Mastodon

Reportase: Membuat mainan di Akhir Pekan

Minggu sore, 17 Juli 2011, Nadhif, Ayesha, Revy, Firly dan Selvi berkumpul di ruangan perpustakaan C2O untuk mengikuti workshop Re – Make + Re – Use Toys.  Dalam workshop ini, Agus dan Rendra dari Heroes Ct, komunitas penggemar dan pembuat toys, dan Ayos Purwoaji memperagakan pengolahan dan pembuatan mainan dari barang-barang bekas seperti kardus, kancing, benang dengan menggunakan gunting dan lem.

Meskipun awalnya anak-anak ini tampak bingung melihat contoh mainan-mainan daur ulang yang dibawa Heroes Ct, dengan cepat mereka turut asyik bergabung membuat mainan mereka.  Menarik melihat bagaimana dari bahan-bahan sederhana ini, mereka bisa membuat berbagai boneka: kepiting, kura-kura, keong, mainan tank, pesawat terbang, dan lain sebagainya.

Ingatkah saat kita kecil dan membuat mainan sendiri, entah mainan karet, kertas lipat, daun singkong, kulit jeruk atau batok kelapa?  Dari kardus-kardus bekas yang kita bayangkan sebagai lorong-lorong dan rumah-rumahan?  Hal-hal yang sederhana ini bermain-main dengan dunia imajinasi kita. Sayangnya, daya imajinasi dan kreatifitas spontan seperti ini makin terkikis dari kehidupan kita sehari-hari.  Mungkin salah satunya karena saat ini mainan-mainan modern begitu membanjir di mana-mana. Ayos juga menceritakan sedikit mengenai permainan-permainan tradisional yang makin menghilang.  Anak-anak dengan mudah membeli mainan jadi yang menarik dan dipenuhi berbagai kecanggihan terkini.  Tak jarang mereka jauh lebih piawai daripada orang dewasa dalam menggunakan handphone, Blackberry, atau perangkat elektronik terkini lainnya.

 

Bukan berarti kita hendak menentang penggunaan alat-alat elektronik tersebut.  Tapi kenapa tidak kita sekali-sekali kita sedikit mencoba alternatif lainnya, yang dapat dibuat dari barang-barang  (bekas) sekitar?  Atau menengok kembali dolanan lama?  Selain merangsang sistem kognisi dan kreatifitas yang berbeda, proses membuat mainan sendiri juga mendekatkan si anak dengan mainannya.  Terlalu sering, membeli mainan jadi juga membuat anak cepat bosan dengan mainannya.  Mungkin dengan melibatkan anak dalam proses pembuatan mainan mereka sendiri, dapat membuat mereka sedikit lebih menghargai dan mendekatkan mereka dengan hasil karya mereka sendiri.

[nggallery id=5]

Paling tidak, begitulah harapan kami untuk workshop kecil ini.  Terima kasih banyak kepada Agus Tri Pamungkas dan Rendra Firdaus dari Heroes Ct. dan Ayos Purwoaji atas workshopnya yang seru dan mencerahkan.  Bagi yang kelewatan acara ini, masih ada banyak rangkaian acara Eat, Play, Laugh lainnya selama akhir pekan di bulan Juli: hypnotic storytelling, pentas boneka, workshop menghias kue, dan workshop komposisi musik.

Untuk jadual Eat Play Laugh, lihat:  http://c2o-library.net/2011/07/eat-play-laugh/
Keterangan lebih lanjut, hubungi: c2o.library@yahoo.com atau 031-77525216.  Sampai ketemu!

Email | Website | More by »

Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.

Leave a Reply