The Art of Charlie Chan Hock Chye

Buku ini dibuka dengan membandingkan dua tokoh pergerakan Singapura, Lee KuanYew dan Lim Chin Shiong. Yang satu pernah menjadi perdana menteri negeri Singa dan peletak kekuatan ekonomi Singapura di kancah dunia, satunya berakhir sebagai penjual buah-buahan yang mati dalam pengasingannya di Inggris. Sama-sama pejuang namun bernasib berseberangan. Titelnya pun bikin miris, ‘One mountain cannot abide …

Have a Little Faith

“Keyakinan itu tentang melakukan sesuatu. Kau adalah bagaimana kau beraksi, bukan sekedar bagaimana kau percaya. Itu membuat ritual dalam beragama menjadi penting.”

Ungkapan ini paling saya suka dari quote Albert Lewis si rabi dalam buku ini, karena bisa menampik komentar usil orang ketika saya berangkat beribadah, “Buat apa shalat, kalau cuma ritual?” hahaha !

Have a Little Faith dibuka dengan permintaan Albert Lewis, rabi berumur 82 tahun kepada si penulis, Mitch Albom, untuk membacakan eulogy-nya di saat kematiannya nanti. Permintaan yang aneh, menakutkan, karena Mitch bukan umat yang patuh. Malah dia tergolong skeptis memandang agama yang dianggapnya menimbulkan perpecahan dan kekacauan di bumi. Padahal dulu, di masa kecilnya, Mitch sangat akrab dengan kehidupan religi sebagai ‘putra altar’ ala Yahudi.

Mitch akhirnya menyetujui permintaan sang rabi, dengan syarat dia diperbolehkan mengunjungi rabi secara berkala untuk mengenal siapa rabi sebenarnya. Maka kisah pun dibangun dari sini. Si rabi dan kehidupan sehari-harinya dalam pandangan dan kenangan Mitch, ikatan Mitch dengan kehidupan religiusnya di masa lalu, dan tentang Henry Convington.

Henry adalah seorang pastor di sebuah gereja tua yang nyaris runtuh di Detroit, kota tempat tinggal Mitch. Henry mulanya seorang pecandu, pengedar narkoba, dan juga kriminal. Dia pernah dipenjara selama tujuh tahun karena kejahatannya. Dalam sebuah kejadian yang membahayakan jiwanya, Henry berdoa, jika dia selamat, dia akan memberikan hidupnya kepada Tuhan. Dan Jesus, mengabulkan doanya.

Di gereja bobroknya Henry melayani jemaatnya yang terdiri dari para tuna susila, pecandu, dan mereka yang tersisih. Keihlasan Henry, penyerahan dirinya yang total walau dalam keterbatasan menarik perhatian Mitch.

Menurut saya, ada beberapa hal yang membuat buku ini menarik. Pertama, bahasanya yang sederhana dan mudah dimengeti, ditunjang cara bercerita Mitch dalam tiga plot yang singkat dan tak bertele-tele. Mulanya dia berkisah tentang si rabi, lalu ganti dirinya, kemudian si pastor. Berulang begitu. Kisah yang berkaitan dengan kekinian, masa lalu, atau kejadian yang berkesan. Kisah yang dirangkainya secara singkat, mengena, dan tak membosankan.

Kedua, buku ini merupakan kisah nyata, dan ditulis Mitch berdasarkan lebih tujuh tahun pengalamannya bersahabat dengan rabi. Albert meninggal pada umur 90 tahun, Seperti buku-bukunya yang lain (Tuesday wit Morrie, For One More Day), Mitch selalu mendasarkan buku-buku yang ditulisnya berdasarkan kisah nyata. Semi biografi, karena merupakan pengalaman pribadinya dan tokoh-tokohnya. Dengan begitu pembaca merasa ini hal ini bisa juga terjadi pada mereka. Bukan utopia.

Tokoh yang diangkat Mitch pun selalu orang biasa. Orang biasa dengan pengalaman hidup yang tak biasa. Kata kawan, mirip chiken soup-lah tapi jelas bukan genre chiken soup hehe..

Ketiga, percakapan dan quote dalam buku ini begitu hidup dan mengena. Misalnya, ketika Mitch bertanya kepada Albert Lewis kenapa dia menjadi rabi, jawabannya sungguh unik:

I always like a people
I love gentleness
I have patience
I love teaching
I am determined in my faith
it connects me to my past
it allows me to fulfill the message of our tradition: to live good, to do good, n to be blessed.
Lalu mengapa bukan Tuhan yang menjadi alasan? Tanya Mitch. Jawabnya, ‘God was there before number one.’

Atau ketika seorang gadis kecil yang terpaksa mengungsi karena perang di negerinya, dikasihani orang karena tak punya rumah, dia membantah tegas. ‘I have a home, but I don’t have a house to put it in’.

Keempat, buku ini tak menggurui secara langsung akan keyakinan pada agama tertentu, apalagi menanamkan doktrin. Sebagaimana disadari penulisnya di akhir buku, bahwa ‘faith is not the conclusion, but the search, the study, the journey to belief. You can’t fit the lord in a box. But you can gather stories, tradition, wisdom, and in time, you needn’t lower the shelf; god is already nearer to thee.’

Berbagai pertanyaan seperti apa itu keyakinan, apa pentingnya keyakinan dalam hidup kita, lalu bagaimana keyakinan menghadapi berbagai masalah di dunia, mulai perang agama, toleransi, cinta kasih, dan sebagainya, dijawab dalam buku ini, walau secara umum.

Beberapa quote menarik seperti ‘enemy schememy’ yang dilukiskan antara arab-yahudi, atau ‘may your God and my God bless you always’ untuk menerjemahkan toleransi, membuat saya terbahak membacanya. Masih banyak lagi quote yang menarik dan bermakna.

Bagi saya, Have a Little Faith bukan buku biasa. Dia buku luar biasa, membuat saya bergairah membaca sejak halaman pertama hingga terakhir. Tidak cepat-cepat, namun lamat-lamat menikmati setiap kisah, plot, percakapan, dan quote yang dibangun sang penulis dengan indahnya. Ini buku indah, menginspirasi, dan membuka kotak logika saya yang sempit. Buku yang membuat saya tersenyum, tergelak, atau geleng-geleng kepala tatkala menikmatinya.

Mungkin karena saya bukan agnostik (walau dulu mengira begitu). Namun bagi kaum agnostik dan skeptis terhadap agama pun, buku ini bisa membuka cakrawala. Apalagi di saat seperti sekarang ini, dimana konflik agama masih kerap terjadi dan selalu mendidihkan emosi, membaca buku ini sungguh meneduhkan sekaligus menghibur.

Jadi kenapa perlu ‘have a little faith‘? Setidaknya kalau ada keluarga saya yang mati, saya bisa bilang Tuhan memanggilnya, jadi bukan karena salah saya (jawaban ala ‘Albert Lewis’)

Akhir kata, selamat membaca! Dijamin tidak menyesal! Semoga!

Reportase: Kisah di Balik Pintu

Dalam ‘Kisah di Balik Pintu’, penulis meneropong identitas perempuan Indonesia ketika berada di ruang publik dan privat, pada media tulis. Representasi di ruang publik diwakili oleh otobiografi beberapa perempuan yang dekat dengan tokoh nasionalis, sedang di wilayah privat diambil dari diari beberapa perempuan biasa. Baik otobiografi maupun diari ini ditulis pada masa orde baru (1969-1998). Penulis lalu menganalisa otobiografi dan diari ini dikaitkan dengan represi rezim orde baru.

Serah Jajah dan Perlawanan yang Tersisa

Sekitar dua tahun lalu seorang kawan memamerkan tulisannya. Sebuah thesis S-2. Kawan saya ini tidak pintar sangat, tapi tekun dan pandai memanfaatkan peluang. Saat bekerja di Warsi, tak disia-siakannya kesempatan untuk memahami kehidupan Orang Kubu. Obyek yang kemudian menjadi bahan masternya. Bahan yang kemudian menjadi inti buku ‘Serah Jajah’ ini. Buku yang melukiskan dominasi Orang Melayu terhadap Orang Kubu di Jambi dan bagaimana Orang Kubu melawan dominasi itu.

Ada beberapa hal yang menarik dari bukunya. Diantaranya penggunaan terminologi Orang Rimba atau Anak Dalam untuk mengganti Kubu demi kehalusan. Menurut penulis, kata kubu berkonotasi negatif, yang berarti bodoh, bengak, keras kepala, dan tak mau mengikuti aturan. Padahal, di masa lalu kata kubu merujuk kepada mereka yang tinggal di hutan. Mengubu berarti berdiam di hutan selama masa tertentu.

Mengutip Loeb, 1927, “..Kubu berarti orang-orang yang makan segalanya termasuk makanan yang tidak bersih, dimana mereka tidak hidup di dalam rumah, dan tubuh mereka tidak bersih sebagai akibat penolakan mereka terhadap air. Orang-orang yang mempunyai karakter yang rendah…”

Siapa Orang Rimba itu? Dalam salah satu teorinya, penulis menyebutkan mereka sebagai keturunan Melayu juga, yang karena suatu hal (melawan Belanda) lalu melarikan diri dan tinggal di hutan. Ini menarik, dan sesuai dengan teori antropologi sebelumnya bahwa Orang Rimba berasal dari Ras Proto-Melayu, bukan Veddoid.

Inti buku ini membahas bagaimana Orang Rimba melakukan perlawanan terhadap dominasi dan diskrimanasi dari suku mayoritas Orang Melayu Jambi. Perlawanan ini antara lain dengan memilih hidup mirip Orang Melayu. Mereka menetap di sebuah kampung, memeluk agama Islam, bahkan mengganti nama mereka sesuai nama Melayu. Mereka pun lebih suka disebut sebagai Suku Anak Dalam atau dikenal juga sebagai kubu jinak. Namun ada juga yang memilih mempertahankan identitas aslinya sebagai Orang Rimba yang hidup di hutan dan mempertahankan nilai-nilai yang dianut nenek moyangnya.

Zona Aman Gorazde

Katakan dengan gambar. Berdasar ingatan yang kuat, goresan tangan yang detil, serta pendengaran yang tajam, Joe Sacco mampu menampilkan peristiwa pembantaian muslim Bosnia oleh Serbia dengan apik di bukunya, Zona Aman Gorazde. Adegan mencekam, sindiran satir dan pahit, bahkan kemampuan menertawakan diri sendiri, diramunya dengan hidup dalam novel grafisnya ini.

Dimanakah Gorazde itu? Orang mungkin lebih kenal Sarajevo yang lebih sering masuk tivi kala meletus perang etnis paska pecahnya Yugoslavia bentukan Tito. Tapi Gorazde?

Gorazde adalah satu-satunya wilayah Bosnia di timur dan dikepung oleh wilayah Serbia. Karena terisolir, penduduk Gorazde sangat membutuhkan uluran tangan PBB untuk bertahan. Jalur konvoi PBB yang menghubungkan Sarajevo dan Gorazde ini kerap disebut jalur biru, berdasarkan warna helm yang dipakai tentara PBB mengawal bantuan makanan dan kesehatan ke sana. Jalur yang bersih dari muslim Bosnia, karena sudah dibersihkan oleh tentara Serbia sebelumnya.

Buku ini dibuka paska pembantaian lebih tujuh ribu muslim di Sebrenica, setelah daerah itu ditinggalkan pasukan PBB, dan NATO mengebom Serbia-Bosnia pada 30 Agustus 1995. Gencatan senjata kemudian dilakukan di seluruh Serbia. Konvoi PBB dan LSM kemanusiaan kembali diijinkan menerobos jalur Serbia guna memberikan bantuan ke Gorazde. Para jurnalis, termasuk Joe Sacco, mulai memasuki Gorazde lewat jalur biru ini.

Joe Sacco melukiskan euforia penduduk Gorazde yang urung dibantai Serbia. Kegembiraan berlebih tatkala mereka terhubung orang luar, yang berarti harapan terus melangsungkan hidup. Juga permintaan nyinyir mereka akan barang seperti celana jeans levis 501, parfum, dan peradaban. Mereka telah terputus dengan dunia luar sejak meletusnya perang, Mei 1992.

Little Birds

Saya bukan penyuka karya sastra selangkangan atau lebih dikenal sastra lendir. Buku-buku karangan Djenar Maesaayu atau Ayu Utami bukan favorit saya. Saya juga tak suka kisah cabul ala Amy Arrow atau Motinggo Busye. Membaca buku mereka menurut saya seperti melakukan onani saja. Maaf, saya tak bermaksud menghina. Hanya beda selera.

Seorang kawan menyarankan saya membaca karya-karya Anais Nin jika ingin mendalami sastra selangkangan yan tidak vulgar. Undangannya saya terima dengan mengobrak-abrik koleksi Anais Nin di C2O Library. Saya pilih yang paling tipis, agar cepat dibaca. Little Birds judulnya, diterbitkan Penguin Klasik tahun 1979.

Menarik menyimak kata-kata Nin dalam pengantar buku ini. Nin mengaku di jamannya, sekitar 1940-an, orang menulis kisah erotis karena didorong rasa lapar. Bayaran selembar kisah erotis bernilai satu dolar. Sungguh lumayan di saat itu.

Menurut Nin, rasa lapar menuntun kepada fantasi seksual, bukan kepada energi melakukan kuasa seksual. Sedang aktivitas seksual sendiri tak akan menuntun pada fantasi seksual yang luar biasa. Seperti diakuinya, menulis kisah-kisah erotis itu seperti memasuki kerajaan prostitusi. Mungkin di masanya hanya kaum pelacur yang berani menjelajahi fantasi liar seksual mereka. Sedang masyarakat kebanyakan menganggap seks itu tabu dibicarakan walau terus dijalani.

Little Birds terdiri dari 13 cerpen erotis, yang ditulis Anais Nin tahun 1940-an. Pengarang berdarah Kuba, Spanyol, dan Prancis ini lebih banyak menghabiskan hidupnya di Prancis dan Amerika. Ini yang mendasari keragaman latar karyanya. Kisahnya bisa berawal dari kehidupan gemerlap para selebritis, para model, pelukis, hingga manusia biasa dengan kemiskinan yang membelit.