Max Havelaar: Buku yang Membunuh Kolonialisme (Pramoedya Ananta Toer)

Tulisan ini pertama kali ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dan diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai “Best Story; The Book That Killed Colonialism,” di New York Times, 18 April 1999. Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia untuk memperingati hari kelahiran Pram ke-92. Buku-buku Pram dan Max Havelaar tersedia dan dapat dibaca di perpustakaan C2O. Silakan cek katalog perpustakaan untuk …

The Public Library Wants To Be Your Office

Jam 9:45 Senin pagi, Jonathan Marino baru saja tiba di kantor tech startup-nya di kawasan Chinatown, Washington DC. Lelaki 30 tahun yang merupakan direktur konten Map Story—teknologi pemetaan dengan tujuan menjadi semacam Wikipedia peta interaktif—menyapa dua kolega magangnya dengan senyum lebar, dan bergabung dengan mereka menyalakan laptop di atas satu meja besar dalam ruangan luas berlapis kaca. Duduk fokus di depan komputer masing-masing, mereka tampak seperti kebanyakan start-up, dengan satu perbedaan: “kantor” mereka hanyalah berupa ruang pertemuan dalam perpustakaan publik Washington DC.

Kehidupan Rahasia Pembaca (3/3)

Ada kesadaran yang sangat meningkat saat ini mengenai penggunaan nontekstual buku. Sekarang dengan makna tekstual buku berpindah online, yang tertinggal sekarang adalah cangkang kosong. Dulu, seperti juga sekarang, menghilangkan nilai objek terkadang menciptakan penekanan pada isi. Melihat ke sejarah abad ke-19 membuat Anda sadar bahwa fenomenon yang cenderung kita tuduh pada digitalisasi sebenarnya terjadi seabad sebelumnya. Ketika kamu membuangnya, nilai buku menjadi berada dalam kata-kata di dalamnya dan bukannya potensi penggunaan ulangnya.

Kehidupan Rahasia Pembaca (2/3)

Jika sejarah buku sudah cukup terbangun, sejarah membaca baru saja terbentuk dalam dua dasawarsa terakhir, menurut Shafquat Tow­heed, pengajar Sastra Inggris di Universitas Terbuka di Inggris, dan direktur dari Reading Experience Database, atau RED.

Kehidupan Rahasia Pembaca (1/3)

Buku mengungkap diri mereka sendiri. Apakah mereka hadir dalam bentuk cetak ataupun pixel, buku dapat dibaca dan diperiksa dan diungkap rahasianya. Pembaca, sebaliknya, jauh lebih sukar dipahami. Mereka meninggalkan jejak—catatan di pinggir halaman, noda pada jilidan—tapi petunjuk-petunjuk penanganan buku itu bercerita dengan sangat terbatas. Pengalaman membaca hilang dengan pembaca. Bagaimana kita mendapatkan kembali pengetahuan dan pengalaman membaca dari masa lalu?

Museum Sejarah Komunitas (3/3)

Lokakarya diakhiri dengan pengingat bahwa metode berbasis sejarah (yang bisa eksperimental di luar pakem) ini bukan berarti sekedar mengumpulkan informasi secara lisan (atau dengan cara apapun), tapi bagaimana ini bisa menjalin hubungan baik dan memberdayakan individu dan komunitas. Dari lokakarya ini, kita dapat belajar mengenai berbagai hal yang telah dilakukan teman-teman, mendapat banyak ide, masukan, dan penyegaran (mulai dari metode, teori, etika, hingga semangat). Prosesnya masih panjang. Salah satu hal yang paling menyenangkan dari acara seperti ini, adalah kita punya lebih banyak pertanyaan, bukan jawaban. Yang perlu dijaga adalah keberlanjutannya, agar jaringan yang terbentuk tetap terpelihara dan berkembang.

Museum Sejarah Komunitas (2/3)

Selasa 18-Kamis 20 Desember 2012 yang lalu, Andriew, Ari, Bayu, Tinta, dan saya, berkesempatan untuk menghadiri lokakarya Museum Sejarah Komunitas, yang diselenggarakan oleh KUNCI Cultural Studies Center. Berikut adalah reportase hari kedua, dengan pembicara Janet Pillai (Arts-ED Penang), Kuah Li Feng (Living Museum, oleh Georgetown World Heritage Inc.), dan Muhidin M. Dahlan (i:boekoe). Catatan di …

Museum Sejarah Komunitas (1/3)

Sejarah adalah suatu proses kebudayaan. Tidak statis, tidak tetap, tidak bersifat tunggal. Ada tantangan menghindari diri dari “keaslian”. Sangat mudah bagi kita untuk jatuh dalam perangkap pencarian “keaslian” untuk membedakan diri. Nah, dari sini, apa saja dampak dan implikasinya? Dan bagaimana menata, mengkurasi, dan mengkoleksi kejamakan pengetahuan ini?

Reportase: Pragmatic & Dematerialised Architecture

Sabtu, 24 November 2012, 19.00 – 21.00 Presentasi: Pragmatic & Dematerialised Architecture Ada dua presentasi malam ini, yang dilakukan oleh ARA Studio (Hermawan Dasmanto) dan ordes arsitektur (Endy Yudho) Pragmatic Architecture Tema “Pragmatic Architecture” dibawakan oleh Hermawan Dasmanto dari ARA Studio yang mempresentasikan entri lombanya yang memenangkan Indocement Award 2012, yang dia namakan “Box Culvert House”. Hermawan …

Reportase: Mysterious Skin

Sore itu, Kamis tanggal 14, langit mulai bewarna kelam. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 06.30. Di halaman belakang C2O Library, mulai menunjukkan tanda-tanda keberadaan makhluk hidup. Kucing-kucing C2O setidaknya ikut menunjukkan semangat mereka dengan caranya sendiri. Misalnya saja mereka tidak lelahnya berjuang mendapatkan kue yang diletakkan di atas meja yang lumayan tinggi untuk dipanjat oleh …