Wayang, lenong, Film, senilukis, Novel Pop, teater avant-garde, Srimulat, Usmar Ismail, Dewan Film Indonesia, Maecenas, Ngesti Pandowo - dalam kaitannya dengan proses modernisasi Indonesia? Semuanya dibahas di sini. Bahkan juga soal Tenaga Kerja dan Pariwisata. Tulis Dr. Umar Kayam, Kepada para pemimpin pemerin tahan dimohonkan, agar pemecahan masalah-masalah sosial kita jangan dipecahkan secar…
INILAH New York, dan Umar Kyam bercerita dari dalamnya. New York adalah satu raksasa pemakan manusia. Raksasa ini entah karena kena penyakit apa, tidak pernah merasa kenyang biar dia sudah makan berapa ribu manusia. Karena itu mulutnya terus saja menganga tidak sempat menutup. Segala manusia, putih hitam, kuning, coklat, besar, kecil, ditelannya tanpa pilih-pilih lagi”. Umar Kayam mengutip…
Masih ingat Para Priyayi, kisah tentang keluarga besar Sastrodarsono dari Wanagalih? Dalam Jalan Menikung ini kisah keluarga Sastrodarsono berlanjut dengan kehidupan Harimurti-Sulistianingsih bersama anak tunggal mereka, Eko, yang belajar di Sunnybrook College, Connecticut, Amerika Serikat. Sukses dalam studi dan ingin kembali ke tanah air, ternyata Eko tersandung oleh masa lalu ayahnya. Harimu…
Buku ini merupakan kumpulan cerpen dari Umar Kayam, dengan gaya menulis yang lincah, kocak, lancar, mengajak pembaca untuk terhanyut dan seperti kena mantera kekuatan ceritanya. Suasana yang dibangun dalam kumpulan cerpen ini begitu halus, lembut penuh dengan nuansa dan menjadikan kekuatan tersendiri untuk sang penulis. Seperti membuat garis yang tak sepenuhnya selesai tapi justru akan semakin …
Dari segi fungsi sosialnya, daya tarik pertunjukan rakyat terletak pada kemampuannya sebagai pembangun dan pemelihara solidaritas kelompok ( Kayam, 1977.6 ). Dari pertunjukan rakyatlah masyarakat memahami kembali nilai-nilai dan pola perilaku yang berlaku dalam lingkungan sosialnya. Peranan serupa itu tampaknya sekarang menghadapi tantangan besar. Sampai saat ini, tradisi seni modern yang…
Ini adalah buku kedua Mangan Ora Mangan Kumpul, Sketsa-sketsa Umar Kayam. Buku ini masih lincah meloncat dari satu tema ke tema lain tanpa meninggalkan gaya penulisannya yang kenyal dan segar-menggelitik. Konsisten dengan warna lokal yang Jawa pekat, ia tidak sampai tergelincir pada kepicikan sikap primordial.