A Life Beyond Boundaries

by
March 20, 2016 17:40

 

Peti Ben di depan krematorium Eka Praya, Surabaya, 19 Desember 2015.

Peti Ben di depan krematorium Eka Praya, Surabaya, 19 Desember 2015. Abu jenazah larung di Laut Jawa keesokan harinya.

Memoir singkat dari Ben Anderson yang baru saja meninggal Desember 2015 lalu. Karena awalnya buku ini ditujukan untuk pembaca-pembaca muda Jepang, bahasanya renyah mudah dicerna, tapi tetap menimbulkan banyak pertanyaan menggugah, bikin ngakak-ngakak sekaligus trenyuh.

Ben memberi pembuka singkat, menjelaskan mengapa dia setuju bikin memoir buku katak ini. Tsuyoshi Kato, muridnya sekaligus rekannya dalam penulisan buku ini, sebenarnya sudah menceritakan bagaimana buku ini muncul dalam euloginya saat upacara kematian Ben. Cerita lebih rinci juga dapat dibaca di tulisan Kato dalam kompilasi simposium untuk menghargai ulang tahun ke-80nya, barusan diterbitkan oleh Philippine Studies.

Ben menekankan dari awal bukunya dua poin utama: (1) Pentingnya penerjemahan (ia pernah membahas di NLR, lemahnya penerjemahan di Indonesia, dibandingkan misalnya di Latin Amerika, dan bagaimana ini berkaitan dengan politik penghargaan sastra Nobel); (2) keterkaitan nasionalisme dan internasionalisme. Dengan kata lain: untuk tidak menjadi katak dalam tempurung. Selalu berupaya melintasi batasan disiplin, geografis, profesi, serta selalu bersikap skeptis dan kritis pada keyakinan diri sendiri. Rupanya, pepatah katak dalam tempurung ini bisa ditemukan variannya di Indonesia, Thailand, dan Jepang—dan ini menjadi inspirasi judul dan ilustrasi sampulnya.

Buku ini dibagi menjadi enam bab. Dalam bab 1, Shifting youth, Ben menceritakan bagaimana ia dididik dan tumbuh besar di negara yang berbeda-beda; bagaimana ini membentuk dirinya dan kapasitasnya. Mulai dari cerita ia sering ngompol dan harus mencuci sprei sendiri di asrama, terpesona pada cerita-cerita praktek homoseksual di Yunani dan Romawi kuno, menikmati nonton film-film Jepang dan Soviet di bioskop art-house, dsb.

Di bab 2, Area Studies, ia menjabarkan keunikan serta pasang surut kajian Asia Tenggara dan Indonesia, beserta orang-orang yang membentuknya, di Cornell (dan Yale) zaman itu. Bagaimana seorang lulusan S1 Classics di Cambridge (yang sempat galau dan mengambil Ekonomi, dan bikin jengkel ibunya karena setelah lulus menganggur gak jelas berapa bulan), bisa menjadi pengajar di Departemen Pemerintahan dan Ilmu Politik di Cornell. (Karena bantuan teman, dan karena aksen Inggris masih cukup mempesona untuk akademi Amerika saat itu.) Dijabarkannya peran anggota fakultas seperti George Kahin, Ruth McVey, Claire Holt, John Echols (mempersiapkan kamus-kamus dan perpustakaan), dan bagaimana mereka membentuk dirinya, dan sangat memperhatikan murid-muridnya. Kahin, misalnya, mengupayakan supaya pengajar-pengajar muda yang belum dapat tenure bisa mendapat gaji atau dana dari Ford atau Rockfeller Foundation. Beberapa bagian sepertinya dikembangkan dari pengantar The Spectre of Comparisons.

Di bab 3, Fieldwork, ia menceritakan pengalaman-pengalamannya berpetualang, melakukan penelitian lapangan, dan mempelajari bahasa-bahasa Indonesia, Thailand, dan Filipina—sembari tetap menjaga rasa penasaran. Mulai dari menciptakan dan mempopulerkan kata “bule”, menghindari alat rekam, menumpang di bak truk penuh tai yang juga menyelundupkan karet mentah, wawancara dan disangka mata-mata, dsb.

Versi awal bab 4, Framework of Comparisons, sebenarnya sudah diterbitkan di London Review of Books vol. 38 No. 2 Januari 2016 lalu. Ben menceritakan bagaimana  perkembangan pemikirannya sangat dipengaruhi oleh Perry, yang lebih dulu terjun dalam gejolak politik Inggris tahun 60an, dan menangani projek raksasa New Left Review (NLR) semenjak usia 24 tahun, setelah NLR ditinggalkan pendirinya, termasuk E.P. Thompson dan Stuart Hall [1]. NLR menerjemahkan banyak karya seperti Gramsci, Althusser, Adorno, Benjamin, untuk meretas keterisolasian pemikiran di Inggris, dan 8 tahun setelahnya, meluncurkan divisi penerbitan bukunya, NLB, yang kemudian sekarang menjadi Verso. Menurut Ben, NLR membantu pemikirannya menjadi tidak terbatas dalam lingkup nasional, tapi kuat landasan komparatif dan internasional.

Di bab 5, Interdisciplinary, Ben membahas lebih jauh bagaimana Perry dan kawan-kawannya di NLR dan Verso tidak hanya membentuk pemikiran Ben, tapi juga menerbitkan tulisan-tulisan Ben, dan juga banyak buku berkualitas lainnya. Saat Ben menerbitkan disertasinya di Amerika, karyanya tidak begitu dianggap, dikatakan belum berhasil memberikan sebuah “teori”, hanya berisi sejarah, “basically  an area studies person” (kasarnya, kelas dua kalau dibandingkan kajian bidang seperti ilmu politik, sosiologi, dsb.). Namun setelah diterbitkan Verso, penerimaan akademisi Inggris pada Imagined Communities jauh lebih antusias daripada di Amerika. Minat makin melonjak setelah Soviet jatuh di akhir 1980an. Dari sini Ben kemudian masuk menjelaskan struktur akademik di Amerika sekarang, lingkup batasan dan perbedaan “aturan main” dalam kajian bidang dan kajian wilayah yang perlu dipelajari dan disiasati. Kemunculan kajian-kajian “lintas-disiplin” seperti Cultural Studies atau Postcolonial Studies menandai makin tidak mencukupinya batasan-batasan disiplin. Ben lagi-lagi menekankan pentingnya tulisan kita bisa melintasi batasan disiplin dan geografis, tapi juga tanpa mengurangi kecerdasan dan ketajaman analisis. Kajian budaya dan pascakolonial yang baik sangat sulit dilakukan tanpa landasan metoda dan teori yang kuat.

Bab 6 menceritakan kebahagaiaan masa cutinya: menerbitkan Under Three Flags (versi bahasa Indonesianya telah diterbitkan Marjin Kiri), The Fate of Rural Hell, menikmati film-film non-Hollywood lagi seperti Hou Hsiao-hsien, Tsai Ming-liang, Edward Yang, dan Apichatpong Weerasethakul. Bermain detektif menelusuri Opa Kwee Thiam Tjing alias Tjamboek Berdoeri, menerjemahkan dan memperkenalkan karya-karya Eka Kurniawan, dan yah, menuliskan memoar ini. Meski tidak secara panjang lebar, Ben menyayangkan makin berjaraknya pelaku seni, visual, dan film dari akademik karena makin meningkatnya profesionalisasi—sesuatu yang mungkin juga dapat ditemui dalam berbagai skala di berbagai negara saat ini, termasuk Indonesia.

Dalam bab penutup, dengan rendah hati dan tanpa macak heroik, Ben mengingatkan faktor luck, keberuntungan (atau bisa juga, kebetulan). Dia menyadari bahwa dia beruntung, lahir dalam keluarga yang kosmopolitan, dan bagaimana ini sangat membentuk dirinya. Sejak kecil, ia mendapatkan akses ke banyak karya dalam berbagai bahasa. Dia adalah generasi terakhir yang mengalami pelatihan berbagai bahasa asing yang ketat, dan tidak terlalu mengalami pendidikan akademi dalam tekanan “pasar kerja (job market)” seperti sekarang. Namun hanya bergantung pada keberuntungan dan kebetulan juga percuma. Ditekankannya, jika ingin menjadi akademisi, scholars, pahamilah kondisi sejarah dan materi akademikmu, dan pandai-pandailah bersiasat. Ben menutup bukunya dengan mengingatkan kembali, pentingnya untuk tidak berpuas diri, dan untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan emansipatoris lokal maupun internasional. Dengan kata lain, katak-katak dunia, bersatulah, keluar dari tempurung kelapa masing-masing.

Yang saya perhatikan menonjol dari Ben—maupun Perry—adalah kepekaan mereka pada bahasa, sejarah, dan kondisi lingkungan pihak yang mereka ajak berdialog. Sangat rendah hati meski memiliki pengetahuan serta kemampuan bahasa dan analisis yang luar biasa. Mereka berupaya menyesuaikan tutur mereka ke pembaca/pendengarnya, tidak memandang rendah atau menggurui.

Ada beberapa isu yang sesungguhnya sudah sejak lama ingin saya tanyakan ke Ben. Seperti: kalau dulu kapitalisme cetak membentuk narasi bersama (dan bayangan komunitas), bagaimana dengan kapitalisme digital sekarang, ketika makin banyak orang komunikasi dan pembacaan berita makin termediasi digital, dari Facebook (dan raksasa-raksasa digital berlomba-lomba ke arah kontrol informasi)? Bagaimana itu mempengaruhi narasi dan pembentukan imajinasi bangsa? Kalau untuk cetak ada Elisabeth Eisenstein, sebenarnya sekarang mulai banyak (atau bahkan banjir) kajian yang mempelajari Google (dan Facebook, WhatsApp, dan Snapchat dsb) dan kaitannya dengan politik. Meski sepertinya memang agak kurang dilakukan di Asia Tenggara, padahal akan menarik sekali, dengan sangat beragamnya bahasa, budaya, dan ancang-ancang ke ASEAN ini…. Terutama Indonesia, yang komunikasinya lebih banyak berbasis lisan daripada tulisan (yang lebih mirip “media baru”, dan mudah mengadopsi medsos). Semoga ini akan kita temui penelitiannya di generasi-generasi berikutnya.

Memoir singkat dan sangat manusiawi dari seorang tokoh yang sangat menginspirasi, cocok untuk generasi muda–memberi semangat, tips strategi dan taktik dalam tutur bahasa yang asik, tidak menggurui, tapi tetap memberi banyak ide. Versi yang saya baca ini sebenarnya masih berupa uncorrected page proofs/review copy, yang saya dapatkan dari Y-F H. Versi bahasa Inggris akan diterbitkan Verso Juni 2016 nanti. Tunggu versi bahasa Indonesianya yang akan diterbitkan Marjin Kiri.


[1] Ada banyak isu dan perdebatan santer mengenai perpindahan dewan redaksi NLR ke Perry Anderson, Tom Nairn, dan Robin Blackburn di tahun 1962. Ada yang mengatakan ini perebutan (kesan yang mungkin terbangun dari tulisan Thompson di The Peculiarities of the English dan The Poverty of Theory) dan sengketa berkepanjangan. Namun tampaknya situasinya adalah dewan redaksi sebelumnya kelabakan kebingungan mengelola, dan akhirnya meninggalkan NLR—yang saat itu secara ideologi maupun finansial morat-marit—ke para “Young Turks”. Ben hanya membahas isu ini sedikit. Lebih rinci dapat dibaca antara lain di tulisan Perry: Arguments within English Marxism, 1980, membahas argumen Thompson dalam The Poverty of Theory, dan mengajak Thompson untuk menyudahi pertengkaran dan bekerjasama lagi. Perry juga menuliskan obituari apik untuk E.P. Thompson di LRB. Cek juga Stuart Hall (“Life and Times of the First New Left,” NLR 61, 2010). Kita di Indonesia tentunya tidak asing dengan polemik antar-faksi. Yang bisa kita pelajari adalah bagaimana untuk tidak membiarkan polemik menumpulkan ketajaman analisis, membatasi dialog, memperlemah kerjasama, dan mengaburkan tujuan besar.

[2] Di hari yang sama saya mendapatkan buku ini, saya menerima paket dari Perry berisi artikel mengenai ayah mereka, “An Anglo-Irishman in China” yang telah diterbitkan dalam bukunya, Spectrum. Di sini Perry bercerita mengenai pengalamannya menemukan arsip-arsip James O’Gorman yang bekerja sebagai petugas bea cukai layanan maritim di Cina (Chinese Maritime Customs Service). Jika memoar Ben dibuat untuk mudah dibaca, artikel Perry lebih menantang (terutama karena beda target pembaca), tapi tetap sangat menggugah, dengan menghanyutkan dan rinci merajut sejarah keluarga dalam gejolak politik dunia, situasi maritim dan imperial zaman itu, melintasi benua dan bahasa. Juga patut dibaca untuk memulai pemahaman sejarah dari lingkungan terkecil, kemudian keluar dari tempurung ;)


ALifeBeyondBoundaries-BenedictAndersonJudul: A Life Beyond Boundaries
Penulis: Benedict Anderson
Penerbit: Verso, Juni 2016
(Akan tersedia di C2O sekitar pertengahan 2016)


BenAnderson-books-c2o

[UPDATE] Telah terbit, Juli 2016:
Hidup di Luar Tempurung,
 memoar Benedict Anderson

diterjemahkan oleh Ronny Agustinus, diterbitkan Marjin Kiri
dapat dibeli dengan harga Rp 59.000,
atau dipinjam (tersedia dalam bahasa Indonesia atau Inggris)

Di buku ini, Anderson mengisahkan kehidupannya yang tak menutup diri dari dunia: latar belakang era, keluarga, dan pendidikan yang membuatnya terpapar pada asyiknya belajar bahasa dan pentingnya terjemahan; gagasan dan bacaan yang melandasi karya-karyanya yang berpengaruh panjang pada ilmu-ilmu sosial, politik, dan kebudayaan. Selain memoar, tersedia pula banyak buku-bukunya yang lain dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia, dari hardcover sampai stensilan saku. Antara lain: Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination (Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial), Spectre of Comparisons, dan Imagined Communities. Silakan cek katalog perpustakaan.

Categories: Book reviews

: Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
tukarobralbacabuku-575x350
Baca, Obral & Tukar Buku

by c2o library & collabtive
Baca, Obral & Tukar Buku Lapak buku murah untuk membeli dan bertukar buku ☞ Sabtu, 10 Desembe...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya