Travel writing & writers, Open House IVAA #4, Open Mic, Surabaya Mendongeng »
-->

Bincang Fiksi bersama Yusi Avianto Pareanom

by
April 10, 2013 09:17

Bincang Fiksi dengan Yusi Avianto Pareanom
Sabtu, 20 April 2013, pk. 13.00 – 15.00
C2O library & collabtive, Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya 60264
Gratis dan terbuka untuk umum

Ketika Yusi berkabar bakal sambang Surabaya dalam rangka acara ‘art talk’ tanggal 19 April, saya girang bukan kepalang. Mirip nemu barang langka. Susah ketemu kawan lama ini. Dia banyak ‘umek’ di Batavia, saya berpantang ‘Njakarta’. Jadi langsung saya tembak dia buat berbagi ilmu menulis fiksi –walaupun kemampuannya menulis lengkap, ya fiksi ya bukan fiksi-  khususnya dengan penulis muda dan pencinta fiksi di Kota Pahlawan.

Ada beberapa alasan yang menurut saya, kita layak menimba ilmu dari Yusi, di antara alasan tersebut adalah:

Yusi termasuk sedikit dari cerpenis Indonesia yang lengkap kemampuan menulisnya. Ilmu menulis cerpennya sudah mengatasi sekedar masalah tema, tata bahasa, pemilihan diksi, makna yang terkandung dalam cerpen, atau gaya nulis cerpen. Dia mampu menuliskan cerpen yang menghibur, membuat pembacanya terbahak, garuk-garuk kepala, mirip kena batunya. Kalau tak percaya, baca saja buku kumpulan cerpen terbarunya, ‘Rumah Kopi Singa Tertawa.’ Mungkin Anda akan menangis sekaligus tertawa atau meninju papan almari ketika membacanya.

Yusi memang penulis yang lengkap, dan ‘kurang ajar’. Dari sisi tata bahasa dan pemilihan diksi, dia diasah oleh pengalamannya menjadi editor sekaligus penerjemah selama bertahun-tahun. Coba baca salah satu buku terjemahannya, ‘Mimpi-Mimpi Einstein’ yang diterbitkan KPG. Buku ini sampai cetak ulang 20 kali. Buku yang isinya lumayan berat ini menjadi enak dibaca dalam bentuk terjemahannya, dan apik.

Salah satu buku yang disuntingnya, ‘Tiga dari Galigo’ enak dibaca. Padahal, sepengalaman saya, menyunting buku-buku yang berbau sejarah, etnografi, atau antropologi dari karya penelitinya langsung, ampun-ampunan susah dan mumetnya. Jadi saya agak heran ketika membaca buku yang diluncurkan bersamaan dengan Festival  La Galigo di Makassar 2011. Apa jawabnya? “Saya mirip menuliskannya kembali, bukan menyunting buku ini.” Pantas!

‘Kekurangajaran’ dan ‘kejahilan’ Yusi bisa diamati dari statusnya di jejaring sosial fesbuk, yang terkait dengan ‘kolom cerpen’ sebuah harian nasional, sebagai berikut:

Dalil Penulisan Kebun Pisang No. 313. Peluangmu cerpenmu dimuat di Kompas Minggu akan naik setidak-tidaknya 110 persen jika kau menulis tentang apa pun yang ada kunang-kunangnya atau ketidakhadiran sesuatu yang lazim seperti angin, lidah, mata, air mata, dan seterusnya. Peluang pemuatan akan naik 50 persen lagi jika cerita itu terjadi pada senja hari.

Dalil Penulisan Kebun Pisang No. 314. Jika cerpenmu sudah pernah dimuat di sebuah harian daerah, kirimkan lagi ke Kompas. Percayalah, peluangnya besar untuk dimuat karena sepertinya ada keinginan harian terbesar ini untuk menyebarkannya secara nasional. Peristiwa ini sudah terjadi lebih dari sekali. 

Saya masih menunggu kapan terbitnya buku ‘Dalil Penulisan Kebun Pisang’ ini. Tak banyak orang yang mau mengkritisi penulisan di media, baik fiksi maupun non-fiksi. Tak peduli tulisan tersebut dimuat di media nasional maupun lokal. Setidaknya saya merindukan era HB Jassin kembali. Saat ini, banyak penulis menganggap bahwa jika tulisannya tembus di media skala nasional, dia sudah masuk jajaran penulis mumpuni dan tak mungkin dikritik.

Bentuk kritisnya yang lain adalah status ‘ecek-ecek’, yang saya yakin membuat si penulis berita mau tak mau menakar otaknya kembali :

Dalam laporan khusus “Ayam Kampus”, di salah satu bagiannya Tempo menulis bahwa harga jasa mereka bervariasi.”Semakin muda dan cantik, biasanya semakin mahal.” Sungguh, ini temuan jurnalistik yang luar biasa.

Atau

Kau menulis kritik dan pendapat-pendapatmu sangat keras terhadap karya yang kaukupas. Biasanya, kau akan segera mendapatkan reaksi dari lingkaran orang yang karyanya kaukritik, dan salah satu yang paling sering muncul dari orang-orang yang kupingnya panas ini adalah kata-kata seperti ini: Bisanya cuma ngritik, coba bikin karya sendiri.

Kau hanya perlu santai, mereka bersuara demikian karena memang tidak paham. Kalau kau mau, kau bisa mendoakan—atau berharap, siapa tahu kau tak percaya Tuhan atau ingin menegaskan dirimu sekuler—agar mereka melek wawasan. Kritik itu sendiri adalah sebuah karya. Kritik adalah ilmu yang dipelajari secara sungguh-sungguh di perguruan tinggi, bahkan ada mata kuliah kritik atas kritik. Kritik berbeda dari komentar sambil lalu. Argumen yang dibangun seorang kritikuslah yang menentukan posisinya. Pendapatnya bisa saja saja tak disetujui pembacanya tetapi sepanjang argumennya ketat ia akan mendapatkan rasa hormat.

Tentang eksplorasi cerpennya yang mirip ‘main-main’, lari ke sana kemari, bereksperimen dengan diksi dan mengaduk-aduk perasaan, penuh humor kadang sinis dan sarkasme, berkembang karena bahan bacaannya yang lengkap, baik buku-buku sastra dunia maupun hikayat kacang atom. Coba saja tanya apa rahasianya menulis, pasti jawabannya banyak-banyaklah membaca buku dari beragam karya pengaran dalam dan luar negeri. Ditambah pengalaman beberapa tahun sebagai jurnalis di Forum Keadilan dan Tempo, mampulah dia mengobrak-abrik cerita. Nah!

Sebagai bukti teori di atas, baca saja statusnya berikut:

Dalil Penulisan Kebun Pisang No.54. Meminjam pola atau memodel itu jamak. Penulis-penulis besar juga melakukannya, misalnya Salman Rusdhie dengan The Ground Beneath Her Feet yang memodel kisah cinta tragis Orpheus dan Eurydice dari mitologi Yunani.

Dalam cerita asli, Orpheus si pemusik terhebat menggubah lagu-lagu sedih setelah istrinya meninggal mendadak karena dipagut ular berbisa. Lagu-lagu Orpheus sedemikian menyayat sehingga dewa-dewa pun menangis. Orpheus akhirnya dianjurkan mendatangi dunia kematian, dan di sana musiknya bisa melembutkan hati Hades dan Persephone sehingga mereka akhirnya mau menghidupkan Eurydice. Pasangan muda ini diperbolehkan pergi bersama dengan satu syarat: Orpheus tak boleh menengok ke belakang sampai keduanya berada di dunia atas. Begitu sampai di dunia atas, dibayangi harap-harap cemas, Orpheus menengok ke belakang. Celaka, karena istrinya saat itu masih satu langkah di dunia kematian.

Rusdhie menggunakan tragedi tersebut untuk menulis ulang sejarah rock dari 1950-an sampai 1990-an dengan semau-maunya sendiri. Tapi, kau tak perlu khawatir, karena maunya orang ini jarang meleset. Karakter utamanya, Ormus Carma adalah gabungan dari berbagai tokoh sekaligus, Elvis Presley, John Lennon, dan Freddie Mercury. Masa kecilnya mirip Elvis dengan kematian saudara kembar, kematiannya mirip John Lennon. Tidak itu saja, hubungan Ormus dan kekasihnya Vina Apsara dengan enak berpindah-pindah model dari John-Yoko, Leonard Cohen-Janis Joplin, dan Ike-Tina Turner. Meskipun demikian, tokoh-tokoh musik dunia ini bukan ditiadakan. Bahkan, dalam satu halaman, dikisahkan Ormus remaja marah-marah saat pertama kali mendengar “Yesterday” dari The Beatles. Ia yakin lagu itu ciptaannya karena sudah terdengar lama di kepalanya. Ia menyebut grup band dari Liverpool itu pencuri. Rusdhie juga dengan enteng memelintir fakta dengan menyebut lagu “I Can’t Get No Satisfaction” dari Jagger/Richards adalah karangan John Lennon dan JFK lolos dari pembunuhan di Dallas.

Bacalah buku ini untuk belajar memodel yang ciamik. Kau bisa melakukannya dengan ditemani lagu berjudul sama yang melodinya ditulis dan dibawakan oleh empat pemuda berbakat dari Irlandia, U2. Lagu ini adalah tema utama film Millon Dollar Hotel karya Wim Wenders.

Begitu banyak buku yang dibaca, dan merasa memiliki kemampuan menerjemahkan dan menyunting yang ‘pas’, maka dengan penuh idealisme dan risiko, dia mendirikan ‘Banana Publishing’. Penerbitan ala Kebun Pisang ini banyak menerbitkan buku-buku karya penulis dunia, seperti ‘The Catcher in The Rye’ karya JD Salinger, ‘Pencuri Anggrek’ karya Susan Orlean, dan ‘Million Dollar Baby’ karya FX Toole.

Karya-karya dunia, yang menurut saya, tak banyak yang membacanya, apalagi anak muda. Mungkin malah lebih banyak yang membaca tetralogi novel Twilight Saga dan The Host karya Stephen Meyer, atau trilogi novel Hunger Game karya Suzanne Collins. Maka dari itu, menerbitkannya saya anggap penuh risiko.

Kalau Anda tinggal di Surabaya dan sekitarnya, memiliki waktu luang atau mau meluangkan waktu pada Sabtu, 20 April tengah hari, silakan datang ke c2o library, jalan Dr Cipto no. 20, tepat di gang seberang mantan kedutaan besar AS, dan bertemu Yusi langsung. Anda mau bertanya, berguru, atau mencincangnya, terserah.

INFO: Ary Amhir 0896 7754 6624

Categories: HighlightTalk&Sharing

: Pernah bekerja sebagai jurnalis di sebuah harian Surabaya, lalu majalah wanita di Jakarta, dan menjadi penulis lepas di beberapa media seperti Familia (Kanisius Group), Intisari, The Jakarta Post. Telah menerbitkan buku "TKI di Malaysia: Indonesia yang Bukan Indonesia", "Antologi Bicaralah Perempuan", dan "Journal of 30 Days Around Sumatra".
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

What’s On

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya