Rumah Kertas

by
November 19, 2016 18:13

rumahkertascarlosdominquez-575x350

Hal 1: Pada musim semi 1998, bu dosen Bluma Lenon membeli satu eksemplar buku lawas Poem karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho, dan saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal. 

Hal 17: Orang-orang ini (bibliofil) ada dua golongan….pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka…..edisi pertama buku-buku Borges sekalitus artikel-artikel di majalah-majalah; buku-buku yang dicetak oleh Colombo, disunting oleh Bonet, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek indah.

Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, seperti Brauer itu, yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam, tanpa kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya.

“Sebuah mahakarya.” Frankische Landeszeitung

Demikian testimoni di cover belakang novel sastra yang hanya 76 halaman ini. Bukan basa-basi-busuk meski saya tidak tahu siapa Frankie Landeszeitung itu. Saya pun pada awalnya tak mampu berkomentar, testimoni dari New York Times ternyata sudah menjelaskan: “Buku tipis yang bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup.”

Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu memberikan pengalaman spiritual pembacanya berupa teror mental yang lahir dari kecintaan akan buku.

Rumah Kertas menelanjangi kepribadian manusia dari konteks buku juga buku-buku yang seolah berkepribadian manusia. Misalnya profesor yang sengaja berlama-lama menyeduh kopi di dapur agar tamunya bisa mengagumi buku-buku di raknya. Juga mengenai keangkuhan buku-buku yang terawat, tak terancam oleh kebuasan alam yang dijabarkan di halaman-halaman tubuh mereka. Mengenai pecinta buku menuju ketidakwarasan, nafsu terhadap buku yang hendak menentukan batasannya sendiri.

Buku ini juga berisi kritik sosial, masyarakat modern yang berjalan dengan ponsel menempel di telinga, buku-buku yang dianggap berbahaya pada masa kediktatoran militer terakhir di Argentina bagaimana orang dipaksa memilih antara buku dan hidup itu sendiri, juga mengenai penulis-penulis dalam diskusinya yang seperti taktik militer, membahas bagaimana agar mereka dapat mencapai status terpandang.

Rumah Kertas berisi pengalaman akan kehidupan yang sakit, permainan takdir yang sinis ditambah kompleksitas kepribadian manusia, obesesi tak terjawab dan kesia-siaan yang tragis. Tragedi yang tak butuh banyak penjelasan. Menjadi salah satu buku favorit saya tanpa perlu mempertimbangkan kebermanfaatannya.

Judul Asli: La casa de papel
Penulis: Carlos María Domínguez
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri

Dapat dibeli di toko atau dipinjam dari perpustakaan C2O :)

Categories: Book reviewsHighlight

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya