Blue Velvet

by
May 21, 2010 03:46

Dengan setting Lumberton, kota kecil berdasarkan kota asal Lynch di Spokane, Washington, dalam era waktu awal Amerika 1980an, era Reagan (1981-1989), BV menampilkan suasana ideal suburban, kota kecil yang tampak damai dan tenang. (Meskipun opening dan musik pembukanya pun sudah agak mencurigakan.) Pemeran utama, Jeffrey, tampil clean cut, tampan, bermobil. Investigasi Jeffrey atas potongan telinga yang ia temukan sepulang menjenguk ayahnya dari rumah sakit mempertemukannya dengan putri detektif polisi lokal, Sandy. Cantik, pirang, bermata biru, berpacaran dengan football quarterback (stereotip jock populer), dan gemar mengenakan warna-warna pastel.

Di balik facade surga suburban tersebut, terasa berbagai macam gangguan kecil yang mengusik: entah dalam bentuk serangga (dengan bunyi-bunyiannya), dialog-dialog klise yang kaku, seolah-olah merayakan sekaligus memparodikan sunny exterior dan kekerasan/ kebusukan. Dunia kriminal, sex abuse, dan obat-obatan terlarang. Bahkan, kemunculan pertama Sandy—epitome kepolosan—pun penuh misteri, di mana dia tiba-tiba timbul dari background serba gelap.

BV dibuat setelah kegagalan Lynch selesai membuat Dune (1984). Naskah screenplaynya harus melewati berbagai pihak dari akhir 1970an hingga awal 1980an. Studio-studio besar banyak menolaknya karena kentalnya unsur seksual dan kekerasan. Akhirnya De Laurentiis Studio, yang juga turut memproduksi film-film Fellini seperti La Strada, Nights of Cabiria, dan film-film komersil lainnya seperti King Kong Remake (1976), Orca (1977), dan film Lynch sebelumnya, Dune (1984). Budgetnya “hanya” $6.000.000, terkecil dari produksi De Laurentiis, dan memotong gaji Lynch.

Judul Blue Velvet diambil dari lagu Bobby Vinton dengan judul yang sama (1963), dinyanyikan ulang oleh Dorothy Vallens (Isabella Rossellini) dalam film. Dikatakan, sebenarnya Lynch awalnya ingin menggunakan lagu Tim Buckley, Song to the Siren, tapi sayangnya dia tidak berhasil mendapatkan hak penggunaannya. (Sayang. Lagu yang sangat indah, tapi saya memang sangat parsial terhadap Buckley, he he he.) Lynch pertama kali bekerja sama dengan Angelo Badalamenti dalam film ini, dan akhirnya mereka jadi sering bekerja sama di film-film berikutnya. Badalamenti dan Lynch berkolaborasi membuat lagu “Mysteries of Love”, di mana Lynch menulis liriknya, sementara Badalamenti membuat musiknya. Atas permintaan Lynch, Badalamenti juga sempat muncul dalam BV sebagai pianis.

Film ini mengangkat kembali kiprah akting Dennis Hopper yang sempat tenggelam setelah sukses dengan Apocalypse Now. Dikatakan, Dennis Hopper sangat menyukai perannya sebagai Frank—dia merasa Frank adalah dirinya. BV juga mengawali karir Isabella Rossellini yang sebelumnya lebih terkenal sebagai model Lancome.

Tema, motif, simbol

  • Suburban, ideal Americana >< underworld sickness, horror, violence
  • Penggunaan warna merah yang sensual dengan biru: apartemen merah intens & eyeshadow biru, palet biru & merah di klab, hingga ke poster…
  • Serangga: mengerogoti potongan kuping, disorot dengan bunyi-bunyinya yang mengganggu, Jeffrey sebagai pembasmi serangga.
  • Telinga: adanya shot masuk ke dalam telinga, kemudian mendekati akhir film, keluar dari telinga. Masuk dan keluar dalam underworld otak kita?
    Jelas Lynch mengenai potongan telinga: “I don’t know why it had to be an ear. Except it needed to be an opening part of the body, a hole into something else… The ear sits on the head and goes right into the mind so it felt perfect.”
    Serangga-seragganya, mungkin sedikit mengingatkan kita pada Un Chien Andalou.
  • “The virgin” >< “the whore”
  • Absurditas & horor kehidupan sosial dan keluarga, terus bermunculan dalam film-film Lynch.
  • Ayah-ayah sah yang impoten, tak berdaya: Ayah Jeff di Rumah Sakit, sementara Ayah Sandy—detektif polisi—menolak memberi informasi kepada Jeff. Dorothy dan Frank seolah-olah menjadi orang tua asuh (surrogate) yang mengajari, menginisiasi seksualitas, cara-cara meminum bir, dan tata cara di Pussy Heaven.
  • Bir: Jeff meminum Heineken, Ayah Sandy memilih Budweiser (“king of beers”), sementara Frank, Pabst Blue Ribbon.

Interpretasi dan Kritik Umum

Ada beberapa interpretasi umum dan kritik terhadap Blue Velvet, di sini kami cantumkan hanya sebagai catatan. Silahkan pembaca menilai sendiri, atau lebih baik lagi, menontonnya sendiri.

  • Banyak penilaian dan kritik terhadap BV yang menggunakan analisa Freudian, dengan mengandaikan BV sebagai perlakonan skenario drama-tragedi Oedipal: Frank sebagai ayah, Dorothy sebagai ibu, dan Jeff sebagai anak. Jeff melihat adegan “primal” ayah dan ibunya bercinta. Dibandingkan dengan ayah kandung Jeff, Frank “membimbing” Jeff mengenai seks, kekerasan, tata krama di “Pussy Heaven”, bir, dsb. Frank sebagai id yang tidak terkontrol, dan penggunaan baby talk semacam daddy, mummy dan baby. (Sebagai contoh, lihat Biga, 1987.)
  • Kritik terhadap pandangan laki-laki dominan (misoginistik). Tapi perlu diingat bahwa meskipun penonton dapat melihat tubuh telanjang Dorothy, adegan dilakukan secara non-erotik. BV mendorong (sedikit) rasa malu dari penonton karena telah melihatnya, karena menyaksikan impuls sadistik (di layar maupun dalam diri mereka).
  • Binari kepolosan & kekerasan yang (sedikit) menyederhanakan, kerap muncul dalam film-film Lynch

Pemutaran kali ini dihadiri oleh Erlin, Carlos, Poedjiati, Ernest, dan Pak Hadi. Malamnya, menyusul kedatangan teman-teman dari Yogyakarta, Muklas dan Banu.

Blue Velvet
Director & scriptwriter : David Lynch
Photography: Frederick Elmes
Editor: Duwayne DunhamMusic: Angelo Badalamenti
1986 | USA | 120 mins | Warna | 18+ | Bahasa Inggris dengan teks Inggris

Categories: Film reviews
Tags:

: Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya