The Straight Story

by
June 1, 2010 19:40  |  1 Comment

Dibuat berdasarkan kisah nyata, The Straight Story menceritakan perjalanan Alvin Straight dari Iowa ke Wisconsin.  Setelah kredit pembuka dengan latar belakang langit malam berbintang, film ini dimulai dengan shot aerial kota kecil Iowa, dengan gerakan lambat dan akhirnya membawa kita ke halaman rumah sederhana yang nyaman. Seorang ibu-ibu gemuk berjemur diri, tangannya meraba-raba mencari kue yang telah ia siapkan. Tak lama kita dengar bunyi gedebugan, sedikit erangan pelan, mengingatkan kita pada adegan ayah Jeffrey Beaumont di Blue Velvet.

Tapi berbeda dengan Blue Velvet—ataupun film-film Lynch lainnya mungkin—The Straight Story tidak menunjukkan kekerasan, seks, ataupun kegelapan di balik surga terang Amerikana. Tidak secara langsung. Film ini berjalan secara linear, cukup konvensional. Tidak terasa banyak pencampuran waktu maupun tempat, meskipun tetap saja, memori dan ingatan terpendam perlahan-lahan diungkapkan melalui dialog, alusi dan metafor.

Judul film, selain berfungsi sebagai permainan (pun) nama keluarga Alvin, juga mengingatkan kita untuk melihat di balik permukaan, terutama tokoh utamanya.  Alvin Straight adalah seorang veteran PD II, kakek yang tampak jujur, pekerja keras dan blak-blakan, jika sedikit keras kepala.  Dia tinggal berdua bersama putrinya, Rose, seorang perempuan dengan gangguan bicara (atau neurologis) yang baik dan perhatian. Kesehatan Alvin sudah sangat menurun—di awal cerita, dia ditemukan terjatuh dan tak bisa berdiri di rumahnya—tapi dia tidak mau mendengarkan nasehat dokter. Dan dengan kepala batu yang menjengkelkan sekaligus menggemaskan, Alvin bersikeras mengunjungi saudaranya di Wisconsin dengan mengendarai mesin pemotong rumput selama 6 minggu dari Iowa karena dia tidak bisa mendapatkan SIM.

Metafor dan alusi kerap digunakan dalam film-film Lynch (paling tidak, sejauh yang telah kami tonton). Bola mainan yang menggelinding sepi, rumah yang terbakar, perempuan histeris penabrak rusa, dan curhat veteran perang di bar, semuanya memberi sedikit petunjuk dan gambaran tentang cerita-cerita yang tak terungkapkan, bayang-bayang dan ingatan akan kegagalan dan kejahatan Alvin. Dia (sangat) menyadari kesalahannya; kesalahan dan kerusakan yang berdampak tidak hanya pada dirinya tapi juga pada orang-orang sekitarnya.

Kita mendapatkan potongan-potongan masa lalunya dari cerita-cerita dan nasehat yang diutarakannya, tapi kita juga dapat melihat adanya kontradiksi dan hal-hal yang tidak dia utarakan. Petunjuk pertama kita dapatkan dari nasehat yang ia jabarkan kepada seorang gadis yang lari dari rumahnya karena hamil. Sambil menikmati api unggun perkemahan, Alvin menekankan “nilai-nilai keluarga” melalui ceritanya tentang putrinya Rose, yang kehilangan empat anaknya bukan karena cacat wicaranya, tapi karena kelalaian “seseorang” menjaga mereka dan menyebabkan anak keduanya menderita luka bakar parah. Selama adegan tersebut, kita melihat imaji-imaji alusif: tembok rumah Alvin dan Rose, bola mainan anak menggelinding sepi di atas trotoar, wajah sedih Rose terpantul pada kaca jendela, dan asap rokok di udara. Apa yang menyebabkan api kebakaran itu? Walaupun Alvin sepertinya sungguh-sungguh ingin membantu gadis tersebut, kita juga menyadari, bahwa apa yang Alvin katakan, sebenarnya juga bentuk dari penyesalan dan keinginan Alvin yang tak terkabulkan.

Imaji api berulang kali muncul—jika tidak sentral—dalam film ini.  Alvin kehilangan kontrol alat pemotong rumputnya di atas tukikan tajam dari atas bukit di mana brigade pemadam kebakaran sedang berlatih memadamkan api di rumah kosong. Dibandingkan adegan-adegan berikutnya yang cenderung lambat dan tenang, kita melihat shot kamera bergerak dengan panik, berpindah-pindah dari close-up wajah ketakutan Alvin dan api di rumah tersebut, dan saat kendaraan berhenti, rumah yang terbakar itu tetap menonjol di latar belakang.  Tentu saja, api unggun dan cerutu terus muncul dalam film.  Tak ayal, kita bertanya-tanya, siapakah “seseorang” yang lalai menjaga anak-anak Rose dan akhirnya membuat mereka terbakar? Metafor dan alusi yang ada tampak menuding sang tokoh utama, Alvin Straight sendiri.

Di episode sebelumnya, seorang wanita, setelah menyalip Alvin dan mesinnya, menabrak seekor rusa. Satu lagi tambahan dari tiga belas rusa yang telah ia tabrak hanya dalam tujuh minggu! Histeria emosionalnya, dan alasan-alasannya—bahwa ia telah melakukan segalanya, membunyikan klakson, membuka jendela, menggebrak pintu, menurunkan jendela, bahkan memutar lagu-lagu keras—terdengar seperti, ya… alasan gombal.  Sementara teriakan terakhirnya sebelum kembali ngebut, “Dan aku sangat menyukai rusa!” terasa konyol. Sangkalan, “Dari mana mereka muncul?” terdengar kosong: nyatanya dia memang ngebut di daerah DILARANG MENYALIP, dan kita juga tidak mendengar klakson yang lama sebelum dia menabrak rusa di luar layar (offscreen). Kenyataannya, dia memang pengemudi payah yang tidak bisa mengontrol dirinya.

Di satu sisi, adegan itu seperti sekedar selingan humor (kami semua tertawa dan geleng-geleng kepala menontonnya), tapi juga berfungsi sebagai bayangan masa lalu Alvin.  Mereka berdua melukai orang-orang dan hewan yang mereka bilang mereka sayangi, dan dengan konyol menolak untuk mengakuinya.  Tanpa banyak bicara, Alvin mengetuk mayat rusa dengan sepatunya, sebelum berikutnya kita saksikan Alvin memasak rusa tersebut di atas api unggun, di bawah perhatian segerombolan rusa yang muncul secara misterius. Tim Kreider dan Rob Content di Film Quarterly bahkan membandingkan kebetulan-kebetulan numerikal tersebut: empat rusa yang memperhatikan Alvin selagi dia memasak daging rusa, dan Rose mempunyai 4 anak. Wanita itu telah menabrak empat belas ekor rusa, dan Alvin mempunyai empat belas anak. Sedikit berlebihan mungkin, tapi tidak bisa kita sangkal, Lynch sendiri bahkan dua kali menyorot merk mesin pemotong rumputnya, “John Deere”, dan kita melihat tanduk rusa itu dipasang di belakang Alvin, seolah sebagai pengingat sekaligus jimat perjalanannya.

Dari pembicaraannya dengan sesama veteran perang, kita mendengarkan ingatan dan penyesalan, yang dengan hati-hati disamarkan, mengenai horor Perang. Bagaimanapun juga, salah satu dari tema utama film ini adalah dampak dan luka psikologis PD2, bagaimana para veteran memalingkan diri pada minuman keras, dihantui ingatan buruk, dan mengasingkan mereka dari keluarga mereka.  Perjalanan Alvin, dengan batasan-batasan keras yang ia tentukan sendiri, adalah cara yang ia buat sendiri untuk menebus dirinya menjelang akhir hayatnya. Tak ayal, kita juga melihat imaji-imaji relijius melalui petanda jalan, kuburan dan gereja dalam film ini. Palet musim gugur yang hangat dan cerah, nasehat dan cerita bijak dalam film ini, ada bersama bayang-bayang penyesalan atas masa lalu yang hendak ditebusnya.

Resensi ini juga tersedia dalam Bahasa Inggris.
TheStraightStoryThe Straight Story (1999)
Director: David Lynch
Producer: Mary Sweeney, Neal Edelstein
Writers: Joan Roach, Mary Sweeney
Cinematographer: Freddie Francis
Editor: Mary Sweeney
Production designer: Jack Fisk
Music: Angelo Badalamenti
Distributor: Walt Disney Pictures
Budget: around USD 10,000,000
Duration: 112 minutes


Based on a true story, The Straight Story chronicles the journey of Alvin Straight from Iowa to Wisconsin.  After an opening credit with starry night background, the film begins with aerial shots of a small rural town, slowly drifting and finally settling in a neatly-mown suburban yard where a fat woman suntans herself on a lawnchair while blindly groping for hot pink Sno balls.  We heard a small thud, a cry, recalling the stroke that befell Jeffrey Beaumont’s father in Blue Velvet. We wait for that inevitable Lynchian descent into the darkness.

But unlike Blue Velvet—or any other Lynch’s films perhaps—The Straight Story presents us none of the violence, sex, the ugly underbelly of the Americana. At least, not explicitly.  The film unfolds in a linear, conventional way. We see none of the usual disruption of time and space, yet at the same time, repressed memories, cautiously guarded by these seemingly nice, warm and loving people, are gradually revealed and alluded to.

The title, aside from the obvious pun, serves almost as a hint to look below the surface, behind the mild, bucolic demeanor, particularly on the protagonist himself.  Alvin Straight is a World War II veteran, a seemingly honest, genuinely hardworking, direct rural old man. He lives with his daughter, Rose, a kindly, caring woman with a speech (or neurological) impediment. His health is failing, yet he refused to heed the doctor’s advice, and with a mind-boggling recalcitrance, insists upon visiting his falling-out brother Lyle in Wisconsin by driving a lawnmower alone for around 6 weeks from Iowa, all the while subsisting on processed meat despite the doctor’s warning about his diet. Hardly a mere stubbornness of an eccentric old man.

Suggestive, conspicuous visual metaphors of untold stories are hallmarks of Lynch’s movies (at least, in the small number that we have seen). The allusive rolling ball, the burning house, the hysterical woman hitting a deer on a highway, and war veteran stories told in a bar, are all clues to the untold stories behind, the echoes and reminders of Alvin’s crimes and failures. He’s aware of his faults, that he’s capable of great meanness, and the grave damages that he’s inflicted not just upon himself but people that he claims to love.

We assemble pieces of his past from stories and advices he tells to strangers, but there are gaps and contradictions.  The first clue we get from the ostensibly innocuous advice he dispenses to the pregnant runaway who shares his campfire. Emphasising upon maudlin familial bond and values, he says of his daughter, Rose, who lost her children to the state not because of her own disability (speech/neurological impediment), but because “the second boy got burned real bad” when “somebody else was supposed to be watching [the children].” All the while during his speech, we see a series of allusive, dissolving images: “the bare yellow wall of Alvin and Rose’s house with a fly- swatter hanging from a nail; a child’s ball rolling slowly down the sidewalk; Rose’s wistful face reflected in the window glass; cigarette smoke curling in the air.” What causes the fire? While he seems to genuinely want to help the girl with his advice, we gradually and uncomfortably realise that what Alvin’s saying has a lot to do with his own unrequited wishes and regrets.

Images of fire are recurrent througout—if not central to—the film. Alvin lost his control of the lawnmower as he drove downhill where a fire brigade is conducting a training exercise on a burning, abandoned house. As he veered sharply and desperately tries to brake, the camera echoes the chaotic movement between Alvin’s frantic face and the burning fire. His face displays inexpressible terror that transcends his immediate situation, and the image of the burning house looms in the background. And let us not forget the crackling campfires he builds everynight and his cherished cigars. Innocent pyro-images, perhaps, but we are led to wonder, who’s that “someone else” who let Rose’ children get burned? The metaphors and gestures seem to point to the uncomfortably self-aware protagonist.

In the previous episode, a hysterical woman, after speeding past Alvin, hit a deer, another unlucky victim to add to the thirteen ones she has hit in the past seven weeks. Her emotional hysteria, that she’s tried everything, honking the horn, rolling down the window, banging on the door, or playing the Public Enemy loudly, concluded with a final disgusted shriek, “And I love deer!” before zooming away, is a ridiculously comic scene. Her rhetorical denial, “Where do they come from?” rings hollow: she was speeding in a no passing zone, and really, we hardly hear any cautious honk before she hits the deer offscreen.

On one level it’s a funny, cliché cheap gag (we all laughed watching it), but it also echoes if not reminds one (and Alvin) of Alvin’s own reckless past.  They have both inflicted damages on people and things they claim to love, and futilely deny the consequences. Thoughtfully, almost ruefully, Alvin prods on the dead deer, and in the very next scene we see Alvin roasting the venison while an inexplicable herd of deer watches over him. Tim Kreider and Rob Content in Film Quarterly even drew the numerical comparison: four watching deers, and Rose has four children. Fourteen dead deers, and Alvin has fourteen children. (Piffling coincidences, perhaps, but hey, we are a persnickety crowd that takes delights in connecting lame trifles.) And let us not forget the lawnmower’s brand, John Deere, twice shot in close-up, and the deer’s antlers visibly mounted on the front of Alvin’s rig.

From his conversation in a bar we hear his painful memories and remorse, carefully shrouded, of World War II.  At the heart of its story, we see how the horror of World War II psychologically and physiologically damage the veterans—disillusioned,  drunk, estranging them from their families.  This road journey, with its self-imposed restrictions, is an attempt to atone himself while his time is nigh.  And we do see images of religious pilgrimage (road sign, parish cemetery, allusion to Cain and Abel) throughout the film.  The bright and warm autumnal palette, the wisdom and helpful advice, comes with a shadow from a remorse of past experiences that Alvin is trying to atone for.
TheStraightStoryThe Straight Story (1999)

Director: David Lynch
Producer: Mary Sweeney, Neal Edelstein
Writers: Joan Roach, Mary Sweeney
Cinematographer: Freddie Francis
Editor: Mary Sweeney
Production designer: Jack Fisk
Music: Angelo Badalamenti
Distributor: Walt Disney Pictures
Budget: around USD 10,000,000
Duration: 112 minutes

References:

  • Kreider, Tim and Content, Rob. “Review: The Straight Story” from Film Quarterly, vol. 54 no. 1 (Autumn 2000), pp. 26-33.
  • Cardullo, Bert. In Search of Cinema: Writings on International Film Art. 2004. Canada: McGill-Queen’s University Press, 2004.

 

Categories: Film reviews
Tags:

: Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.
Email this author | Visit author's website | All posts by

One Response

Feed Trackback Address
  1. […] mengendarai mesin pemotong rumput selama 6 minggu dari Iowa karena dia tidak bisa mendapatkan SIM. (sumber)     Watch Movie: The Straight Story (1999)Video hosted by SockShare Quality: […]

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
not-your-world-music-575
Not Your World Music: Noise in Southeast Asia

by c2o library & collabtive
Diskusi buku Not Your World Music: Noise in South East Asia karya Cedrik Fermont & Dimitri della...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya