The Cabinet of Dr. Caligari

by
October 28, 2009 21:00

Das Kabinett des Dr. Caligari | 1920 | Germany | 71 mins | Silent with English intertitles | Tinted B&W | 1.33:1

Sutradara: Robert Wiene
Naskah: Hans Janowitz & Carl Mayer
Produser: Rudolf Meinert; Erich Pommer (Decla-Bioskop)
Desainer: Hermann Warm dan dua pelukis set teater militer, Walter Reimann dan Walter Röhrig.

Adegan dibuka oleh Francis, yang bercerita secara flashback mengenai Cesare, seorang somnambulis dalam stand karnival yang dikatakan Caligari dapat menjawab pertanyaan apapun. Saat teman Francis, Alan, bertanya, berapa lama waktu yang dia punyai untuk hidup, Cesare menjawab, hingga besok. Dihipnotis oleh Caligari, Cesare berkeliaran membunuh musuh-musuh majikannya. Bersama Jane, Francis menyelidiki pembunuhan-pembunuhan itu, dan menemukan bahwa “Caligari” ternyata adalah direktur rumah sakit jiwa lokal yang terobsesi dengan cerita Dr. Caligari dari Italia tahun 1703, yang menggunakan pasien somnambulis sebagai alat membunuh.

Menurut Kracauer (1947: 64-67), penulis naskah Mayer dan Janowitz awalnya bermaksud menggambarkan alegori negara Jerman (Caligari) dan masyarakatnya (Cesare) melalui film ini. Namun tohokan politis ini diredam dengan frame narasi flashback Francis (“mitos” pemasungan ini dipertanyakan oleh Thompson, 1990). Bingkai cerita (framed tale) Caligari memutarbalikkan dan mempertanyakan kebenaran cerita sebelumnya. Tentu saja, baik fungsi dan asal usul bingkai cerita ini terus menerus melahirkan banyak diskusi dan teori, meskipun teknik narasi Caligari bukanlah yang pertama menggunakannya (lebih jauh, lihat Elsaesser 2000).

Dibuat dalam jangka waktu kurang dari tiga minggu dengan dana minim (Cousins 2005: 96-97), daya tarik The Cabinet of Dr. Caligari terletak pada setting (dan kostum-make up) yang sangat stilistik. Menurut Pundi ada kesan “kaku” dalam film ini. Tidak ada efek suara yang menggiring penonton ke ketegangan. Pada dasarnya film ini memanfaatkan teknologi yang sederhana: seperti static shots, intertitles dan fade out. Untuk mengakali keterbatasan cahaya, listrik dan dana, mereka langsung mengecat cahaya dan bayangan pada lantai, dinding dan kanvas (menurut Pommer, meskipun hal ini banyak diperdebatkan).

Hasilnya adalah setting yang secara sadar-diri (self-conscious) bernuansa/bertema “gelap”, suram, dengan kontras cahaya-bayangan yang kuat, sudut-sudut dan perspektif yang sangat didistorsi, dan interior yang klaustrofobik, seolah-olah menggambarkan kegalauan batin karakter-karakter dalam film tersebut. Seolah-olah memang asyik bermain-main dengan settingnya. Belum lagi make-up dan kostum “Gothic” menimbulkan kesan mencurigakan (eerie), sekaligus ambiguitas seksual (dari make-up dan kaki panjang semampai berbungkus celana hitam ketat, amboi!).

Acap kali, karakter-karakter tersebut — gelap, muram, psikologis, terdistorsi, mencurigakan, horor — kemudian dianggap mewakili film-film Jerman yang dihasilkan pada periode awal 1920an, dan dipayungi dengan istilah “Ekspresionisme (Jerman)”. Istilah ini, setahu saya, diambil dari gerakan sastra dan seni (terutama lukisan) Jerman (garda depan) sebelum Perang Dunia I. Di tahun 1918, di berbagai negara di Eropa banyak berlaku boikot terhadap produk Jerman, dan adopsi istilah “Ekspresionisme” mengkonotasikan bukan hanya “pemberontakan” tapi juga untuk membangun kredibilitas dan mempromosikan sinema sebagai “seni/budaya” (tinggi) sekaligus mendisasosiasikan citra buruk Jerman (saat itu: agresif, militan).

Perlu diingat bahwa (terutama saat ini) film-film yang dianggap “Ekspresionis” tersebut hanyalah segelintir dari film-film yang beredar di Jerman saat itu, diseleksi untuk berbagai kepentingan (dominan) dan tidak seluruhnya mencerminkan film-film yang ditujukan pada pasar domestik Jerman, yang sebenarnya juga mencakup slapstick, operatta, roman, detektif, melodrama. Tahun 1980-90an menyaksikan banyak restorasi dan penyebaran film-film Jerman lama yang mendapat kredibilitas auteur oleh arsip-arsip dan festival-festival film internasional, sementara kita di Indonesia juga merasakannya entah melalui ruang-ruang khusus seperti kineforum, lembaga-lembaga luar negeri, DVD bajakan dan internet.

(Film pertama yang mengandung elemen supernatural “horor” — hantu, penyihir — (sejauh yang tercatat) dibuat oleh Georges Méliès (Prancis), Le Manoir du diable (The Hunted Mansion) di tahun 1896 dengan durasi pendek (seingat saya, 3 menit, tapi saya hanya pernah melihat versi tidak lengkapnya). Sebenarnya, seperti film-film Méliès lainnya, malah tidak seram, dan lebih bermain-main pada trik kamera.)

Beberapa pengaruh film Caligari dan film-film “Ekspresionis” (entah sadar ataupun tidak) dapat dilihat pada perkembangan film-film selanjutnya, sebut saja antara lain karya-karya Tim Burton, Hitchcock dan Welles. (Bandingkan, seperti kata Erlin, Edward Scissorshands dengan Cesare, Caligari dengan Penguin dari Batman, adegan kuburan Nightmare Before Christmas, dan masih banyak lagi). Tidak hanya terbatas pada film (horor ataupun fantastis), prinsip desain permukaannya – perspektif yang terdistorsi, interior yang mengukung, ujung-ujung yang tajam – dapat kita jumpai sebagai mode berbagai produk dan interior sehari-hari: wallpaper, buku ilustrasi anak-anak, komik, majalah, kafe, teater, kabaret, fashion, musik (video), dll. Brand name ini terbukti sangat berguna saat pembuat-pembuat film Jerman mencari pekerjaan di Hollywood pasca 1933.

PS: Tulisan ini dibuat dari dan untuk sesi pertama pemutaran & diskusi Early Horror, Sabtu, 24 Oktober lalu yang akan dilanjutkan dengan Nosferatu, A Symphony of Horror (F. W. Murnau, 1922) Sabtu berikutnya, 31 Oktober 2009. Terima kasih untuk kedatangan dan masukan-masukannya yang berharga: Erlin, Carlos, Pundi, Pak Medi, dan Mba Yuli. Versi DVD yang dipertontonkan adalah hasil restorasi tahun 1996.

Referensi

Cousins, Mark (2005). The Story of Film. London: Pavillion.
Elsaesser, Thomas (2000). Weimar Cinema and After: German’s Historical Imaginary. London: Routledge.
Kracauer, Siegfried (2004 [1947]). From Caligari to Hitler: A Psychological History of the German Film. Princeton: Princeton University Press.

Categories: Film reviews
Tags:

: Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
tukarobralbacabuku-575x350
Baca, Obral & Tukar Buku

by c2o library & collabtive
Baca, Obral & Tukar Buku Lapak buku murah untuk membeli dan bertukar buku ☞ Sabtu, 10 Desembe...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya