Reportase: MSW #5 Mlaku-mlaku nang Tunjungan
-->

Reportase: MSW #6 Keputran

by
February 29, 2012 21:07

Manic Street Walkers #6 edisi Keputran
29 Februari 2012

“mbak jangan ditinggal ya, aku naik angkot ini. oke @anithasilvia”

Atthur–salah satu anggota setia Manic Street Walkers yang sekarang sering naik angkutan umum–mengirimkan teks via twitter, jadwal kami kumpul jam 4 sore, tinggal Atthur yang belum datang, Ilyas, Mirna dan Kami-Arsitek-Jengki (Rendy, Faisal, Angga, Zefanya, Ical, Adit) sudah berkumpul di c2o library. Cuaca mendung, kami putuskan untuk segera berjalan dan menunggu Attur di Jalan Raya Darmo. Destinasi mula-mula yang saya tawarkan adalah Patung Suro-Boyo–ikon kota Surabaya, tapi Attur menyarankan rute yang lebih menarik : Pasar Keputran. Maka kami berjalan kaki menuju Keputran! Attur bergabung saat kami memasuki Jalan Raya Darmo yang sore itu padat merayap dengan kendaraan bermotor, pictogram becak dilarang masuk banyak ditemui di jalan protokol, sayang sekali becak dibatasi jalur operasionalnya.

Pasar Keputran

Cukup aneh berjalan kaki di trotoar yang lebar nan lenggang sementara di sebelah kami adalah tumpukan kendaraan bermotor yang merayap di jalan raya. Kami berpapasan dengan seorang perempuan yang berjalan kaki dengan memakai sepatu bersol tebal, rasa senang selalu muncul saat bertemu pejalan kaki lainnya karena di Surabaya minim sekali pejalan kaki. Rendy menunjukkan “kesalahan” di trotoar Jalan Darmo, jalur untuk tuna-netra tidak layak karena tidak timbul, malah terkesan hanya hiasan saja dan pastinya tidak berfungsi! Di Ujung Jalan Raya Darmo kami mengamati keindahan arsitektur Hotel Olympic yang dibangun tahun 1956. Adit menjelaskan bahwa arsitektur Hotel Olympic gabungan antara arsitektur jengki (dilihat dari bentuk lubang udara) dan art deco. Hotel Olympic menjadi salah satu obyek pemandangan kota Surabaya yang menarik, apalagi saat malam hari.

Hotel Olympic

Kami masuk ke Jalan Pandegiling, melewati toko-toko kelontong “lawas” dan masuk ke Jalan Keputran yang sudah menampakkan aktivitas semacam pasar induk. Di sepanjang Jalan Keputran juga banyak terdapat toko-toko “lawas” yang masih menggunakan bangunan kolonial. Trotoar mulai dipenuhi sayur-mayur, buah-buahan, dan para pedagang yang kebanyakan adalah wanita beretnis Madura yang setia memakai kain batik Madura, di dalam Pasar Keputran Utara lebih riuh, terbayang suasana Pasar Keputran Utara saat malam hari, jauh lebih riuh.

 
Suasana pasar Keputran, dan Taman Stren Kalimas

Selepas Pasar Keputran Utara, kami tiba di taman stren Kalimas, taman yang terbilang masih baru dengan arsitektur modern, terdapat playground dan amphiteater, kami beristirahat disana, menyambut matahari tenggelam. Taman ini menarik karena berada di bahu sungai, kami disuguhi pemandangan Kalimas yang memang lebih bersih ketimbang Kali Ciliwung, di seberang terlihat bangunan apartemen pertama di Surabaya dan masih kokoh berfungsi, juga terlihat aktivitas para pemanjat tebing yang menggunakan dua papan panjat tebing. Anak-anak setempat tampak riang bermain di playground dan mandi di kali, wah pemandangan langka melihat anak-anak melompat dan berenang di kali!

 
Air kendi untuk musafir, dan Intiland Tower

Kami lanjut berjalan kaki ke Jalan Kayon lalu masuk ke Jalan Sono Kembang. Tak diduga kami menemukan kendi berisi air putih yang disediakan untuk para musafir, Rendy dengan segera meminumnya, Zefanya mengiyakan bahwa hanya di Jawa Timur yang masih menyediakan air dalam kendi untuk para musafir! Kami masuk Jalan Panglima Sudirman, bertemu kembali dengan tumpukan kendaraan bermotor yang merayap lambat. Cukup lama kami menikmati gedung-gedung perkantoran, saya paling suka dengan Intiland Tower, saya rasa semuanya juga setuju.

Kami naik ke jembatan penyebrangan, masuk ke Jalan Urip Sumoharjo yang memiliki trotoar terlebar yang pernah saya jejaki, dan termasuk trotoar yang paling sibuk karena banyak kedai kaki lima dan pejalan kaki serta pengguna sepeda motor yang berlalu lalang, tapi kami tidak terganggu karena trotoar ini menjadi hidup dengan banyak aktivitas yang tidak berbenturan. meriah!

Kami kembali ke Jalan Raya darmo, kemudian masuk Jalan WR Supratman, lalu Jalan Dr. Citpo dan tiba di c2o library dengan bahagia! Sekali lagi salut buat Kami-Arsitek-Jengki yang selalu berbagi pengetahuan mengenai arsitektur kota.

teks dan foto oleh anithasilvia

Categories: Jelajah KotaReportase
Tags:

: Seorang musafir gig dan pameran, pengelola klab jalan kaki Manic Street Walkers, penikmat zine, lomographer.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

What’s On

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya