-->

Reportase: Bedah buku Budaya Bebas

by
June 8, 2012 15:44  |  1 Comment

Diskusi buku”Budaya Bebas: Bagaimana Media Besar Memakai Teknologi dan Hukum untuk Membatasi Budaya dan Mengontrol Kreativitas – Lawrence Lessig”

bersama Brigitta Isabella, Syaifatudina, Antariksa (KUNCI Cultural Studies Centre)
dan Phleg TerbujurKaku

30 Mei 2012
di C2O Library & Collabtive, Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya 60264

“common sense mematahkan dogma-dogma lama”

Jam 6, awal malam yang cukup cerah, di halaman belakang c2o library sudah tertutupi karpet, Antariksa, Ari, dan Andreiw rebahan bermain gitar; di dalam perpustakaan, Dina dan Gita sibuk menyelesaikan materi diskusi buku “Budaya Bebas – Lawrence Lessig”. Setengah jam kemudian, Phleg Terbujurkaku yang juga akan menjadi salah satu memasuki halaman c2o library dikawal 3 temannya. Kawan-kawan berdatangan dan kami memulai acara sekitar jam 7 malam.

Andriew melempar prakata, disambut Gita memaparkan latar belakang KUNCI Cultural Studies Centre menterjemahkan dan menerbitkan “Budaya Bebas”. Buku tersebut diterjemahkan oleh 3 penerjemah amatir termasuk Gita sebagai salah satu hasil proyek penerjemahan “Berbagi Pengetahuan tentang Budaya Media Baru” yang merupakan bagian dari agenda kerja KUNCI tahun 2009-2011 “Konvergensi Media dan Teknologi di Indonesia”, buku ini diterbitkan atas dukungan Ford Foundation. Budaya bebas yang dipaparkan oleh Lessig menjadi pintu untuk membuka wacana copyright/copyleft di Indonesia yang compang-camping mengingat apa yang didefinisikan sebagai “pembajakan adalah kegiatan sehari-hari kebanyakan masyarakat Indonesia, tidak lupa bahwa praktik berbagi (file sharing) sudah menjadi kebiasaan anak muda Indonesia di era Internet.

Dina meneruskan membedah sang buku dengan mengkaitkan pengalaman dan pengamatannya. Mulai dari sejarah budaya bebas (Lessig menulis budaya bebas dengan konteks Amerika Serikat) dimana itu juga ada dalam sejarah Nusantara seperti motif batik, resep makanan dan minuman tradisional, yang dengan ajegnya pengetahuan tersebut digunakan bersama tanpa harus “membayar” atau meminja “ijin”. Lessig–pendiri dari Creative Commons (http://creativecommons.org)–menawarkan pilihan diantara copyright dan public domain, jadi bukan melawan copyright tapi melengkapi: some rights reserved. Antariksa menambahkan dengan menekankan pentingnya mengetahui hak kita sebagai pembuat karya.

“… kami datang dari tradisi “budaya bebas” (free culture) -bukan free dalam pengertian free beer atau bir gratis (meminjam istilah dari perintis gerakan piranti lunak gratis), tapi bebas seperti dalam kebebasan berpendapat, pasar bebas, perdagangan bebas, usaha bebas, kehendak bebas dan pemilihan suara bebas. Budaya bebas mendukung dan melindungi pencipta dan penemu. Budaya ini melakukannya secara langsung dengan mengakui hak milik intelektual.Tapi budaya ini melakukannya dengan cara tidak langsung, dengan cara membatasi jangkauan dari hak-hak tersebut, untuk menjamin bahwa para pencipta dan penemu selanjutnya sebisa mungkin terbebas dari kekangan masa lalu.” -Lawrence Lessig

Hujan gerimis membuat kami berpindah ke dalam perpustakaan, giliran Phleg TerbujurKaku (http://www.myspace.com/bedebahsampaimati) sharing mengenai pengalamannya sebagai musisi elektronik yang kerap melakukan aktivitas membangun pengetahuan baru diatas pengetahuan yang sudah ada–budaya bebas–dengan mengambil potongan lagu dangdut-koplo lalu menggosokkan dengan irama breakcore dan drum n’ bass lalu menjadi suatu komposisi yang ajaib. Meskipun Phleg kerap takut dituntut secara hukum karena komposisinya tersebar bebas gratis diunduh di Internet, dia tetap berkarya dengan memberikan lisensi non-commercial atas karyanya. Salah satu proyek KUNCI yang diikuti oleh Terbujurkaku adalah Megamix Militia Vol 1 (http://megamixmilitia.kunci.or.id/).

Kawan-kawan pun dengan semangat sharing mengenai pengalaman dan pendapatnya mengenai praktik bajak-membajak, salah satunya Bayu, dia sempat sakit hati saat content website-nya dibajak habis-habisan oleh kawannya, ke-sakithatian-an bayu diketahui oleh sang kawan, setelah itu sang kawan merubah website-nya menjadi lebih bagus ketimbang website-nya bayu, hehhe sakit hati berubah menjadi rasa hormat.

Buku Budaya Bebas versi elektronik dapat diunduh di  http://kunci.or.id/collections/buku-budaya-bebas-lawrence-lessig/

Foto oleh Erlin Goentoro, ChimpChomp.us

Categories: HighlightReportase

: Seorang musafir gig dan pameran, pengelola klab jalan kaki Manic Street Walkers, penikmat zine, lomographer.
Email this author | Visit author's website | All posts by

One Response

Feed Trackback Address
  1. […] Creative Commons BY-NC dan dapat diunduh gratis dari website KUNCI Cultural Studies Center. Teman-teman KUNCI juga pernah datang membedahnya di C2O. Tampaknya, kita juga bisa segera menantikan penerbitan bahasa Indonesia buku-buku menarik lainnya […]

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

What’s On

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
not-your-world-music-575
Not Your World Music: Noise in Southeast Asia

by c2o library & collabtive
Diskusi buku Not Your World Music: Noise in South East Asia karya Cedrik Fermont & Dimitri della...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya