Mastodon

Urban Art

Minggu 16 Oktober 2011
Perpustakaan C2O
Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya 60264
(lihat peta di sini: http://c2o-library.net/about/address-opening-hours/)
INFO: (031) 77525216 / 0858 5472 5932

17.00-19.30
DIY TALKS Day 5: URBAN ART

Panelist:
BRAngerous
X-Go (Studio Bunuh Diri)
Redi Murti (Nude Face)
Street Art Surabaya

Moderator:
Obed Bima

Di dukung dengan kemudahan teknologi dan komunikasi, bermunculan generasi-generasi baru yang melakukan praktik berkesenian dengan pendekatan yang identik dengan kebutuhan komunal mereka masing-masing. Beroperasi di wilayah kota yang serba dinamis, mereka mewakili gerakan seni yang terus berinovasi.

DIY Screening: Exit Through the Gift Shop
19.30-20.57
Documentary
(2009)
Duration 87 min

The story of how an eccentric French shop keeper and amateur film maker attempted to locate and befriend Banksy, only to have the artist turn the camera back on its owner. The film contains footage of Banksy, Shephard Fairey, Invader and many of the world’s most infamous graffiti artists at work.

Comics

Sabtu, 15 Oktober 2011
Perpustakaan C2O
Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya 60264
(lihat peta di sini: http://c2o-library.net/about/address-opening-hours/)
INFO: (031) 77525216 / 0858 5472 5932

17.00-19.30
DIY Talk Day 4: Comics
Panelist:
Broky (outline studio)
X-Go (Studio Bunuh Diri)
Pak Waw (Mantri Animasi)
Kathleen Azali (C2O Library)

Moderator:
Andriew B
Ari Kurniawan

Berusaha membebaskan diri dari pengkategorian gaya gambar yang cenderung membelenggu, masing-masing komikus ini mencoba berkarya dengan pilihan bahasa visual mereka masing-masing. Yang menarik mereka memilih pendekatan yang berbeda dalam proses produksi dan distribusi karya komik mereka.

DIY Screening: Beautiful Loser
19.30-21.00
Documentary
(2009)
Duration 90 min

Reportase: DIY #3 Graphic Design & Branding

Bila berbicara tentang dunia desain grafis di Surabaya, baik itu dalam lingkup bisnis maupun iklim berkarya, tak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki bersama. Dalam usaha perbaikan tersebut, cara berpikir yang mencoba untuk memperbandingkan kondisi di Surabaya dengan Bandung, Jakarta, Jogja dan kota-kota lain di Indonesia, mungkin tidak sepenuhnya perlu dahulu. Surabaya memiliki permasalahan dan sejarah permasalahannya sendiri, yang tentunya berbeda dengan kota-kota lain.

Mencoba untuk mendiskusikan kondisi riil dan potensi-potensi khusus di Surabaya bersama pelaku-pelaku di dunia desain grafis Surabaya bisa menjadi sebuah awalan untuk membawa dunia desain grafis Surabaya lebih terarah dan berkontribusi langsung bukan hanya pada pelaku bisnis, tapi juga masyarakat luas. Acara DIY hari ketiga ini, berusaha menghadirkan desainer-desainer grafis dari berbagai sektor, mulai dari sektor publik, korporasi, komunitas, hingga tipografi dan seni jalanan untuk menjadi pembicara. Mereka adalah Bayu Prasetya (graphichapter), Jimmy Ofisia (MAM), Iko (ikiiko), Obed Bima (DKV Petra), dan Bing Fei (Veith Design)

Para pembicara ini diundang untuk berbagi pengalaman dan juga cara pandangnya tentang dunia desain grafis Surabaya bersama sesama desainer lain, mahasiswa maupun masyarakat awam yang hadir pada malam itu. Permasalahan yang disinggung dan dibahas pada malam itu bisa dibilang sangat luas, tapi tentu saja tetap dengan berusaha berpijak pada isu nyata yang terjadi di Surabaya. Isu-isu mendasar seperti tentang tanggung jawab sosial, meskipun klise, akan selalu perlu untuk menjadi salah satu isu yang diangkat ke permukaan guna dibicarakan, apalagi dalam konteks dan pengalaman desainer lokal Surabaya.

Reportase: DIY #2 Design Business & Management

Diskusi kedua dalam rangkaian acara Design It Yourself (DIY 2011) yang diselenggarakan pada tanggal 8 Oktober 2011 ini berlangsung hangat dan meriah. Para pembicara terlihat antusias dalam membedah bersama mengenai praktik dan implementasi dari manajemen desain. Diskusi menjadi lebih menarik karena latar pembicara yang beragam, ada yang berasal dari agensi, ada yang berbasis komunitas, ada juga yang berlatar belakang sebagai seorang lonesome freelancer.
Tapi dari semua pembicara memiliki benang merah yang sama, bahwa manajemen terhadap proses desain itu sangat penting. Namun yang membedakan antara satu pembicara dengan pembicara lainnya adalah pelaksanaan manajerial yang tergantung pada jenis usaha yang dijalankan. Maritjee misalnya, ia memilki jam kerja rutin setiap harinya untuk memudahkan produksi tas hasil rancangannya yang dilakukan oleh para pekerja. Sedangkan Bayu, managing director dari graphichapter, mengatakan bahwa alur manajerial di bironya tidak hierarkis (top-down management), melainkan setara. “Saya nggak ingin mematikan adanya potensi ide baru dari para desainer. Selain itu kami membagi dua pola kerja, satu bagian konsep (dikerjakan oleh para senior desainer) dan satu lagi bagian eksekusi (terkadang dikerjakan oleh para junior desainer, biasanya outsourcing mahasiswa desain)”
Untuk jam kerja, GraphiChapter menerapkan jam kerja biasa seperti layaknya kantor lain, tapi ini tidak berjalan kaku. “Seringkali desainer datang setelah Dhuhur atau sore, biasanya yang datang sore ini mereka yang ingin bermalam di kantor. Aturan main kami fleksibel, asalkan finish by deadline. Jadi misalnya ada waktu seminggu untuk bikin dummy, ya sudah terserah desainer mau mengerjakan kapan saja, asalkan selesai pada waktunya, biasanya H-1 sudah diserahkan,” kata Bayu. Sedangkan Nitchii menerapkan standar waktu yang berbeda. Ia mengerjakan berbagai proyek ilustrasinya di malam hari. “Soalnya aku kan masih kerja di agensi ya, jadi kalo sore pulang kerja, malamnya aku kerjain ilustrasi. Di sini passionku. Dalam waktu dekat bisnis ilustrasi dan craft ini mau aku tekuni secara full-time, sedangkan kerja di agensi jadi sampingan…” kata Nitchii.
Komunitas menjadi bagian penting yang menyokong proses kreatif para desainer. Semua pembicara sepakat akan hal tersebut, termasuk Nitchii dan Maritjee yang tergabung dalam serikat desainer wanita di Surabaya yang bernama BRAngerous. “Komunitas kreatif ini yang bikin kita terus berkarya. Sering kita tukar pikiran atau gagasan meski hanya lewat milis saja,” kata Maritjee. Arghubi, dari Aiola dan Global appleworks mengatakan bahwa menjaga keberlangsungan sebuah komunitas juga bukan hal yang mudah. “Pasti jatun bangun, ada yang datang ada yang pergi. Tapi berbagai kolaborasi kreatif membuat kita bisa terus berdiri sampai hari ini,” kata Ghubi yang turut membangun Global appleworks sejak 2004.
Sharing menarik tentang keberadaan komunitas juga disampaikan oleh MADCahyo, seorang sesepuh di deMaya, desainer muda Surabaya, sebuah komunitas untuk para desainer (muda?) yang beberapa kali menggelar acara kreatif di Surabaya, termasuk Surabaya Design Week di tahun 2008. “Komunitas itu seperti rumah, tapi tanpa sekat, tanpa pintu, dan tanpa tembok. Siapapun boleh keluar masuk dan berkontribusi. Anggota deMaya datang dari mana saja, mulai kelasnya profesor hingga mahasiswa, dari freelancer hingga pemerintah kota. Jadi ini merupakan ladang untuk memperluas pergaulan dan saling bersilaturahmi antar insan kreatif,” kata MADCahyo. Pernyataan sesepuh deMaya ini langsung ditanggapi oleh Bayu GraphiChapter,”Sebagai salah satu anggota deMaya, saya juga dapat relasi dengan pemerintah kota dari milis ini. Jadi ya bisa jadi dengan bergabung di komunitas kreatif, selain memperluas pergaulan kita juga bisa menjaring klien baru yang potensial. Komunitas yang kuat dan sustainable seharusnya bisa hidup dan menghidupi anggota komunitas itu sendiri,” kata Bayu.
Namun berurusan dengan pemerintah sendiri masih menjadi domain yang agaknya rawan bagi para desainer. “Mereka itu masih belum punya regulasi yang jelas untuk menentukan tender-tender desain. Konon proyek bagi para desainer masuknya di sub multimedia, tapi proyek multimedia isinya hanya pengadaan komputer di sekolah-sekolah,” kata Bayu.
“Pemerintah itu kadang labil deh, dulu film Surabaya Grammar kami pernah dikoreksi habis-habisan karena banyak kata-kata pisuhan yang vulgar, eh saat kami mengeluarkan CuloBoyo Juniol, malah kami ditawari tender untuk pendidikan animasi bagi sekolah dasar di Jawa Timur. Bingung deh, apa sih maunya pemerintah ini?” kata Vinka, dari Gathotkaca Studio. Kondisi pemerintah kurang wawasan tampaknya menjadi penyebab lesunya atmosfer kreatif di Surabaya. Jadi, konsepsi “managing the design strategy” yang harus dilakukan dalam wilayah besar itu masih belum ada wujudnya di Surabaya. Meski diklaim sebagai kota yang memiliki ciri khas, namun tidak ada visi yang jelas dari para pelaku kreatif di Surabaya, semua berjalan sendiri-sendiri.
“Saya memiliki manajemen berupa: membagi proyek desain menjadi dua; profitable dan non-profitable. Untuk yang profitable saya bagi dua; governmental project atau non-govermental. Nah saat mengerjakan proyek pemerintah (governmental project) maka harus disiapkan tiga platform mental; putih, hitam atau abu-abu. Bekerja dengan pemerintah itu menurut saya kebanyakan wilayahnya abu-abu,” kata Ghubi.
Sedangkan usul menarik datang dai Jeri Kusuma, seorang desainer freelance, yang sering mengerjakan proyek kreatif untuk pemerintah, “Masih ada banyak celah yang bisa dimasuki oleh para desainer. Pemerintah kota Surabaya ini butuh banyak sekali masukan kreatif untuk menyelesaikan permasalahan kota. Saya pernah mengusulkan beberapa ide dan dari sekian ide itu banyak yang diterima. Tapi bekerja dengan pemerintah memang tricky, apalagi untuk proses pembayaran. Saran saya, pakailah kalender kerja pemerintah. Masukkanlah ide sebelum anggaran kerja baru dibuat,” kata Jeri.
Peran pemerintah dalam mendukung iklim kreatif memang masih dibutuhkan. “Seperti kami para penggiat film, sangat sedikit sekali ruang umum di Surabaya yang bisa kita manfaatkan untuk screening film. Padahal untuk menyewa Balai Pemuda, misalnya, itu butuh uang yang tidak sedikit. Padahal para penonton masuk gratis. Jadinya ya kita membiayai proyek kreatif dari hasil kerja reguler dan penjualan merchandise yang tentu saja hasilnya tidak seberapa,” kata Vinka.
“Saya pernah mengurus ijin merek di pemerintah, tapi sepertinya ribet sekali, jadi ya sampai sekarang saya belum mengurus lagi merek saya,” kata Maritjee. “Saya juga masih nyaman dengan proyek-proyek bukan pemerintah,” kata Nitchii. Dua desainer wanita ini justru punya pandangan menarik tentang strategi marketing. “Kami lebih suka menggunakan media internet yang borderless. Karya kami lebih mudah mendapat apresiasi di luar negeri. Setelahnya, saat banyak orang Indonesia yang sudah aware, baru kami pasarkan produk kami untuk orang Indonesia,” kata Maritjee dan diamini Nitchii. Proyek idealis dengan skala kecil ini tampaknya masih menjadi pilihan yang menarik bagi para single fighter freelancer seperti mereka berdua. “Bahkan proyek kolaborasi gratisan menurut saya jauh lebih menarik, tapi suka pusing juga kalo ada orang luar negeri pesan craft saya, terus saya harus mengurus biaya kirim yang jauh lebih mahal dari biaya produksi craft itu sendiri,” kata Nitchii.
Sedangkan Bayu yang harus menghidupi banyak desainer di bawah kendalinya justru punya pemikiran lain. “Dulu awalnya saya berpikir untuk mencari klien sebanyak-banyaknya. Sampai banting harga di depan klien demi mendapatkan efek word of mouth yang bombastis. Tapi nyatanya itu nggak sustainable. Daripada mengurus banyak klien, sebetulnya lebih baik mengurus sedikit klien tapi benar-benar loyal. Menurut pengalaman saya di GraphiChapter, mengurus tiga klien saja dengan proses desain yang benar, dengan manajemen yang bernar, dan dengan bayaran yang benar pula, kita sudah bisa hidup di Surabaya. Bahkan bisa juga kasih bonus gaji ke para desainer saya. Tapi ya harus itu, semua dikerjakan dengan benar,” kata Bayu. []

Klab Baca: Harry Potter & the Deathly Hallows

Oktober ini kita akan membaca dan membahas Harry Potter and the Deathly Hallows! Versi audiobook (mp3) dan eBook (PDF) HP7 tersedia juga di C2O.

September lalu, kami memulai program bulanan Klab Buku. Klab ini terbuka untuk umum, dengan maksud untuk berbagi, menghargai pengalaman dan pemahaman membaca judul yang sama dalam suasana yang akrab dan seru.

Jika ingin bergabung, silahkan datang di hari pertemuan kita: Jumat keempat tiap bulan, pk. 18.00. Jadual di samping.

Jadual pertemuan Klab Buku:
Jumat keempat tiap bulan, pk. 18.00
28 Oktober 2011 : Harry Potter & the Deathly Hallows (PIC: Andriew Budiman)
24 November 2011 : Saksi Mata (PIC: Antonio Carlos)
28 Januari : Sumpah Pemuda (PIC: Kathleen Azali)

Buku apa saja yang akan dibaca?

Macam-macam, diajukan oleh anggota untuk kemudian dipilih bersama-sama di saat pertemuan. Boleh dari berbagai genre: novel, sastra, misteri, sci-fi, detektif, cerpen, jurnal, buku anak, komik, biografi, sejarah, budaya, desain, sains, travelling, masak, dll. Jika ada versi eBook/audiobooknya, akan kami pasang di http://c2o-library.net

Moderator:

Yang mencalonkan bukunya! :)

Variasi kegiatan:

Membahas buku
Literary games
Role-playing
Nonton film
dsb.
Siapa saja yang boleh gabung?

Terbuka untuk umum, pada siapapun yang tertarik. Tidak masalah meski belum membaca bukunya.

Iuran Rp. 5.000/pertemuan, mendapat:

Freeflow kopi/teh
Snack atau handout
Sewa gratis buku yang akan dibaca bulan tersebut (harus menjadi anggota C2O)
INFO: info@c2o-library.net

Garis batas

Bedah buku Garis Batas: Perjalanan di Negara-negara Asia Tengah
bersama Agustinus Wibowo, penulis Garis Batas dan Selimut Debu
moderator Lukman Simbah, hifatlobrain.net
Penduduk desa Afghan setiap hari memandang ke “luar negeri” yang hanya selebar sungai jauhnya. Memandangi mobil-mobil melintas, tanpa pernah menikmati rasanya duduk dalam mobil. Mereka memandangi rumah-rumah cantik bak vila, sementara tinggal di dalam ruangan kumuh remang-remang yang terbuat dari batu dan lempung. Mereka memandangi gadis-gadis bercelana jins tertawa riang, sementara kaum perempuan mereka sendiri buta huruf dan tak bebas bepergian.

Negeri seberang begitu indah, namun hanya fantasi. Fantasi yang sama membawa Agustinus Wibowo bertualang ke negeri-negeri Asia Tengah yang misterius. Tajikistan. Kirgizstan. Kazakhstan. Uzbekistan. Turkmenistan. Negeri-negeri yang namanya semua berakhiran “Stan”. Perjalanan ini bukan hanya mengajak Anda mendaki gunung salju, menapaki padang rumput, menyerapi kemegahan khazanah tradisi dan kemilau peradaban Jalan Sutra, ataupun bernostalgia dengan simbol-simbol komunisme Uni Soviet, tetapi juga menguak misteri tentang takdir manusia yang terpisah dalam kotak-kotak garis batas.

Petualangan Agustinus Wibowo di buku ini seakan mengajak kita untuk masuk dan melihat sendiri tempat-tempat yang selama ini tersembunyi di peta dunia. – Andy F. Noya

Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bhinneka, atas dukungan Perpustakaan C2O dan Hifatlobrain Travel Institute.

Gratis dan terbuka untuk umum.

INFO: cannedbrain@gmail.com

Design & Business Management

Sabtu, 8 Oktober 2011
C2O Library
Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya 60264

17.00-19.30
DIY Talks Day 2: Design Business & Management
Pembicara:
Bayu Prasetya (Graphichapter)
Arghuby (Aiola Store)
Nitchii (nitchii.net)
Vinka (Gathotkaca Studio)
Maritjee (maritjee.blogspot.com)

Moderator:
Ayos Purwoaji (Hifatlobrain Travel Institute)

Bagaimana sistem kerja dan gaya “ngantor” yang sesuai untuk desainer? Bagaimana pendekatan mereka untuk menaklukkan pasar? Diskusi hari kedua akan membahas bagaimana setiap desainer mendesain sistem dan manajemen yang sesuai dengan entitas mereka masing-masing.

19.30-21.00
DIY Screening: Objectified
Documentary | UK | 2009 | 75 min

Mendokumentasikan proses kreatif dari desainer produk paling berpengaruh di dunia. Ini adalah dokumenter tentang relasi kompleks kita dengan produk di sekitar kita hingga ke desainer dibalik produk tersebut. Melalui objek-objek sekitar, kita dapat belajar mempertanyakan siapa dan akan menjadi apa diri kita.

Introduction to Design

C2O library, Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya
Minggu, 2 Oktober 2011, 17.00

17.00 DIY TALKS Day 1
Intro to DIY (Design It Yourself)
Introduction to Design
Panelis:
Bing Fei (Vaith Design)
Josef Prijotomo (Guru Besar Arsitektur ITS)
Anas Hidayat (Republik Kreatif)
Moderator : Ramok Lakoro (DKV ITS)

Diskusi hari pertama dimulai dengan pengantar desain secara umum dan universal. Mulai dari makna kata desain, proses, hingga peranan dan tantangannya dalam peradaban manusia. Semuanya dikontekskan dengan kondisi terkini di masyarakat.Menghadirkan panelis dari disiplin dan modus kreatif yang berbeda-beda sehingga memancing keberagaman perspektif pikiran.

20.00 DIY Screening
The Genius of Design Episode 1 : “Ghosts in the Machine”
Duration 48m

IK’OL’SAN, IKutan ngobrOL SANtai

Komunitas Jejak Petjinan mengadakan IK’OL’SAN, IKutan ngobrOL SANtai bersama teman-teman mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya (S2) dari (FIB UNAIR) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Beberapa saat yang lalu, mereka mewawancara beberapa narasumber masyarakat Tionghoa dalam rangka tugas kuliah berkelompok berjudul “Dinamika Diskriminasi Tionghoa Indonesia”

Obrolan santai ini jadi menarik, karena biasanya subyeknya (yang membahas) adalah orang Tionghoa, dan obyeknya (yang dibahas) juga orang Tionghoa, sehingga kita kadang meragukan kenetralannya dan nggumun “opo iyo”. Nah, seperti halnya arek-arek Suroboyo (yang cinta buta kotanya) selalu memuji masakan Suroboyo dimanapun dia berada… Kali ini teman-teman dari UNAIR yang notabene bukan Tionghoa akan membagi cerita mereka dalam proses mengerjakan tugasnya, dan kita semua dapat bonus presentasi yang keluar dari ruang kuliah, yang dinikmati mungkin sambil makan siang di dalam ruang perpustakaan di tengah kota Surabaya.

Lokasi: C2O Library, jl. Dr.Cipto no 20, Surabaya 60264
Hari: Minggu, 2 Oktober 2011
Waktu: 10.30-14.00 siang
Konsumsi: disediakan makan siang sederhana dengan menu pecel

Pembicara:
Pujo S.Nur Cahyo
Edy Santoso
Ajeng K.Wardani
Ayu Saraswati

Moderator:
Paulina Mayasari (Jejak Petjinan)

Reportase: Kisah-kisah Bijak dari Negeri Naga

Reportase Peluncuran Buku & Diskusi : Kisah Bijak dari Negeri Naga

Minggu di siang bolong, 11 September 2011 bertepatan dengan 12 tahun peristiwa 9/11. Cuaca sangat panas dan terik.

Jam menunjukkan pukul 12 siang tepat. Satu persatu para peserta datang untuk menghadiri acara Peluncuran Buku & Diskusi dengan tema kali ini : Kisah Bijaksana dari Negeri Naga bersama Chen Wei An, penulis dan Ardian Purwoseputro, peneliti sejarah dan budaya Tionghoa Indonesia.

Rupanya cuaca panas tidak menghalangi peserta untuk berbondong-bondong ke C2O library. Acara baru dimulai pukul 13:30 yang dibuka dengan paparan singkat dari penulis.

Menurut penulis, yang sempat berkarier di beberapa perusahaan nasonal di Surabaya & Jakarta ini, penulisan 2 buku : Kisah Bijaksana dari Negeri Naga dan Kisah-Kisah Bijaksana dari Negeri Naga diilhami oleh ingatan-ingatan penulis akan didikan orang tua sewaktu kecil. Orang tua penulis selalu mendidik Chen kecil dan saudar-saudaranya dengan memberi contoh pelajaran hidup melalui kisah2 bijaksana yang diceritakan dalam bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami namun bisa diaplikasikan anak-anak.

Berawal dari keinginan untuk melestarikan nilai-nilai bijaksana itulah, penulis mulai mengumpulkan literatur-literatur untuk melengkapi cerita2 dimasa kecilnya, yang menurut penulis masih sangat relevan diterapkan di dunia modern saat ini. Baik oleh anak-anak maupun orang dewasa, disetiap aspek kehidupan.

Literatur-literatur tersebut didatangkan Chen dari luar negeri seperti Singapura dan Hongkong. Hal ini untuk mempermudah penggunaan istilah-istilah dan penerjemahaan yang benar jika merujuk literatur terjemahaan asing yang dinilai Chen lebih orisinal.

Ada satu cerita menarik yang selalu diingat Chen, sebuah cerita bijak mengenai pentingnya memikirkan banyak hal disekitar kita untuk mencapai sebuah tujuan. Yaitu seorang pangeran kecil yang melihat belalang dipinggir kolam yang asyik meminum air, saking asyiknya sang belalang tidak menyadari kalau dibelakangnya ada seekor kodok yang siap memangsa, begitu pula sang kodok, dia tidak menyadari kalau dibelakangnya mengintai seekor ular yang siap menyantapnya, dan sang ular tidak menyadari pula jika dirinya sedang diintai oleh seekor burung rajawali. Ketika pangeran kecil tertarik dengan rajawali tersebut, keinginan hatinya sangat kuat untuk menangkapnya, namun dia tidak menyadari kalau disekelilingnya ada kolam, ketika dia berusaha menangkap rajawali tersebut…terjatuhlan dia di air.

Sebuah cerita yang mempunyai kesan tersendiri–mengajarkan kehati-hatian, tidak sembrono, tidak memikirkan diri sendiri…

Chen Wei An sampai saat ini sudah menulis 4 karya. Karya pertama adalah cerita silat (cersil) 5 jilid dengan judul Lung Hu Wu Lin-Rimba Persilatan Naga & Harimau, 1 karya non fiksi berjudul Cersil (bukan) Bacaan Jadul?, dan 2 buku Kisah-Kisah Bijaksana dari Negeri Naga dan 88 Kisah Bijaksana dari Negeri Naga.

Cuaca semakin panas saja, namun selain membuat gerah juga membuat diskusi semakin lama semakin menarik dan panas.

Pertanyaan-pertanyaan mulai dilontarkan peserta. Ada yang bertanya mengenai mengapa jumlah kisah yang kenapa hanya ditulis 88 kisah saja, mengenai korelasi dan aplikasi kisah bijaksana dengan masalah kesetaraan gender, penyelamatan lingkungan hidup, hukum dan pemerintahan..dan masih banyak pertanyaan dan pernyataan panas lainnya. Menurut Chen, semua kisah bijaksana ini bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tinggal dalam sudut pandang mana atau bidang kehidupan apa yang akan kita pilih.

Untuk meminimalisir cuaca yang cukup panas, Tinta, Erlin, Mbak Yuli dkk mulai membagikan buah semangka segar…ehmmmmm segarnya

Ada satu hal yang menggetarkan, pembentukan negara persemakmuran Hongkong dan Singapura tidak terlepas dari teladan kisah-kisah bijaksana Tiongkok yang diterapkan pemimpin-pemimpin sekelas Perdana Menteri Lee Kuan Yew, kata Chen.

Chen keberatan kalau kisah bijak ini disebut dongeng. Kisah-kisah ini merupakan sejarah peradaban China, mengenai kekuasaan, startegi perang, hukum, keadilan, kebijaksanaan, nilai-nilai hidup. Hal serupa juga diamini oleh Ardian. Menurut Ardian, kisah-kisah tersebut merupakan kisah bijak yang tertulis dan tersimpan rapi dari dinasti ke dinasti kekaisaran di China tanpa terputus. Menurut Ardian, cerita ini merupaka accesoris dari catatan-catatan sejarah pada setiap periode dinasti kekaisaran di China. Semua keagungan, kebaikan, kebajikan, kejayaan, kehancuran sebuah dinasti dengan sangat obyektif terekam. Dan yang lebih menarik, catatan-catatan tertulis rapi, tanpa terputus dan diteruskan dari dinasti ke dinasti berikutnya. “aneh sekaligus mulia” biasanya setiap akhir perebutan dan pergantian pemerintahan, catatan-catatan dari pemerintahan yang berkuasa sebelumnya selalu dibakar atau sengaja dihilangkan oleh pemerintah yg berkuasa saat ini, tapi di China tidak!

Bagaimana dengan di negeri kita,Indonesia. Adakah budaya santun yang merekam apapun juga secara obyektif, yang kita simpan dan teruskan untuk generasi-generasi berikutnya? timpal Ardian.

Diskusi juga mulai merambah ke peranan Sastra Melayu Tionghoa yang juga berperanan dalam membentuk nation buiding Indonesia dan sastra Indonesia.

Satu hal yang menarik, salah satu contoh majalah Sin Po, meski berkiblat ke nasionalisme Tiongkok, majalah ini memiliki andil besar dalam perjalanan bangsa Indonesia. Di era 1920 an Sin Po mempelopori penggunaan istilah Bumiputera untuk istilah Inlanderr (istilah yg diberikan Belanda untuk masyarakat Bumiputera yang dianggap golongan masyarakat kelas bawah) sehingga sebagai balas budi, media lokal mulai menggunakan istilah Tionghoa untuk menyebut orang dari suku bangsa China. Sin Po juga media massa cetak pertama yang mempublikasikan lagu kebangsaan Indonesia Raya karangan WR Supratman, Dan Sin Po salah satu majalah yang mempelopori penggunaan istilah Indonesia untuk Hindia Belanda saat itu. Bayangkan majalah tersebut sudah memiliki pokok bahasan utama, yaitu bahasan Indonesia dan bahasan Manca Negara. Tutur Ardian.

Akhirnya acara diskusi dan peluncuran buku ditutup dengan hidangan macaroni schotel dan puding buah a la chef Erlin. Disela-sela acara ramah tamah, panitia membagikan doorprize berupa buku-buku karya Chen Wei An kepada 4 peserta.
——————————————
C2O mengucapkan banyak terima kasih pada Chen Wei An, Ardian Purwoseputro, Erlin Goentoro, Anitha Silvia, Antonio Carlos, Ari Kurniawan, dan semua teman-teman yang telah hadir dalam acara ini.

Foto oleh Erlin Goentoro.