Mastodon

Reportase: MSW #8 Melangkah Mengenal Kamal

Beberapa rangkaian acara yang diadakan oleh hifatlobrain institute yang bekerjasama dengan c2o library sminggu lalu sangat padat dengan tema perjalanan tentang kehidupan dan masyarakat warga surabaya. Manic street walkers salah satu komunitas pejalan kaki yang ada di c2o library menjadwalkan perjalanan di akhir minggu yaitu tanggal 18 Maret 2012 lalu. Perjalanan yang direncanakan untuk menuju daerah utara Surabaya ini awalnya direncanakan untuk mengambil sketsa dari beberapa hal yang menarik di sekitar Tanjung Perak. Hingga kita memutuskan untuk langkahkan beberapa langkah kami untuk menikmati kamal guna untuk mencari atmosfer berbeda seperti apa yang ada di Surabaya yang biasa kami lakukan beberapa waktu lalu.

Pagi jam 6.15 Anitha Silvia yang biasa dipanggil Tinta sang ketua gank pejalan kaki mengirimkan satu sms untuk memastikan keikutsertaan anggota. Aku yang sudah bangun dari jam set 4 *terlalu excited, sigap membalas sms tanda keikutsertaan. Karena masih ada beberapa hal yang menghalangi aku tiba2 memanfaatkan jam masyarakat indonesia. yaitu jam karet. Sekitar pukul 7.45 aku berkumpul dengan pejalan kaki yang lainnya, nampaknya masih ada yang lebih telat dari aku padahal jadwal awal kami jam 7 harus berkumpul. Kat, Andrew, Tinta, dan Danto sudah berkumpul di meja depan c2o. Dan nampaknya hanya menunggu 2 peserta baru yang semoga bukan menjadi korban baru hehe.. Tidak lama kemudian Ikang dan Farid datang. Dan kami Manic Street Walkers pun bersiap untuk berangkat. Tidak lupa berfoto sebelum berkeringat.

Jarak keberadaan kita ditengah kota yang sangat jauh dari keberadaan Tanjung Perak membuat kita memutuskan untuk sedikit ingin lebih bijak dalam memanfaatkan kendaraan umum yang telah disediakan oleh pemerintah (begitulah sedikit pembenaran kami). Mulai berjalanlah kami ke trotoar Darmo yang saat itu disamping jalan raya masih tidak ada banyak kendaraan dikarenakan Darmo selalu ditutup hingga jam 9 tiap minggunya unuk Car Free DAy. Padahal jalan raya yang kita lewati bukan termasuk jalan yang ditutup tetapi kendaraan roda dua tanpa mesin yang banyak menyambut langkah kami. Berhentilah kami di halte pertama yang kita temui di depan bank swasta. Hingga hitungan 10 menit akhirnya kami memutuskan untuk berjalan untuk mencari halte yang lebih mungkin dilewati oleh bus yang tidak terhambat CFD. Melangkahlah kami untuk pemanasan perjalanan ini. Hingga kami menemukan halte yang memungkinkan karena ada penjaganya. Halte yang berada di depan gedung Gramedia Expo dan Hotel Meritus. Hotel mewah berbintang 4 ini jadi pesaing dengan bangunan megah lainnya tetapi ada satu yang janggal menurut saya. Kenapa nama hotel masih memakai spanduk yang digantungkan begitu saja yah?

Bus Patas AC menyambut penantian kami yang tidak begitu lama. Sebenarnya kami menanti bus damri tetapi sepertinya semesta mendukung (kata yang sering diucap Danto selama perjalanan) pejalan kaki untuk sampai di Tanjung Perak dengan nyaman. Hanya dengan 4000 rupiah kami dapat menikmati bus nyaman serta aman di kota metropolitan ini. Saya sangat menikmati perjalanan dengan bis kota ini, karena saya naek bis tiap hari tapi dari parkiran kampus ke kampus. Jadi perjalanan menggunakan bis kota sangat jarang saya lakukan. Ternyata total sangat aman, jadi bagi kalian yang masih ragu gunakan fasilitas bus kota atau angkutan yang ada, bis kota patas AC sangat recomended.

Pukul sepuluh kami tiba di terminal perak yang memang bersebelahan dengan Pelabuhan. Setelah membeli karcis untuk pejalan kaki seharga @Rp. 3700 kami menuju jembatan yang digunakan untuk pejalan kaki menunggu untuk menuju ferry langsung. Sayang saat itu ferry baru saja berlabuh menuju pulau madura. Sehingga kita harus menunggu setengah jam kemudian sesuai dengan jadwal keberangkatan ferry selanjutnya. Saya sebagai warga Surabaya sendiri sudah sangat jarang memanfaatkan keberadaan fasilitas penyebrangan sejak dibangunnya jembatan suramadu. Kondisi Tanjung Perak saat itu dipenuhi oleh banyak warga madura yang banyak membawa dagangan hasil belanja di kota surabaya untuk diperjualbelikan di kotanya nanti. Banya ibu-ibu yang membawa dagangannya dengan cara meletakkannya di atas kepalanya. Saya membayangkannya saja sudah pusing rasanya. Tetapi mereka berjalan melenggang dengan santai di depan saya dengan pakaian jaman nenek saya yang rasanya sangat nyaman melindungi kulit mereka dari panasnya Tanjung Perak.

Kami bertujuh makin tidak sabar menanti kedatangan ferry yang akan membawa kami dipulau seberang. Kami pun menuruni jembatan untuk berbaur dengan calon penumpang lain hingga kami berada di depan antrian untuk masuknya penumpang pejalan kaki ;D Saat ferry merapat, penumpang yang telah ada di dalam mengantri berjubel untuk turun dari kapal. Langkah kamipun tertahan untuk beberapa saat guna mempersilahkan mereka untuk bergantian menikmati kapal. Setelah berada di kapan aku, tinta, ikang dan farid memilih untuk tidak memilih tempat duduk yang sudah tersedia dan memilih untuk mendengarkan beberapa penjelasan oleh Ikang yang notabene adalah mahasiswa ITS jurusan arsitektur perkapalan. Lagi-lagi semesta mendukung tiap perjalan Manic Street Walkers yang sebelumnya kami banyak menikmati keindahan arsitektur bangunan jengki dengan komunitas Arsitek Jengki, sekarang ada Ikang yang dengan menyenangkan menjelaskan beberapa hal teknis yang ada di perkapalan. Kebutulan saat itu kita berempat memilih dek sebelah kiri untuk menikmati pemandangan dari luar. Banyak pemandangan menarik salah duanya yaitu bangunan gedung Bandar yang sangat klasik itu seakan-akan tidak mau kalah megah dengan kemewahan kapal-kapal yang bersandar, yang kedua yaitu antrian kapal dagang international yang tidak semua pelabuhan ada pemandangan seperti ini. Karena ini masih pagi kebetulan kapal-kapal yang antri bersandar masih ada renggang, padahal jika sedang ramai antrian bisa sampai mendekati pulau madura. Dengan pemandangan yang mengesankan di depan kami, ada satu benda di sisi kapal yang menarik perhatian kami. Benda itu adalahInflatable Literaft. Benda ini berbentuk tabung yang bisa dibuka saat kapal pada kondisi bahaya. Jika dibuka tabung ini bisa digunakan untuk kapal yang memuat tenda, P3K , makanan dan lain sebagainya untuk pertahanan penumpang jika suatu saat kapal karam. Benda ini mempunyai tanggal berlaku yang nantinya untuk menandai jika makanan yang ada di dalamnya juga harus diganti dengan yang baru.

Hanya separuh putaran penuh jarum penanda menit itu telah mengantarkan kami ke seberang. Pulau yang berbeda namun masih satu propinsi ini membuat kami semakin penasaran melangkah menikmatinya. Kebiasaan kami yang selalu tidak begitu menjadwalkan sesuatu bertujuan kemana saat berada di lokasi selalu menyisipkan kejutan menarik di dalamnya. Danto yang saat itu sebenarnya malah tidak menahu destinasi kami hari ini mau ke tanjung perak dan malah ingin berjalan kaki di sekitar pelabuhan di Kamal. Saat kita mulai bingung memilih destinasi, Danto mulai menelepon mencari informasi ke teman yang sering berada di Madura katanya. Kamipun memutuskan mengunjungi tempat teman Danto yang merupakan salah satu penyair papan atas di madura. Yaitu Timur Budiraja. Saat perjalanan menuju Graha Kamal ( kontrakan teman Danto ) kami selalu di tawari angkot untuk ikut dengan mereka. Hanya dengan jawaban ” tidak pak terima kasih kami jalan kaki” rupanya cukup untuk menangkis ajakan para tukang angkot . Angkot di madura jarang yang berplat kuning. Sepertinya semua orang bisa jadi supir angkot disana. Dari mobil carry hingga mobil kol lama yang mulai mengelupas catnya juga bisa jadi angkot. Mungkin hanya beberapa angkot “resmi” yang mempunyai bentuk seperti angkot layaknya, namun sayangnya angkot yang ada yaitu angkot yang bukan baru atau beberapa tahun kemarin sudah lalu lalang di kota Surabaya. Angkot disini kebanyakan masih berpintu belakang, tapi apa justru itu uniknya yah. Tetapi keunikan angkot tersebut tidak membekukan semangat kami untuk tetap menyusuri jalanan Kamal dengan berjalan kaki.

Bagi kami warga kota yang terbiasa menjadi pedestrian dengan menikmati tiap liku jalanan kota di trotoar. Hal ini tidak kami temukan di perjalanan kami. Memang Kamal belum menjadi pusat kota di pulau ini. Masih sekitar 20 km lebih baru bisa dijumpai sebuah jalanan kota yaitu Bangkalan. Setelah setengah jam kita berjalan menyusuri kamal kami baru menyadari sepertinya perjalanan kami ini tidak ada ujung. Melihat di kejauhan sepertinya tidak ada tanda kami harus berbelok untuk nikmati arah lain. Benar-benar jalan lurus naik turun. Sekitar kami lebih banyak tanah kosong yang masih alami. Sehingga kami seperti naek gunung tetapi berhawa menyengat tidak dingin dan di tengah jalan masih banyak kendaraan bahkan dokar. Di tengah perjalanan kami baru sadar telah menyusuri bekas jalur rel kereta yang sudah terpakai (madura tidak ada kereta api). Rel kereta ini ada di depan rumah warga atau bahkan di atas warung yang ada di dekat jalan. Rel kereta yang di bangun saat penjajahan Belanda ini dulunya digunakan untuk mengangkut bahan bangunan dengan tenaga penggerak manusia. Kami berlima pun cukup takjub ( oh iya 2 dari teman kami memutuskan untuk kembali ke surabaya lebih awal) dengan bangunan yang ada di sekitar jalan Kamal. Banyak sekali bangunan lama berarsitektur kolonial, bahkan banyak yang tidak berpenghuni. Padahal bangunan seperti itu jika di Surabaya sendiri sudah menjadi bangunan cagar budaya yang harganya bisa hingga milyaran rupiah. Rumah warga disana masih sangat asri, mengingat cuaca udara di dekat pelabuhan masih sangat panas menurut saya, mereka masih memelihara taman di depan rumah dengan sangat apik. Taman yang ada di biarkan tidak menggunakan pot seperti taman2 yang ada di kota. Kesan alami semakin merajai perjalanan kami.

Jejak warga madura nampaknya ada di tiap belahan negeri ini. Ada beberapa yang khas selain intonasi pengucapan mereka jika berbahasa. Mungkin saya sendiri jika menemui beberapa dari mereka di sekitar surabaya saya yang merasa menjadi alien di tengah planet lain karena saking cepat dalam berbahasa. Memakai kain batik madura dan menggunakan kerudung sebagai penutup kepala merupakan “fashion item” wajib bagi wanita madura. Saya kira hal itu hanya digunakan oleh para perempuan dewasa madura yang biasa saya temui di setiap pasar kecil maupun besar di surabaya. Tetapi saya salah ternyata. Remaja perempuan juga banyak yang menggunakan busana ini. Sopan, cinta budaya dan menarik. Saat perjalanan kami memasuki 4 km setelah menemui bangunan pabrik yang berasitektur kolonial namun tak terpakai kami menjumpai pematang sawah yang luas dan disana terlihat bangunan paling megah di pulau ini yaitu Universitas Negeri satu2nya di pulau ini yaitu Universitas Trunojoyo. Di seberang pematang sawah nampaknya ada beberapa warga yang sedang bersantai dengan tumpukan karung di depannya. Mereka adalah petani garam yang nampak beristirahat dari kegiatan mereka yang hasilkan butiran peluh yang berada di puluhan karung di depan mereka.

Setelah berjalan lebih dari satu setengah jam kami akhirnya sampai di perumahan Graha Kamal. Tujuan kami bersinggah ke kontrakan teman Danto. Mas Timur Budiraja menyambut kami dengan manis. Kami dipersilahkan menuju kontrakan setelah dia menemui kami di depan perumahan. Dan setelah sampai di kontrakan, kami yang lumayan butuh tempat untuk meluruskan kaki, takjub dengan pemandangan di depan kami. nampaknya kontrakan mas Timur ada di samping persis pematang sawah yang luas. Semilir angin yang mengiringi obrolan manis kami berbagi tentang komunitas kami, dan tentunya pemandangan menarik teman kami Danto yang saat itu menunjukkan karya terbarunya kepada mas Timur. Dua penyair yang juga musisi bertemu saling memuji saling merendah membuat siang kita semakin hangat meski diluar rintik hujan mulai turun. Mas Timur sebenarnya mengharapkan kami untuk turut menemui temannya di kota Bangkalan tetapi nampaknya waktu yang mulai sore membuat kami memilih untuk segera pulang sebelum cuaca semakin memburuk. Tawaran tukang angkot yang kita tolak saat pulang tidak kita abaikan begitu saja. Karena kami cuaca berangin dan kering membuat kami memilih untuk naek angkot yang hanya bertarif 2000 rupiah sampai ke pelabuhan. Dan kenyataan lagi2 membikin sesak dada kita. Karena waktu selama satu setengah jam perjalanan kita tadi hanya di tempuh olehnya 10 menit saja melihat kondisi jalanan di kamal begitu jauh dari kemacetan. Kapal ferry sudah menunggu di ujung pelabuhan siap untuk membawa kita menyeberangi selat Madura dengan berbagai cerita seru yang kami bawa dari Kamal. Pemandangan Suramadu di sebelah kiri kapal yang nampak berkabut semakin membuat kami puas berjalan kaki dengan atmosfer berbeda. Dan kami tidak sabar untuk berkelana lebih dalam di pulau seberang kota Surabaya ini.

-Manic Street Walkers #8- artikel lainnya tentang manic street walkers buka di c2o-library.net

Foto oleh Mirnani Safitri dan Anitha Silvia. Makasi, nta!  Terlalu khusuk saat berjalan kaki sehingga sering hilang moment :D

Email | Website | More by »

salah satu anggota dan sukarelawan c2o yang luar biasa, penggemar jalan kaki, meski kami belum sempat menawarkan es monyet padanya ;)

Leave a Reply