Lokakarya Menulis Riwayat Hidup
-->

MSW #13: Design Trail

by
November 1, 2012 08:00

Titik awal di C2O

Design Trail (26/10) sebagai bagian dari Design It Yourself Optimis(tac)tic terselenggara pada Jum’at sore yang tidak terlalu terik kami akan menjalani rute ke beberapa tempat dengan desain menarik. Bersama para personil terdiri dari Mbak Tinta, Mbak Kat, Ruth, Mbak Devi, Mbak Wahyu, Ody, dan Maya, kami menyusuri rute di sekitaran jalan Dr. Sutomo. Dimulai dari Taman Persahabatan Korea Indonesia, Hotel Artotel, dan ORE. Meskipun di sepanjang jalan Dr. Sutomo terasa sejuk karena banyak pohon dan asyik untuk dibuat jalan kaki, trotoar jalan-nya tidak terlalu bagus dan bisa membahayakan pejalan kaki, beberapa ada yang berlubang.

Tugu di taman persahabatan Korea Indonesia

Pemberhentian kami yang pertama adalah Taman Persahabatan Korea Indonesia yang masih bagus dan baru dibangun, di sini kami betah untuk berhenti agak lama karena suasana sore-nya yang menyenangkan. Ditambah dengan lokasi yang teduh dan masih asri. Di tengah taman ini dibangun sebuah penanda dalam bahasa Korea. Suasana taman juga agak sepi dibanding taman-taman besar di Surabaya pada umumnya (taman bungkul, taman prestasi). Disini, kami juga sempat menggambar-gambar lucu untuk scrapbook Manic Street Walkers sebagai proyek dari Ayorek!

Taman Persahabatan Korea-Indonesia. Asri dan ayem di tengah kecepatan kota

Jalan Dr. Sutomo dan Polisi Istimewa terkenal ada banyak penjual rujak manis, biasanya juga menjual beberapa krupuk. Dari mereka pun kita bisa belajar desain yang baik. Gerobak dengan “etalese” kaca didesain untuk menampilkan warna-warna buah (segar?). Payungnya bisa dilepas pasang ketika selesai berjualan.

Pemberhentian selanjutnya adalah Hotel Artotel. Dari luar hotel ini jika dilihat sekilas mungkin hampir sama seperti bangunan-bangunan hotel modern pada umumnya. Tunggu sampai berjalan menuju pintu masuk lobi, terdapat tulisan besar-besar “EARTH without ART is just EH” dengan pintu kaca lobi yang penuh dengan aneka gambar binatang dan anak-anak, kemudian barulah kita paham konsep dari hotel ini. Setelah memasuki lobi, kita akan disambut dengan berbagai macam patung anak-anak berwarna putih, mulai dari ukuran yang super besar sampai yang kecil. Ini yang kata Mbak Kat bisa bikin anak-anak kecil berteriak sambil berlari-lari histeris sambil kegirangan. Disini juga banyak kursi-kursi nyaman dengan bentuk yang sangat unik, bahkan ada sebuah pilar yang langsung tersambung dengan kursi. Satu lagi yang tidak kalah unik, sepanjang tangga kita bisa melihat coretan graffiti dengan mayoritas warna biru yang memanjang di sisi sampingnya, sangat artistik dan asik.

Pintu masuk ARTOTEL

Salah satu karya seni di ARTOTEL

Akhirnya tiba juga di pemberhentian ketiga, yaitu ORE Store yang terletak di Jalan Untung Suropati No, 83. Kami disambut dengan hangat oleh mbak Ica, adik dari sang pemilik ORE, Alek Kowalski yang dengan ramah menjelaskan tentang bagaimana berdirinya ORE sampai interior ORE secara detail. Dulunya ORE Store terletah di Jalan Pandan, sebelum pindah ke tempat sekarang. Kemudian bangunan ORE yang sekarang mengalami banyak renovasi. Interior di dalam ORE ternyata banyak didapat dari hasil hunting jika sedang jalan-jalan ke luar kota. Selain itu, banyak juga barang-barang yang dibuat custom, seperti tempat display sepatu yang terbuat dari tempat pengepakan semacam peti kemas, lantai dari Carpentier Kitchen dengan motif yang juga custom, serta kursi-kursi yang nyaman bertebaran di dalamnya, sehingga setelah duduk akan susah berdiri, hehe. Setelah naik ke lantai 2, terdapat jendela-jendela yang lebar bermandikan cahaya. Bahkan di musim hujan kadang bisa melihat pelangi di lantai lho, sebuah kejutan yang ternyata tidak direncanakan sebelumnya. Ada juga taman kecil di seberang jika kita naik dari samping Carpentier Kirchen, banyak terdapat tanaman dan kami juga asyik berlama-lama sambil menikmati cahaya dari jendela di seberang.

ORE Small Business & Cafe

Jadi, jalan-jalan kali ini menjadi sangat berkesan ketika kita melihat bagaimana desain ternyata bisa menciptakan suasana yang berbeda pada sebuah tempat. Seperti konsep homey yang diusung ORE Store misalnya.

Categories: Reportase
Tags:

: seorang perempuan leo adalah mahasiswa Sastra Inggris, Faculty of Humanity, Universitas Airlangga, Surabaya, angkatan tahun 2009 masuk dalam sekte Cultural Studies. Menyukai dunia tulis menulis sejak SD, selalu memperalat majalah sekolah sebagai media untuk mengkoar-koarkan tulisan berupa artikel, cerpen, maupun puisi. Ingin berkarya lebih banyak lagi.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

What’s On

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
tukarobralbacabuku-575x350
Baca, Obral & Tukar Buku

by c2o library & collabtive
Baca, Obral & Tukar Buku Lapak buku murah untuk membeli dan bertukar buku ☞ Sabtu, 10 Desembe...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya