Hard-Boiled Wonderland and the End of the World

by
February 1, 2014 15:48

Hal pertama yang Anda dapat setelah Anda membuka Hard-Boiled Wonderland and the End of the World adalah sebuah peta: Peta Akhir Dunia. Ini membawa banyak pertanyaan ke pikiran dan membuat pembaca menaruh beberapa harapan: Apakah ini akan menjadi perjalanan yang menantang melalui tempat-tempat yang dijelaskan dalam peta? Apakah ini era abad pertengahan? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berhubungan dengan peta tersebut akan hancur dalam deskripsi di bab pertama. Seolah Murakami baru saja memberi salam hangat kepada pembaca, “Selamat datang di dunia (buku) surreal saya.”

Tips : Sabarlah dan bacalah hingga bab 5 . Saya yakin setelahnya, Anda tidak akan bisa berhenti menyeruput cerita bahkan ketika Anda tidak benar-benar yakin mengenai kosakata yang digunakan.

Dalam buku ini , Murakami membawa kita ke dalam alur cerita absurd petualangan. Perasaan thriller dan detektif cerita meresapi buku ini dengan penjelasan ilmiah di pojok setiap bab. Kita bisa merasa seperti sedang berada di tengah adegan lengkap dengan rentetan musik latar belakang di sana-sini, tetapi pada putaran berikutnya, kita merasakan keheningan mutlak, kesendirian yang tak terjelaskan. Bahkan protagonis memiliki karakter yang terpolarisasi: santai tapi penyendiri, pemimpi tapi juga realistis.

Setelah semua detail dan cerita rumit yang menggiring kekaguman pembaca, entah bagaimana Hard-Boiled terasa cukup Hollywood-ish. Budaya Barat yang meresap terasa seperti krim busa susu dalam secangkir cappuccino—melarut, bercampur dan terasa dalam setiap seduhan. Akhirnya pun cukup mudah ditebak dan kisah heroik tampaknya memenuhi tarikan ceritanya.

Hard-Boiled Wonderland and the End of the World adalah karya yang diterbitkan sebelum Norwegian Wood, karya Murakami yang terkenal mega-bestseller, di Jepang dan negara-negara lain. Sebagai kohai*, mungkin Hard- Boiled tidak memiliki eksposur setara, tapi buku ini telah meraih Hadiah Tanizaki (diterima pada tahun 1985) dan menunjukkan bagaimana buku ini memiliki nilai yang cukup dihormati dalam sastra Jepang.

Ini adalah karya Murakami pertama saya. Saya memilih judul berdasarkan tanggal edisi pertama dicetak, dan ini adalah karya Murakami yang tertua di koleksi perpustakaan C2O. Kekurangan saya adalah berpikir terlalu jauh dalam setiap kata yang membuat saya kehilangan gambaran yang lebih besar sampai bab 5. Setelah mencoba untuk membaca kembali lagi secara langsung, sensasinya menjadi terasa.

Bagian yang terbaik dari membaca buku ini adalah mengetahui bahwa penulis berpartisipasi dalam menerjemahkan & mengadaptasi buku dalam bahasa Inggris. Ini membuat setiap tindakan membuka kamus dan thesaurus menjadi cukup menyenangkan. Saya menjadi mengerti bagaimana perbedaan bahasa asli lenyap di setiap kalimat tak berirama yang terkait dengan indah.


The first thing caught after you opened Hard-Boiled Wonderland and the End of the World book is a map: The End of the World map. It brought questions to the mind and made the readers put some expectations: Will it be a challenging journey through the places described in the map? Is it medieval era? And other map-related questions that popped will be crushed to the 1st chapter detailing description. It’s just like Murakami said greeting warmly to the readers, “Welcome to my surreal (book) world.”

Tips: Try to get patient and keep the pace until 5th chapter in one go. Then I bet you can’t stop slurping the story even you’re not completely sure about the vocabulary.

In this book, Murakami brought us into an absurd and adventurous storyline. The feeling of thriller and detective stories twisted with a lot of science explanations in every chapter’s corner. We could feel like having musical scene by the rifle of songs’ line here and there, but at the next flip we started the absolute silence; the indefinite solitude. Even the protagonist had polarized character: easygoing but a loner, dreamer yet realistic.

After all of the detail and complicated story that bring awe to the readers, somehow Hard-Boiled feels quite Hollywood-ish. The Western culture which Murakami attached was like foamy milk part in a cup of cappuccino; it dissolved, blended and felt in every sip. The ending was quite easy to guess and the heroic tale seems fulfilled the story gauge.

Hard-Boiled Wonderland and the End of the World was the exact previous work of Norwegian Wood, the notable mega-bestseller of Haruki Murakami, among Japan and other countries. Perhaps, Hard-Boiled didn’t have as much exposure as its kohai but the Tanizaki Prize (received in 1985) could show how the books had a respected value in Japanese literary.

This is my first Murakami’s. I chose the title based on the date of first edition printed. It’s the oldest in c2o library’s collection. It’s my bad for thinking too deep in each word that made me lost the bigger picture till the 5th chapter. After trying to re-read again in once sitting, I got my nerves back and the thrills began.

Best part for reading this was know that the author participate in translating & adapting the book in English. It made every open-dico-and-thesaurus-regularly paid off, yet understand how the native language disparity vanished in every un-rhyme sentences which linked beautifully.

*kohai : junior

hard-boiledwonderlandandtheendoftheHard-boiled Wonderland and the End of the World
Haruki Murakami
Vintage
F MUR Har

Categories: Book reviews

: Ibu rumah tangga dan active knitter. Marketing manager of Gathotkaca Studio.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya