The Art of Charlie Chan Hock Chye

Buku ini dibuka dengan membandingkan dua tokoh pergerakan Singapura, Lee KuanYew dan Lim Chin Shiong. Yang satu pernah menjadi perdana menteri negeri Singa dan peletak kekuatan ekonomi Singapura di kancah dunia, satunya berakhir sebagai penjual buah-buahan yang mati dalam pengasingannya di Inggris. Sama-sama pejuang namun bernasib berseberangan. Titelnya pun bikin miris, ‘One mountain cannot abide two tigers’. (Jadi ingat drama ‘the moon embracing the sun’, di sebuah negara hanya menyediakan satu tempat buat pemimpin, bukan lebih :P). Sungguh pembuka yang kontras, dalam ilustrasi komikal.

Lalu mulailah perkenalan dengan tokoh utama buku ini, Charlie Chan Hock Chye. Dia berumur 78 tahun pada 2010. Charlie menjelaskan bahwa di dalam nama Malaysia itu berasal dari kata Singapura. Maka bergabungnya Malaya dan Singapura pada 1963 menghasilkan negara Malaysia. Lalu Charlie berkisah tentang keterpikatannya pada Tezuka, artis Manga Jepang. Charlie lahir tahun 1938, sebelum perang dunia ke-2, saat Superman mulai dibuat. Charlie, si artis komik terbesar Singapura, memulai biografinya.

Siapa Charlie Chan Hock Chye?

Charlie Chan adalah anak pemilik toko kelontong di Geylang Road. Ayahnya pindah dari Penang dan membuka toko kelontong di Singapura tahun 1920. Bersama ketiga saudara kandung dan 2 saudara sepupu, Charlie tinggal di ruko di Geylang. Sehari-hari dia membantu menjaga toko orangtuanya sambil menggambar dan meniru gambar apapun, termasuk foto keluarganya, saat tak ada pembeli.

Berkat bantuan teman ayahnya, Charlie berhasil masuk sekolah berbahasa Inggris Pearl’s Hill Primary yang dikelola pemerintah kolonial Inggris. Dari sinilah Charlie mulai bersentuhan dengan politik kolonialisme, menyadari bahwa masyarakat China di Singapura terbagi dalam dua kultur besar, orang kaya yang bisa berbahasa Inggris dan orang miskin yang hanya tahu bahasa Mandarin. Dia juga sadar keluarganya tidak termasuk keduanya.

Pada 13 Mei 1954 Charlie menyaksikan demo pelajar yang menuntut bertemu dengan penguasa kolonial saat itu (Inggris) tapi bernasib naas, ditindas oleh aparat. Trauma itu membuat Charlie menciptakan tokoh robot superhero bernama Ah Huat. Dalam komik karyanya, Charlie menggambarkan Ah Huat yang mampu menengahi pertikaian antara para demonstran dan aparat. Ah Huat kemudian menjadi pahlawan dalam komik-komik Charlie berikutnya, sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang muncul, termasuk pada demo buruh yang menelan korban murid bernama Chong Lon Chong.

Bab-bab berikutnya mengisahkan perjuangan Charlie menjadi komikus yang anti mainstream. Ketimbang mengikuti apa yang dimaui penerbit atau pun pasar, Charlie lebih suka menggambar komik mengikuti kemauannya sendiri. Karena lebih tertarik kepada ketidakadilan pemerintah kolonialisme, komik Ah Huat-nya lebih menyorot kebengisan aparat dan pemerintah kolonial. Akibatnya, media massa menolak karya-karyanya.

Lalu Charlie bertemu Bertrand, pencinta komik yang kemudian menjadi rekan penulis narasi sekaligus manajer komiknya. Bertrand memperkenalkannya kepada pamannya yang menjadi penerbit. Kali ini Charlie membuat kisah tentang kolonialisme Jepang dan Inggris dengan mengganti wajah tokoh-tokohnya menyerupai binatang. (Ah, jadi ingat novel Animal Farm karya George Orwell ). Sayangnya, komik dua dimensi ini kurang diminati dan tak laku di pasaran. Charlie pun dipecat dan harus mencari penerbit lain.

Begitu terus perjalanan Charlie, berganti-ganti penerbit, tak jarang menerbitkan komiknya sendiri, karena komiknya dianggap tak laku di pasaran. Ketidakpastian hidup secara ekonomi inilah yang akhirnya membuat Bertrand meninggalkan Charlie. Sedang Charlie harus menjadi tukang gambar iklan dan satpam di masa tuanya, untuk menunjang hidupnya sebagai komikus.

Titik balik terjadi usai ayahnya meninggal karena penyakit jantung. Charlie nekad menghadiri Konvesi Komikus Dunia di San Diego untuk mengubah nasib. Dia pertaruhkan segalanya, harta terakhirnya. Hasilnya…  sila baca sendiri 😛. Pada bagian ini saya baru sadar kalau Charlie Chan adalah toko rekaan Sonny Liew, jadi komik grafis ini tentang biografi rekaan bernama Charlie, yang kelak menjadi artis komik terbesar  Singapura. Saya merasa . . .  dikibuli 😦

Sudah banyak resensi tentang novel grafis satu ini. Apalagi usai diterpa kontoversi, usai mendapat penghargaan sastra fiksi Singapura 2016, bantuan 8000 dolar Singapura dari Dewan Kesenian Singapura ditarik setelah sebulan diterbitkan dengan alasan isi komik sarat muatan politis. (Lihat! Negara semaju Singapur pun amat sangat represif di abad ke-21 ini. Jadi terbahak membandingkannya dengan kondisi Indonesia yang ‘super duper’ bebas. Mau memaki presiden, menebarkan fitnah politis via medsos pun tidak bakal diganjar hukuman. Bebas mirip ayam hutan :P)

Beberapa resensi menarik perihal buku ini dapat anda baca via link berikut ini :

https://kyotoreview.org/review-essays/art-of-charlie-chan-hock-chye/

http://www.comicsbeat.com/review-the-art-of-charlie-chan-hock-chye-is-2016s-first-superlative-graphic-novel/

http://www.npr.org/2016/03/07/469512468/charlie-chan-hock-chye-offers-a-heartfelt-take-on-aging-art-and-history

Kesan usai membaca

Karena sudah banyak diresensi, saya hanya akan menuliskan pengalaman dan kesan saya usai membaca buku ini, yaitu :

Kesatu, saya tertipu. Jelas itu. Karena langsung melahap isi buku tanpa membaca resensinya lebih dulu, atau mengikuti diskusi tentang buku ini -diadakan di c2o library pada 24 Desember dengan pembicara Lim Ceng Tju, penulis resensi di kyotoreview.org lebih dulu, atau membaca kesan-kesan tokoh dan penerbit terkenal di buku ini (ada pada halaman awal). Saya pikir Charlie Chan benar-benar ada, hidup saat ini, bukan tokoh fantasi. Awas kau Sonny!

Bagaimana mungkin tidak tertipu, Sonny menampilkan fakta sejarah yang sulit dibantah. Ada karya-karya lama Charlie Chan dalam bentuk gambar tua, publikasi di koran tua (tahun 1960-an, 1970-an dan seterusnya). Fakta-fakta yang benar-benar menghidupkan tokoh Charlie Chan.

Belum lagi ditambah narasi yang begitu runut dan jelas, memanfaatlan kejadian sejarah Singapura. Bagi yang tak paham sejarah Singapura, tentu saja tertipu. Bagi yang paham, mungkin akan mengangguk-angguk sambil berkata, ‘Sialan.. keren sungguh idenya’.

Kedua, banyak novel grafis yang bersifat politis, Goradze-nya Joe Sacco misalnya, yang melukiskan pembantaian di Palestina. Ada juga komik sejarah seperti kisah Mahabharata, Ken Angrok dll. Tapi novel grafis yang menggabungkan sejarah, politis, lewat biografi seseorang sulit didapat. Buku ini salah satunya.

Melalui tokoh Charlie Chan kita bisa mengetahui bagaimana sejarah Singapura dimulai -Charlie lahir sebelum perang dunia ke-2 dan saat ini masih hidup- dari perkampungan kotor sebagai bagian dari Malaysia hingga memisahkan diri, menyulap diri menjadi negara maju dengan kekuatan ekonomi yang diperhitungkan. Di buku ini pula kita bisa merasakan pahit getir hidup Charlie Chan sebagai warga anti mainstream. Bagaimana dia memberontak melawan represi rezim yang berkuasa lewat komik-komik karyanya, dan bagaimana dia bertahan sebagai artis komik yang anti mainstream. Saya kira, tak banyak yang tahu sejarah Singapura, namun lewat komik ini dapat menjadi ajang pembelajaran sejarah.

Ketiga, dalam novel grafis ini dapat kita lihat pandangan Sonny sebagai warga lokal dalam menyikapi dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintahnya, baik di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Tak semua warga Singapura penurut, pendiam, dan mengamini kebijakan penguasa. Walau tampak stabil di luar, gejolak ketidakpuasan atas kebijakan pemerintah tetap ada. Komik menjadi media penyalur rasa ketidakpuasan tadi. Banyak satiran, sindiran, humor hitam dalam ke-8 bab buku ini. Sering saya dibuat ngakak, atau terenyuh akan gaya narasi Charlie, sambil mulai berpikir kembali.

Ada bagian yang saya suka tentang bagaimana orang Singapura menilai artis komik, yang kalau disadur bebas dapat dituliskan, “Jadi komikus lokal itu susah. Jika kau membuat komik bertema mainstream, kau dipikir meniru komik-komik dari luar. Namun jika komikmu bertema anti mainstream, tak ada penerbit yang melirik karyamu.’ Bisa jadi ini adalah suara hati si pengarang buku ini, Sonny Liew.  Namun Sonny membuktikan bahwa dirinya mampu keluar dari pandangan minor ini. Karyanya mulai merambah Amerika, Eropa, dan ketrampilannya menarik banyak penerbit dunia.

Keempat, dari karya Sonny ini, semoga kita bisa belajar -terutama artis komik- dan mengembangkan penyajian novel grafis, baik dari sisi tema, penggambaran, maupun narasi. Ternyata , sumber tema komik itu banyak, penyajiannya pun beragam, tak melulu yang kini ada di toko buku.

Selamat membaca, dan berkarya. Untuk pembaca di Surabaya, buku tersedia di perpustakaan C2O library, dengan ongkos sewa murah, hanya Rp.6000 per dua minggu.😀

Email | Website | More by »

Pernah bekerja sebagai jurnalis di sebuah harian Surabaya, lalu majalah wanita di Jakarta, dan menjadi penulis lepas di beberapa media seperti Familia (Kanisius Group), Intisari, The Jakarta Post. Telah menerbitkan buku “TKI di Malaysia: Indonesia yang Bukan Indonesia”, “Antologi Bicaralah Perempuan”, dan “Journal of 30 Days Around Sumatra”.

Leave a Reply