Sor Juana

by
July 22, 2010 18:39  |  1 Comment

SorJuana
Or, the Traps of Faith

Sor Juana (1648-1695), satu figur soliter penuh kontradiksi di Meksiko abad ke-17: Biarawati dan enigma erotika; wanita yang handal dalam budaya, politik dan bisnis; penulis, pujangga dan intelektual otodidak yang selalu haus pengetahuan; pejuang kesetaraan hak wanita dan kebebasan berpikir kritis di bawah perlindungan sekaligus pengawasan gereja.

Terlahir di luar nikah, karena kecerdasannya ia menjadi favorit Vicereine, bergaul di lingkungan kerajaan dan menerima berbagai lamaran. Tiba-tiba dia memilih kehidupan dalam biara: mengubah sel kamarnya menjadi ruang studi penuh berisi buku, karya seni, instrumen ilmiah, dan mengubah lokasi biara menjadi semacam ruang publik (salon) yang hidup dengan diskusi sastra dan intelektual.  Dia menulis puisi roman, syair dan irama lagu, komedi profan, puisi sakral, esai teologi, dan argumen hak-hak perempuan untuk belajar dan berkembang. Karya-karyanya dipentaskan dan diterbitkan di hampir seluruh daerah dominasi Spanyol—separuh dari dunia Barat saat itu.

Buku ini dibagi menjadi enam bagian, disertai prolog an epilog.  Di bagian pertama, Paz memberi kita sketsa besar sejarah Meksiko dan Spanyol beserta perkembangan literaturnya: bagaimana Meksiko—“Spanyol Baru”—dibangun sebagai ekstensi dan pengukuhan ortodoksi Katolik.  Ini, menurut Paz, adalah satu perbedaan yang fundamental dengan masyarakat kolonial modern abad ke-18-19, di mana ekspansi imperialis boleh dibilang ditandai dengan keacuhan terhadap hal-hal relijius.  Semenjak awal, insepsi “Spanyol Baru” memang dibuat untuk membisukan kritisisme, dengan eksistensi yang terpaku pada sikap defensif.

Paz juga menyorot bagaimana “budaya”, dalam arti yang lebih sempit—akses pendidikan, produksi dan komunikasi intelektual, artistik, dan inovasi filosofis—sangat terbatas pada sebagaian kecil populasi Spanyol Baru di tiga pusat: Gereja, universitas/akademi, dan lingkungan kerajaan.  Sastra dan literatur sangat terbatas penyebarannya pada intelektual dan akademisi, biasanya sangat relijius (secara dogmatis dan bukannya kreatif), hermetik dan/atau aristokratik, serta ditulis dan ditujukan untuk laki-laki.  Karakteristik maskulin dan patriarkal tampak menonjol di Spanyol Baru, begitu pun akses terhadap universitas atau pendidikan lanjutan tertutup bagi perempuan.  Perempuan hanya dapat memasuki “budaya maskulin” ini melalui akses setengah terbuka di lingkungan kerajaan dan Gereja.  Dua jalur inilah, yang kemudian dimanfaatkan oleh Sor Juana.

Setelah pemaparan latar belakang sejarah dan sastra Spanyol Baru, di bagian kedua Paz menghadirkan latar belakang kelahiran Sor Juana sebagai Juana Ramírez de Asbaje (1648-1668), anak yang lahir di luar nikah di sebuah dusun di kaki gunung Popocatepetl, Meksiko.  Masa kecilnya banyak dilalui dengan sembunyi-sembunyi membaca buku-buku kakeknya di biara, dan ia menyamar menjadi laki-laki agar dapat mengenyam pendidikan lanjutan.  Pun telah melegenda bagaimana gadis cantik dengan kecerdasan yang memukau kerajaan dan masyarakat sekitarnya—yang di usia 17 tahun dengan tanpa persiapan, dengan percaya diri “menjawab tanpa kesalahan satu pun semua pertanyaan di sidang empat puluh ahli terkemuka dalam teologi, kitab suci, filsuf, ahli matematika sejarawan, penyair dan ahli humaniora”—tiba-tiba di usia 19 tahun memilih untuk memasuki biara.

Di sini, Paz menekankan kecintaan Sor Juana pada dunia pengetahuan, antipatinya sejak awal terhadap pernikahan, dan bagaimana pilihan hidupnya dalam kesunyian biara—untuk situasi kondisi jamannya—dianggapnya sebagai solusi terbaik (yah, di antara terburuk) untuk menikmati proses pembelajaran dan hidup sendiri (meskipun bukan berarti terisolasi).  Paz menggarisbawahi, bagaimana Sor Juana membatalkan diri, keluar dari biara Ordo Carmelites, sebelum akhirnya memasuki biara San Jerónimo yang lebih longgar/liberal.

Paz kemudian membagi-bagi periode kehidupan Sor Juana di biara, dan menyorot karya-karyanya dalam konteks perkembangan sekitarnya.  Meskipun begitu, Paz juga tidak mengabaikan karakter Sor Juana, yang digambarkannya sebagai pribadi yang enerjik sekaligus elegan, cerdas, sekuler, dan intens.  Memang, tidak tercatat adanya pengalaman erotik fisik dengan orang lain, tapi puisi-puisinya kepada Maria de Gonzaga, Countess de Paredes, menunjukkan erotisme menggoda. Wajar, menurut Paz, karena walaupun tiap manusia boleh dibilang mempunyai ketertarikan terhadap baik laki-laki maupun perempuan, puji-pujian berlebihan terhadap sesama perempuan dalam puisi nyatanya memang jauh lebih “aman” daripada Sor Juana memuji-muji lelaki. Dan, seperti juga akademisi zaman sekarang membangun kredibilitas mereka dengan mengisi konferensi, menerbitkan buku, memberi kuliah dan mengajar, puisi-puisi dan karya Sor Juana ini juga berfungsi membangun kredibilitas dirinya, dan dia cukup berhati-hati memainkan batasan-batasan yang diperbolehkan oleh Gereja kepadanya.  Bagaimana pun luar biasanya Sor Juana, dia tetap adalah produk dari jamannya.  (Sayang sekali saya tidak bisa menilai analisa puisinya karena saya belum membaca karya-karya Sor Juana…)

Menjelang akhir hidupnya, karena tekanan terhadap mentor pelindungnya, Sor Juana harus kehilangan apa yang telah dibangunnya dengan hati-hati: semua buku-bukunya disita (dan hanya disisakan tiga buku doa), dan dia dipaksa menandatangani dengan darahnya sendiri semacam “penyesalan” atas kekritisannya.  Ini, kerap dikatakan sebagai “konversi”-nya ke jalan yang benar.  Tampak sekali kejengkelan Paz pada usaha menutup-nutupi kehidupan dan karya-karya biarawati yang mengagumkan ini dari tekanan dan obskuritas hagiografi.  Di akhir bukunya Paz memasukkan surat Response Sor Juana yang memilukan dan penuh amarah atas pengkhianatan dan paksaan kekuasaan terhadapnya.

Buku ini adalah hasil usahanya memadukan sejarah dan puisi, dan Paz melengkapinya dengan informasi komprehensif mengenai proses penggalian dan penulisan sejarah Sor Juana selama ini, informasi sumber-sumber yang ada—keterbatasan dan tendensi-tendensi obskuritasnya, surat Response dari Sor Juana terhadap pembisuannya, serta istilah sastra Spanyol yang digunakan.  Sangat direkomendasikan.

Sor Juana: Or, the Traps of Faith
Pengarang: Octavio Paz
Penerbit: Belknap, Harvard University Press, 1988
No. Panggil: 861 PAZ Sor

Terima kasih banyak kepada Ismail Ilmi, kerabat Antropologi, yang telah menghadiahkan buku ini.

Categories: Book reviews
Tags:

: Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.
Email this author | Visit author's website | All posts by

One Response

Feed Trackback Address
  1. […] memuat ringkasan resensi buku: Mayor Jantje (Johan Fabricius, 1979) oleh Antonio Carlos) dan Sor Juana (Octavio Paz, 1988),  resensi film Blow-Up (Michelangelo Antonioni, 1966), resensi komik Rampokan Jawa (Peter van […]

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya