Reportase: Afternoon Talk

by
February 23, 2012 16:58

Sebelum pertunjukan, saya dan kawan-kawan Afternoon Talk dan Taman Nada menghasilkan Manic Street Walkers #3 edisi one take show selama hampir 3 jam. Kami berjalan kaki mulai dari c2o library menuju Kelenteng Hong San Ko Tee di Jalan Tjokroaminoto dimana Adit merekam penampilan Taman Nada, lanjut ke Taman Bungkul, dan selanjutnya Agan merekam pertunjukan Afternoon Talk di taman depan gedung eks museum Mpu Tantular. Akhirnya kami tiba di c2o library jam 6 sore.  Di sana sudah banyak pengunjung yang datang untuk acara kami : Afternoon Talk Love Letter To Java Tour 2012 yang akan menampilkan Handoko Suwono, Karnivorus Vulgaris, Bagus Dwi Danto, Taman Nada, Sonar Soepratman, Silampukau, dan Afternoon Talk sebagai performer pamungkas.

Handoko Suwono

Secara kilat anak-anak Afternoon Talk dan Taman Nada berganti kostum dan setengah  jam kemudian acara dimulai. Pengunjung pun sudah memenuhi seluruh areal c2o library, kendaraan bermotor milik para pengunjung menguasai Jalan Dr. Cipto, satpam setempat pun mengambil alih pengelolaan parkir.  Di dalam perpustakaan, “panggung” sudah siap, di selasar Kremi dan Mirna menjaga meja dagangan kami. Handoko Suwono memulai acara dengan memetik gitar akustik melantunkan Donna Donna yang dipopulerkan oleh Joan Baez lalu Norwegian Wood dan Yesterday karya The Beatles. Udara malam ini hangat, sehangat pertunjukan malam ini.

Karnivorus Vulgaris

Karnivorus Vulgaris—albumnya yang bertajuk Karnivora Birahi diliris oleh Stoneage Records—membuat “panas” penonton dengan musik anti-folk yang dihasilkan dari 2 gitar akustik, 2 vokal, dan 1 perkusi. Alfan, K, dan Zaldy menghadiahkan penonton dengan Ballads of Johnny Salary, Mulut, Di Bawah Permukaan, Dunia Lepas Pantai, dan meng-cover Jesus Wants Me for Sunbeam – The Vaselines. K yang saat itu sedang sakit, berkeringat banyak, malah terkesan menjadi bagian dalam penampilan Karnivorus Vulgaris yang selalu terlihat serius dengan lirik cabul.

Bagus Dwi Danto

Bagus Dwi Danto—kawan kami dari Yogyakarta—sejak sore sudah memamerkan instalasi kaos dengan banyak jahitan diletakkan di kursi. Setelah menyanyikan satu lagu mars berjudul Konservasi Konflik dengan iringan gitar akustik, Danto menyusun benang berwarna merah memenuhi ruangan dan menjalinnya di kaos berwarna putih, lalu memakai kaos tersebut, dan jadilah pemandangan yang memukau: Danto memakai kaos yang tertarik benang merah sambil melantunkan lagu mars Perahu Kertas. Diakhir lagu Danto berjalan mundur ke belakang dan satu per satu jalinan benang terputus, penonton pun bertepuk tangan.  Hari ini ada satu kawan lagi yang datang dari Yogyakarta, yaitu Rangga Nasrullah—salah satu personel Papernoise zine.

Taman Nada

Taman Nada tampil dengan anggota baru: Najmi Abdoel Hakim. Nandi, Attur, Salman, dan Najmi membuat penonton nyaman dengan petikan 3 gitar dan 2 vokal menyuarakan Prelude, Rutinitas, Pulang, dan lagu terbaru Surabaya Surabayan yang merupakan respon atas kasus penggusuran di daerah Tambak Bayan. Aroma Iwan Fals, Bon Iver, Joan Baez, Fleet Foxes, dan Bob Dylan berbaur dalam lagu-lagu mereka. Saya berharap Taman Nada meresmikan karya mereka dalam bentuk digital.  Hari ini Taman Nada akhirnya keturutan untuk membuat one take show!

Sonarsoepratman

Sonarsoepratman—nama panggung dari Rendy Hendrawan—membuat penonton penasaran dengan sesosok pria memakai syal berwarna merah dan memegang keyboard melantunkan Genjer-genjer yang dipopulerkan oleh Lilis Suryani. Lalu dia melemparkan kuis berhadiahkan fotokopian “Hajo: Ringkus dan Ganjang – D.N. Aidit”, seorang perempuan berambut pendek yang duduk tepat di depan Sonarsoepratman mendapatkan fotokopian tersebut dengan menyebutkan Muso dan Kolonel Untung sebagai 2 tokoh komunis Indonesia. Sonarsoepratman melanjutkan dengan lagu tribut kepada D.N Aidit dan kisah percintaan Ahmad Yani dengan seorang Gerwani. Rendy memang sangat tertarik dengan komunisme, selain itu Rendy juga berminat dengan arsitektur jengki.

Silampukau

Silampukau siap melanjutkan keriaan dengan menyelenggarakan pertunjukkan di halaman belakang c2o library, di depan dapur, memberikan udara segar kepada penonton yang berjejalan kepanasan di dalam ruang perpustakaan. Setelah Kharis mengundurkan diri dari Silampukau, Eki mengajak Eri untuk memainkan pianika dan Ukik untuk bermain gitar. Silampukau tidak lagi duet, sekarang menjadi trio yang menyuarakan suara rakyat mengenai ruang publik dan suara mereka sendiri mengenai minuman keras.  Tembang-tembang andalan seperti Bola Raya dan Berbenah membuat para penonton ikut bersenandung.

Afternoon Talk

Pertunjukan kembali ke dalam perpustakaan, Afternoon Talk—band pop-folk asal Lampung–menjadi pamungkas, Surabaya menjadi kota keempat dalam Love Letter to Java Tour 2012, mereka telah bermain di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Afternoon Talk adalah kumpulan mahasiswa Universitas Negeri Lampung dengan Ivan sebagai sang manager yang berdomisili di Medan. Kumpulan mahasiswa itu adalah Sofia yang bersuara dengan lebih dari satu karakter, Wawan memamfaatkan glockenspiel, Osa dan Adian memainkan gitar akustik. Setelah memperkenalkan diri dengan prelude bernafaskan bebunyian jawa, Sofia dengan suara yang terbilang kecil sesuai dengan postur tubuhnya membuat “gemas” para penonton dengan tembang-tembang manis berlirik suram seperti Bipolar Disorder, So Far Away, Contradiction, Love Letter, There’s One Thing You Should Know. Jarak antara Afternoon Talk dengan penonton hilang saat Sofie secara spontan mengalihbahasakan So Far Away ke dalam bahasa Jawa, salah satu trik untuk meleburkan diri dengan penonton yang “asing”. Diary tur mereka bisa diintip di http://lovelettertojava.tumblr.com

Terimakasih untuk kawan-kawan Surabaya yang mendukung pelaksanaan acara ini, semoga semangat dan keriaan tetap mewarnai skena musik Surabaya.


C2O mengucapkan banyak terimakasih kepada Handoko Suwono, Karnivorus Vulgaris, Bagus Dwi Danto, Taman Nada, Sonar Soepratman, Silampukau, Afternoon Talk, Rici Ayric Kristian, dan tentu saja, penyelenggara acara ini, Anitha Silvia, untuk malam yang menyenangkan bagi kita semua. Kami mohon maaf apabila ada hal-hal yang tidak berkenan, mari bersama-sama kita perbaiki di lain waktu. Terus bersemangat dan berkarya.

Categories: HighlightMusic reviewsReportase
Tags:

: Seorang musafir gig dan pameran, pengelola klab jalan kaki Manic Street Walkers, penikmat zine, lomographer.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya