“Sejarah selain merupakan warisan juga adalah tandon atau reservoir. Dan dari tandon yang satu ini kita ambil api atau airnya, dengan membawa nyala atau pikulan air, untuk menciptakan tandon-tandon baru, sementara itu tandon yang lama tidak menjadi kering atau padam.” – Hersri Setiawan, dalam esainya Merebut Ruang Negosiasi-
Tan Malaka (1984-1949) pada tahun 1942 kembali ke Indonesia menggunakan nama samaran sesudah dua puluh tahun mengembara. Pada masa Hindia Belanda ia bekerja untuk Komintren (organisasi komunis revolusioner internasional) dan pasca-1927 memimpin Partai Politik Indonesia yang ilegal dan antikolonial. Ia tidak diberi peranan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, tokoh Tan Malak…
Dua tulisan tersebut pernah dimuat di jurnal Prisma sekitar 30 tahun yang lalu, tapi tema yang dikemukakannya ternyata tetap relevan dengan situasi Indonesia saat ini.