Anna Karenina

by
May 24, 2016 12:20

AnnaKarenina01

Pujangga besar Rusia, Lev (Leo) Nikolayevich Tolstoi (1828-1910), terkenal terutama karena novel epik sejarahnya, Voina i Mir (Perang dan Damai) ihwal perlawanan rakyat Rusia terhadap invasi Napoleon pada 1812; dalam perlawanan itu kaum bangsawan dan rakyat biasa bahu-membahu membela tanah airnya. Namun, karya Tolstoi yang paling luas dibaca dan diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa asing adalah novelnya yang kedua, Anna Karenina, khusus menyoroti kehidupan pribadi kaum bangsawan dan golongan high society Rusia pada zamannya.

Tolstoi sendiri dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah golongan ningrat. Karena itulah dia bisa menggarap tema novel itu dari sudut pandang orang dalam. Beberapa anggota keluarganya tercatat dalam sejarah Rusia sejak abad ke-16, bahkan ayahnya, Graf (Comte) Nikolai Ilyich Tolstoi, ambil bagian dalam perang melawan Napoleon pada 1812-1814 dengan pangkat letnan kolonel.

Cerita pokok Anna Karenina, yakni tentang seorang isteri yang mencederai perkawinan dan akhirnya menyudahi hidupnya di bawah roda kereta api, dikenal luas seperti halnya cerita Don Kisot karya Cervantes atau Hamlet karya Shakespeare. Konflik utama novel ini juga pernah dilayarputihkan paling sedikit sebelas kali, baik di Rusia maupun di mancanegara. Sampai sekarang Anna Karenina masih terus disalin dan diterbitkan dalam pelbagai bahasa. Bayangkan saja! Hingga akhir abad ke-20, Anna Karenina telah diterjemahkan dan diterbitkan 625 kali dalam 40 bahasa (ini tidak termasuk penerbitan dalam bahasa aslinya). Dalam bahasa Inggris saja, hasil terjemahan yang berbeda pernah dicetak 75 kali, Belanda 14 kali, Jerman 67 kali, Prancis dan Italia 36 kali, Cina 15 kali, dan Arab 6 kali.

Tolstoi-Gorky-Chekov

Leo Tolstoy, Maxim Gorky, dan Anton Chekov di Yalta, 1900

Dalam novel Anna Karenina, Tolstoi dengan teliti menguraikan seluk-beluk keadaan tiga macam keluarga: keluarga Stiva Oblonskii dan Dolly, di mana sang suami menyeleweng, keluarga Karenin di mana sang istri, Anna, tak mampu mengekang perasaannya dan memutuskan tali perkawinan, dan akhirnya keluarga ideal Konstantin Levin dan Kitty yang menikmati kebahagiaan, pasca mengalami serentetan cobaan. Ketiga keluarga itu punya hubungan kekerabatan selaku kakak-beradik, menurut garis suami-isteri, atau sebelumnya belajar di universitas yang sama.

Dalam novel ini, didedahkan perihal keruwetan yang terjadi di keluarga Oblonskii karena sesudah delapan tahun menikah sang isteri memergoki perbuatan zina sang suami, dan berniat pindah dengan lima anaknya ke kediaman ayahnya, Graf Shcherbatskii. Yang berhasil meredakan keadaan adalah adik Stiva, Anna. Ia adalah isteri seorang pejabat tinggi di Petersburg, Aleksei Karenin.

Namun, tak dinyana, Anna sendiri terjerat hubungan asmara dengan seorang opsir muda dari keluarga kenamaan, Aleksei Vronskii, yang amat mengaguminya. Anna menganggap rasa cinta itu sebagai sesuatu yang tak diingini dan berupaya mengenyahkannya dalam hati, namun tak berhasil. Perempuan itu menilai, “kejatuhannya” merupakan malapetaka yang tak dapat ditolak. Sejak itu kesalahan nikmat-tragis itu tetap mengejar Anna sampai ajalnya.

Portrait of an Unknown Woman (1883), oleh seniman Rusia Ivan Kramskoi, seringkali digunakan sebagai ilustrasi sampul Anna Karenina

Portrait of an Unknown Woman (1883), oleh seniman Rusia Ivan Kramskoi, seringkali digunakan sebagai ilustrasi sampul Anna Karenina

Semula Tolstoi ingin menggambarkan tokoh utama novelnya sebagai seorang perempuan genit yang rentan akhlaknya. Tapi, dalam proses penulisan, martabat Anna diubah secara drastis. Ia muncul sebagai perempuan yang tahu harga diri, jujur, dan dikagumi orang. Ia kawin dengan suaminya yang jauh lebih tua tanpa rasa cinta karena dibujuk oleh keluarganya dan sampai pada suatu kali ia tak mampu memafhumi rasa cinta sejati yang sekarang melandanya secara tiba-tiba. Karena tak bisa hidup dalam suasana dusta seperti banyak kenalannya dari high society, Anna akhirnya mengakui perzinaannya kepada sang suami.

Pembaca dapat mengikuti sendiri liku-liku peristiwa dan dunia batin para tokoh pasca terbongkarnya rahasia itu, hal yang telah mengoyak-ngoyak jiwa sang suami dan bocah ciliknya. Meskipun demikian, tetap juga Anna tak mampu melupakan lelaki yang dicintainya. Tentu saja dalam benak pembaca masa kini timbul pertanyaan: untuk apa mesti timbul kehebohan ini? Kenapa Anna tidak bercerai saja dengan sang suami dan kawin lagi dengan Vronskii yang mengidamkannya? Meminjam kata-kata mendiang Gus Dur, “Begitu saja kok repot.”

Perlu dipahami, pada masa itu, sesuai peraturan agama Kristen Ortodoks Rusia, biarpun sudah diperbolehkan, perceraian dipandang sebagai aib, dan menurut perundangan tak mudah dilaksanakan. Paling sedikit Anna akan terpaksa mengakui perzinaannya di hadapan juri pengadilan, dan itu baginya amat menyiksa. Lebih daripada itu, ia tak berhak kawin lagi melalui upacara gereja. Peraturan perceraian masa itu dijelaskan dalam berkala Golos (Suara) tahun 1873, ketika Tolstoi mulai menulis novelnya. Dalam terbitan ini, antara lain, dikatakan bahwa orang yang mengakui bersalah telah berzina, selain diharuskan bertobat (di gereja), akan dicabut haknya untuk kawin lagi. Tentu ada bermacam-macam jalan keluarnya, tapi Anna tentu tak sudi memakainya.

Untuk menyingkirkan rintangan yang menghadang, Vronskii keluar dari dinas ketentaraan dan hidup beberapa lama dengan Anna di mancanegara. Ketika mereka balik ke Rusia, ternyata pintu rumah-rumah terhormat yang didiami orang dengan siapa Anna biasa bergaul tertutup baginya (tapi tidak bagi Vronskii!). Kebanyakan penghuni rumah itu sendiri, yang sekarang tak mau menemui Anna, bukannya tanpa dosa, bahkan penyelewengan mereka sudah jadi rahasia umum, tapi segala penyelewengan itu dilakukan secara “sopan”, dibungkus rapi dan tidak diperlihatkan secara terbuka di podium kehidupan.

Tolstoi sendiri tak sudi menyelesaikan novelnya dengan gambaran tragis kematian tokoh utama. Dia sengaja menambahkan satu bagian lagi untuk meredam situasi. Kelanjutan itu perlu juga bagi Tolstoi guna memaparkan pandangannya mengenai bermacam-macam masalah sosial dan filsafat melalui Konstantin Levin. Masalah-masalah itu mencakup situasi ekonomi dan sosial di Rusia, yakni adanya jurang mahadalam antara yang miskin dan yang kaya, maupun dan terutama problem-problem etis, termasuk pertanyaan abadi: buat apa manusia hidup di dunia ini, dan bagaimana meredam ketakutan terhadap malaikat maut.

Beberapa adaptasi layar kaca Anna Karenina (1997, 2013, 2012)

Beberapa adaptasi layar kaca Anna Karenina (1997, 2013, 2012)

Pandangan etis-filosofis Tolstoi, yang melahirkan ajaran dan gerakan massal yang disebut tolstovstvo (tolstoisme), memperoleh rumusan awal justru dalam halaman-halaman penutup novel Anna Karenina. Melalui Konstantin Levin, Tolstoi dengan tegas menolak ajaran Darwin, yang bukunya masa itu diterjemahkan dan luas dibicarakan di Rusia. Dia menantang tesis pokok Darwin ihwal perjuangan sengit di dunia alam demi eksistensi, yang disebarkan pula ke lingkungan manusia. Sebagai gantinya, Levin mengajukan dalil lain yang dipinjam dari ucapan seorang petani yang bekerja di tanah miliknya, bahwa manusia harus hidup bukan demi perut, tapi demi jiwanya, dengan mengingat ajaran Isa Almasih.

Tokoh kesayangan Tolstoi itu mengemukakan keyakinannya bahwa ajaran yang hampir sama juga terkandung dalam semua agama di dunia, biarpun dia mengakui tak banyak tahu tentang semua agama itu. Perlu ditambahkan di sini bahwa melalui agama Tolstoi mencari dan menemukan gagasan-gagasan mengenai cinta terhadap sesama, dan menolak di dalamnya semua elemen mitologis dan supranatural, karena bertentangan dengan akal sehat. Tolstoi bermaksud mengembangkan “gagasan Levin” ihwal revolusi-tak-berdarah dan cinta terhadap sesama manusia dengan menambah dalil perlawanan pasif terhadap perintah atau peraturan penguasa yang tak manusiawi (prinsip ini pada awal abad ke-20 dipinjam oleh Mahatma Gandhi di India sebagai senjata ampuh melawan penjajah Inggris).

Jalan hidup, pikiran, tingkah-laku, bahkan tabiat tokoh-tokoh dalam Anna Karenina, terdiri atas cahaya dan bayangan, ciri-ciri gelap dan terang, ciri-ciri positif dan negatif, yang saling bercampur dan bergelut seperti pada semua manusia di dunia ini. Dan itulah sebabnya tokoh-tokoh itu dihayati oleh pembaca sebagai makhluk yang berdarah-daging, yang berjalan di samping kita.


Tulisan ini pertama kali dimuat di kolom “Corat-coret”, Surat Kabar Harian (SKH) Media Kalimantan, edisi Kamis, 19 Mei 2016. Esai ke-39. Diterbitkan ulang di situs C2O library & collabtive dengan izin penulis. Buku-buku Tolstoi seperti Anna Karenina, War and PeaceResurrection, The Death of Ivan Ilyich tersedia di perpustakaan C2O. Kami rekomendasikan juga untuk membaca Natasha’s Dance oleh Orlando Figes untuk mendalami konteks sejarah Rusia, juga tersedia di koleksi sejarah C2O.

Categories: Book reviews

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
not-your-world-music-575
Not Your World Music: Noise in Southeast Asia

by c2o library & collabtive
Diskusi buku Not Your World Music: Noise in South East Asia karya Cedrik Fermont & Dimitri della...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya