Mastodon

The Face of Another

judul : the face of another
penulis : kobo abe
penerbit : charles e. tuttle company, inc., 1998

saya mengenal kobo abe saat menonton film “woman in the dunes” karya hiroshi teshigahara di c2o library. film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya kobo abe ini sangat bagus sekali visualnya, mencekam, penuh detail, dan indah, tentu saja cerita yang menawan, tentang seorang entomologis yang sedang melakukan ekspedisi mengumpulkan serangga di gurun pasir dan terpaksa tinggal di rumah seorang janda di lembah pasir!

the face of another menyajikan jurnal/surat (terdiri dari 3 notebook dengan warna yang berbeda) oleh seorang pria yang seluruh wajahnya terluka akibat ledakan oksigen cair saat melakukan eksperimen di laboratorium tempat ia bekerja, surat tersebut ditujukan kepada sang istri. tentu saja wajahnya hancur dan sangat menakutkan bagi orang lain, penuh dengan luka keloid, yang selamat hanya mata dan bibirnya, dia memakai kacamata saat bencana terjadi. istrinya sudah tidak mau berhubungan seks dengannya, dan dia teralienasi dari lingkungan sosial.

“how wonderful would it be, frankly, if everybody in the world would suddenly lose his sight or forget the existance of light. immediately, there would be agreement about form. everybody would accept the fact that a loaf of bread is a loaf of bread whether triangular or round. just because there was light, she heedlessly thought that a triangular loaf of bread was not bread but a triangle. this thing called light is itself transparent, but it apparently changes into something non-transparent.”

awalnya dia akan operasi plastik, tapi dia merasa jijik jika organ palsu menempel di wajahnya dan kesulitan utama dalam operasi plastik wajah adalah menciptakan ekspresi di wajah. tanpa kaki, tanpa tangan, tanpa mata, tanpa kuping itu masih bisa dihadapi, tapi tanpa wajah, tidak ada yang bisa hidup tanpa wajah, pilihan terbaik adalah bunuh diri. tapi pria itu memilih jalan lain, dia membuat topeng realis dan mengubah identitasnya, tujuannya adalah untuk menipu sang istri sehingga berselingkuh dengannya.

“in mathematics there are “imaginary numbers”, when squared, become minus. they have points of similarity with masks, for putting one mask over another would be the same as not putting on any at all.”

keraguan tentang topeng terjawab saat dia berhasil membuat topeng realis dan mencoba memakai topeng tersebut. dengan memakai “wajah” baru, sang pria menuju rumahnya, dia merasakan dunia yang baru dengan wajah yang baru. dia mengintip ke rumahnya, mengintai sang istri, dia berencana untuk berselingkuh dengan istrinya sendiri.

“i peered into the mirror. a man i did not know looked cooly back at me. indeed, not the slightest detail would make one think it was me. the color, the luster, the feeling were all successful–a perfect disguise.”

rencananya berlangsung mulus tanpa penolakan sang istri, dia malah sangat kecewa karena sang istri dengan tanpa ragu menerima ajakan bercinta seorang yang asing. keesokan harinya, dia memberikan peta kepada sang istri, peta menuju apartemennya, sang istri pun datang dan membaca 3 notebook yang berisi pengakuan sang pria dan tuduhan terhadap sang istri.

ternyata sang istri sejak awal menerima keadaan sang suami apa adanya, tapi sang suami yang terlanjur depresi menganggap sang istri menolak dia karena sudah tidak berwajah. sang istri mengenal sang pria bertopeng sebagai suaminya, makanya dia tidak menolak ajakan berselingkuh, sang istri menulis balik sebuah surat untuk suaminya :

“you don’t need me. what you really need is a mirror. because any starnger is for you simply a mirror in wihich to reflect yourself. i don’t ever again want to return to such a desert of mirrors. my insides have almost burst with your ridicule. i shall never be able to get over it, never.”

ada 48 ikon topeng yang berbeda ekspresi bentuk muka, mewakili tiap bab, cukup menarik untuk diperhatikan. dari awal sampai akhir, suasana membaca cukup tegang karena sang narator (pria tanpa muka tersebut) sangat emosional mengungkapkan perasaannya, mencekam!

“faceless, expressionless, sleeplessness, isolation, alienation, depression”

Catatan dari C2O: Buku ini juga diadaptasi menjadi film oleh Hiroshi Teshigahara, sutradara yang juga mengadaptasi novel Kobo Abe yang lain, The Woman in the Dunes.  Kedua filmnya tersedia di C2O.  Foto di atas diambil dari still film.

Email | Website | More by »

Seorang musafir gig dan pameran, pengelola klab jalan kaki Manic Street Walkers, penikmat zine, lomographer.

Leave a Reply