Mengingat Lapindo

by
November 9, 2014 15:26  |  1 Comment

MengingatLapindo-C2O

Foto oleh Lutfi Amiruddin

Mengingat Lapindo
Diskusi oleh Anton Novenanto (Kandidat doktor pada Institut für Ethnologie, Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg)
Esai foto oleh Lutfi Amiruddin (dosen pada Jurusan Sosiologi, Universitas Brawijaya, Malang)

☞ Senin, 10 November 2014, pk. 18.30 – 21.00
C2O library & collabtive, Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya

Tahun 2016 nanti semburan lumpur Lapindo akan memasuki satu dasawarsa. Sampai saat ini, ratusan ribu warga Porong telah tergusur paksa dari hunian mereka sebagai akibat dari luapan lumpur panas yang tak kunjung berhenti itu. Selain luapan lumpur telah menenggelamkan 800 hektar lahan produktif, dampak ekologis dari gununglumpur sangat determinan bagi penurunan kualitas daya tunjang kehidupan wilayah di sekitarnya. Sementara kita telah menyaksikan kedahsyatan lumpur Lapindo, menurut para geolog semburan akan terus berlangsung secara masif selama 30 tahun dan akan berlanjut untuk menyembur dengan volume yang lebih kecil untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Ini artinya, bila prediksi para geolog itu benar, dampak lumpur Lapindo yang kita saksikan sampai saat ini belumlah sepertiga dari yang mungkin terjadi.

Jika bencana diartikan sebagai kehancuran, maka Mengingat Lapindo merupakan sebuah aktivitas yang ditujukan untuk merekam proses penghancuran yang sedang terjadi. Semburan dan luapan lumpur Lapindo memang membawa pada kehancuran, namun politik bencana lumpur Lapindo adalah bencana yang lebih mengerikan karena dia berbicara tentang penghancuran. Dan yang terjadi di Porong adalah sebuah “penghancuran yang terencana,” begitu kami menyebutnya dan begitu pula seharusnya publik melihat apa yang sedang terjadi di Porong.

Sementara banyak dari kita yang “buta” terhadap fenomena semburan lumpur – yang sebenarnya banyak ditemukan di Jawa -, masih sedikit dari kita yang tahu tentang sejarah Porong yang saat ini sudah dan sedang menjadi, apa yang disebut Foucault sebagai, “heterotopia,” wilayah “alter”. “Porong” merupakan sebuah monumen ekologi-politik yang sangat penting bagi Jawa sejak Zaman Kahuripan. Posisi strategis Porong pun berlanjut di Zaman Kolonial, khususnya paska Undang-Undang Agraria 1870, dan di Zaman Orde Baru. Perubahan drastis terhadap Porong terjadi, tentu saja, paska semburan lumpur Lapindo pada 29 Mei 2006. Porong yang dulunya adalah wilayah produktif telah menjadi wilayah yang mangkrak, ditinggalkan, tak bernilai. Meskipun telah menjadi heterotopia, pertarungan kuasa terhadap wilayah tersebut bukannya semakin surut melainkan semakin akumulatif.

Mengingat Lapindo adalah serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk merekam dan mereproduksi ingatan publik atas Kasus Lapindo dan penghancuran terencana yang sudah, sedang dan akan terjadi atas Porong. Usaha dokumentasi dan reproduksi ingatan-ingatan tersebut diharapkan dapat menjadi sebuah media kampanye untuk menjalin solidaritas publik terhadap kondisi sosial-ekologis yang hancur oleh daya rusak lumpur Lapindo. Di antara pelbagai macam media komemoratif, foto merupakan salah satu yang paling jamak dikenal oleh publik luas. Sebuah foto diambil karena sang fotografer merasa momentum itu layak untuk dikenang. Sebuah foto membawa imajinasi kita tidak berhenti pada momentum yang diambil namun juga konteks sosial-budaya yang melatarbelakangi sebuah momen untuk terjadi. Melalui bingkai foto, kita memproduksi pengetahuan atas suatu momen di masa lalu dan proses produksi pengetahuan adalah selalu proses pertarungan kuasa.

INFO
info@c2o-library.net
Telp/WhatsApp: +62 816 1522 1216
BB Pin: 7581F299

Categories: HighlightTalk&Sharing

: C2O library & collabtive is an independent library and a co-working space that aims to create a shared, nurturing space, along with the tools and resources for humans (and non-humans) for learning, working, and connecting with diverse communities and surrounding environment. More info, visit: https://c2o-library.net/about/ or email info@c2o-library.net
Email this author | Visit author's website | All posts by

One Response

Feed Trackback Address

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya