Hario Kecik’s diary is without peer in Indonesian literature as a portrait of talented and brave young revolutionaries during the first days of the Republic which followed a brutal Japanese occupation and finally led to the November 1945 Battle for Surabaya, the longest, bloodiest and most decisive warfare in the Republic’s history. More than one hundred thousand young men and women - th…
Kisah arek-arek yang tak bernama dan tanpa wajah, menegakkan kedaulatan dan kemerdekaan bangsanya. Mereka tak minta bayaran atau bintang jasa. Mereka mengingatkan yang sesat adalah sesat, dan yang setia pada republik adalah mereka yang bersumpah "merdeka atau mati" di markas Pregolan pada suatu senja tanggal 9 November 1945
Satu persatu pejoang angkatan 45 telah pergi. Dari sedikit yang masih tinggl bersama kita adalah Hario Kecik, lengkapnya Soehario Padmodiwirio, salah satu pelaku peang terbesar dan terdahsyat dalam sejarah revolusi Indonesia di kota Surabaya 10 Nopember 45. Tapi mengapa jenderal-jenderal peletak dasar TNI selanjutnya jarang-jarang yang datang dari kalangan pejoeang arek-arek Suroboyo? Buku ini …
Kisah Kian Ju ialah gambaran sejarah hidup etnis Cina yang tidak rusak mentalnya, baik oleh perlakuan adu domba penjajah Belanda maupun yang di kemudian hari dipertajam lewat diskriminasi Orde Baru. Orang seperti kian Ju tak bakal berwatak Belandis, juga mustahil mengidap personal mental disorder- berilusi diri sejenis dengan kulit putih. Tanpa ditokohkan, apa lagi dijadikan pahlawan , Kian Ju …