Supper Snapshots »
-->

Kemajemukan identitas & ketionghoaan di Indonesia

by
February 25, 2013 10:53

Kiri-kanan: Budiawan, Chang-Yau Hoon, Olivia, dan Sri Mastuti

Apa itu “ketionghoaan”? Bagaimana kita memaknai identitas Tionghoa? Bagaimana faktor lokal dan global berperan dalam pembentukan identitas dan makna Tionghoa? Acara yang digelar di TB Petra Togamas pada hari Jumat, 22 Februari, pk. 16.00 ini membedah buku Identitas Tionghoa: Pasca-Suharto—Budaya, Politik dan Media karya Chang-Yau Hoon. Dalam acara ini, hadir tiga pembicara: Dr. Chang-Yau Hoon sendiri, Dra. Sri Mastuti, dan Dr. Budiawan.

Chang-Yau Hoon, profesor asisten Kajian Asia di Singapore Management University yang akrab dipanggil CY, menulis buku ini untuk disertasi S3nya di University of Western Australia berdasarkan penelitian lapangan yang dilakukan di Jakarta selama setahun pada tahun 2004. Kenapa memilih Tionghoa Indonesia, dan kenapa di Jakarta? Sebagai peneliti, CY sendiri memiliki latar belakang kosmopolitan, dan pengalamannya mengecap pengalaman sebagai “minoritas” di berbagai negara memberinya pemahaman subjektivitas dan identitas yang berlapis-lapis. Lahir di Sarawak, besar di Brunei, kuliah di Australia, dan mengajar di Singapura, membuatnya fasih berbicara Inggris, Indonesia, Melayu, Mandarin, dan berbagai dialeknya.

Jakarta dipilih karena merupakan ibu kota dan kota metropolitan yang menarik berbagai identitas yang beragam. Begitu pula, kerusuhan Mei 1998 bermula juga di Jakarta. Kota ini merupakan kota paling semarak untuk warga Indonesia-Tionghoa mengartikulasikan (kembali) identitas mereka. Pasca-1998, banyak bermunculan lembaga-lembaga dan organisasi Tionghoa, kursus Mandarin (dan dialek lainnya), pers dan media massa.

Pada bedah buku kali ini, CY memfokuskan pembahasannya pada tiga hal, yakni: (1) pentingnya identitas, (2) bahwa Tionghoa itu majemuk, dan (3) politik minoritas. Pada pembahasan pertama, CY menguraikan bagaimana menurutnya identitas Indonesia-Tionghoa merupakan salah satu identitas paling problematis di Asia Tenggara. Identitas, sebagai sesuatu yang dikonstruksi dan tidak terpisah dari sejarah, merupakan dasar konflik sosial hari ini. Setelah sejarahnya ditekan di zaman Orde Baru, generasi sekarang tidak lagi mengenali identitasnya. Indonesia-Tionghoa dipaksa menjadi Indonesia, sementara identitas Indonesia itu sendiri belum jelas. Yang dilakukan adalah mengadopsi budaya dan identitas lokal, tapi tidak sepenuhnya diakui. Pasca-Reformasi, wacana multikulturalisme muncul. Orang Tionghoa banyak turut berpartisipasi dalam ruang publik—mendirikan partai-partai politik, organisasi non pemerintah, dan kelompok-kelompok aksi—tapi bentuk dan tujuan partisipasinya pun sangat beragam.

(Ke)Tionghoa(an) adalah sesuatu yang majemuk. Ada kecenderungan setelah ruang demokratis menjadi terbuka, ketionghoaan diartikulasikan menjadi sangat kaku, menjadi terlalu terfokus pada perayaan dan identitas seperti Imlek, barongsai, kue bulan, chiongsam dan warna merah. Tidak masalah tentunya jika ekspresi ini diperjuangkan—masalahnya adalah jika hanya pembahasan identitas diperjuangkan sampai ini saja. Di zaman Orde Baru, orang Tionghoa dipaksa “menjadi Indonesia”. Sekarang, mereka dipaksa “menjadi Tionghoa” kembali, setelah lama sejarah dan identitasnya ditekan. Minoritas, atau “korban”, melakukan penindasan pada minoritas lainnya.

Mengidentikkan seseorang dengan perayaan, makanan, bahasa, perilaku dan pakaian tertentu membekukan konstruksi identitas yang sebenarnya dinamis dan terus menerus berubah. Perlu diperhatikan juga faktor-faktor lainnya, seperti usia, gender, kelas sosial, dan tentunya, sejarahnya. Diskriminasi dalam bentuk apapun perlu dilawan. CY menekankan bagaimana kita tidak bisa hanya mempermasalahkan diskriminasi pada kaum Tionghoa, tapi juga perlu memperjuangkan pengentasan diskriminasi pada minoritas lain, seperti pada LGBTIQ dan Ahmadiyah.

Pembicara berikutnya, Sri Mastuti, banyak mengangkat bahan pembicaraannya dari buku sejarah Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 karya Anthony Reid. Di sini diuraikan bagaimana konstruksi etnis dibentuk semenjak lama oleh penjajah untuk memecah belah. Prasangka disebarkan tentang semua etnis agar tidak pernah bersatu dan saling menjaga jarak. Banyak hal dibuat pemerintah kolonial untuk membuat orang-orang Tionghoa sebagai buffer penindasan.

Sri Mastuti juga menggarisbawahi bagaimana pengekalan ras ini terus menerus direproduksi pada tatanan struktur pendidikan. Apakah pendidikan kita sudah mendorong interaksi antar-etnis, antar-agama? Institusi-institusi pendidikan kita dikotak-kotakkan, dibatasi pada etnis dan agama tertentu. Ini adalah permasalahan utama. Semenjak kecil kita tidak terbiasa bergaul dengan orang-orang dari beragam latar belakang. Yang terjadi kemudian adalah seolah-olah praktik, atribut, dan kepercayaan tertentu menjadi milik suku atau agama tertentu. Semestinya, kebudayaan bukanlah milik suku tertentu, tapi milik kita semua, tidak dikotak-kotakkan.

Budiawan, yang juga menerjemahkan buku ini, melengkapi pembahasan dengan konteks hari ini. Dia memberi contoh. Ada dua dosen senior UGM. Satu keturunan Tionghoa, satu Jawa. Kebetulan mereka berdua pergi ke apotik, naik mobil. Dosen Tionghoa masuk ke apotik untuk membeli obat, dosen Jawa menunggu sambil merokok. Ee, dihampiri oleh seorang sopir, dan ditanyai, dia dapat gaji sopir berapa? Dosen Jawa ini dikira sopir dosen Tionghoa.

Para peserta yang hadir langsung bisa mengidentikkan dirinya dengan cerita tersebut. Pertanyaannya kemudian adalah, darimana datangnya stereotipe ini? Apa makna stereotipe? Dan bisakah stereotipe dilampaui? Memang, stereotipe memiliki guna untuk memetakan liyan, atau orang yang tidak kita kenal. Permasalahannya adalah ketika stereotipe yang kaku dipelihara, tanpa ada upaya untuk mengenal, memahami orang lain dengan segala kompleksitasnya. Prasangka, stereotipe, menjadi esensialis, seolah-olah alamiah, dan mengikis kepercayaan kita kepada orang lain. Buku ini mendorong kita untuk kritis terhadap cara pandang kita, untuk melihat kemajemukan yang ada, dan melihat identitas sebagai sesuatu yang terus berubah.

Terima kasih pada para pembicara Dr. Chang-Yau Hoon, Dr. Sri Mastuti, Dr. Budiawan, moderator Olivia, dan penyelenggara Center for Chinese Indonesian Studies (CCIS)Perpustakaan UK PetraYayasan Nabil, dan Toko buku Petra Togamas. Terima kasih juga pada CY atas hadiah bukunya untuk koleksi Perpustakaan C2O!

Kiri-kanan: Budiawan, Chang-Yau Hoon, Olivia, dan Sri Mastuti

The English translation of this article has been automatically generated. Please inform us of any mistakes. 

What is “Chineseness”? How do we make sense of Chinese identity? How do local and global factors play a role in the formation of identity and the meaning of being Chinese? On Friday, February 22, 4pm at TB Petra Togamas Bookstore, we had a book discussion on Chinese Identity in Post-Suharto Indonesia: Culture, Politics and the Media by Chang-Yau Hoon. In this event, there were three speakers: Dr. Chang-Yau Hoon himself, Dra. Sri Mastuti, and Dr. Budiawan.

Chang-Yau Hoon, assistant professor of Asian studies at the Singapore Management University, also known as CY, wrote this book for his doctoral dissertation at the University of Western Australia, based on field research conducted in Jakarta for a year in 2004. Why choose the Chinese of Indonesia, and why Jakarta? As a researcher, CY himself has a cosmopolitan background, and his experience as a “minority” in different countries gave him an understanding of layered subjectivities and identities. Born in Sarawak, he grew up in Brunei, studied in Australia, and taught in Singapore, making him fluent in various languages: English, Indonesian, Malay, Mandarin, and various dialects.

Jakarta was chosen because it is the capital and as a metropolis, it attracts a wide range of identities. Likewise, May 1998 riots also started in Jakarta. The city is a fertile bed for Indonesia-Chinese citizens to (re)articulate their identities. Post-1998, we see many emerging institutions and organizations of Chinese, Mandarin courses (and other dialects), press and mass media.

CY discussion focuses on three things: (1) the importance of identity, (2) the plurality of Chineseness, and (3) minority politics. In the first discussion, CY outlines how he thinks Chinese-Indonesian identity is one of the most problematic in Southeast Asia. Identities, as something that is constructed inseparably from history, are the foundation of social conflict today. After being historically suppressed in the New Order era, the present generation no longer recognizes the identities of the older generations. The Chinese Indonesian were forced to be Indonesian, an unclear identity in itself. The most that can be achieved is adopting the local culture and identity, but yet, never fully recognized as such. Post-Reformation, the discourse of multiculturalism emerged. Many Chinese people participated in the public space—establishing political parties, non-governmental organizations and action groups—but the shapes and purposes of participation are also very diverse.

Secondly, being Chinese is something plural. There is a tendency that after the democratic space being open, the (re)articulated Chineseness becomes very fixed, too focused on the stereotyped celebration and identity of Chinese New Year, lion dance, moon cake, chiongsam and the red colour. It does not matter of course if the expression was championed-the problem is if only the identity of the discussion up to this fight alone. In the New Order era, the Chinese forced “into Indonesia”. Now, they are forced to “become Chinese” again, after a long history and identity is suppressed. Minorities, or the “victim”, oppressing the minorities.

Identify someone with festivities, food, language, behavior and certain clothing construction freeze real identity of dynamic and continuously changing. It should be noted also other factors, such as age, gender, social class, and of course, history. Discrimination in any form needs to be resisted. CY emphasize how we can not only concerned about discrimination against the Chinese, but also the need to fight poverty discrimination on other minorities, such as LGBTIQ and Ahmadis.

The next speaker, Sri Mastuti, many conversations lifting material from a book of history of Southeast Asia in the period 1450-1680 the work of Anthony Reid Commerce. Here are how long since the construction of ethnic formed by the invaders to divide. Prejudice spread about all ethnicities to never unite and keep your distance. Many things made the colonial government to make the Chinese people as a buffer oppression.

Sri Mastuti also underscores how the perpetuation of the race is constantly reproduced in the framework of the structure of education. Is our education is to encourage interaction between ethnic, inter-religious? Our educational institutions dikotak compartmentalized, restricted to certain ethnic and religious groups. This is the main problem. Small since we are not used to get along with people from diverse backgrounds. What happened next was as if the practice, attributes, and certain beliefs belong to a particular tribe or religion. Supposedly, the culture does not belong to a particular tribe, but it belongs to all of us, not boxed compartmentalized.

Budiawan, who also translated the book, complete with the context of today’s discussion. He gave an example. There are two senior lecturers UGM. One of Chinese descent, one of Java. Coincidentally they both go to the pharmacy, a car ride. Lecturers Chinese go to the pharmacy to buy medicine, lecturer Java wait while smoking. Ee, approached by a driver, and questioned, he can pay the driver how much? Lecturer Java driver lecturer of Chinese thought.

Participants can immediately identify himself with the story. The question then is, where it comes from these stereotypes? What is the meaning of stereotypes? And the stereotype can surpassed? Indeed, in order to map the stereotype has other, or people we do not know. The problem is when the rigid stereotypes maintained, without any effort to get to know, understand others in all its complexity. Prejudice, stereotypes, being essentialist, as if naturally, and eroding our trust in others. This book encourages us to be critical of the way we look, to see the diversity that exists, and see identity as something that is constantly changing.

Thanks to the speakers Dr. Chang-Yau Hoon, Dr. Sri Mastuti, Dr. Budiawan, Olivia moderator and organizer Indonesian Center for Chinese Studies (CCIS), Library UK Petra, Nabil Foundation, and Petra Togamas bookstore. Thanks also to the CY top prize for his collection had C2O!

Categories: Reportase

: Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

What’s On

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya