Reportase: MSW #4 Arsitek Jengki
-->

Reportase: MSW #5 Mlaku-mlaku nang Tunjungan

by
February 27, 2012 08:00

Memanggil semua pejalan kaki Surabaya untuk berkumpul besok pagi, hari Sabtu, 25 Februari 2012, pukul 06.30 di Grahadi, kita akan eksekusi Manic Street Walkers #5 edisi “mlaku-mlaku nang Tunjungan”!

25 Februari 2012.  Saya update status dan nge-tweet ajakan untuk bergabung dengan Manic Street Walkers (MSW). Sebelumnya saya sudah mengajak Kami-Arsitek-Jengki (KAJ) untuk berkolaborasi lagi dengan MSW setelah sebelumnya mereka bergabung di Manic Street Walkers edisi 4. Di Facebook ada yang menduga MSW adalah semacam jalan sehat, saya tertawa dalam hati karena MSW juga sering membuat kaki lecet.

Wirawan, Risma, Atthur, Anitha Silvia di Talkshow TVOne

Pukul 06.30 saya sudah memasuki halaman Grahadi. (Saya sempat mengira Grahadi itu adalah gedung DPRD kota Surabaya.)  Kru TV One dan Risma—walikota Surabaya—sudah beraktivitas disana.  Anak2 MSW maupun KAJ belum datang. Iman menyusul datang, dia memarkir sepeda kayuhnya di CK. Kawan lainnya pun berdatangan : Kat, Ardian, Atthur, Claudia. Sudah jam 7, Rendy belum datang, seharusnya dia bersama saya menjadi narasumber untuk talkshow pagi ini. Akhirnya Atthur yang menggantikan Rendy. Rendy and the gang baru datang 15 menit kemudian. Talkshow pagi ini bersama Risma dan Wirawan—sosiolog dari FISIP Unair—mengenai fungsi ruang publik di Surabaya.

Risma sudah cukup banyak membangun taman kota dan fasilitas pedestrian—salah satunya trotoar yang lebar dan nyaman, tapi sayang yang menggunakan fasilitas pedestrian sangat minim. Mengutip twit kawan kami, Idha Saraswati, “Kalau ada klub pejalan kaki di surabaya, itu bukan karena walikota udah perbaiki trotoar, tapi karena mereka memang pilih jalan kaki #manic street walkers”. Yah memang, MSW memilih berjalan kaki bukan hanya karena adanya fasilitas pedestrian yang memadai, melainkan itu cara kami mengenal dan menikmati kota Surabaya.

Setelah talkshow, Manic Street Walkers #5 dimulai dengan foto bersama di depan Grahadi—rumah dinas gubernur jawa timur. Kami kemudian mulai berjalan menuju arca Budha Joko Dolog yang dibuat sekitar abad 12. Kami melalui jembatan penyeberang dan masuk ke Jalan Taman Apsari lalu tiba di areal situs arca Joko Dolog dengan pohon beringin yang membuat suasana adem dan nyaman untuk mengamati situs. Joko Dolog adalah titisan Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singosari, saya masih bertanya-tanya siapa itu Joko Dolog, dan Kathleen menawarkan e-book mengenai Joko Dolog[1], kapan-kapan saya baca deh. Setelah mengamati arca Joko Dolog kami berjalan kaki menuju Jalan Tunjungan dengan menyeberang di zebra cross tanpa lampu lintas untuk pedestrian.

Dalam perjalanan keliling Tunjungan, kami melalui trotoar yang lebar, bersih, dan nyaman, serta menemukan banyak rambu dengan pictogram pedestrian. Ironisnya di Surabaya sangat minim pejalan kaki. Fandy memberikan info yang menarik mengenai zebra cross yang ada diantara trotoar di pusat kota, zebra cross yang pro-pedestrian karena dibuat rata dengan trotoar sehingga memudahkan pejalan kaki saat menyebrang. Ini adalah ide dari Johan Silas.

Pagi itu Jalan Tunjungan cukup sepi apalagi trotoarnya, hanya ada kami. Destinasi selanjutnya adalah Hotel Majapahit, tengah berlangsung pameran “Pusaka Nusantara” yang memamerkan keris, batik tulis, dan miniatur kapal phinisi. Yah meskipun yang dipamerkan cukup asing tapi kami menikmatinya.

Trotoar sepanjang jalan Tunjungan

Kami lanjut berjalan menguasai trotoar sepanjang Jalan Tunjungan, berhenti sejenak mendengar penjelasan Rendy mengenai bangunan kolonial yang pro-pedesterian yaitu kaki bangunan yang dibuat seperti atap yang melindungi trotoar dari panas dan hujan, ada beberapa bangunan kolonial yang seperti itu di sepanjang Jalan Tunjungan, trotoar jalan ini memang bercitarasa tinggi.

Destinasi ketiga adalah Siola yang sekarang namanya Tunjungan City. Siola adalah mall sejak era kolonial, Siola juga mempunyai kaki bangunan yang pro-pedestrian, sayang gedung ini sudah mengalami banyak renovasi sehingga interior Siola sama saja seperti mall lainnya. Kami menuju lantai 2 tempat berlangsungnya pameran DKV ITS yang bertajuk ‘Atlantis”, nanti malam salah satu anggota KAJ: Rendy akan tampil dengan bandnya : Papa Onta sebagai salah satu performer penutupan pameran. Kami keliling mengamati karya, setelah itu lanjut berjalan menuju Jalan Genteng Kali.

Balai Sahabat

Kami berhenti sejenak mengamati bangunan bergaya kolonial “Balai Sahabat Surabaya”—sebuah restoran yang sudah tidak aktif lagi. Bangunan tersebut adalah bekas rumah tinggal penulis kesayangan kami, Suparto Brata[2]. Tepat disebelahnya adalah Taman Budaya Jawa Timur, kami istirahat sejenak disana ditemani sebuah kelompok teater yang sedang latihan di pendopo. Bagus Dwi Danto menyusul datang dengan sepeda kayuh, lalu kami lanjut berjalan memasuki Kampung Genteng.

Saya terkejut masuk kampung Genteng, masih banyak rumah kolonial seperti di Kampung Peneleh dan Kampung Plampitan yang sudah pernah saya sambangi. Rendy menjelaskan salah satu ciri rumah kolonial adalah pemakaian material kayu untuk menyesuaikan dengan iklim tropis. Fandi menemukan satu rumah berasitektur jengki, kemudian Rendy menjelaskan mengenai ciri khas arsitektur jengki antara lain pemakaian batu alam untuk tembok dan posisi jendela yang tidak simetris, sementara di ujung jalan 2 kawan KAJ yaitu Rizki dan Ata terlihat kelelahan karena sepatu yang mereka pakai sangat tidak cocok untuk berjalan kaki, yah 2 “korban” MSW lainnya.

Kampung Genteng

Kami keluar dari Kampung Genteng melewati Pasar Genteng yang ramai dan tidak lama kami sudah kembali ke Jalan Gubernur Suryo, Manic Street Walkers #5 pun berakhir dengan melepas lelah sambil ngobrol di trotoar depan SMA Trimurti. sekali  lagi kami banyak belajar di jalanan, terimakasih atas partisipasi kawan-kawan KAJ (Rendy, Fandi, Faisal, Rizki, Ata, Adit) dan para anggota Manic Street Walkers (Kathleen, Andreiw, Erlin, Ari, Ardian, Mirna, Atthur, Zaldy, Iman), sampai bertemu di perjalanan selanjutnya! Sekali lagi terimakasih buat Kami-Arsitek-Jengki.

Foto oleh Erlin Goentoro, Chimp Chomp.


Catatan redaksi C2O:

[1] Sedikit koreksi, ebooknya, Violence and Serenity: Late Buddhist Sculpture from Indonesia (Natasha Reickle, Univ. of Hawaii Press, 2007), bukan mengenai Joko Dolog, tapi mengenai patung-patung Buddha di Indonesia dari abad ke-13-14. Berbeda dengan patung-patung Buddhis dari era Singasari dan Majapahit yang biasanya menonjolkan kehalusan craftmanship dengan proporsi badan dan citra yang anggun, Joko Dolok ini tampak “biasa”, dengan tangan kanannya menunjukkan pose menyentuh bumi, pose yang identik dengan momen Buddha (bhūmisparśa mudra) di mana bumi menjadi saksinya.

Joko Dolok diasosiasikan Kertanegara, pemimpin terakhir kerajaan Singasari (memerintah 1268-1292).  Beliau adalah cicit dari Ken Dedes dengan suami pertamanya, Tunggul Ametung, melalui Anusapati dan Wisnuwardhana.  Kertanagara terkenal akan ekspansinya—menjangkau Sunda, Madura, Sumatra dan Bali—yang kemudian juga menjadi landasan dasar perluasan kerajaan Majapahit. Kertanegara juga berjasa memperkenalkan Tantrisme di Jawa di akhir abad ketigabelas. Lebih jauh mengenai patung ini bisa dibaca di ebook yang saya sebut di atas, di tulisan di bawah patung (dalam bahasa Sanskrit!) dan Negarakertagama, atau coba kilik-kilik tanya titisan langsung Joko Dolok, Antonio Carlos hehehe…

[2] Pak Suparto Brata pernah bercerita di Klab Baca kami, bahwa dulu ibunya bekerja sebagai PRT residen bupati, yang saat itu bertempat tinggal di Balai Sahabat!  Kalau dulu Balai Pemuda adalah Simpang Societeit yang lebih banyak digunakan orang-orang Belanda, Balai Sahabat adalah Deutscher Verein, tempat kongkow (societeit) orang-orang Jerman di Surabaya (bisa dibaca di buku Surabaya Tempo Dulu karya Dukut Imam Widodo).  Tahun 1980an, saya sempat beberapa kali memasukinya karena saat itu berfungsi sebagai rumah makan.  Yang seru dari tempat ini adalah adanya gedung pertunjukan yang terbengkalai.  Saya ingat sekali sewaktu kecil saya dan teman-teman saya bersemangat sekali ke sana karena bisa dengan bebas main-main—petak umpet, lari-lari, dsb—di panggung kosongnya.  Selain itu, ada juga ruang bilyar dan lapangan main tenis.

Categories: HighlightJelajah KotaReportase
Tags:

: Seorang musafir gig dan pameran, pengelola klab jalan kaki Manic Street Walkers, penikmat zine, lomographer.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

What’s On

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
tukarobralbacabuku-575x350
Baca, Obral & Tukar Buku

by c2o library & collabtive
Baca, Obral & Tukar Buku Lapak buku murah untuk membeli dan bertukar buku ☞ Sabtu, 10 Desembe...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya