Blow-Up

by
July 8, 2010 17:26

BlowUp

“The idea . .. came to me while reading a short story by Julio Cortázar. I was not so much interested in the events as in the technical aspects of photography. I discarded the plot and wrote a new one in which the equipment itself assumed a different weight and significance.” — Antonioni

Blow-Up adalah film dalam bahasa Inggris pertama yang dibuat oleh Michelangelo Antonioni, sutradara Italia kelahiran 29 September 1912.  Film drama misteri tampa solusi ini dibuat berdasarkan: 1) cerita pendek pengarang Argentina Julio Cortázar, Las Babas del Diablo (Devil’s Drool, atau Iler Setan), dan 2) kisah kehidupan fotografer fashion Inggris, David Bailey.  Sebelum kita membahas film ini, ada baiknya kita melihat cerpen dan latar belakang David Bailey.

Dalam cerpen Cortázar, diceritakan protagonis cerita, Roberto Michel, adalah seorang penerjermah Franco-Chile yang tinggal di Paris, dan mempunyai minat (amatir?) terhadap fotografi.  Tanpa sengaja, ketika sedang berjalan-jalan dan memotret di sekitar quai de Bourbon, dia mendapati seorang remaja laki-laki—a la malaikat Fra Fillipo—dan perempuan dewasa berambut pirang, tampak seperti sedang bercumbu.  Michel memotretnya, yang kemudian menimbulkan amarah perempuan tersebut, dan seseorang lelaki tua turut menghampirinya.  Sekembalinya ke apartemennya, Michel menduga-duga, jangan-jangan wanita itu merayu si anak laki-laki untuk sang laki-laki tua.

Antonioni mengubah setting cerita pendek ini ke London era 60-an.  Fotografernya menjadi fotografer profesional bernama Thomas (David Hemmings), dengan karakter berdasarkan David Bailey—boleh dibilang salah satu fotografer utama (sekaligus selebritinya) dalam menciptakan ‘Swinging London’.

Film dibuka dengan lapangan rumput hijau, ilusi dansa-dansi di balik huruf-huruf kredit diiringi musik Herbie Hancock.  Scene saling bersilangan antara adegan riuh sekelompok mummers dan adegan suram orang-orang bergrombol keluar dari doss house.  Seseorang di antaranya, Thomas, ditunjukkan melepaskan samarannya, untuk kemudian melaju mengendarai mobil mewah menuju studio fotonya.

“I’m really questioning the nature of reality. This is an essential point to remember about the visual aspects of the film since one of its chief themes is ‘to see or not to see properly the true value of things.’” — Antonioni

Bosan dengan model-model fashion di studionya, dia pergi keluar, mengunjungi toko barang antik, sebelum akhirnya menemukan dan memotret pasangan sedang bercumbu di taman.  Wanita yang dipotret (Vanessa Redgrave) menjadi panik dan marah, berusaha merebut filmnya.  Ternyata, setelah ia mencetaknya, Thomas seperti melihat bayang-bayang laki-laki dengan pistol dalam potretnya, berikut tubuh laki-laki tua tergeletak di taman.  Tapi foto itu telah diperbesar sedemikian rupa menjadi begitu grainy, tidak begitu jelas bentuknya, seperti lukisan cipratan cat Bill, teman Thomas.

They don’t mean anything when I do them—just a mess.  Afterwards I find something to hang onto – like that – like – like that leg.  And then it sorts itself out.  It adds up.  It’s like finding a clue in a detective story.” — Bill


Thomas kembali ke taman dan melihat mayat laki-laki tua tadi tergeletak di balik semak-semak.  Kebingungan, ia kembali ke studionya, dan mendapati semua printout foto dan negatif adegan di taman itu menghilang tak berbekas, hanya tersisa blow-up yang menunjukkan tubuh mayat.  Frustasi, di tengah kebingungan dan high obat-obatan ia berusaha menceritakannya ke teman-temannya—tanpa hasil.  Keesokan harinya, ia mendapati tubuh mayat itu menghilang dari taman.

Awalnya, Thomas bermaksud menggunakan foto-foto di taman itu untuk bagian akhir buku foto seninya, yang sebelumnya dia ambil di doss house.  Begitu menemukan kemungkinan kasus pembunuhan di foto, Thomas menelpon temannya dengan girang.  “Fantastis, ternyata aku tidak sengaja memotret adegan pembunuhan.  Aku menyelamatkan nyawanya!”  Benarkah?  Bahkan bukti mayat laki-laki tua itu pun menghilang.  Apa yang ditangkap oleh kamera?  Thomas menemukan sekaligus menciptakan satu dimensi “realita” atau “kebenaran” yang meragukan.

“We know that behind every image revealed there is another image more faithful to reality, and in the back of that image there is another, and yet another behind the last one, and so on, up to the true image of that absolute, mysterious reality that no one will ever see.” — Antonioni

Semenjak awal film, kita sudah dihadapkan dengan isu ilusi dan realita: Mummers—ilusionis—yang membuka awal film, dan Thomas yang menyamar dalam doss house untuk mendapatkan foto-foto untuk buku koleksi “foto seni”-nya.  Antonioni menghadirkan pertanyaan ini dalam konteks gaya hidup berlebihan—fashion, musik, seksualitas, dan segala keanehannya—di London tahun 60-an.  Glamour dan fashion di sini dihadirkan dengan sedikit mengganggu (disturbing), untuk menyebut beberapa: sesi pengambilan foto yang hampir seperti adegan bercinta coitus interruptus, model-model yang diperlakukan seenaknya, groupies yang memporak porandakan studio Thomas, gig Yardbirds dengan penonton mematung bak manekin (dan baru heboh setelah gitar rusak Jeff Beck dilempar ke arah mereka).

Blow-Up menghadirkan isu ketegangan antara realita dan keterbatasan kemampuan, persepsi dan teknologi (fotografi) dalam mengungkap “realita” dan makna yang terus menerus dibuat.  Secara garis besar, kita dapat melihat bagaimana makna di(re)produksi dalam tiga tahap: Pertama, saat kejadiannya sendiri terjadi, yaitu persepsi kita tentang apa yang terjadi di taman.  Boleh dibilang, kita tidak menyangka terjadinya pembunuhan atau kasus kriminal saat kejadian itu (kecuali kalau kamu memang sudah membaca sinopsisnya).  Kedua, hasil gambar print photo dan detil blow up yang dicetak Thomas di studio.  Ketiga, bagaimana Thomas, teman-temannya, dan penonton mengkonstruksi kejadian dari foto-foto tersebut.  Realita menjadi permainan yang dikonstruksi oleh setiap pelakunya: operator (pemotret), spectrum (photonya sendiri) dan spectator (penonton).

Film diakhiri dengan, sekali lagi, sekelompok mummers yang “berpura-pura” bermain tenis.  Thomas mengambilkan “bola” imajiner yang jatuh di dekatnya, melemparkannya kembali ke lapangan tenis di mana para mummers bermain, dan penonton mendengar suara pukulan bola yang “semestinya” tidak ada.  Thomas berjalan melintasi lapangan hijau, dan menghilang dari layar sebelum film berakhir, mengingatkan kita bahwa dia pun hanyalah sekedar imaji dalam film.

Blow-Up diputar pada tanggal 3 Juli 2010, dan dihadiri oleh Ari, Erlin, Pak Hadi, Wisnu, dan Alfan. Penonton agak mengeluhkan ceritanya yang terkesan “mboh kamsud”, dan di akhir film, atas permintaan penonton, kami me-rewind adegan groupies Jane Birkin dan gig the Yardbirds (sembari Erlin membolak-balik majalah Q edisi khusus Led Zeppelin, hehehe). Sedikit catatan tidak penting, Antonioni baru meninggal 3 tahun yang lalu, 30 Juli 2010, di hari yang sama dengan mangkatnya sutradara ternama dunia lainnya, Ingmar Bergman dari Swedia. Tersedia juga PDF cerpen Cortazar, silahkan diunduh.

Blow-Up

1966 | UK | 111m | Metrocolor
Director: Michelangelo Antonioni
Producer: Carlo Ponti, Pierre Rouve
Photography: Carlo di Palma
Music: Herbie Hancock
Cast: David Hemmings, Vanessa Redgrave, Peter Bowles, Sarah Miles, John Castle, Jane Birkin, Gillian Hills, Veruschka von Lehndorff, Julian Chagrin, Claude Chagrin

Categories: Film reviews
Tags:

: C2O library & collabtive is an independent library and a co-working space that aims to create a shared, nurturing space, along with the tools and resources for humans (and non-humans) for learning, working, and connecting with diverse communities and surrounding environment. More info, visit: https://c2o-library.net/about/ or email info@c2o-library.net
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
not-your-world-music-575
Not Your World Music: Noise in Southeast Asia

by c2o library & collabtive
Diskusi buku Not Your World Music: Noise in South East Asia karya Cedrik Fermont & Dimitri della...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya