Report: Baca itu seru!

Sabtu, 12 Februari 2011, sekitar tengah hari, C2O kedatangan dua sahabat dari GoodReads Indonesia (GRI), Roos yang dulunya di GRI Jakarta, sekarang di Solo, dan Rhea Siswi, koordinator GRI Surabaya. Sambil menunggu kawan-kawan yang lain datang, mereka mempersiapkan buku-buku untuk dipertukarkan (book swap) dan beberapa kaos dari penerbit untuk kopdar perdana GRI Surabaya siang nanti.

Acara dimulai dengan perkenalan diri dan diikuti sekitar 12 orang. tiap anggota memberi cerita singkat asal-usul mereka bergabung dengan GoodReads, buku-buku apa saja yang mereka sukai dan kenapa, dan kebiasaan membaca masing-masing.

Reportase: The ‘O’ Project

Buku The ‘O’ Project lahir dari rentannya kedaulatan tubuh perempuan karena mitos dan tabu. Proyek ini membongkar kebisuan perempuan terhadap kenikmatan seks dan orgasme. Penulis tergelitik mengungkap realitas, mengapa jumlah perempuan yang mencapai orgasme begitu rendah dibandingkan laki-laki? Yakni, 29 persen saja. Padahal semua orang paham bahwa perempuan dapat orgasme berkali-kali. Bertolak dari sana, dia membuat The ‘O’ Project.

Tujuannya agar setiap perempuan tahu apa itu orgasme, bagaimana mendapatkannya, dan membuat keputusan bertanggungjawab berdasarkan pengetahuan tentang orgasme yang utuh dan kritis. Tidak terbatas pada studi literatur, dia juga melakukan serangkaian wawancara dengan banyak perempuan di Aceh, Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, dan Makasar, dengan responden usia 25-55 tahun.

Soerabaja, Surabaya

Tiap bulan November, kita merayakan Hari Pahlawan dengan berbagai pertunjukan, arakan, dan berbagai acara gegap gempita. Pada kenyataannya, di banyak buku sejarah luar (Amerika, Inggris, Belanda), pertempuran November di Surabaya jarang sekali tercantum.

Sutradara Peter Hoogendijk membawa ibunya, Thera André, ke Surabaya, kota di mana ibunya kembali dari kamp Jepang 60 tahun yang lalu saat dia berusia 17 tahun. Dengan meletusnya revolusi Surabaya, Thera bersama ribuan perempuan dan anak-anak Eropa dan Eurasia kemudian dilarikan oleh tentara Inggris ke luar kota. Selama di Belanda, ia bahkan tidak tahu sama sekali apa yang terjadi di kota yang ditinggalkannya.

Peter membawa ibunya kembali ke kota kelahirannya untuk mencari tahu apa yang terjadi, dan dari dokumenter ini, kita bisa melihat berbagai sudut pandang: perayaannya tiap 10 November dan wawancara dengan para veteran pejuang (Pemuda) seperti Des Alwi dan Askandar, korban pelarian Belanda, dan putra-putra Jendral Mallaby. Kita bisa melihat footage dokumenter-dokumenter lama, dan juga kondisi Surabaya saat ini, serta perayaan-perayaan reenactment-nya tiap tahun.

Film ini membangkitkan banyak pertanyaan dan informasi-informasi yang tak terbayangkan. Sebagai contoh, ternyata di antara kalangan pelarian Belanda, ada yang disebut sebagai Bloody Monday, Senin Berdarah, 15 Oktober 1945, di mana dikatakan 50-200 orang Eropa & Eurasia dikumpulkan dan dibantai di Simpang Societeit (sekarang Balai Pemuda). Informasi ini begitu asing bagi kita. Wawancara dengan dua putra Jendral Mallaby juga banyak memberi informasi mengejutkan mengenai brigade 49, Jenderal Mallaby, dan kesiapan tentara Sekutu di Surabaya.

————————-
Selama bulan November 2010, bekerja sama dengan komunitas Surabaya Tempo Dulu, kami memutar dua film berkaitan dengan sejarah Surabaya. Film ini diputar di C2O Sabtu lalu, 6 November 2011, dengan diskusi santai tapi informatif yang dipandu oleh dua admin komunitas Surabaya Tempo Dulu, Ajeng Kusumawardani dan Nikki Putrayana, serta Mba Windhi yang malu-malu di kursi pengunjung bersama putrinya :).

Film berikutnya yang akan kami putar adalah film Jalan Raya Pos, lihat jadual di sini. Bagi yang tidak sempat menonton film “Soerabaja, Surabaya”, film ini akan diputar lagi pada hari Kamis 11 November 2010, pukul 09.00 WIB di Auditorium FIB UNAIR, dalam rangka Diesnatalis Departemen Ilmu Sejarah UNAIR dan hari Pahlawan yang diadakan oleh HIMA Ilmu Sejarah Unair. Kru STD dan C2O juga akan hadir di sana. Sampai ketemu!

Report: Only a Girl

Sabtu, 23 Oktober 2010, pk. 17.30 WIB, kursi-kursi mulai dipenuhi oleh pengunjung. Kru GPU Surabaya, telah lama bersiap di depan. Buku-buku nominasi Khatulistiwa Literary Award, dijual di meja sirkulasi depan dengan diskon 10% hanya untuk hari itu. Cuaca Surabaya yang panas seperti biasa, tidak meredekan antusiasme untuk acara peluncuran buku “Only a Girl: Menantang Phoenix” yang berlangsung sore itu di C2O.

Kami semua terkesan dengan Lian Gouw, penulis buku Only a Girl yang khusus datang ke Indonesia untuk peluncuran terjemahan bukunya, setelah 50 tahun lebih meninggalkan tanah airnya untuk menetap di Amerika. Di usia senja 76 tahunnya, beliau masih tampak bugar, terus bersemangat untuk menulis, giat belajar untuk meningkatkan kemampuan menulisnya, bahkan menjual sendiri karya-karyanya! Didampingi oleh Soe Tjen Marching, yang bulan depan akan meluncurkan novelnya, juga diterbitkan oleh Gramedia, acara diskusi berlangsung dengan interaktif, menghibur sekaligus informatif.

Walaupun sedikit terbata-bata, Lian Gouw bersikeras untuk melangsungkan acara dengan bahasa Indonesia. Beliau mengutarakan ketidak nyamanannya jika melihat istilah-istilah Inggris digunakan dengan clemang-clemong, dicampur aduk dalam bahasa Indonesia, demi sekedar “gengsi”. “Banggalah dengan bahasamu sendiri, karena tanpa bahasa, kamu tidak punya suara,” tegasnya.

Reportase: Codex Code

ini adalah pameran “buku”, tapi di sini peserta pameran dibebaskan untuk memaknai arti buku dengan sangat luas, sesuai dengan pengertian dan latar belakang masing-masing.

Ada yang menyulam beberapa sapu tangan dan menjahitnya di atas bantal. Ada yang membuat buku mewarnai dan mengundang pengunjung untuk mewarnai dan menulisinya. Ada buku-buku kecil dengan susunan abjad, dan gabungan buku dan audio. Sementara dari Surabaya, Butawarna menghadirkan konsep Codex Code Cliche (C3), berisi (parodi) klise buku-buku “seni”, dan Iqi menampilkan “LOOKBOOK” berisi lukisan-lukisan cat airnya.

Welkom in Malang

Berbekal daftar alamat tempat-tempat (kedai maupun toko) kopi, tempat baca dan makanan yang kami kumpulkan dari kliping koran dan internet, dengan semangat kami berangkat menuju Malang. Sejak masa penjajahan Belanda, Kota Malang menjadi tempat favorit untuk berpelesir dan hal tersebut berlanjut sampai sekarang.

Di balik peristiwa 1926/27

Reportase peluncuran dan bedah buku Kemunculan Komunisme Indonesia, karya Ruth T. McVey (2010 [1965]), di Hallo Surabaya, Kamis, 25 Februari 2010. Pembicara : Benedict Anderson & Airlangga Pribadi. Moderator : Aryo