“The descriptions are astute and succinct and even offer ideas for pitching particular colors to clients. . . . Edges are lined in the color of each chapter, so you can flip to the right chapter for quick reference during a meeting and while doing research.” —Communication Arts Organized by spectrum, in color-by-color sections for easy navigation, The Designer’s Dictionary of Color d…
“Kalau cangkir belum penuh, apa yang mau ditumpahkan?” — Pri S. Buku “Serumpun Tulisan Pri S.” adalah compendium karya tulis dan gagasan dari almarhum Priyanto Sunarto, salah satu pelopor pendidikan DKV di Indonesia. Berisi pengamatan, catatan, pendapat dan diskusi beliau mengenai periklanan, industri desain grafis, tren, proses kreasi, dunia pendidikan grafis, sejarah, dan se…
Selepas Napas adalah pintu masuk ke ruang paling intim dari Papermoon Puppet theatre. Di dalamnya, tuan rumah dan para sahabat telah berkumpul, siap saling tukar pengalaman agar satu lama lain bisa bertumbuh. ia menghimpun kisah kolaborasi pekerja kreatif lintas disiplin dan upaya kreatif komunitas teater boneka dari penjuru dunia bersama Papermoon untuk menjagakan semesta mereka.
The Poetry of Nature is a special publication of PT Semen Gresik (Persero) Tbk, one of the biggest cement factories in Indonesia, to commemorate its golden anniversary and it'''s dedication to nature'''s best friends - the trees. The Poetry of Nature powerfully illustrates not only the generous gift of life that the trees provide to all living and non-living things on this earth but also th…
Sudah lebih dari 50 tahun dangdut hadir dan berkembang di tanah air, Indonesia. Sepanjang itulah interaksi dangdut terjalin di masyarakat dengan pelbagai konteks yang meliputinya. Tentu pada awalnya tiada yang menyangka jika musik yang kerap diolok-olok sebagai musik kampungan dapat bertahan demikian lama. Hal yang lebih menarik, siapa yang pernah menyangka ketenaran musik ini begitu terjaga…
Buku ini menelaah keterlibatan antara perempuan penari dan negara Indonesia sejak 1965,menggambarkan strategi ganda rezim Soeharto: mempersekusi dan membunuh para penari yang dituduh komunis atau beraliran kiri, sembari menciptakan dan mengerahkan tubuh-tubuh “replika” sebagai wajah ideal dari keanggunan dan kedamaian budaya Indonesia dalam ketertundukan terhadap negara otoriter. Berangkat …
Kerja arsip dan pengarsipan merupakan kerja politik: klaim, akses, dan pengetahuan. Dasar utamanya bukan pada produk budaya, tetapi pada proses-proses budaya yang berlangsung melalui tubuh dan ikatan yang kuat terhadap tanah. Arsip seni dan budaya sebagai sebuah proses dan kedudukannya sebagai “the presence” tak mungkin mewakili keotentikan, “kebenaran”, maupun tafsiran realitas. Strate…
Buku ini merupakan hasil ramuan yang disajikan melalui kerja bersama. Ramuan tersebut diracik dari komposisi berbagai macam bahan. Bahan-bahan tersebut digali dan diolah, misalnya: dari biografi keluarga Eko Nugroho, gagasan-gagasan yang mendasari karya-karya seni rupa Eko Nugroho, pengalaman-pengalaman ruang atas tempat, periode waktu dan skala keruangan yang dijalani. Semuanya dikolaborasikan…
Shadows on the Silver Screen is the first comprehensive history of the Indonesian Cinema. Its publication begins to fill a major gap in Western film knowledge. Of all the arts, film is the most political: it is the most responsive to the political climate and the most tempting target for political manipulation. This book offers a critical look at the political and social forces which have shape…
Perkembangan dan pertumbuhan ilmu pengetahuan berhubungan secara dialektis dengan perubahan realitas material, praktik, maupun pergaulan umat manusia yang didorong oleh faktor-faktor yang berada di luar wilayah akademis. Di dalam ranah akademis sendiri, dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan tumbuh dan berkembang lewat penambahan objek kajian dengan hal-hal yang sebelumnya belum dipertanyakan, …
Julianti Parani dalam buku ini mengulas geliat kebudayaan Indonesia, terutama di bidang seni pertunjukan tradisional, sejak awal abad ke-20 hingga menjelang awal abad ke-21. Ia juga menguraikan pemikiran para tokoh yang bergulat di salah satu cabang kesenian tersebut, terutama yang tercakup baik dalam budaya Melayu di Riau dan Jambi, budaya Betawi di Jakarta, maupun budaya Jawa dan Bali. Mengik…
How money, politics and managerialism turned a golden age for culture into lead Britain began the twenty-first century convinced of its creativity. Throughout the New Labour era, the visual and performing arts, museums and galleries, were ceaselessly promoted as a stimulus to national economic revival, a post-industrial revolution where spending on culture would solve everything, from nation…
Skena eksperimental noise di berbagai wilayah bersama semangat resistannya masih bersinambung menciptakan riak di pelosok ruang-ruang pertunjukan budaya populer. Tanpa harus banyak tertangkap radar, skena-skena ini berupaya menjalin relasi yang lebih solid di skala internasional. Indra Menus mengarungi Filipina, Malaysia, Singapuran, Thailand, dan Jepang untuk menyelami bagaimana berbagai prakt…
Membaca buku ini (Nice Boys Don’t Write Rock n Roll) Anda akan setuju dengan saya bahwa Nuran adalah penulis musik sangat berbakat. Rajutan data, pemahamannya akan ekosistem industri, dan referensinya terhadap band-band terhormat serta album-album musik bermartabat sangat luas dan dalam. Nuran sudah masuk dalam barisan, dan menambah jumlah penulis musik independen, melebihi mereka yang bekerj…
Menjadi penonton film India di Indonesia sama seperti menjadi sudra: terlalu memalukan untuk diakui dan terlunta-lunta sendiri. Apa benar negara dengan produksi film tahunan terbanyak di seluruh dunia itu tak punya film-film yang membanggakan? Ini buku pengalaman menonton film India. Tentang nostalgia, perjuangan menonton, dan kisah-kisah tentang sejumlah film terbaik yang pernah dihasilkan …
Aku & Film India Melawan Dunia I – Film India selalu terlihat ingar-bingar. Musik yang bertalu-talu, lagu yang mendayu-dayu, barisan penari, kerumunan manusia, dan serombongan besar orang di belakang layar dan cerita. Semua tanpa serbakolosal. Namun, menyukai film India adalah hal yang sama sekali berbeda. Lebih-lebih jika Anda tinggal di sebuah negeri semacam Indonesia yang bangsa penghun…
Dari waktu ke waktu, hingga kini, komposer, pelaku pergelaran, dan sarjana musik saling mengilhami. Kehadiran orang Belanda di Hindia Belanda dan Indonesia serta keberadaan komunitas diaspora yang besar di negeri Belanda telah memberi kontribusi terhadap pertukaran timbal-balik dalam bidang musik: dari kelompok musik tiup militer, musik klasik dan liturgi sampai musik jazz, Indo rock, dan musik…
Apa yang terjadi dengan suara “lokal” ketika globalisasi menyingkap para musisi dan penikmat musik pada pengaruh budaya dari seluruh dunia? Jeremy Wallach menyelidikinya sebagaimana pertanyaan ini “dipermainkan” pada perkembangan eklektik dunia musik Indonesia pasca runtuhnya rezim Soeharto yang represif. Dilatarbelakangi transisi kaotis negara-bangsa Indonesia menuju demokrasi, Wallach…
Extrastatecraft is the operating system of the modern world: the skyline of Dubai, the subterranean pipes and cables sustaining urban life, free-trade zones, the standardized dimensions of credit cards, and hyper-consumerist shopping malls. It is all this and more. Infrastructure sets the invisible rules that govern the spaces of our everyday lives, making the city the key site of power and res…
Buku ini, yang memperlihatkan proses penciptaan dan pencapaian seni grafis Indonesia selama setengah abad terakhir, berisi 133 lukisan grafis karya 79 pegrafis Indonesia.
Perkembangan musik di Indonesia dari zaman teknologianalog ke era digital bagaikan pelangi yang penuh warna-warniindah. Bermacam ragam grup dan musisi silih bergantimenghiasi cakrawala musik Tanah Air.
Gamelan is the first study of the music of Java and the development of the gamelan to take into account extensive historical sources and contemporary cultural theory and criticism. An ensemble dominated by bronze percussion instruments that dates back to the twelfth century in Java, the gamelan as a musical organization and a genre of performance reflects a cultural heritage that is the product…
Javanese Performances on an Indonesian Stage: Contesting Culture, Embracing Change, is Barbara Hatley�s first book about the performing arts in Indonesia, a topic that piqued her interest while undergoing a masters program at Yale University in the late 1960s. In this sense, it is a landmark study, for Hatley has since become very well known in Indonesianist circles, especially among those wi…
"Siapa Nama Kamu?" means "What is your name?" The inaugural exhibition of the DBS Singapore Gallery poses this question, inviting visitors to consider how art may relate to issues of self and community, and what it means to look at Singapore through its art. Siapa Nama Kamu? weaves together a rich and captivating narrative of artworks in a broadly chronological sequence, covering Singapore’s…
Housed in the former Supreme Court building, the UOB Southeast Asia Gallery presents an exhibition on the art of Southeast Asia through shared artistic impulses across the region. Starting in the 19th century, the history of Southeast Asian art is characterised by a continuous encounter with the new, inseparably linked to the region’s tumultuous social and political history. The meaning an…
“Buku yang ada di tangan Anda ini merupakan hasil rakitan dari rangkaian wawancara awak majalah WARN!NG dengan 27 tokoh, yang oleh buku ini dijuluki “insan-insan kreatif.” Para tokoh itu berasal dari medan kreativitas yang beragam: lima penulis; enam belas musisi; empat sutradara film; dan dua perupa. Pendeknya, mereka yang sehari-hari bergumul dengan kreativitas atau proses penciptaan. M…
One form of performance art that came to Indonesia from China and was warmly received in Java is Wayang Potehi. This hand-puppet performance art went through its own up and downs over the centuries from political circumstances and, yet, today still maintains it original format despite the fact that majority of the artists are now Javanese. "WAYANG POTEHI OF JAVA" is a premium coffee-table book …
The rise of independent cinema in Southeast Asia, following the emergence of a new generation of filmmakers there, is among the most significant recent developments in global cinema. The advent of affordable and easy access to digital technology has empowered startling new voices from a part of the world rarely heard or seen in international film circles. The appearance of fresh, sharply altern…
Buku Setelah Boombox Usai Menyalak berisikan dua puluh empat tulisan dari Ucok yang beberapa di antaranya merupakan tulisan yang pernah dimuat di beberapa media dan blog pribadi, baik juga tulisan lama yang belum pernah diterbitkan dan diperbarui sesuai perkembangan suasana politik dan kancah musik. Ada juga tulisan baru, belum pernah dimuat di manapun dan bersifat sangat personal. Taufiq Rahma…
Indonesian indie darlings. Formed by Muhammad Suar Nasution (vocals, guitar), Ade Purnama (bass), Aditya "Adhi" Ardinugraha (guitar), Yudistira "Udhi" Ardinugraha (drums) and Arief Hamdani (guitar) in 1994, they were pioneers of the Bandung indie scene. Their self-titled debut album was released in 1996, the first 5000 copies of which were sold innovatively via mail-order through a teen magazin…
From academic electronic music to do-it-yourself noise in South East Asia. Contemporary and past noise, electroacoustic, industrial, experimental music and sound art in Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar/Burma, The Philippines, Singapore, Thailand, Vietnam. With political, historical and sociological essays, exclusive interviews with artists and organizers, as well as an extensive bib…
Photobook: The Flock Project, Indonesia We recently received a copy of The Flock Project Volume 01 and it is an encouraging start to the publication from Indonesia. Wonderfully presented and packaged. Zines and collaborative projects are popular in Southeast Asia, led in part by efforts in Singapore, Indonesia and Philippines. The Flock Project Volume 1. THE FLOCK PROJECT VOLUME 1. The …
This the 2010 second revised edition of Modern Indonesian Art enables an overall view of the country's art development since the mid-19th century. It presents one work by each of 439 Indonesian artists. The illustration of the work selected is accompanied by a short account of the artist's life and career and his or her artistic aims and achievements. With bibliography and artists' index.
"Kisah ruang alternatif mirip dengan kisah hidup orang biasa. Sewaktu-waktu orang akan bosan dan butuh bersentuhan dengan gagasan-gagasan segar."
Dibanding bokap, keluarga nyokap gue tuh lebih original Cinanya. Gaya ngomongnya masih totok banget. Bagi mereka, gak ada istilah “kami” atau “kalian”. Adanya adalah “gua orang” dan “lu orang”. Kesannya insecure banget ya? Gue juga tau kalo kita semua ini orang, bukan ubur-ubur. (Diambil dari bab “Woy, Cina!”) Di banyak mall di Jakarta, ada petugas lift. Padahal siapa si…