Against Nature (À Rebours)

by
September 18, 2008 02:37

The “poisonous” yellow book of Dorian Gray | France | 1884 | in English

Ketika pada akhirnya saya selesai membaca novel ini, saya menghembuskan napas lega, selega-leganya. Membaca buku ini seperti menempuh perjalanan berat tanpa tahu kita mau dibawa ke mana. Jurnal ilmiah saja lebih punya alur daripada novel ini. Ini dia yang namanya ‘Plot, What Plot?’

Buku ini adalah satu-satunya dalam genrenya – yang entahlah genre apa. Tapi konon tak ada satu pun buku lain dari masanya, ataupun sesudah atau sebelumnya, yang serupa dengan buku ini. Buku inilah ‘buku kuning’ yang meracuni pikiran Dorian Gray – Penguin Classics membangkitkan ingatan akan ‘buku kuning’ itu dengan memajang lukisan karya Franz Kupka, The Yellow Scale, di sampul depan terbitan versi mereka. Des Esseintes, satu-satunya karakter utama dalam novel ini, telah menjadi pujaan dan model bagi berbagai karakter dari novel-novel lain – meski saya sedikit berpikir karakter ini pantas ditampar.

Joris-Karl Huysmans adalah seorang penulis Prancis yang berdarah separuh Belanda. Ia dibesarkan kesusastraan Decadence dan gaya Naturalisme, yang dimunculkannya dengan begitu mendetail dan melelahkan dalam novelnya yang satu ini. Huysmans menghadirkan detail-detail semacam komposisi resep obat yang harus diminum Des Esseintes – mirip seperti Daniel Defoe menyertakan tabel jumlah orang yang mati dalam serangan wabah pes abad ke-17 dalam The Journal of the Plague Year ataupun daftar belanjaan Henry David Thoreau dalam Walden.

Des Esseintes adalah keturunan terakhir sebuah keluarga bangsawan. Masa senang-senang dalam hidupnya diikuti impotensi dan kebosanan tiada akhir. Ia merasa hidup seperti perputaran berulang yang tak ada gunanya, apalagi dalam kehidupan orang-orang miskin: lahir hanya untuk hidup menderita, beristri tak setia, memperoleh pekerjaan yang busuk, terserang kecanduan alkohol, lantas diakhiri kematian sia-sia. Ia meragukan agama. Ia ingin meracuni kemurnian. Ia mengumpulkan tumbuh-tumbuhan yang menyerupai benda-benda buatan manusia. Ia mengoleksi buku-buku dan memberikan penilaian pada mereka, meski hanya sedikit yang benar-benar membuatnya terkesan. Dan ia bosan, selalu bosan, serta sakit.

Emile Zola tidak begitu gembira dengan novel ini. Ia menyayangkan kurangnya progresi dalam novel ini – Des Esseintes sama gilanya di bagian awal dengan di bagian akhir – serta kurangnya kejelasan mengenai penyebab Des Esseintes menjadi seperti itu. Dan Zola benar: memang tak ada cerita berarti dalam Against Nature! Bab demi bab, novel ini hanya seperti kumpulan fakta kehidupan Des Esseintes – satu bab khusus tentang karya-karya klasik zaman Romawi yang dibacanya, satu bab tentang karya-karya pengarang Prancis, satu bab tentang tanaman-tanaman eksotik yang dibelinya… Seperti kata Leo Trezenik, ini bukan lagi dekadensi, melainkan keruntuhan, pure and simple collapse. Toh Des Esseintes sampai pengujung cerita tak punya niat mengakhiri hidupnya yang baginya membosankan. Ia tak menjadi cukup ‘powerful’ – seperti kata narator novel Jeffrey Eugenides, The Virgin Suicides – untuk meletakkan segala keputusan dalam tangannya sendiri. Des Esseintes tetap menjalankan hidupnya yang seolah penderitaan mental dan moral tiada akhir meski dengan secercah kegembiraan yang agak ‘menyimpang’ di sana-sini.

Yang menarik dari novel ini bagi seseorang bermata abad ke-21 seperti saya adalah betapa modern-nya rasanya kondisi mental Des Esseintes. Prancis di pengujung abad ke-19 juga dilanda maladie fin de siecle – wabah akhir abad. Kita merasakannya di pengujung (atau malah sepanjang!) abad lalu, dan wabah itu rupanya terus merasuk kehidupan kita saat ini. Wabah tak berwujud nyata itu merayap dalam kehidupan global dan di antara pesta-pesta urban. Kita pun bisa paham mengapa Against Nature menjadi suatu tonggak dan Des Esseintes menjadi ‘terdewakan’, suatu karakter profetik: karena Dekadensi tidak berhenti di Prancis abad ke-19, melainkan terus melaju sampai saat ini, mengungkungi Anda dan saya (dengan ikon-nya, mungkin, Richey James dari Manic Street Preachers).

Dan ah ya, terus terang saya bingung memberi nilai buku ini. Bagus, memang, hanya saja kalau ditanya saya mengerti apa tidak… sebenarnya tidak sepenuhnya. Tapi saya kira memang buku ini adalah buku ‘langka’ yang punya nilai lebih tersendiri.

Categories: Book reviews
Tags:

: Teacher, writer, translator, so-called artist, trained in genetics, microbiology, and conservation biology. A member of HPI. Visit her goodreads to see what she's reading.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya