Reportase: Workshop Malaikat & Singa
-->

Reportase: DIY #6 Fashion

by
October 22, 2011 10:50  |  2 Comments

Ini adalah reportase DIY Talk 6:Fashion, bagian dari Design It Yourself, rangkaian acara desain yang digelar di C2O selama bulan Oktober 2011, ditulis oleh salah satu panelis kami, Surabaya Fashion Carnival, satu blog liputan fashion di Surabaya, dan Felkiza Vinanda, penulisnya. Untuk jadual lengkap Design It Yourself, lihat: http://c2o-library.net/2011/10/design-it-yourself-2011/


Halo semua! Kemarin pada dateng gak nih ke acara DIY Talk#6? Kalo enggak, aduhh rasanya sayang banget deh. Soalnya kalian ngelewatin sebuah momen yang inspiratif!

#1 : Pra-acara

Saat itu jarum jam mengarah pukul 16.30. Tim Surabaya Fashion Carnival segera beranjak dari kendaraan dan menuju sebuah perpustakaan yang berada di jalan Cipto 20, Surabaya. Sesampai di pintu masuk, kami langsung disambut ramah oleh Anitha Silvia (Tinta), seorang kerabat dan juga penikmat acara seni dan budaya. Beliau lantas segera mengajak kami bertemu dengan teman-teman pengurus perpustakaan C2o (salah satunya Kathleen Azali — pemilik perpustakaan C2o) dan moderator acara diskusi sore itu, Linartha Darwis.

Tim Surabaya Fashion Carnival

Sambil memberikan materi presentasi kepada Kathleen, kami juga menyambi obrolan dengan Linartha yang ternyata adalah penulis di sebuah majalah lokal. Obrolan kami pastinya tidak jauh-jauh dari kegiatan masing-masing; mulai dari topik kegiatan Surabaya Fashion Carnival sampai pada sneak peek tentang materi diskusi. Tidak lama kemudian, datanglah Kanyasita Mahastri dan Andriani Rahayu dari label VRY yang kompak dengan outerwear hitam-nya. Kedatangan mereka membuat suasana semakin ramai, diikuti dengan hadirnya Ibu Aryani Widagdo (founder Arva School of Fashion), Embran Nawawi (instruktur fashion design Arva School of Fashion), Era Hermawan (pemilik Tempat Biasa), Chamomile Nungki (owner dan creative director dari label House of Laksmi), dan pasangan suami-istri pelopor independent premium store di Surabaya, Alek Kowalski dan Dewi Asthari (pemilik ORE Premium Store dan fashion label allthethingsivedone). Nah, para pembicara kini sudah lengkap. Yuk kita mulai acara diskusi-nya!

#2 : Acara !

Menjelang pukul 6 sore, para peserta diskusi mulai memenuhi venue. Jujur aja, kami cukup takjub melihat jumlah perbandingan peserta cowok dan cewek saat itu yang gak jauh beda. Hal ini tentu bertentangan dengan perkiraan kami sebelumnya bahwa diskusi kali ini bakal dipenuhi peserta cewek (kalian pasti tau alasannya. Iya ‘kan?). Namun itu bukan masalah besar, berarti ada peningkatan awareness akan fashion disini. Setuju? :)

Linartha Darwis, selaku moderator, akhirnya membuka acara diskusi dengan sesi perkenalan tiap pembicara. Diawali dengan Chamomile Nungki dan presentasi karya kebayanya yang mengagumkan, lalu berlanjut pada giliran kami; tim Surabaya Fashion Carnival yang saat itu diwakili oleh Felkiza Vinanda, Reza Oktivia Hamenda, dan Putri Macan (khusus event ini, Mars Rizkia mewakili Kimilatta). Presentasi kami diawali dengan pemutaran portfolio video yang menunjukkan karya Surabaya Fashion Carnival dari tahun 2008 sampai sekarang, mulai dari fitur-fitur yang ada di blog sampai pencapaian kami ketika diliput oleh berbagai media. Setelah video selesai diputar, tiba-tiba mengalir deru tepuk tangan yang cukup meriah dari peserta. Ah, rasanya entah harus bangga atau bagaimana, yang jelas saat itu kami senang mendapatkan apresiasi dari mereka :)

Untuk mempersingkat waktu, Linartha segera mengarahkan sesi perkenalan pada para pembicara selanjutnya, yaitu Mars Rizkia, owner dan creative director lini perhiasan Kimilatta, dan Kanyasita Mahastri serta Andriani Rahayu yang mewakili fashion label VRY. Merujuk pada koleksi kalung handmade dreamcatcher Kimilatta yang unik dan pakaian wanita dengan tone warna variatif dari VRY, tiga gadis tersebut juga disambut tepuk tangan dari peserta!

Suasana saat diskusi

Perkenalan pun berlanjut pada Alek Kowalski yang membawa nama allthethingsivedone, sebuah fashion label yang didirikannya bersama Dewi Asthari di tahun 2007. Dengan kemampuan public speaking yang baik, Alek Kowalski seakan-akan dapat membius para peserta dan pembicara untuk terus menyimak apa yang sedang ditawarkan oleh allthethingsivedone. Hal ini diteruskan saat giliran perkenalan jatuh ke tangan Ibu Ariani Widagdo dan Embran Nawawi; mereka berulang kali menyebutkan nama Alek Kowalski dan label allthethingsivedone sebagai contoh proses dan produk yang telah sesuai dengan ilmu pengetahuan fashion design. “Produk fashion yang baik itu adalah produk yang fungsional. Saya suka dengan konsep seasonal (Spring/Summer atau Fall/Winter) yang ditawarkan mas Alek untuk label allthethingsivedone,” ujar Ibu Ariani di sela-sela presentasinya tentang Arva School of Fashion.

Selanjutnya, Embran Nawawi memberikan ‘bonus’ materi tentang proses mendesain pakaian secara benar; dari tahap membangun konsep sampai pada menjualnya di pasaran. Tak heran jika para peserta diskusi terlihat semakin serius menyimak penjelasan Embran, karena beliau selalu membahas permasalahan yang sering dihadapi para desainer pakaian. Misalnya, tentang bagaimana mereka harus mendesain pakaian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jawaban Embran akhirnya membawa para peserta ke sebuah forum diskusi yang menarik dan inspiratif, seiring mereka diajak untuk berpikir lebih kritis terhadap perkembangan infrastruktur local fashion di Surabaya.

Di urutan terakhir, presentasi Era Hermawan sebagai owner Tempat Biasa menutup sesi perkenalan para pembicara. Karya-karyanya yang berupa penjualan secondhand stuff berkualitas juga tidak luput dari perhatian dan kritisi para peserta diskusi sekaligus pembicara saat itu. Sampai akhirnya terkuak satu persatu issue penting tentang local fashion scene Surabaya dan diskusi mengarah pada topik “Bagaimana masing-masing pembicara membahas dan mencari solusi atas issue tersebut?”.

Chamomile Nungki, Era Hermawan, Ibu Ariani Widagdo, Embran Nawawi, dan Alek Kowalski semuanya sudah angkat bicara dalam menyelesaikan satu persatu issue yang dihadapi; kini perhatian para peserta diskusi tertuju pada tim Surabaya Fashion Carnival. Surprisingly, kami langsung ditembak dengan pertanyaan “Kenapa sih kalian udah jarang posting?”. Spontan, pertanyaan tersebut langsung bersambung ke topik lainnya; sampai kami bahkan diberi saran menarik untuk membuka peluang kontribusi artikel (agar blog content kami semakin padat) dan mendokumentasikan pergerakan fashion di Surabaya dari tahun ke tahun. Melihat proses diskusi yang interaktif ini, kami sangat berterima kasih kepada para peserta untuk kontribusinya; baik melalui saran maupun kritik terhadap kami sebagai salah satu penggiat fashion di Surabaya. Terima kasih sekali lagi, usul kalian akan kami tampung :)

#3. Akhir acara.

Proses penutupan diskusi ditandai ketika Alek Kowalski memberikan sedikit komentar tentang isu local fashion scene Surabaya. Beliau menyebutkan bahwa masyarakat pecinta fashion di Surabaya hendaknya sering mengadakan forum khusus. Forum dimana para akademisi, produsen (perancang busana atau aksesoris), distributor (pemilik butik/distro), maupun tim media (jurnalis fashion) dapat bertemu dan mendiskusikan issue-issue penting dalam local fashion scene Surabaya. Anjuran beliau tersebut segera mendapatkan respon positif dari para pembicara, moderator, dan peserta diskusi dengan ditandai deru tepuk tangan yang mengisi venue diskusi malam itu.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya forum tanya-jawab harus ditutup. Linartha Darwis selaku moderator segera memberi kesimpulan dari isi diskusi, salah satunya tentang kehadiran media yang sangat penting untuk menyalurkan informasi perkembangan fashion kepada masyarakat Surabaya. Kami pun semua bertepuk tangan sekaligus menandakan bahwa acara diskusi DIY Talk#6 : Fashion telah berakhir..

Para pembicara :) (Ki-ka : Chamomile Nungki, Putri Macan, Felkiza Vinanda, Embran Nawawi, Mars Rizkia, dan Kanyasita Mahastri)

Tim Surabaya Fashion Carnival dan VRY berfoto dengan sang moderator, Linartha Darwis

Baiklah, teman-teman. Sampai jumpa di event berikutnya dan tunggu update yang lain dari kami ;)

*Foto oleh : Fajri Armansya

Jadi salah satu pembicara DIY Talk#6 – Fashion!

Mei 2008, lagi nunggu pengumuman lulus SMA. Yess, saya masih inget banget waktu itu saya dilanda kebosanan lantaran bingung mau ngapain. Kampus udah dikantongin (alias udah ‘diterima’), keputusan udah bulet masuk sana, alhasil males deh ikut SPMB ato sebagainya. Akhirnya saya lebih milih buat stay dirumah (daripada ikut bimbingan-bimbingan gitu lah), lalu duduk di depan komputer, browsing sini-situ, dan.. tiba-tiba aja saya jatuh cinta sama puluhan situs international street-style.

Nggak dipungkiri kalo sejumlah situs/blog street-style favorit saya macem: Facehunter, The Sartorialist, Hel Looks, Fashion Filosofy, Stockholm Street Style, Manchester Looks, Street Pepper, sampe (yang paling deket) Jakarta Street Looks, jadi inspirasi saya memulai Surabaya Fashion Carnival. Bukan saja karena faktor kekerenan gaya-gaya orang dan foto-fotonya, melainkan dari faktor tujuan si pemilik situs/blog membuat karyanya tersebut. Dan, tujuan itulah yang bersambung pada kegiatan saya pada DIY Talk#6 : Fashion tanggal 22 Oktober 2011 kemarin di perpustakaan C2o.

Poster DIY Talk#6 : Fashion

Saya nggak nyangka banget di hari itu bisa duduk berdampingan sama Ibu Ariani Widagdo (founder Arva School of Fashion), Embran Nawawi (instruktur Fashion Design di Arva School of Fashion, juga terkenal sebagai salah satu fashion police di rubrik sebuah koran nasional), dan Alek Kowalski (pemilik ORE Premium Store dan label allthethingsivedone) yang saya kagumi atas wawasan dan pengalamannya di scene fashion lokal Surabaya. Bayangin aja, saya yang sehari-harinya cuma mahasiswa biasa tiba-tiba duduk di barisan pembicara diskusi seputar fashion dan disejajarkan dengan orang-orang hebat tadi!

Oh well, tentunya hal itu bukan suatu kebetulan. Saya dan 2 sahabat (Putri Macan dan Echa) disana mewakili Surabaya Fashion Carnival, sebuah fashion blog yang meliput tentang perkembangan local fashion scene Surabaya. Sementara para pembicara yang lain (seperti yang telah ada di poster) mewakili institusi, label, atau projectnya yang berkenaan dengan fashion. Contohnya, Mars Rizkia mewakili label aksesorinya, Kimilatta; dan Era Hermawan mewakili bisnis jualan secondhand stuff-nya, Tempat Biasa. Nah, disini kami sama-sama duduk untuk membahas potensi lokal, rintangan, prospek kedepan, dan isu real yang berkenaan fashion lokal Surabaya; dengan tinjauan bahasan proses merancang dari masing-masing panelis untuk hasil karyanya. That’s why, diskusi malam itu bertajuk “DIY (Design It Yourself) Talk”.

Overall, acara diskusi kemarin berjalan lancar dan sangat inspiratif. Saya belajar banyak dari orang-orang yang duduk disebelah saya maupun dari para peserta. Kalo dari pembicara, saya tentunya belajar tentang beberapa ilmu pengetahuan dari fashion itu sendiri; sedangkan dari peserta, saya belajar intropeksi diri! Guess what, saat itu ada salah satu peserta yang tiba-tiba nanyain “Kenapa Surabaya Fashion Carnival udah jarang posting?”. Jujur aja saya sempet bingung mau jawab apa, takut kalo keliatan gak profesional *hehe*. Akhirnya saya pilih buat ngomong apa yang sebenarnya terjadi pada kami. Saya bilang bahwa masing-masing kru Surabaya Fashion Carnival memang lagi sibuk. Mars dengan label Kimilatta, Echa dengan profesi mengajar dan fashion label Gobble, Putri dengan tugas kuliahnya yang bejibun (maklum anak desain), dan saya dengan perkuliahan 24 sks (11 mata kuliah langsung!). Jadinya, kami gak punya cukup waktu untuk mengurus blog yang udah ngeraup 3000an jempol di Facebook ini *hore*. Langsung deh, beberapa orang angkat tangan dan segera memberikan solusi untuk kami. Wah, bener deh; saat itu saya nggak nyangka loh, ternyata para peserta sangat mendukung kami buat ngelanjutin Surabaya Fashion Carnival!

See, dari sini saya dapet dua kesimpulan. Yang pertama, forum seperti DIY Talk ini merupakan contoh yang bagus untuk mempererat hubungan antar infrastruktur local scene di Surabaya. Liat aja, akhirnya terjalin komunikasi ‘kan antara produsen, distributor, konsumen, media, dan akademisi fashion di Surabaya? :) Yang kedua skaligus terakhir, ternyata orang-orang masih menanti kami untuk melanjutkan Surabaya Fashion Carnival. Bagi saya, ini adalah penghargaan yang harus dijaga sampai kapanpun karena kepercayaan orang-orang itu penting ketika kita membangun sebuah image. Setuju? :)

P.S. : Selengkapnya tentang DIY Talk#6, baca tulisan saya di halaman Surabaya Fashion Carnival. Terima kasih! :)


C2O dan seluruh kru Design It Yourself mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada moderator kami, Linartha Darwis, dan para pembicara: Kanya (VRY), Mars Rizkia (kimilatta), Aryani Widagdo (Arva School), Embran Nawawi (Arva School), Era Hermawan (Tempat Biasa), Alek Kowalsky (Ore Premium Store, allthethingsivedone), Felkiza Vinanda (Surabaya Fashion Carnival), Camomile Nungki (house of laksmi). Terima kasih telah bersedia meluangkan waktu untuk membagi ilmunya.  Juga kepada semua teman-teman yang telah mendukung acara ini. DIY tinggal 1 minggu lagi, jangan lewatkan agenda-agenda terakhir DIY untuk tahun ini. Jadualnya bisa dilihat di: http://c2o-library.net/2011/10/design-it-yourself-2011/

Categories: HighlightReportase
Tags:

: Surabaya Fashion Carnival is a group project by Felkiza Vinanda (writer), Mars Rizkia (graphic designer), Putri Macan (photographer), and Reza Oktivia Hamenda (media relation). First published in May 2008, Surabaya Fashion Carnival makes one of the best alternatives to support local products and fashion movements in Surabaya. You can find plenty of information about Surabaya local brands, local fashion bloggers, and fashion-based events (fashion show, fashion bazaar or garage sale, etc.). Hence, you can also find some street-style photos to let you know about how Surabaya people dress themselves. Surabaya Fashion Carnival also holds an annual garage sale called "LOCKER KEEPER". The first event was in March 2010 and the second was in February 2011. Curious enough? Make sure you read the reports : here and here. Any suggestion, critics, advices or offering corporation? Feel free to mail us at sbyfashioncarnival[AT]yahoo.com
Email this author | Visit author's website | All posts by

2 Responses

Feed Trackback Address
  1. Size: It is accurate you understand the size of your kid but most typically the kids’ clothes you can expect to see inside the industry usually are not sown with his or her measurement. This does not mean it’s best to permit your kids to wear them like that. Think about where your youngster will have to become adjusting the hand of a garment while walking around the road, inside the college or whereas doing any other thing. For this reason you have to make sure that any cloth you purchased for the kid is excellent for his or her physique. If not, have them tailored to suit their physique tone and structure.

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

What’s On

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya