SUBstream | Enabling Design | Negeri di Bawah Kabut

Berikut adalah beberapa acara C2O yang akan datang. Kami meneruskan juga info dua program pemutaran film menarik oleh Wisma Jerman. Klik masing-masing gambar untuk informasi lebih lanjut.


CallforSubmission-SUBstream_PhotoZine

Pengingat / Reminder
Undangan mengirimkan karya foto: SUBstream Photo Zine

☞ Tenggat: 22 Mei 2015

SUBstream /səbˈstriːm/

1. Something lying undercurrents, that require a deeper investigation and understanding of the hidden and underlying contexts, environment, and systems.2. The geographical-historical subjectivities that emerge and flow trans-nationally and influence the (in)formation of social innovation, 3. in continuous cycles of challenging and subsuming into the so-called mainstream. 4. Positioned in Surabaya with its long history of trade, resistance, and port cultures, thus the deeply intertwined relations between art, culture, trade, and politics.

Ketentuan karya:

  • Mengirimkan 4 karya foto yang merespon salah satu (atau lebih) dari empat makna SUBstream yang telah dijabarkan di atas.
  • Keempat foto tersebut boleh saling berkaitan dalam satu seri, atau boleh individual
  • Menyertakan keterangan karya maks. 200 kata per foto, atau 800 kata untuk keempat foto.
  • Menyertakan profil diri, surel, dan situs web

Karya yang terpilih akan diterbitkan dalam antologi “SUBstream Photo Zine” dan akan dipamerkan di:

  • ZINE WORLD, Photography Edition, di Doomed Gallery, London, pada bulan Juni 2015.
  • PRINTilan, Design It Yourself, Oktober 2015.

INFO
hello@diysub.com

ADGISUBconference-575

ADGI SUBconference: Enabling Design
☞ Jumat, 22 Mei 2015, 15.00 – 20.30
Grand Sungkono Lagoon
Jl. Abdul Wahab Siamin Kav. 9–10, Surabaya

ADGI SUBconference: ‹Enabling Design› adalah konferensi tentang dunia desain grafis yang berusaha dipahami dari sudut pandang kota Surabaya. Meskipun merupakan kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki karakter lingkungan dan pasar yang berbeda dengan Jakarta. Karena itu perlu dipahami kenyataan dan tantangan kota ini, serta usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meresponnya. Inisiatif-inisiatif untuk mengfungsi(onal)kan desain mulai bermunculan beberapa tahun belakangan. Seiring dengan membaiknya tata kelola kota. Acara ini akan mendiskusikan berbagai pola interaksi dan inisiatif yang bisa diusahakan untuk mengoptimalkan fungsi desain di kota Surabaya.

Acara ini diselenggarakan oleh ADGI SUB, ditujukan terutama untuk para desainer grafis profesional. Namun juga turut mengundang akademisi, mahasiswa, wakil dari pemerintah, profesional di bidang terkait dan juga design ethusiasts untuk ikut terlibat dalam dua sesi diskusinya.

INFO
adgisub@gmail.com | surabaya.adgi.or.id


ArtHouseCinema_VierTageImMai_SURABAYA_Webbanner_512x225px

ArtHouse Cinema Surabaya
Vier Tage im Mai (Empat Hari di Bulan Mei)

Sutradara: Achim Von Borries
Film dalam bahasa Jerman dengan teks bahasa Inggris.

☞ Rabu, 20 Mei 2015, 19.00 WIB
Ruang Halle, Wisma Jerman
Taman A.I.S. Nasution 15, Surabaya 60271
Gratis & terbuka untuk umum

Jerman di bulan Mei 1945, empat hari menjelang akhir Perang Dunia II: Satu kelompok pengintai Rusia menduduki rumah yatim piatu di pesisir Laut Baltik dan mencoba membuat kesepakatan dengan para penghuninya. Sementara itu, satu unit tentara Jerman masih berkemah di tepi pantai sambil menanti kesempatan menyeberang ke Denmark.

Kedua belah pihak sudah letih berperang. Kategori “kawan” dan “lawan” sudah lama tidak mengikuti aturan propaganda perang. Situasi akhirnya tetap menjadi genting karena kebaikan dan kebejatan tidak memandang kebangsaan. Sebuah film tentang perang dan kisah yang menentang perang; sukar dipercaya, namun berdasarkan kisah nyata.

Negeri Di Bawah Kabut Grdn

Seri Cerita Indonesia: Three Lenses on Java Bag. II
Negeri di Bawah Kabut
Sutradara: Shalahuddin Siregar

☞ Sabtu, 23 Mei 2015, pk. 19.00 WIB
Ruang Halle, Wisma Jerman
Jl. Taman AIS Nasution 15, Surabaya
Gratis & terbuka untuk umum

Di Genikan, desa terpencil di lereng Gunung Merbabu di Jawa Tengah, sebuah komunitas yang jauh dari hiruk-pikuk sedang menghadapi perubahan tanpa mengetahui penyebabnya. Muryati dan Sudardi, pasangan petani berusia tiga puluhan, berusaha memahami kenapa hujan turun lebih banyak dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, Arifin yang berusia 12 tahun menghadapi pertanyaan berbeda: Seperti apa masa depan yang menantinya?

Dengan irama perjalanan visual yang bergerak perlahan, “Negeri di Bawah Kabut” menyoroti kehidupan keluarga ini dan menggambarkan cara hidup yang hampir tergusur oleh zaman. Film dokumenter ini membuka wawasan mengenai kelompok masyarakat terpinggirkan yang luput dari perhatian dan sedang berjuang keras untuk mempertahankan keberadaannya.

Email | Website | More by »

An independent library and a coworking community space. Aims to create a shared, nurturing space, along with the tools and resources for humans (and non-humans) for learning, working, and connecting with diverse communities and surrounding environment—for emancipatory, sustainable future.

More info, visit: https://c2o-library.net/about/ or email info@c2o-library.net

Leave a Reply