Kebebasan Ekspresi dan Keamanan Digital Zaman Now

Kesadaran mengenai keamanan dan privasi di dunia digital patut diperhitungkan apabila menilik situasi internet di Indonesia. Menurut catatan SAFEnet, terdapat 385 warganet yang diadukan ke polisi dengan pasal karet dalam UU ITE. Rinciannya adalah 363 aduan terkait pasal pencemaran nama baik, 21 aduan terkait pasal penodaan agama, 1 aduan terkait pasal pengancaman daring. Dan berbagai …

Grungee Jumping, Indonesian Noise and Raw

Beberapa hari ini hujan memang menjadi-jadi dan nampak tak seperti Surabaya yang biasanya, mulai mengurangnya aktifitas di luar sampai puji dan cela yang muncul di media-media sosial akibat adanya hujan sendiri. Namun ada yang sedikit berbeda di C2O Library–perpustakaan urban yang bertempat di Jl. Dr Cipto 20—pada hari Rabu, 3 Juli 2013 nampak perhelatan sebuah …

Eksplorasi Gastronomi dalam Supper Snapshots

Saya pernah melihat Oxalis memotret. Matanya terpaku di view finder, menatap tanpa kedip objek di balik lensa. Hanya telunjuk dan jempol saja yang bergerak mengatur lensa, seturut mata yang menyasar objek. Kecermatan inilah yang ditunjukkannya dalam proyek fotografi gastronomi, Supper Snapshot. Oxalis Atindriyaratri tak sendirian merumuskan Supper Snapshot. Ia dan Maarten Wesselius, pemuda asal Negeri …

Menyusuri Bantaran Kalimas, Membaca Dinamika Kota

Dari kumuh, Ayu Ting Ting, sampai gay. Surabaya memang dikenal sebagai Kota Pahlawan. Kegiatan menyusuri atau kadang disebut “blusukan” lebih sering dikaitkan dengan upaya menyusuri memoar kota yang dulu pernah menjadi pangkalan serangan terhadap sekutu yang menginjakkan kakinya lagi di Indonesia pasca kemerdekaan. (23/02) lalu saya mengikuti acara jalan kaki menyusuri bantaran Kalimas – sungai …

Kemajemukan identitas & ketionghoaan di Indonesia

Apa itu “ketionghoaan”? Bagaimana kita memaknai identitas Tionghoa? Bagaimana faktor lokal dan global berperan dalam pembentukan identitas dan makna Tionghoa? Acara yang digelar di TB Petra Togamas pada hari Jumat, 22 Februari, pk. 16.00 ini membedah buku Identitas Tionghoa: Pasca-Suharto—Budaya, Politik dan Media karya Chang-Yau Hoon. Dalam acara ini, hadir tiga pembicara: Dr. Chang-Yau Hoon sendiri, Dra. Sri Mastuti, dan Dr. Budiawan.