed from a crowded low-income neighbourhood (kampung) called Dinoyo. By following the lives of Dinoyo residents over three generations, it provides a new perspective on landmark moments in the country's modern history, including the war for independence…
Kisah arek-arek yang tak bernama dan tanpa wajah, menegakkan kedaulatan dan kemerdekaan bangsanya. Mereka tak minta bayaran atau bintang jasa. Mereka mengingatkan yang sesat adalah sesat, dan yang setia pada republik adalah mereka yang bersumpah "merdeka atau mati" di markas Pregolan pada suatu senja tanggal 9 November 1945
Satu persatu pejoang angkatan 45 telah pergi. Dari sedikit yang masih tinggl bersama kita adalah Hario Kecik, lengkapnya Soehario Padmodiwirio, salah satu pelaku peang terbesar dan terdahsyat dalam sejarah revolusi Indonesia di kota Surabaya 10 Nopember 45. Tapi mengapa jenderal-jenderal peletak dasar TNI selanjutnya jarang-jarang yang datang dari kalangan pejoeang arek-arek Suroboyo? Buku ini …
Surabaya 1945: Sakral Tanahku mengungkap sejarah lengkap tegak berdirinya RI di tahun 1945 melalui kesaksian para pelaku sejarah, detil-detil perjuangan, pengorbanan para pejuang dan taktik mereka dalam mempertahankan kemerdekaan. Nyawa merenggang dan kekerasan mewarnai masa awal RI antara Agustus dan Desember 1945. Dengan berani, pejuang di Surabaya mencapai tiga capaian: menaklukkan pasukan J…
Selama 14 tahun sejak isu trafficking ditangani dan mencuat di media massa, kita menemukan ternyata nuansa kekerasan seksual sangat kompleks. Trafficking tidak hanya terjadi pada perempuan dewasa tetapi juga pada anak-anak perempuan. Bentuk masalahnya tidak hanya soal penjualan tetapi juga eksploitasi seksual yang dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti anggota keluarga, pemuka agama dan te…
The luxurious cover describes the twilight at Oedjoeng, with the Tandjoengperak Harbor Office on the far side of the Kali Mas, about 1935. Soerabaja, as the name of the former Netherlands East Indies' second-largest city, principal port and naval base is nowadays spelt, has a fascinating history. The book opens with an overview of Soerabaja’s urban development from the early colonial peri…
Buku ini mencoba mengungkap sebagaian dari kisah perjalanan Surabaya Post maupun orang-orang yang bergelut di dalamnya. Ada intisari kehidupan setiap kisah perjalanan orang-orang yang akan selalu menarik diikuti. Surabaya Post menyimpan nilai-nilai seperti itu. Surabaya Post adalah cermin kehebatan figur A. Azis, dengan sikap kedermawanannya. Surabaya Post juga memantulkan ketegaran wanita s…
Benarkah stereotip yang mengatakan bahwa golongan Tionghoa, sebagaimana dicitrakan oleh mesin propaganda Orde Baru, hanyalah sekumpulan oportunis yang menginginkan kekayaan tanpa prinsip dan tidak punya kepedulian apapun terhadap masyarakat dan politik di sekitarnya? Buku ini mengingatkan kita kembali militansi komunitas Tionghoa. Banyak kenyataan sejarah yang ditutup-tutupi atau secara tak sen…
Sepak bola,� demikian kata Nelson Mandela, �merupakan aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia.� Merujuk negerinya dengan sejarah kelam tergencet politik apartheid yang panjang, kemudian bangkit dalam rekonsiliasi, dan di bulan Juni 2010 mendatang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, ucapan Bapak Afrika Selatan itu terasa membiaskan kebenaran. Sepak bola memang me…
Review oleh Lambertus Hurek, dari blognya: http://hurek.blogspot.com/2009/02/surabaya-city-of-work-howard-dick.html Sejarawan ini mengkaji secara komprehensif sejarah sosial-ekonomi Kota Surabaya pada 1900 sampai 2000. Rentang waktu 100 tahun. Tentu, ini membutuhkan kerja keras, dokumentasi, buku-buku, narasumber, serta ketekunan yang luar biasa. Syukurlah, Howard Dick berhasil menem…
Buku ini mencoba menuliskan cerita sejarah dengan tema-tema yang seringkali belum dinarasikan dalam historiografi Indonesia tanpa mengesampingkan masalah spasial yang umumnya masih didominasi pada kota-kota besar
Buku ini berisi tentang sejarah perkembangan komunitas Cina di Surbayaa dari abad XVIII sampai pertengahan abad XX. Secara garis besar ada tiga periode gelombang imigrasi masyarakat Cina di Surabaya. Gelombang pertama adalah komunitas dari abad XIII/XV hingga abad SVII. Tercatat dalam sejarah bahwa orang Cina sudah datang ke Surabaya pada tahun 1293, melalui ekspedisi yang dikirim oleh Kublai K…
Simbol kota selalu menjadi perbincangan menarik. Kehadirannya tidak hanya menjadi aksesori untuk mempercantik sebuah kota, tetapi lebih dari itu, simbol kota telah menjadi media untuk mempresentasi sebuah kekuasaan. Oleh karena itu, buku ini mengungkapkan apa, mengapa, dan bagaimana simbol-simbol kota Surabaya berubah seiring dengan perubahan kekuasaan, khususnya dalam periode 1930-1960. Sejar…