Film Screening: Changes grow from the smallest things
-->

Pemutaran AeroSon: Musik-Grafik

by
June 16, 2011 00:15

Kita mendengarkan musik sambil melihat wujud visualnya yang bergerak seiring. Dunia paralel audio-visual.
Bersama pembicara dan pengantar: Slamet Abdoel Sjukur.
Sabtu, 18 Juni 2011, pk. 18.00 – selesai
bagian dari pra-acara VIDEO:WRK #02, Surabaya Video Festival.

***

AeroSon dibuat 1996 oleh seorang komponis Belanda Arno Peeters.

Tentang lingkungan bunyi yang mengelilingi kita dan terus menerus berubah. Dulu kita akrab dengan suara air, suara sehari-hari di desa atau binatang, sekarang peralatan telekomunikasi modern dan kebisingan industri menunjukkan kehidupan kota yang semakin sibuk. Bunyi-bunyi yang tidak pernah ada sebelumnya, disebarkan melalui udara oleh pemancar tv dan radio. Mesin penggerak komputer, fax, penjawab telpon, elevator, generator pembangkit listrik, semuanya bergumam bersama-sama tiada hentinya: sebuah simfoni berbagai gelombang yang menghuni udara.

Bunyi-bunyian seperti itu oleh Arno Peeters diramu dengan suara-suara masyarakat Indian Makaron (sebuah suku di Amazon) yang hidupnya masih seperti di Zaman-Batu. Dari rekaman tiupan tabung panjang mirip didgeridoo aborigin, dan ritme yang mereka lakukan untuk mengatur waktu, terdengar seperti bunyi printer dot-matrix. Bunyi-bunyi peradaban tua dipertemukan dengan belantara bunyi teknologi. Kita tersambung ke seluruh jaringan dan sekaligus merasa terpencil.

 

(B)

A  e  r  o  S  o  n

(versi 40 menit dari yang asalnya satu jam)

musik grafik karya:

Arno Peeters

1. Memuja Dot Matrix (0’00″-4’15”)

Pertama kali saya mendengar tentang Indian Makaron, satu suku di Amazone, yang masih hidup seperti di zaman batu, saya terkejut dengan suara-suara yang mereka buat selama berjam-jam pada saat saya sedang mabok berat karena tanaman-ganja. Bunyi-bunyi yang seadanya, seperti tiupan tabung panjang mirip digeridoo dan pengaturan waktu dengan ritme terasa seperti dot-matrix printer. Ketika kedua jenis bunyi yang berbeda ini saya campur, luar biasa serasinya, seolah-olah suku itu menemukan mesin tersebut secara kebetulan dan kemudian memujanya sebagai dewa. Konfrontasi aneh ini mengilhami musik saya AeroSon: betapa telah berubahnya makna bunyi.

Dulu kita berteriak bersama serigala-serigala, bernyanyi seperti burung, dan saling bercerita tentang pengalaman-pengalaman di dalam hutan.

Sekarang berubah menjadi belantara baru: telpon-telpon genggam, mesin-mesin penjawab, mobil-mobil yang merajalela, semuanya menyatakan kemulyaan pribadi . . . ada yang lebih dari itu ?

2. Ke-gatal-an Gelombang SW (4’15″-5’42″)

Maka mulailah saya mencari padanan antara suara-suara jaman dulu (dari alam) dan yang ada di dunia moderen. Bunyi kode-kode Morse yang terdapat di gelombang pendek (SW) radio anda bisa dianggap sebagi suara-suara jengkrik atau kodok di Amazona, isyarat komunikasi diramu dengan suara-suara yang mudah kita kenali, binatang atau musuh

Mengherankan, suara-suara itu selalu muncul tiap kali anda menyalakan radio, sepertinya mereka itu perlu berada di sana, sekalipun tidak ada yang mendengarkan.

3. Hari Perhitungan (5’42″-8’32″)

Hari-Perhitungan dimulai dengan pernyataan David Oppenheimer, ketika dia mencoba menggambarkan perasaannya setelah melihat ledakan bom atom pertama di padang pasir Nevada. Anda dapat menangkap kegelisahannya yang tersirat, karena dia menyadari bahwa yang telah dia ciptakan itu berarti penghancuran masal. Ketercengangan pada ‘membaca yang tersirat’ ini, terasa lebih dahsyat lagi  dengan rekaman-rekaman yang dibuat sesaat sebelum 800 penduduk mengakhiri nyawanya di hutan yang sama di Makaron karena diperintahkan Jim Jones. Mereka berbicara dengan suara ketakutan namun tetap berusaha saling meyakinkan bahwa mereka telah mengambil keputusan yang tepat. Kenapa ini mesti direkam ?

Mikrofon tidak saja memaksa orang untuk berbicara seperti yang diinginkan, tapi juga membuat orang untuk mengatakannya dengan perasaan yang tidak dapat disembunyikan. Bagi saya, ini membuktikan bahwa teknologi itu, betapapun sederhananya, dapat mempengaruhi kita dengan cara yang mengagumkan.

4. AM-orph, gelombang yang berubah-ubah (8’32″-10’34″)

AM lebih dekat dengan tombol radio anda, dari pada SW. Dia seperti anak kecil yang pulang membawa suara apa saja dari seluruh dunia: bahasa-bahasa yang aneh, hal-hal yang sedang terjadi di tempat-tempat yang tidak dapat anda bayangkan. Suara-suara itu memberi suasana nyaman, kehangatan suara-suara gelombang AM. Pada bagian ini, saya mencampur beberapa unsur untuk menciptakan suasana seperti itu: berbagai bahasa yang asing, geliat seekor kucing, suara kebapaan seorang guru tabla, suara-suara dawai yang tidak berkesudahan, jazz.

5. Suara: Jatidiri-1 (10’34″-14’04″)

Saya betul-betul heran, betapa banyak cara yang bisa dilakukan dengan bunyi untuk membedakan seseorang dari yang lain: jenis bunyi telpon ANDA,  stereo ANDA di mobil, mesin penjawab ANDA, Semua itu menjadi jatidiri ANDA, ketika anda tidak berada di tempat. Dan menimbulkan rasa seram terhadap dunia yang hanya dihuni ego gentayangan, sementara tubuhnya sendiri menghindar. “Orangnya sedang keluar, ada urusan…..urusan apa…? ”

6. Dungu (14’04″-16’16″)

Meditasi Makaron yang kedua ini menimbulkan rasa yang sama anehnya dengan dering telpon: kesepian atau menunggu, atau ritme yang diulang-ulangi dan membuat lelap, Pada suara-suara yang sesungguhnya itu, saya tambahkan bunyi telpon sepanjang karya ini.

7. Suara: Jatidiri-2 (16’16″-23’03″)

(seperti penjelasan no.5)

8. AeroSon (23’03″-25’35″)

Sebuah definisi yang mencengangkan tentang bunyi, pernah ditawarkan oleh instrumen yang bernama Theremin, yang dengan gelombang radio dan dari jarak jauh dapat mengubah tinggi-rendah suara anten. Dengan instrumen tersebut saya membuat suara baru. Akhirnya kutambahkan dua musik dari ‘suara udara’: musik bagpipe Skotlandia dan , tentu saja, vokal.

9. Ancaman Komersial-1 (25’35″-29’47″)

Ketika daya tarik teknologi mulai memudar, muncullah ancaman komersial yang bermain ping-pong dengan konsep pengertian. Di dalam kesepakatan perdagangan senjata, tercantum dua hal:  sosok manusia sebagai “sasaran” untuk dibunuh dengan ketepatan tinggi, dan amunisi yang sangat efektif untuk mencapai sasaran.

Tentu ini sebuah contoh yang agak keterlaluan, tapi dalam perdagangan semuanya halal. akal-akalan media untuk membuat sesuatu yang ditawarkan itu menarik, sekalipun tidak benar, sudah diterima oleh umum.

Menjadikan realties  hanya sebagai suatu permainan, sudah lepas kendali dan tidak mungkin balik lagi. Masih percayakah kita pada “realitas nyata”, yang sudah disentuh revolusi media digital  ?

10. Cobalah bersikap sangat ZEN terhadapnya (29′32“-31’14″)

Atau mungki kita mesti memandang GELOMBANG DIGITAL sebagai wujud kesenian baru yang akhirnya mencerminkan kesombongan kita sendiri.

11. Jangan tunggu…(31’14″-33’24″)

Atau semua itu sekadar kesenangan, sesuatu yang menambah kedalaman kreativitas manusia? Seperti slogan “Apa lagi yang ditunggu ? Menciptalah sekarang !”

Sekalipun saya masih tetap meragukan, betulkan perusahaan-perusahaan software tertarik pada kreativitas. . . . .

12. Ingin tersambung (33’24″-34’27″)

Maka hadirlah internet, dulu dianggap sebagai impian seorang anarkis, sekarang berubah menjadi sebuah mall raksasa dunia digital. Bahkan ada yang percaya, seandainya  kepala  kita bisa disambung dengan kabel, orang bisa mengalirkan isi otaknya ke dalam floppy dan abadilah dia.

13. Ancaman Komersial-2 (34’27″-35’19″)

Manusia yang kesepian, sangat lemah untuk menghadapi ledakan pasar yang saling berebut. Rasanya sebentar lagi perusahaan-perusahaan software akan merajai perdagangan, mereka akan menjual realitas-realitas dalam bentuk bits dan bites, dari sex dunia maya sampai kenyamanan berbelanja tanpa keluar rumah. Kita menunggu pengalaman baru:  mati tabrakan di jalan tol digital.

14. Meditasi (35’19″-38’44″)

Mungkin pandangan saya negatif terhadap VISI UTOPI.

Tapi saya melihat gejala pengaruh media (apapun bentuknya) yang mempunyai peran demikian penting, dan sudah siap menyebabkan adanya benturan-pasar moderen dengan akibatnya kekecewaan total.

15. Coda (38’44″-40’00″)

… saya belum siap …

Categories: EventPemutaran Film
Tags:

: C2O library & collabtive is an independent library and a co-working space that aims to create a shared, nurturing space, along with the tools and resources for humans (and non-humans) for learning, working, and connecting with diverse communities and surrounding environment. More info, visit: https://c2o-library.net/about/ or email info@c2o-library.net
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

What’s On

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya