Treasure Hunting #2

Sabtu, 8 September 2012, pk. 09.00 – 12.00
C2O Library & Collabtive, Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya.

Bagi yang tertarik untuk berpartisipasi dalam Ayorek Treasure Hunting, besok kita akan menetapkan topik kita dan membahas teknis kolaborasi.

Materi di atas akan kita gunakan sebagai lembar kerja kita besok. PDF materi dapat diunduh gratis dari:
http://archive.org/download/MateriAyorekTreasureHunting20120907/MateriTreasureHunting-web.pdf

Silakan membaca-baca atau mencoba dahulu. Ada tips menggali data, tips melakukan sejarah keluarga, dsb. Besok kita akan bersama-sama mengerjakannya! Sampai bertemu!

INFO:
info@ayorek.org
Facebook group: facebook.com/groups/ayorek/

Reportase: Travel Writing Workshop

“Sampeyan jadi dateng mas?” tanya saya, dua minggu sebelum acara. Memastikan ketetapan hati Yudasmoro untuk sowan ke Surabaya berbagi ilmu menulis perjalanan.
“Pokoknya ada sop kikil, saya pasti datang! Ilmu saya gratis, Yos,” kata Yudasmoro singkat. Hati saya lega.

Sampai detik ini belum pernah ada pelatihan penulisan perjalanan (travel writing) di Surabaya. Jadi ini memang yang pertama. Tak heran jika pesertanya membludak. Awalnya kami hanya menarget 20 orang peserta saja, mengingat ruangan dalam c2o Library yang terbatas. Tapi memang rasa ingin tahu tak mudah dibendung. Pendaftarnya membengkak jadi 35 orang. Sebagian besar dari Surabaya, sisanya dari Jember, Malang, Solo dan Jogja.

Kesungguhan mereka tak kuasa kami tolak. Apalagi melahirkan generasi baru penulis perjalanan sesuai dengan visi Hifatlobrain, yaitu “documenting Indonesia”. Negeri ini butuh lebih banyak travel writer yang bisa mengulas budaya dan alam Indonesia yang begitu kaya.

Yudasmoro sendiri adalah penulis jempolan yang artikelnya banyak menghiasi majalah wisata dan inflight magazine di Indonesia. Kami, para pengurus Hifatlobrain, sudah lama menjadi penggemar tulisan-tulisan Yudasmoro. Tak jarang kami mengkajinya, mendedah tulisannya, dan kagum, karena pria satu ini begitu jenial menyisipkan guyonan sarkastik dalam artikel yang ditulis.

Para peserta berkumpul di c2o Library jam delapan pagi. Kami menyiapkan brownies dan air putih sebagai pengganjal perut bagi yang belum sarapan. Yudasmoro sendiri terlihat prima dalam setelan kemeja kasual, sambil menunggu peserta lain, ia sibuk mempersiapkan slide dan mengatur proyektor.

Materi pertama yang disampaikan adalah perihal Life of Travel Writer. Sebetulnya ini adalah materi yang disiapkan untuk mengakhiri workshop, tapi Yudasmoro malah menceritakannya di depan. Dengan menarik, ia bercerita tentang kehidupan penulis perjalanan, ia bercerita tentang pengalamannya sendiri. “Travel writer itu harus bisa kerja di bawah tekanan. Saya sering dikontak editor untuk mengirim foto saat tengah malam. Atau tiba-tiba mendapat writers block menjelang deadline,” kata Yudasmoro.

…..

Surabaya Illustrated Travel

Pameran –Workshop – Jajak Surabaya
Surabaya Illustrated Travel
Tanggal: Rabu 14 – Selasa 20 Maret 2012
Lokasi: Pusat Kebudayaan Prancis (Institut Français d’Indonesie) Surabaya — Perpustakaan C2O
Penyelenggara: Hifatlobrain Travel Institute & Perpustakaan C2O

Pembukaan pameran / live drawing / live music / presentasi :
Rabu, 14 Maret 2012, pk. 18.30 di IFI Surabaya, Jl. Darmokali 10 Surabaya 60265

Mengundang : Herajeng Gustiayu — Redi Murti — Silampukau — Samuel Respati

Dalam peta pariwisata nasional, Surabaya hampir saja tidak dikenal. Seringkali pelancong hanya ‘numpang lewat’ saja untuk meneruskan perjalanannya ke berbagai destinasi populer seperti Bromo, Semeru, Ijen, atau Baluran. Surabaya pun akhirnya tidak lebih hanya menjadi kota transit saja. Tidak kurang, tidak lebih.

Tapi memang menikmati sebuah kota tidak bisa hanya sekilas saja. Untuk mengulik semua keunikan di
dalamnya, kita harus tinggal lebih lama. Selama bulan Desember 2011, Hifatlobrain Travel Institute bekerja sama dengan Perpustakaan C2O mendatangkan Herajeng Gustiayu, seorang travel blogger dan ilustrator dari Jakarta, untuk menghasilkan satu seri ilustrasi cat air tentang Surabaya. Selama sebulan Ajeng berkeliling Surabaya, menikmati makanan khas, menyerap budayanya, dan menghirup atmosfer kota. Ini merupakan sebuah program eksperimental yang berupaya untuk memperkaya ranah dokumentasi perjalanan di Indonesia.

Wanita yang akrab disapa Ajeng ini mendalami teknik menggambar dengan cat air sejak masih mahasiswa. DI bawah didikan Ichsan Harja, yang membuat buku Bandung in Watercolor, dan mengambil kuliah di jurusan Arsitektur membuat Ajeng akrab dengan bentukan geometris dan langgam desain sebuah bangunan.

Sebagai program yang multirespon, kami mempertemukan Ajeng dengan perupa muda Surabaya berbakat, Redi Murti. Lulusan Desain Komunikasi Visual UK Petra ini sudah malang melintang dalam skena seni rupa Surabaya. Redi sendiri menciptakan sebuah tokoh imajiner yang selalu muncul dan menjadi signature karya-karyanya, sesosok pria berwajah merah dengan sebutan ‘nudeface’.

Dua talenta muda ini meneropong Surabaya dari sisi yang berbeda. Saat Ajeng melihat Surabaya dengan perspektif arsitektural, Redi memandang Surabaya sebagai wadah persinggungan budaya. Bagi Redi, Surabaya adalah sebuah kota dengan gejolak sosial yang dinamis. Ajeng menggambar bangunan-bangunan tua sementara Redi menangkap semangat Bonek dan interaksi sehari-hari dalam sapuan kuasnya.

Perpaduan dua perupa dari dua latar belakang yang berbeda ini diharapkan mampu memberikan gambaran Surabaya dalam mosaik yang lebih luas. Dan terbukti, setelah ‘dipetani’ satu-persatu, ternyata banyak destinasi belum populer di Surabaya yang menunggu untuk dikembangkan. Dengan alasan tersebut, maka seluruh materi yang akan dihasilkan dua perupa ini nantinya akan dikembangkan menjadi sebuah illustrated travel guide. Untuk mendukung pengetahuan tentang kota Surabaya yang lebih luas lagi.

Pada acara pembukaan pameran, akan diadakan acara menggambar bersama (live drawing) yang bisa diikuti oleh pengunjung yang datang. Dari medium besar ini nanti kita dapat melihat riuh rendah imaji tentang Surabaya dalam goresan tinta Cina yang ditorehkan pengunjung.

Reportase: Workshop Malaikat & Singa

Selasa, 18 Oktober 2011

15.00-17.00

Jam 3 sore, matahari masih terasa panas di halaman c2o library, akhir-akhir ini udara memang lebih panas berlipat-lipat dari biasanya yang sudah panas, rombongan tur Malaikat dan Singa tiba dengan selamat di c2o library. Semalam mereka melakukan pertunjukkan musik di Mojokerto, tentu mereka masih lelah tapi Arrington tetap semangat untuk bergerak di tengah panasnya Surabaya. Demi keakraban, kami menyebut Arrington de Dionyso dengan Arrington Dinoyo, Dinoyo adalah nama jalan yang terkenal di Surabaya, hahah. Sore ini c2o library memfasilitasi workshop drawing oleh Arrington Dinoyo yang berasal dari Olympia, USA. Arrington Dinoyo telah memproduksi dua album (“Malaikat dan Singa” dan “Suara Naga”) yang diliris oleh label indie kenamaan K Records. Selain mengeksplorasi musik, Arrington juga giat mengeksplorasi gambar. Bulan Oktober ini YesNoWave Music menyelenggarakan tur “Malaikat dan Singa” di kota Jakarta, Bandung, Malang, Mojokerto, dan Surabaya.

Para peserta workshop pun berdatangan, teman-teman dari DKV UK Petra yaitu Chelcea, Debby, Elang, dan Ega, teman-teman dari Milisi Fotokopi yaitu Kuro, Kemplo, Bagus, Dani, dan Jowy. Phobe dari Bhineka juga turut serta. Tanpa banyak bicara workshop atau mungkin lebih tepatnya acara menggambar bersama dimulai, kertas samson ukuran A0 digelar di halaman c2o, kuas dan tinta cina menjadi senapan utama dalam mengeksekusi gambar.

Music to Eat, Play, and LaughMusic to Eat, Play, and Laugh

Penutupan Eat, Play, Laugh: Kids Fest for All
bersama Slamet Abdoel Sjukur
Minggu, 31 Juli 2011
Perpustakaan C2O, Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya 60264
(lihat peta lokasi di: http://c2o-library.net/about/address-opening-hours/ )

Workshop komposisi musik, lucu tapi jitu
15.00-17.00

Pemutaran film The Chorus
Sebuah film Prancis tentang sekolah anak-anak “buangan” yang kemudian menjadi anak-anak yang mempesona setelah bersentuhan dengan musik yang penuh kasih.
17.00-19.00

Slamet Abdul Sjukur (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 30 Juni 1935; umur 75 tahun)[1] adalah seorang komponis dari Indonesia. Ia disebut sebagai salah seorang pionir musik kontemporer Indonesia. Karya-karyanya telah banyak dinikmati di mancanegara, khususnya negara-negara Eropa. Ialah yang mempunyai ide yang disebut minimaks, yaitu menciptakan musik dengan menggunakan bahan yang sederhana dan minim. Ia adalah satu satu musisi Indonesia yang di tahun 1970an mengenyam pendidikan lebih dari 14 tahun di Eropa, di Perancis dengan Olivier Messiaen dan Henri Dutilleux.

Beberapa penghargaan yang telah diterima adalah: Bronze Medal dari Festival de Jeux d’Automne in Perancis (1974), Piringan Emas dari Académie Charles Cros di Perancis(1975, untuk karyanya berjudul Angklung) dan Medali Zoltán Kodály dari Hungaria (1983). Majalah Gatra juga memberinya anugerah sebagai pioner musik alternatif (1996) dan ia juga diangkat sebagai anggota Akademi Jakarta seumur hidup (2002). Pada tahun 2005, Slamet Abdul Sjukur dianugerahi penghargaan dari Gubernur Jawa Timur karena dedikasinya pada musik.

Beberapa nama yang menonjol yang sempat mengenyam ilmu darinya adalah Tony Prabowo, Gilang Ramadhan, Franki Raden, dan Soe Tjen Marching.

———
Acara ini adalah acara penutupan festival anak & craft Eat, Play, Laugh, yang diselenggarakan selama bulan Juli 2011 di Perpustakaan C2O.
Lengkapnya: http://c2o-library.net/2011/07/eat-play-laugh/

Gratis dan terbuka untuk umum. Sampai ketemu!

Info:
Email: c2o.library@yahoo.com
Telp: 031-77525216

Reportase: Membuat mainan di Akhir Pekan

Minggu sore, 17 Juli 2011, Nadhif, Ayesha, Revy, Firly dan Selvi berkumpul di ruangan perpustakaan C2O untuk mengikuti workshop Re – Make + Re – Use Toys. Dalam workshop ini, Heroes Ct, komunitas penggemar dan pembuat toys, dan Ayos Purwoaji memperagakan pengolahan dan pembuatan mainan dari barang-barang bekas seperti kardus, kancing, benang dengan menggunakan gunting dan lem.

Meskipun awalnya anak-anak ini tampak bingung melihat contoh mainan-mainan daur ulang yang dibawa Heroes Ct, dengan cepat mereka turut asyik bergabung membuat mainan mereka. Menarik melihat bagaimana dari bahan-bahan sederhana ini, mereka bisa membuat berbagai boneka: kepiting, kura-kura, keong, mainan tank, pesawat terbang, dan lain sebagainya.

Ingatkah saat kita kecil dan membuat mainan sendiri, entah mainan karet, kertas lipat, daun singkong, kulit jeruk atau batok kelapa? Dari kardus-kardus bekas yang kita bayangkan sebagai lorong-lorong dan rumah-rumahan? Hal-hal yang sederhana ini bermain-main dengan dunia imajinasi kita. Sayangnya, daya imajinasi dan kreatifitas spontan seperti ini makin terkikis dari kehidupan kita sehari-hari. Mungkin salah satunya karena saat ini mainan-mainan modern begitu membanjir di mana-mana. Ayos juga menceritakan sedikit mengenai permainan-permainan tradisional yang makin menghilang. Anak-anak dengan mudah membeli mainan jadi yang menarik dan dipenuhi berbagai kecanggihan terkini. Tak jarang mereka jauh lebih piawai daripada orang dewasa dalam menggunakan handphone, Blackberry, atau perangkat elektronik terkini lainnya.

Bukan berarti kita hendak menentang penggunaan alat-alat elektronik tersebut. Tapi kenapa tidak kita sekali-sekali kita sedikit mencoba alternatif lainnya, yang dapat dibuat dari barang-barang (bekas) sekitar? Atau menengok kembali dolanan lama? Selain merangsang sistem kognisi dan kreatifitas yang berbeda, proses membuat mainan sendiri juga mendekatkan si anak dengan mainannya. Terlalu sering, membeli mainan jadi juga membuat anak cepat bosan dengan mainannya. Mungkin dengan melibatkan anak dalam proses pembuatan mainan mereka sendiri, dapat membuat mereka sedikit lebih menghargai dan mendekatkan mereka dengan hasil karya mereka sendiri.

Paling tidak, begitulah harapan kami untuk workshop kecil ini. Terima kasih banyak kepada Heroes Ct. dan Ayos Purwoaji atas workshopnya yang mencerahkan. Bagi yang kelewatan acara ini, masih ada banyak rangkaian acara Eat, Play, Laugh lainnya selama akhir pekan di bulan Juli: hypnotic storytelling, pentas boneka, workshop menghias kue, dan workshop komposisi musik.

Untuk jadual Eat Play Laugh, lihat: http://c2o-library.net/2011/07/eat-play-laugh/
Keterangan lebih lanjut, hubungi: c2o.library@yahoo.com atau 031-77525216. Sampai ketemu!

Re-make+Re-use Toys

Workshop membuat mainan dari barang bekas: Mari mengolah barang-barang di sekeliling kita menjadi mainan! Minggu, 17 Juli 2011, pk. 16.00-18.00 Bersama Heroes Ct., komunitas penggemar dan pembuat toys yang terdiri dari mahasiswa desain produk dan DKV dari berbagai kampus di Surabaya, dan Ayos Purwoaji, editor-in-chief hifatlobrain. Bawa berbagai barang bekas seperti kain perca, karton, kardus, …

Cookie Decorating Workshop

Bergabung di C2O untuk workshop menghias kue kering untuk anak-anak. Buat kue khusus untuk orang tua atau sahabatmu dengan hiasanmu sendiri!

Minggu, 24 Juli 2011, 14.00-16.00
Untuk 4 tahun ke atas (di bawah 4 tahun, harus dengan supervisi)

Investasi: Rp. 45.000

Fasilitas:
– Tote bag untuk dihias
– Cookies
– Materi dekorasi kue
– Resep kue untuk dibuat lagi di rumah

Acara ini adalah bagian dari festival Eat, Play, Laugh yang diadakan selama bulan Juli di Perpustakaan C2O. Pendaftaran terakhir tgl 20 Juli 2011. Tempat terbatas!
Hubungi:
Yuli 031-77525216
Email: c2o.library@yahoo.com

Workshop Postcard

Sebagai bagian dari projek Postcards from Bookworms, projek kolektif di mana khalayak umum dapat menginterpretasikan buku yang berkesan melalui kartu pos yang akan kami pamerkan di akhir bulan, kami mengundang kawan dan sahabat untuk membuat kartu pos mengenai buku bersama Butawarna Design di C2O.

Sabtu, 9 dan 16 April 2011, pk. 14.00
Perpustakaan C2O, Jl. Dr. Cipto 20 Surabaya 60264 (jalan kecil seberang konjen Amerika – peta lokasi).
Gratis dan terbuka untuk umum.