Platform

by
June 6, 2010 00:16

The long and empty platform
The wait seems never ending
The long wagons are carrying my short-lived love

The long and empty platform
Lonely, we can only wait
All my love is out-bound
Nothing on the in-bound train

…waits forever…

Platform adalah film ketiga dari trilogi film Jia Zhangke dengan cerita berkisar propinsi Shanxi, propinsi asal sang sutradara. Trilogi ini terdiri dari 1) Xiaoshan Hujia (Xiaoshan kembali pulang), 1995 – film yang relatif masih jarang diketahui dunia internasional; 2) Xiaowu (Pencopet, semacam tribut terhadap Robert Bresson), 1997; 3) Zhantai (Platform), 2000.  Ketiga film ini dibuat di luar birokrasi perfilman negara, sementara Jia Zhangke sendiri baru mendapat legitimasi dari Cina di tahun 2004 dengan The World (kami putar di C2O Januari lalu).

Dalam setiap film trilogi ini, tokoh utama laki-laki diperankan oleh Wang Hongwei, teman sekelas Jia (di sekolah film Beijing?) yang sekilas tampak seperti tipikal “antihero”: pendek, kurus, berkacamata tebal (sedikit mengingatkan kami pada Woody Allen, hanya lebih nerdy). Seringnya (dengan sedikit konyol-konyol menyedihkan) dia berusaha memberontak (entah kepada orang tua, negara, tradisi) ala anak durhaka (prodigal son), dan bernasib sial.

Platform diambil dengan setting Fenyang, Shanxi, kota asal Jia sendiri, dan bercerita mengenai bagaimana satu rombongan hiburan kota kecil menghadapi perubahan-perubahan personal dan sosio-ekonomi yang berlangsung sirka 1979-1989, dekade reformasi ekonomi Deng Xiaoping.  Judulnya diambil dari lirik lagu populer saat itu, mengenai menunggu di platform.

Pentas rombongan budaya di awal film, Perjalanan Kereta Menuju Shaoshan

Para performer—penari, penyanyi, pemain drama—awalnya tergabung dalam Kelompok Budaya Rakyat Fenyang (Fenyang Peasant Culture Group), rombongan teater di bawah sokongan negara yang mempromosikan propaganda Mao.  Anggota rombongan—terutama yang berusia 20-30an—kebanyakan merasa frustasi dengan batasan dan “kekolotan” tradisi desa asal mereka.  Memasuki era  Deng Xiaoping, mereka menghadapi beberapa hal-hal baru, antara lain: pilihan privatisasi, menampilkan pertunjukan-pertunjukan yang lebih “cantik” seperti yang sudah dilakukan di kota-kota besar, gaya hidup, baju dan musik trendi, dan berkeliling keluar dari tempat asal mereka ke kota-kota lainnya, “untuk melihat dunia.”

Sisa-sisa tradisi lama tak disangkal cukup kuat terasa di Fenyang, bagian utara Cina, apalagi dengan komunitas-komunitas semirural yang raket.  Konflik antara generasi tua dan muda seperti biasa berkisar pada “pengaruh buruk setan kapitalisme Barat”.  Kaum “muda” di sini diwakili oleh dua pasangan yang terlibat secara romantis dalam rombongan tersebut: Cui Mingliang (Wang Hongwei) dan Yin Ruijian (Zhao Tao); Zhang Jun (Lian Jingdong) dan Zhong Ping (Yang Tianyi).    Keempatnya—seperti juga anak-anak muda lainnya—mengikuti perkembangan dan informasi luar dari iklan, fiksi roman, dan sinema Hollywood yang mulai membanjiri Cina di awal tahun 1980an, juga informasi-informasi mengenai kota-kota besar.

Film dibuka dengan pertunjukan musikal berjudul, “Perjalanan Kereta Api Menuju Shaoshan[1].”  Kemudian, menyusul setelah kredit judul Zhantai (Platform), kita melihat shot kemilau Guangzhou[2]. Di adegan berikutnya, Mingliang meminta ibunya memodifikasi celananya menjadi bell-bottom. Tentu saja, ibunya mengomel-ngomel, “Ngapret begitu, tidak bisa pakai penghangat celana, apa tidak kedinginan?” walaupun tetap saja ia menuruti permintaan Mingliang.  Ayahnya juga memarahinya, “Bagaimana kamu bisa bekerja dengan memakai celana seperti itu?”  (Menariknya, Jia pun memutarbalikkan omelan “pro-tradisi” ini sebagai retorika kosong.  Nyatanya, ditunjukkan ayahnya juga menghabiskan uangnya untuk pasangan selingkuhnya, meninggalkan rumah tangganya dan membuka toko baru bersama selingkuhannya.)

Ibu Mingliang memodifikasi celana bellbottom Mingliang.  Lihat dong foto Deng di belakangnya…

Sementara ayah Ruijuan juga tidak menyetujui hubungan Ruijuan dengan Mingliang. Omelnya melihat Ruijuan keluar dari bioskop yang memutar film India (di bawah foto Lenin dan Stalin), “Kamu mudah sekali terbawa-bawa, selalu melihat film-film asing!”  Menyusul setelah peringatan ayah Ruijuan, kita melihat rendesvouz Ruijuan dan Mingliang dengan latar belakang tembok-tembok tebal arsitektur lama nan suram, menekan, forbidding.  Jia sengaja mengambil adegan dengan latar belakang tembok-tembok tersebut; dia tidak mengambilnya di Fengyan, tapi di Pingyao, kota lain di propinsi Shanxi yang terkenal akan arsitektur kunonya dari dinasti Ming klasik (1368-1164 SM).

Ketika akhirnya rombongan tersebut melakukan tur keliling, Ruijuan—karena kondisi kesehatan ayahnya—memilih tetap tinggal di Fenyang.  Melalui perjalanan ini kita melihat perubahan sikap dan (menyusutnya) kegairahan anggota rombongan.  Mingliang berjumpa dengan sepupunya yang buta huruf, Sanming, bekerja di pertambangan batu bara dengan gaji rendah (10 yuan), tanpa jaminan.  Keesokan harinya, Sanming bahkan memberikan  gaji yang baru diterimanya kepada Mingliang untuk biaya sekolah adiknya di Fenyang.  Episode di pertambangan batu bara ini sebenarnya dibuat berdasarkan kisah nyata pengalaman Jia Zhangke dengan sepupunya sendiri saat sedang syuting di Shanxi.  (Dan pemeran sepupu Mingliang dalam film ini diperankan oleh sepupu Jia.)

Jika Mingliang dan Ruijuan tampak sedikit canggung dalam ketegangan tradisi lokal, pasangan lainnya, Zhang Jun dan Zhong Ping, tampil lebih “berani”, seperti juga terlihat dari mode pakaian, perawakan dan tindak-tanduk mereka. Zhang Jun adalah satu-satunya anggota rombongan yang telah pergi melihat Guangzhou, dan kembali membawa cerita-cerita dan hal-hal dari kota besar tersebut.  Sementara Zhong Ping mengeriting rambutnya, membuat semua orang sedikit bengong dalam pertemuan rombongan mereka mengenai pembaharuan program, dan tampil menggairahkan membawakan tarian seksi flamenco.  Namun, kita menyaksikan pula ketakutan dan frustasi Zhong Ping ketika harus melakukan aborsi, ditangani oleh dokter teman pemimpin rombongan untuk menjaga rahasia.  Ada semacam ketidak simpatian dari Zhang Jun yang sebelumnya tampil begitu flamboyan.  Dengan sedikit mengejek, adegan di rumah sakit tersebut disertai suara berita Deng Xiaoping menginspeksi parade militer HUT ke-35 PRC di Tianenmen Square pada tanggal 1 Oktober, 1984.  Kemudian, Jia menampilkan mereka dengan acuh bermain mahjong, tidak menggubris Zhong Ping.

Zhong Ping menari flamenco. Kali ini almarhum Oom Mao di pigura…

Ada kekuatan yang juga rapuh dalam diri Zhong Ping.  Dia menginginkan kebebasan, dan di hotel—setelah sedikit mengomentari “kekolotan” Ruijuan dan Minglian—terlihat begitu sumringah dengan Zhang Jin. “Tidak ada yang tahu kita di sini, tidak ada supervisi.”  Tapi pada akhirnya pun, mereka ditangkap polisi.  Dan ketika Zhong Ping tetap tampil dengan berani, menentang dan membela status mereka, sebaliknya Zhang Jun malah dengan pasrah—takut, lemah mungkin—mengaku bahwa mereka belum menikah.  Beberapa hari kemudian, Zhong Ping menghilang, dan tidak pernah muncul lagi.  Zhang Jun bahkan tidak (berani) berkata apa-apa terhadap ayah Zhong Ping ketika ia tahu Zhong Ping menghilang.

Di adegan berikutnya, Mingliang mengirimkan lagu melalui radio untuk Riujuan.  Kita melihat adegan tarian yang berbeda jauh dengan tarian seksi  berani yang dibawakan Zhong Ping di awal film—tarian yang sendu, privat, tersembunyi di dalam ruangan birokrasi pajak.  Perbedaan pembawaan tarian juga tampak dalam adegan joget yang awalnya terasa begitu bersemangat (walaupun naif dan konyol), mendekati akhir film dihadirkan kembali menjadi adegan yang kaku, bising dan menyedihkan.

Mendekati akhir, Zhang Jun memotong rambut gondrongnya, dan kembali seperti penampilan semulanya.  Mingliang berjumpa kembali dengan Ruijuan, yang kini berkerja sebagai penagih pajak. Perjumpaan-perjumpaan ini digambarkan dengan acuh, tanpa melodrama atau romantisisme berlebihan.  Namun terasa adanya kesedihan, dan ketiadaan Zhong Ping bagaimanapun membayangi hingga akhir film.  Setelah Mingliang mengunjungi toko selingkuhan ayahnya untuk memintanya lebih sering kembali ke rumah, kita melihat Ruijuan bermain-main menggendong anak kecil, sementara Mingliang menggeletak (kelelahan) di atas sofa, rokok di tangan.

Family Life?

Boleh dibilang, Platform menampilkan alegori transisi (yang jauh dari mulus) Maoisme menjadi ekonomi liberal di tahun 1980an.  Ceritanya sendiri cukup sederhana, sedikit jayus bahkan, tapi terasa sangat manusiawi.  Kami semua banyak tertawa-tawa nostalgik menontonnya.  Beberapa dari kami merasa bahwa pertunjukan Kelompok Budaya Rakyat di awal film terlihat jauh lebih menarik, tapi bisa jadi itu karena kami melihatnya sebagai novelty.  Apakah seperti halnya kita kini melihat mainan dan hal-hal jadul sebagai barang koleksi (collector’s items)?  Entahlah.

Melalui Platform, kita dapat melihat berbagai hal yang kerap dibahas berkaitan dengan reformasi ekonomi, baik di Cina maupun di luar (termasuk Indonesia?): kesenjangan ekonomi,  pengangguran atau kehidupan buruh yang tidak terjamin, kemilau urbanisasi dan ketegangan lokal, pengaruh budaya yang cenderung dipandang koruptif/ merusak, semuanya dituturkan dengan sederhana, sedikit malu-malu, mungkin pesimis (untuk tidak menyebutnya sinis).  Dan di tengah kegelisahan-kegelisahan tersebut, ada semacam “nostalgia” dan kerinduan: akan figur pemimpin, tradisi, satu pegangan, rumah tangga, apapun—meskipun belum tentu akan memberi sesuatu yang lebih baik.

Pemutaran dihadiri oleh Sam, Anitha Silvia, Erlin Goentoro, menyusul Andy Bud, Ari Kurniawan dan Benny Soekendho.
Snack: Tinta membagi-bagikan kacang dan biskuit gandum Roma (favorit terbaru kami semua!) dan Erlin membawakan brownies super lezat buatannya yang langsung diserbu ketek-ketek kelaparan di C2O (hehehe).
Terima kasih atas kedatangan dan dukungannya!

Referensi:

Lu, Sheldon H. and Yeh, Emilie Yueh-yu. 2005. Chinese-Language Film: Historiography, Poetics, Politics. Honolulu: University of Hawai’i Press.  (No. Panggil: 791.430951 LUS Chi)


[1] Shaoshan adalah kota kelahiran Mao, dan merupakan situs keramat Partai Komunis Cina (CCP).

[2] Kota-kota di bagian selatan Cina umumnya adalah kota-kota pertama yang dipilih untuk ekonomi terbuka Deng. Guangzhou terletak di propinsi Guangdong, sementara Shanxi di utara Cina.

Categories: Film reviews
Tags:

: Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya