Wawancara: Surabaya Tempo Dulu

by
October 22, 2010 21:00

Bulan November depan, C2O mengadakan kegiatan Membaca Kota Surabaya, di mana kami akan mengangkat semua buku dan film mengenai Surabaya yang tersedia di C2O, dengan tujuan memperkenalkan dan membangkitkan semangat untuk menggali dan mengenal lebih jauh kota kita.

Selain itu, kami juga akan menampilkan komunitas-komunitas Surabaya yang telah banyak membantu dan menginspirasi kami.  Kali ini, kita berkenalan dengan Surabaya Tempo Dulu (selanjutnya STD), satu komunitas  yang aktif membagi informasi sejarah lokal Surabaya dengan memanfaatkan media jaringan sosial Facebook. C2O pun, berkenalan dengan STD melalui Facebook.  Di sela-sela banjiran update status, kami melihat sedikit nyempil informasi renyah dan menarik mengenai sejarah Surabaya, yang hampir selalu diupdate setiap hari, kerap dibarengi dengan foto, gambar ataupun peta.

Menurut Nikki Putrayana dan Bambang Irawan, dua dari admin STD, awalnya tidak ada yang kenal secara tatap muka—semuanya bertemu di dunia maya.  Dan sampai artikel ini ditulis, baru dua kali mereka mengadakan semacam kopdar/gathering tatap muka.  Terakhir mereka bahkan bertemu dengan Pak Dukut Imam Widodo, penulis banyak buku sejarah, antara lain Hikajat Surabaia Tempo Doeloe yang juga merupakan salah satu buku favorit anggota C2O.

Kumpulan album foto STD, dengan beragam topik.

STD mempunyai semangat mengagumkan untuk sama-sama belajar mengenali Surabaya lebih jauh. Tiap bulannya, mereka memilih satu topik sebagai fokus utama, yang kemudian dikelompokkan dalam satu album foto menjadi semacam esai foto. Di STD, semua orang—admin maupun anggota—sama-sama belajar dan didorong untuk saling berbagi informasi mengenai Surabaya, sekecil apapun.  Kebanyakan dari admin STD tidak berlatar belakang studi sejarah, dan jarang yang berasal dari Surabaya.  Tapi semuanya, dengan beragam latar belakang dan profesi, mempunyai kepedulian dan keinginan untuk menanamkan kecintaan kota, saling menginspirasi dan mendorong pemikiran kritis.  Selain itu, mereka juga mengembangkan perhatian terhadap etika dalam penyebaran media, dan sangat mendorong partisipasi aktif dari anggota-anggotanya untuk menggali sejarah di sekitar kita.

Berikut adalah wawancara kami melalui e-mail dengan admin STD, Bambang Irawan, yang juga telah banyak menulis ulasan-ulasan buku untuk C2O.

Dengar-dengar, STD boleh dibilang didirikan oleh Bambang, dan semuanya bertemu di dunia maya.  Apakah page STD di set-up oleh Bambang sendiri, dan bagaimana proses sosialisasinya?

Mungkin lebih tepat disebut penggagas, sebab jika ditilik dari awalnya STD pada awalnya tidak seperti yang sekarang. Kami semua bertemu di page STD dan belum saling kenal satu sama lain sebelumnya. Saya sendiri membuat page ini dengan keyakinan ada orang yang berminat sama di luar sana.

Pada awalnya teman-teman sendiri yang ditodong untuk jadi fans (tidak semua mau ternyata), kira-kira seminggu kemudian saya menemukan akun facebook lain bernama sama tapi sebuah grup,  Surabaya Tempo Doeloe, pembuatnya sdr Denny Khuluki memiliki member yang cukup banyak waktu itu. Kami berkenalan dan saya rasa fans non-teman yang bergabung awal-awalnya dari member grup itu.

Page lain yang membuat saya lebih bersemangat adalah page Sawoong nya Cak Kuncar, tempat saya banyak bertanya tentang foto tanpa penjelasan yang saya peroleh di sini. Selama menayangkan foto dan caption, ide-ide pada bermunculan tapi begitu sedikit daya yang dimiliki.

Saya merasa page ini tidak bisa dikerjakan sendiri dan harus dibuka seluas-luasnya untuk mereka yang peduli dan mau berpartisipasi dan dimiliki bersama. Saya memberanikan diri untuk meminta beberapa pemirsa yang aktif (waktu itu sedang dalam topik Kereta Api dan Tram Listrik), ada yang bersedia dan ada yang tidak.

Nikki yang pertama begitu antusias dan membawa banyak perubahan dalam penampilan STD, ditambah lagi bacaan dia yang lumayan dibandingkan saya. Dari sekian banyak pemirsa ada satu pemirsa yang begitu setia sampai saya sendiri juga heran, Mbak Windhi. Sementara semua pada adem ayem, Mbak Windhi selalu muncul dan memberi jempol. Kurang lebih begitu, pemirsa menjadi admin dan berbagi tantangan di sela-sela kesibukan masing-masing. Sejak Nikki bergabung, STD jadi lebih bisa “dipahami” dan ini terbukti dengan peningkatan jumlah fans.

Update status STD. Singkat, menarik dan informatif.

Meskipun penambahan jumlah fans (satu parameter yg bisa dilihat) berjalan lamban, kami tetap sepakat untuk menampilkan hal yang menarik dan bisa dipertanggung-jawabkan. Sementara ada admin yang kuat dalam bikin posting, ada admin yang lebih fokus pada melayani para pemirsa. Intinya pemirsa mesti disambut dan dibuat betah, tidak dibiarkan.

Kami juga berusaha tiap hari selalu ada satu posting resmi dari STD, meskipun kadang tidak tercapai, tidak lebih mengingat pemirsa mungkin bosan dengan tayangan yang nongol di akun mereka dan jadi mengganggu. Kadang saya sendiri merasa posting-posting kita ini tidak ada yang baca sebab jarang ada yang merespon atau ngejempolin (kecuali Mbak Windhi), tapi kadang ada berita baik dari teman-teman yang ternyata mengikuti meskipun tidak meninggalkan jejak. Tidak ada sosialisasi khusus selain menyapa pemirsa yang nongol dan menjalin percakapan dengan mereka (sambil berharap mereka mau berpartisipasi lebih jauh nantinya).

Katanya, admin STD sendiri, sebenarnya tidak berlatar belakang studi sejarah, tapi sama-sama mempunyai ketertarikan sejarah (terutama Surabaya) dan keinginan untuk berbagi informasi.  Boleh diceritakan sedikit latar belakang, kenapa bisa tertarik pada sejarah Surabaya, dan kenapa membuat STD?

Ide ini berawal dari ditemukannya buku Oud Soerabaia di perpustakaan Universitas Murdoch dan rasa takjub melihat koleksi buku berbahasa Indonesia disitu dan pada saat yang sama sedang membaca buku Pram, Bumi Manusia. Gaya cerita Pram yang membangkitkan semangat dan pengetahuan “alternatif” nya yang menarik membuat rasa sayang bila buku diletakkan setelah dibaca. Dari buku itu saya mencari kalimat-kalimat yang bisa diklopkan dengan foto-foto Surabaya atau yang terkait.

Album awal, BUMI MANUSIA, berisi foto-foto yang mungkin mewakili setting novel Pramoedya Ananta Toer

Album awal berjudul BUMI MANUSIA dan ANAK SEMUA BANGSA muncul pertama-tama.  Buku Pram yang pertama itu juga memuat sentimen yang sama tentang membaca buku khususnya sastra (Episode kelas Minke takluk pada guru sastra baru).

Saya melihat animo sejarah Surabaya dan sastra (yang bisa dikaitkan) begitu minim di lingkungan yang saya kenal, termasuk di sekolah hingga perguruan tinggi di Surabaya tempat saya belajar dulu. Mungkin STD bisa membantu situasi ini menjadi lebih baik. Secara kebetulan saya juga membaca buku Yudi Latief yang berjudul “Menuai Karakter Bangsa”, ada semacam kebetulan yang unik pada saat yang hampir bersamaan.

Kenapa Surabaya? Setiap admin saya rasa memiliki pengalaman dan alasan berbeda. Saya sendiri menjadi terkenang Surabaya sejak memutuskan tinggal di Perth. Orang bilang jauh jadi rindu, dekat diabaikan. Setiap kali saya berjalan-jalan di Perth yang teringat selalu Surabaya di spot tertentu. Yang paling kuat kesannya justru di tempat yang mungkin bagi orang lain tidak ada kemiripannya sama sekali: kesan pohon Jacaranda yang berbunga begitu indah di sebuah suburb di Perth (Applecross), yang membuat seluruh area berwarna ungu. Saya teringat dengan pohon flamboyant yang berwarna oranye setiap kali berangkat dan pulang sekolah di bulan-bulan tertentu. Ruas jalan Teuku Umar, Imam Bonjol. Saya membayangkan rumah-rumah di ruas jalan itu yang dulunya sebagus rumah-rumah di Applecross, Perth.

Apa yang membuat ruas Jalan Teuku Umar jadi seperti sekarang? Apa yang membuat jalan-jalan di Applecross begitu indah hingga kini? Dari situ saya menemukan keindahan lain kota Surabaya jaman dahulu. Foto demi foto ditemukan dan tidak salah lagi, Surabaya memang kota yang indah dan terlupakan oleh penduduknya sendiri. Mungkin ini pula yang menjawab pertanyan masa kecil saya dulu, “Kenapa Papa saya datang dari China ke Surabaya bukannya ke Jakarta, bukannya Jakarta kota paling besar?”

Apa saja harapan dari pembentukan dan keberadaan STD?

Semua admin setuju satu hal ini, bahwa kita belajar mengenal kota Surabaya lebih jauh. Dengan pengakuan ketidak tahuan, kita belajar dari para pemirsa sekalian. Ada proses imbal balik dalam berbagi, kenyataan yang masih membuat kita heran. Begitu sedikit yang kita tahu dan begitu banyak hal-hal yang akan terungkap.

Bagaimana suka duka sejauh ini menjalankan STD? Ada pengalaman yang berkesan?

Duka yang paling terasa adalah jika posting kita tidak ada yang menghiraukan (ngenes). Selain itu ada rasa was-was masalah hak cipta mengingat kami banyak menggunakan foto orang lain. Meskipun kami mencantumkan sumber asalnya, keawaman kita akan masalah ini tetap menimbulkan rasa kuatir.

Suka yang paling mengesankan bila ada pemirsa baru muncul dan menjadi aktif. Admin yang  lain pasti merasakan suka ketika bertemu satu dengan lain di alam nyata (saya belum sempat) sebab dari message mereka pasca pertemuan serasa seru sekali. Mendapat undangan dari Pak Dhukut dan kesediaan Pak Purnawan Basundoro untuk ikut mendukung juga memberikan kegembiraan.

STD bersama Pak Dukut Imam Widodo. Foto oleh Stede Defoto (http://www.facebook.com/photo.php?fbid=127583220630256)

Ada apa saja rencana ke depan? Apa ada rencan pengkategorian data dan informasi, kopdar, kerja sama dengan pihak-pihak lain, atau publikasi mungkin?

Memang ada wacana untuk membuat kategori, menyusun dan melengkapi terus sehingga STD bisa menjadi portal pertama untuk mengetahui tentang Surabaya Tempo Dulu dan visi-visi Surabay Masa Depan. Ada juga wacana untuk masuk ke sekolah, memberi kelas. Mengadakan tour kota secara rutin. Mengajak perpustakaan lokal dan museum untuk mengekspos koleksi mereka dalam bentuk FB dan kita bantu dukung pemirsanya. Juga menerbitkan buku, menterjemahkan, dll.

Tapi semua itu dihadang tembok keterbatasan yang mesti dilompati satu persatu. Sementara kita fokus ke menjalin keakraban satu dengan yang lain sambil memperhatikan tiap kesempatan untuk bisa melompat kedepan.

Ucapan-ucapan (sedikit negatif) yang sering kita dengar adalah, Surabaya kota dagang, tak peduli “budaya”. Heroik, kalau tidak keras (bonek). Benarkah? Sejauh ini, berdasarkan pengalaman dalam STD dan pembacaan dari buku-buku dan sumber-sumber lainnya, serta bertemu dengan orang-orang dan hidup di Surabaya, bagaimana STD membaca Surabaya?

Sejauh ini yang bonek belum nongol di STD.  Sepertinya kelompok bonek tidak berminat dengan STD :). STD melihat ada ketidakpedulian akan budaya dan sejarah. Kesan ini begitu kuat dan menjadi satu alasan STD dibuat.

Namun ada kelompok yang sudah peduli dengan semua itu dan mereka sangat tahu akan seluk beluk kepedulian mereka. Kelompok kedua ini lebih mudah diajak dan ditemukan.

Tantangan sebenarnya justru bukan mengumpulkan orang-orang yang pada dasarnya sudah suka sejarah dan peduli Surabaya kotanya tercinta, tapi menggugah orang-orang di sekitar kita yang apatis dengan kepedulian kita. Dari tidak peduli menjadi penuh perhatian, dari anti menjadi suka dan ini bukanlah misi yang tidak mungkin, asal kita tidak keblinger ngglibet terus dengan kelompok pertama.

Karena itulah satu sasaran efektif adalah sekolahan. Menanamkan kecintaan kota, memberikan inspirasi dan memancing pemikiran. Mereka ini yang diharapkan sebab merekalah para penduduk dan pengambil kebijakan kota Surabaya di masa depan.

Seburuk apapun Surabaya saat ini, masih ada harapan untuk menjadi baik dan ini memang bukan pekerjaan membalik telapak tangan.

Terima kasih banyak kepada STD atas waktu dan perhatiannya! :)

Sama-sama. Khususnya kesediaannya mengangkat page kita ini.

Semoga perkenalan di atas dapat memberi sedikit gambaran mengenai STD, dan menginspirasi kita untuk lebih peduli sejarah dan terus semangat menggugah orang-orang sekitar kita.  Bergabung dengan page STD di http://facebook.com/surabayatempodulu dan nikmati info-info menarik mengenai kota Surabaya di FB-mu.

C2O telah banyak mendapat dukungan dari STD, termasuk menerima banyak sumber mengenai Surabaya, salah satunya buku babon Surabaya, City of Work: A Socioeconomic History, 1900-2000 karangan Howard W. Dick, yang ulasannya akan segera terbit bulan depan. Nantikan juga artikel berikutnya mengenai Surabaya Food.com, komunitas kuliner Surabaya!

Categories: Artikel
Tags:

: C2O library & collabtive is an independent library and a co-working space that aims to create a shared, nurturing space, along with the tools and resources for humans (and non-humans) for learning, working, and connecting with diverse communities and surrounding environment. More info, visit: https://c2o-library.net/about/ or email info@c2o-library.net
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya