Nosferatu

by
November 1, 2009 16:54

Nosferatu, eine Symphonie des Grauens | 1922 | Germany | 94m | Silent B&W with English intertitles

Sutradara: Frederich Wilhelm Murnau
Screenplay: Henrik Galeen
Fotografi: Gunter Krampf, Fritz Arno Wagner

Diadaptasi dari novel Dracula (1897) karya Bram Stoker, dalam prosesnya Nosferatu mendapat tuntutan pelanggaran hak cipta dari janda Bram Stoker. Tuntutan ini mengakibatkan pergantian nama dan tempat, seperti Count Dracula menjadi Count Orlock, Vampire menjadi Nosferatu, Jonathan Harker menjadi Thomas Hutter, dll. Namun meskipun ada beberapa perbedaan antara novel dan filmnya, seperti penggunaan cahaya matahari untuk membunuh Count Orlock, Jonathan dan Nina yang semestinya hanya bertunangan dan belum menikah, cerita dalam film ini pada dasarnya cukup mengikuti novel tersebut. Prints dan roll film yang ada diperintahkan untuk dihancurkan. Film-film Nosferatu yang ada sekarang adalah hasil restorasi – upaya direktur Cinematheque Francaise, Henri Langlois dan asistennya (sekaligus penulis buku seminal sinema Jerman, The Haunted Screen), Lotte Eisner – dari bootlegs yang dirangkai berdasarkan alur dramatik atau continuity editing, bukan berdasarkan konsepsi awal Murnau.

Boleh dibilang, Nosferatu adalah karya Murnau yang paling dikenal di dunia internasional (meskipun mungkin beberapa orang akan memilih Sunrise, tapi di sini bukan waktu maupun tempatnya untuk memperdebatkan hal itu). Film ini dibuat di saat namanya sudah dikenal di kalangan perfilman Jerman. Sayang sekali, banyak prints karya-karya Murnau hilang tak ditemukan lagi. Ada berbagai versi restorasi Nosferatu beredar saat ini; versi yang ditonton adalah versi domain publik yang tidak terlalu tajam dan mengubah nama-nama karakternya kembali seperti novel Bram Stoker dengan intertitles bahasa Inggris (dapat diunduh dari archive.org). Dalam tulisan ini akan digunakan nama-nama seperti yang digunakan dalam novel Bram Stoker.

Jika The Cabinet of Dr. Caligari menggunakan seting yang jauh lebih “dekoratif” dan “ekspresionistik”, setting Nosferatu terasa lebih “natural” (mungkin sedikit mengingatkan pada sinema Skandinavia awal seperti karya Victor Sjöström). Murnau mengambil gambar Nosferatu di daerah Baltik. Alam lingkungan sekitar ditonjolkan sekaligus dimanfaatkan untuk turut berpartispasi dalam pembentukan cerita: bukit-bukit dan hutan yang gelap, langit mendung, ombak pasang, hewan-hewan yang resah, dll.

Murnau menggunakan berbagai macam trik fotografi dan editing yang jauh lebih variatif dibandingkan Caligari: stop-motion (adegan penjemputan Harker dengan kereta kuda yang menimbulkan efek tersendat-sendat (jerky), pembukaan pintu), penggunaan negatif film untuk menciptakan “hutan putih”

Nosferatu tidak melulu menampilkan suasana mencekam. Beberapa adegan terasa lucu, belum lagi karena “keanehan” gerakan-gerakannya seperti adegan penjemputan Hutter dengan kereta kuda. (Selain karena film-film bisu mempunyai gerakan yang tampak aneh di mata kita saat ini karena ketidakseragaman kecepatan proyektor sebelum standardisasi tahun 1926, Murnau juga menggunakan teknik stop-motion untuk menandai transisi ke dunia Count Dracula.) Adegan-adegan melodrama mengundang banyak tawa, ledekan dan gurauan dari penonton (“Halah, mau semaput aja mbangunin orang dulu!”). Ekspresi-ekspresi pemainnya yang teatrikal – melotot, pingsan, bangun tidur dengan make-up sempurna, kematian Count Dracula yang dramatik dengan terbitnya matahari – mengingatkan penonton pada sinetron-sinetron TV. Lightingnya sendiri pun terasa terang dan tidak seram (bisa jadi ini karena versi yang diputar adalah versi tanpa tint). Musiknya (versi restorasi oleh James Bernard yang dipasang di tahun 1970?) siklikal dan terdengar usil.

Ada beberapa sugesti erotik/seksual antara Count Dracula dan Jonathan, dan tak jarang isu (homo)seksualitas Murnau disorot dalam kaitannya dengan film-filmnya (sebagai contoh, lihat Shephard 1998; Anger 1975). Namun ambiguitas citra maskulinitas dan seksualitas sebenarnya merupakan tema yang umum diusung dalam sinema-sinema Weimar periode tersebut (lihat Kracauer 1947), seperti juga dapat kita lihat dalam Caligari.

Sekedar catatan, label “horor” di sini adalah label retrospektif: meskipun Nosferatu dan The Cabinet of Dr. Caligari sering dikutip sebagai dua contoh utama film horor Jerman awal, pada masanya sendiri mereka tidak dikategorikan demikian. (Lebih jauh mengenai terminologi dan sejarah horor, lihat Jancovich 2002).


Tulisan ini dibuat dari dan untuk sesi kedua dari Early Horror, Sabtu, 31 Oktober lalu sebagai bagian dari pemutaran film dan diskusi santai tiap Sabtu 17.00 di C2O, gratis dan terbuka untuk umum. Film ini diputar di lorong belakang C2O, ditonton bersama 7 orang: Erlin, Indra, Willa, Redo, serta dua mahasiswa UK Petra (dan saya). Terimakasih atas kedatangan dan komentar-komentarnya.


Referensi

  • Elsaesser, Thomas (2000). Weimar Cinema and After: German’s Historical Imaginary. London: Routledge.
  • Jancovich, Mark (ed.) (2002). Horror: The Film Reader. London & New York: Routledge.
  • Kracauer, Siegfried (2004 [1947]). From Caligari to Hitler: A Psychological History of the German Film. Princeton: Princeton University Press.
  • Scheunemann, Dietrich (ed.) (2003). Expressionist Film: New Perspectives. New York: Camden House

Categories: Film reviews
Tags:

: Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
tukarobralbacabuku-575x350
Baca, Obral & Tukar Buku

by c2o library & collabtive
Baca, Obral & Tukar Buku Lapak buku murah untuk membeli dan bertukar buku ☞ Sabtu, 10 Desembe...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya